JELAJAH PULAU TIMOR [BAGIAN 6]: NAPAK TILAS DI MANATUTO

Distrik Manatuto dilihat dari atas bukit.

Distrik Manatuto dilihat dari atas bukit.

Kami sebenarnya lelah. Tapi semua impas karena dibayar dengan kebahagiaan luar biasa bertemu dengan saudara dan juga melihat pemandangan langsung di Timor Leste. Jam menunjukkan pukul 9 malam kurang 10 menit waktu Timor Leste. Di Jakarta mungkin masih sekitar pukul 7. Malam itu juga, kami harus berkendara menuju Distrik Manatuto. Perjalanan kira-kira membutuhkan waktu 1,5 jam. Layaknya dari Jogja menuju Solo.

Mengapa kami ke Manatuto? Kami memang harus ke sana, karena rumah tinggal saudara saya ada di sana. Di Dili juga ada saudara, tetapi saudara dari saudara saya. Nah… bingung kan? Lebih baik memang menginap saudara saya di Manatuto. Dengan menggunakan Toyota Hilux, kami berkendara dari Kota Dili menuju distrik Manatuto. Model mobil di Timor Leste kebanyakan seperti itu sih… hihi…

Jangan dibayangkan perjalanannya seperti apa, nikmati saja, karena memang tidak nikmat. Bhahahak… Bagaimana bisa nikmat? Saya belum mandi… belum bersih-bersih badan… masih lemas dan capek karena seharian baru saja menyelesaikan perjalanan dari Kefa – Atambua – Mota Ain – Bobonaro – Likuisa dan akhirnya Dili. Semua kalau ditotal sekitar 7 jam. Masih ditambah kehujanan di Belu-Atambua dan keanginan ketika di Kefa. Fiuuuhhh… Lanjut membaca

JELAJAH PULAU TIMOR [BAGIAN 5]: DARI DILI HINGGA MANATUTO

Suasana perjalanan menuju distrik DILI

Suasana perjalanan menuju distrik DILI

Saya benar-benar menikmati perjalanan saya dari Mota Ain ke Dili. Capek tergantikan dengan pemandangan alam yang cukup menggairahkan untuk diambil gambarnya. Saya sama sekali tidak tidur, meskipun badan rasanya lemas karena  hampir menempuh perjalanan 7 jam. Saya banyak bercerita dengan saudara saya di mobil. Kami reunian. Menceritakan kisah-kisah Timor jaman pertama kali dia menginjakkan kaki di sini, sampai mengajari saya bagaimana menggunakan beberapa kata-kata sederhana dengan Bahasa Tetun, bahasa yang mayoritas digunakan warga Timor Leste.

Jika Anda memang berniat melakukan perjalanan darat dari perbatasan Mota Ain ke Dili, lebih baik jangan tidur. Banyak pemandangan luar biasa yang bisa dijadikan obyek foto di sana. Sepanjang perjalanan, Anda disuguhi dengan pemandangan pinggir pantai, perbukitan yang hijau, rumah-rumah tradisional yang sangat eksotik, hingga penjual-penjual pinggir jalan yang bervariasi, mulai dari ikan-ikanan, buah-buahan, hingga barang-barang bekas.

Tiga jam perjalanan dari perbatasan Mota Ain ke Dili. Melewati 3 Distrik yang ada di Timor Leste: Bobonaro, Liquica (Likuisa) dan Dili. Dan kini saya bisa menikmati Kota Dili yang terletak di pinggir pantai. Kami benar-benar baru memasuki Kota Dili sekitar pukul 17.00 Waktu Indonesia Bagian Tengah atau pukul 18.00 Waktu Bagian Timor Leste. Sejak merdeka, Timor Leste yang dulunya menggunakan Waktu Indonesia Bagian Tengah, kini menggunakan waktu sendiri, dan satu jam lebih cepat dari WITA.  Lanjut membaca

JELAJAH PULAU TIMOR [BAGIAN 4]: MELEWATI BATAS, MASUK TIMOR LESTE

Ini adalah rumah-rumah di sepanjang jalan menuju Dili.

Ini adalah rumah-rumah di sepanjang jalan menuju Dili.

Ga terasa, sudah 4 hari saya berada di Kefamenanu, kota Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya sudah merasakan kehidupan dan denyut nadi pedesaan yang cukup menyenangkan, ramah dan penuh dengan kehangatan. Tibalah saatnya untuk menyeberang ke negara tetangga, Timor Leste. Acara ‘melompati batas’ ini sudah saya pikirkan sewaktu masih di Jawa. Oleh karenanya, saya beranikan diri untuk membawa beberapa lembaran dollar US dari rumah, karena mata uang di Timor Leste adalah US$.

***

Tujuan utama saya ke Timor Leste adalah Dili. Di Dili, saya berencana untuk bertemu dengan adik dari kakak ipar saya yang sudah sekitar 12 tahun tinggal di Timor Leste (bisa kita singkat menjadi TiLes). Perjalanan menuju ke TiLes bukanlah sebuah perjalanan mudah bagi saya, yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Pulau Timor. Awalnya, saya ingin naik Timor Travel dari Kefamenanu menuju Dili, namun apa daya, ternyata saat itu situasi sedang libur natal, dan pemesanan travel dari Kefa tidak bisa mendadak. Saya menghubungi saudara di Dili, mereka bisa menjemput saya hanya di perbatasan Mota Ain. Mota Ain adalah salah satu perbatasan jalur darat untuk keluar masuk warga Timor Leste dan Indonesia. Lanjut membaca

JELAJAH PULAU TIMOR [BAGIAN 3]: PANTAI WINI DI PERBATASAN INDONESIA

Pantai Wini

Indahnya Pantai Wini

Kalau disuruh memilih pantai atau pegunungan, saya tetap kekeuh memilih pantai? Mengapa? Bagi saya, bermain air itu memang lebih menyenangkan. Kalau di pegunungan, bawaannya pasti cuma pengen tidur karena cuaca yang dingin.

Nah, sejak saya merencanakan ke Pulau Timor, saya memang sudah ‘ngidam’ untuk mengunjungi pantai-pantai di Pulau Timor. Akhirnya, dalam perjalanan saya selanjutnya di ujung timur Indonesia ini, saya menyempatkan diri untuk ber’dharmawisata’ ke sebuah pantai di Timor, namanya Pantai Wini.

***

Pantai Wini adalah sebuah pantai di Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Ibukota Kabupaten ini ada di Kefamenanu. Dari kota kabupaten Kefamenanu ini, jaraknya sekitar 65 km. Jauh juga sih. Saya berangkat dari Miomaffo Timur. Saya pikir, jaraknya dekat, karena toh masih dalam satu area kabupaten dan hanya beda kecamatan. Namun saudara-saudara… di Timor itu meskipun orang bilang dekat, jauhnyaaaaaaa minta ampun deh… Lanjut membaca

JELAJAH PULAU TIMOR [BAGIAN 2]: NATAL DI UJUNG TIMUR INDONESIA

Koor wilayah ikut berpartisipasi dalam misa natal.

Koor wilayah ikut berpartisipasi dalam misa natal.


Natal tahun 2012 adalah Natal yang cukup berbeda sepanjang sejarah hidup saya yang sudah berusia lebih dari seperempat abad ini. Cieeee… tuaaak banget ya… hihihi… Mengapa berbeda? Biasanya, ketika Natal, saya merayakannya bersama orangtua, kakak dan saudara-saudara di Solo. Tapi tahun ini, saya melalui malam Natal dan hari Natal di suatu tempat yang jauuuuh dari Solo, yakni di perbatasan Indonesia – Timor Leste, tepatnya di Kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Saya akan menceritakan sedikit mengenai acara natalan saya di Kefa.

Gereja Katholik yang ada di Miomaffo Timur adalah Gereja Santo Andreas Tunbaba. Tunbaba itu kayaknya nama kerajaan gitu deh. Hihi… Ga terlalu ngerti juga. Yang Jelas, nama Santo Andreas ga pake embel-embel Tunbaba. Hehehe… Saya tinggal di rumah Pak Mikhael Talan, yang jaraknya sekitar 1 km dari gereja. Seperti biasanya, Natal harus kita lewati dengan perayaan misa ekaristi Malam Natal (24 Desember) di gereja tersebut. Ayah saya yang tidak merayakan Natal, sepertinya ingin ikut juga misa Natal, jadi saya ajak sekalian.

Lanjut membaca

JELAJAH PULAU TIMOR [BAGIAN 1]: Tas Kresek Ajaib Menuju Kefa

Saya masih tidak percaya bisa melakukan sebuah perjalanan yang cukup mengesankan ke Pulau Timor pada akhir Desember 2012 lalu. Dengan berbekal informasi seadanya, dan berangkat bersama dengan ayah saya yang memiliki pengalaman jauh lebih banyak tentang Timor, kami memberanikan diri untuk terbang ke sana. Menikmati sebagian keindahan pulau Timor, menyeberang ke negara tetangga di Timor Leste, merasakan sayur pakis yang terasa aneh di lidah, hingga merasakan sopi (semacam arak) asli Timor yang membuat panas di perut. Beginilah kisah kami…

***

Bandar Udara El Tari Kupang

Bandar Udara El Tari Kupang

23 Desember 2012. Perjalanan kami mulai dari Jakarta menuju Kupang. Pesawat yang seharusnya berangkat pukul 11.45 WIB, harus ditunda jam keberangkatannya. Kami benar-benar baru berangkat pukul 15.30 WIB. Agak dongkol dengan jadwal penerbangan yang mundur ini, tetapi yasudahlah… mau marah-marah juga tidak membuat pesawat berangkat lebih cepat. Diberi nasi kotak oleh pihak maskapai penerbanganpun sebenarnya tidak mengubah rasa dongkol saya yang sudah sejak jam 9 pagi sudah siap di bandara Soekarno Hatta.

Kedongkolan itu ditambah pula dengan pengumuman bahwa pesawat yang saya tumpangi harus transit dulu di Surabaya. Hadeuuuhhh… Dulu waktu saya beli tiket pesawat Jakarta – Kupang, saya memilih pesawat yang tidak transit. Apadaya… bukan saya yang menentukan rute pesawat, mau tidak mau ya harus dimaklumi. Ngalah. Saya ga harus menyebut nama maskapai penerbangannya kan ya??? 

Ngueeeeeeenggg… (pesawatnya terbang) :)   Lanjut membaca

Dua tahun lalu, 36 orang tewas di Petarukan

Infografik KOMPAS tentang Kecelakaan Kereta di Petarukan.

Stasiun Solo Balapan – 4 Oktober 2010

Jam di handphone saya menunjukkan pukul 18.50. Kira-kira 10 menit lagi, kereta Senja Utama Solo yang saya tumpangi akan berangkat menuju Jakarta. Saya berdoa, memohon keselamatan selama perjalanan dari Yang Kuasa. Setiap kata-kata dalam doa saya menunjukkan bahwa saya masih ingin hidup, dan berharap kereta saya baik-baik saja hingga ke Jakarta. Pikiran tidak tenang karena mendapatkan tempat duduk di gerbong paling belakang kereta. Cemas dan gelisah menghantui diri saya. Orang-orang yang berada satu gerbong dengan saya tidak tahu, bahwa saya adalah salah satu korban kecelakaan kereta Senja Utama Semarang 2 hari sebelumnya. Kereta yang membawa saya dari Jakarta menuju Semarang.

Saya tahu, saya sedang mengalami trauma kecil. Jujur, sebenarnya saya masih merasa ketakutan untuk naik kereta. Bayangkan, dua hari sebelumnya saya melihat puluhan korban tewas tertabrak kereta yang sedang saya tumpangi, dan saya berada dalam satu gerbong yang –Puji Tuhan- tidak mendapatkan luka serius.  Dan sekarang saya harus kembali ke Jakarta naik kereta lagi. Trauma itu tidak bisa hilang dengan cepat. (Detik-detik kisah tragis kecelakaan itu bisa dibaca di blog saya, di sini).

Lanjut membaca