8 Pertanyaan Paling Banyak untuk Pengantin Baru

WeddingBulan Juli 2016 lalu kami melangsungkan pernikahan. Betapa bahagianya bisa menikmati kehidupan baru sebagai sepasang suami-istri. Dalam acara pernikahan sendiri, seringkali kita bertemu dengan para tamu undangan. Esoknya, ketika kita sudah mulai menjalani aktivitas rutin di kantor, di masyarakat dan di komunitas kita tinggal, para pengantin baru (khususnya ya kami ini…. ) seringkali diserbu oleh berbagai pertanyaan. Berdasarkan pengalaman kami, pertanyaan apa saja yang diutarakan orang-orang di sekitar kami?

  1. Gimana rasanya?

Kalau pertanyaannya seperti ini, pasti kami jawab: “Legaaaaa….”. Ya gimana ga lega, dengan urutan acara yang menghabiskan waktu berhari-hari, dengan persiapan berbulan-bulan yang harus kami detailkan, dengan keribetan yang sangat menghabiskan tenaga dan pikiran, akhirnya selesai juga seluruh rangkaiannya.  Kebetulan kami berdua sangat puas dengan acara akad (sakramen pernikahan) kami di Jakarta dan resepsi di Solo. Walaupun ada jeda 2 minggu dari acara itu, kami sebenarnya justru lebih merasa berdebar-debar tak terkira, bahkan di puncak-puncak acara 2 event besar kami ini.  Pada akhirnya semua selesai… syukurlah… fiuhhh… bisa bernafas dengan normal kembali.  Jadi… disitulah letak kelegaan kami berdua… Baca lebih lanjut

kamu adalah hobimu

Hobi saya banyak. Tapi kalau disebut hobi, mungkin tidak terlalu cocok. Biasanya, yang namanya hobi itu sudah mendalam dan bisa dikatakan holic dan gila-gilaan. Saya sih tidak punya hobi yang amat mendalam seperti itu… saya cuma senang pada sesuatu…

Okelah.. berarti kita sebut sebagai kesenangan saja…

Saya punya banyak kesenangan (agak aneh kedengarannya kalau pakai kata kesenangan, tapi ya… ngga apa-apa).

Beberapa kesenangan saya adalah: menggambar, melukis, menyanyi, browsing, chating, menulis, bermain musik, bercerita, bersepeda, memotret-motret, jalan-jalan menelusuri kota, dan olahraga lari. Banyak kan??? (Kalau ‘berbohong’ termasuk salah satu hobi ngga ya??? hehehe… sepertinya ini kebiasaan buruk, bukan hobi)

Mengapa saya menulis tentang kesenangan saya?

Begini ceritanya…

Awal Desember ini, saya tiba-tiba ingin merasakan warna-warni dunia dan kehidupan. Dan biasanya, warna-warni itu identik dengan keceriaan, kebahagiaan dan pesta. Nah, keceriaan itu bisa kita asosiasikan dengan dunia anak-anak.

Baca lebih lanjut

Lebih asoy kalau basah-basahan ya?

Sekedar berbagi pengalaman ketika aku berbelanja di Superindo-Meruya. Tanggal 2 Agustus 2009 lalu, aku dan sahabatku berbelanja kebutuhan barang sehari-hari di SuperIndo Meruya. Sebenarnya saat itu, aku tidak berniat berbelanja kebutuhan. Aku cukup membeli makanan ringan sebagai teman perjalananku nanti (karena malam harinya, aku harus berangkat dinas ke Jogja). Sahabatku itu yang berbelanja.

Baru pertama kali ini aku masuk dan membeli barang di supermarket ini. Seperti layaknya supermarket dan hipermarket lainnya, bahwa segala barang bawaan dan jaket, harus dititipkan kepada petugas. Itu sudah harus menjadi kewajiban, salah satu alasannya demi menjaga keamanan dan bahaya pencurian barang di supermarket tersebut.
Tetapi siang itu, ada kejadian yang menurutku tidak biasa sekaligus memiliki nilai moral yang seharusnya bisa aku ambil.
Ada seorang perempuan, mungkin usianya sekitar 20 tahun. Terlihat dari wajahnya yang masih muda. Di foto terlihat, dia berjongkok memakai baju biru dan celana pensil warna hitam, dan menggunakan sandal jepit.
Perempuan ini, ternyata diintip oleh seorang satpam berbadan kekar. Diintip dalam artian, sedang dimata-matai.
Aku mendengar percakapan satpam dan seorang SPG di Superindo itu. “Tolong diliatin, kayaknya dia ngambil barang,”
Pikiranku langsung menuju dugaan, bahwa si perempuan berbaju biru itu sedang diamat-amati oleh Satpam, lantaran si satpam curiga bahwa si perempuan itu mengambil barang dari supermarket tersebut.
Akupun juga kemudian, ikut mengamati gerak-gerik si perempuan tadi. Aku tidak mau menuduh. Tetapi yang kulihat adalah: dia membawa tas yang ia slempangkan di bahu kanannya. tangan kanannya memegang Segelas Fruit tea dan sepertinya sebuah sabun mandi. Tetapi tangan kirinya, ia masukkan terus di dalam tasnya. Tidak dikeluarkan sama sekali. Hatiku semakin panas mengatakan: “Wah, seru banget kalau si mbak ini ketangkap basah mencuri barang.” Aku tidak sabar menunggu ending dari drama intip mengintip ini.
Si perempuan ini hanya bolak-balik di tempat ia berdiri. Dia tidak berpindah-pindah ke lajur tempat belanja lain, layaknya orang berbelanja barang yang sering bolak-balik. dia hanya stay di tempat ia berdiri, dan sesekali melihat kiri dan kanan. Lagi-lagi, peristiwa ini, semakin menguatkan hatiku bahwa: “Dia mencuri,”. Ingin berteriak bahwa dia pencuri. Tapi kan aku tidak punya bukti dia mencuri. Dan sepertinya, pak satpam juga hendak ingin mengetahui ending drama intip-intipan ini. Dia ingin bukti. Makanya, dia menunggu bukti itu dimasukkan dalam tasnya.
aku tidak ingin ikut campur. segera kutinggalkan mereka dalam suasana masih intip-mengintip.
Aku kemudian pergi…
Huh… andai saja, aku masih di situ. Aku ingin sekali melihat akhir dari babak ini. Sudahlah… aku hanya bisa menerka-nerka, apakah si perempuan tadi benar-benar mencuri atau tidak.
Tapi menurutku, ada hal moral yang bisa dipelajari di sini.
Kalau si satpam sudah curiga akan gerak-gerik si perempuan tadi, mengapa dia hanya mengintip? mengapa dia hanya melihat dari kejauhan? Apakah teguran dari awal tidak bisa disampaikan?
memang…bisa jadi ketika si satpam menegur, si perempuan tadi akan merasa dituduh. Tapi yang penting adalah cara komunikasinya dan bahasa yang digunakan. Menurutku, dengan cara intip mengintip, kemudian ketika sudah akan keluar baru dicek, adalah peristiwa yang tidak tepat. Si perempuan akan malu bukan main, kalau ternyata dia mencuri dan mengambil barang. Si Satpam akan bangga dan tersenyum lebar, bagaikan Densus 88 yang sudah bisa menangkap pelaku teror bom.
seringkali, manusia ingin agar sesamanya ini bersalah, sesalah-salahnya, dan dialah yang dianggap pahlawan. Padahal, manusia bisa saling bertegur sapa, saling memperhatikan, agar tidak saling merugikan. Kalau si satpam menegur dari awal, kemungkinan untuk melakukan tindakan pencurian juga akan hilang. si satpam ini justru ingin menangkap sebasah-basahnya orang lain.
Lebih basah lebih baik. Lebih basah lebih dramatis. Lebih basah lebih jadi superhero. aku cuma merasa kasian dengan perempuan itu. Kalau dia mencuri betulan, betapa akan malunya si perempuan tadi. Mudah-mudahan, endingnya tidak demikian. Dan mudah-mudahan, manusia di dunia ini bertegur sapa, supaya bisa saling menghargai orang lain dan tidak merugikan pihak manapun.
Sekedar berbagi pengalaman ketika aku berbelanja di Superindo-Meruya. Tanggal 2 Agustus 2009 lalu, aku dan sahabatku berbelanja kebutuhan barang sehari-hari di SuperIndo Meruya. Sebenarnya saat itu, aku tidak berniat berbelanja kebutuhan. Aku cukup membeli makanan ringan sebagai teman perjalananku nanti (karena malam harinya, aku harus berangkat dinas ke Jogja). Sahabatku itu yang berbelanja.
Baru pertama kali ini aku masuk dan membeli barang di supermarket ini. Seperti layaknya supermarket dan hipermarket lainnya, bahwa segala barang bawaan dan jaket, harus dititipkan kepada petugas. Itu sudah harus menjadi kewajiban, salah satu alasannya demi menjaga keamanan dan bahaya pencurian barang di supermarket tersebut.
Tetapi siang itu, ada kejadian yang menurutku tidak biasa sekaligus memiliki nilai moral yang seharusnya bisa aku ambil.
Ada seorang perempuan, mungkin usianya sekitar 20 tahun. Terlihat dari wajahnya yang masih muda. Di foto terlihat, dia berjongkok memakai baju biru dan celana pensil warna hitam, dan menggunakan sandal jepit.
Perempuan ini, ternyata diintip oleh seorang satpam berbadan kekar. Diintip dalam artian, sedang dimata-matai.
Aku mendengar percakapan satpam dan seorang SPG di Superindo itu. “Tolong diliatin, kayaknya dia ngambil barang,”
Pikiranku langsung menuju dugaan, bahwa si perempuan berbaju biru itu sedang diamat-amati oleh Satpam, lantaran si satpam curiga bahwa si perempuan itu mengambil barang dari supermarket tersebut.
Akupun juga kemudian, ikut mengamati gerak-gerik si perempuan tadi. Aku tidak mau menuduh. Tetapi yang kulihat adalah: dia membawa tas yang ia slempangkan di bahu kanannya. tangan kanannya memegang Segelas Fruit tea dan sepertinya sebuah sabun mandi. Tetapi tangan kirinya, ia masukkan terus di dalam tasnya. Tidak dikeluarkan sama sekali. Hatiku semakin panas mengatakan: “Wah, seru banget kalau si mbak ini ketangkap basah mencuri barang.” Aku tidak sabar menunggu ending dari drama intip mengintip ini.
Si perempuan ini hanya bolak-balik di tempat ia berdiri. Dia tidak berpindah-pindah ke lajur tempat belanja lain, layaknya orang berbelanja barang yang sering bolak-balik. dia hanya stay di tempat ia berdiri, dan sesekali melihat kiri dan kanan. Lagi-lagi, peristiwa ini, semakin menguatkan hatiku bahwa: “Dia mencuri,”. Ingin berteriak bahwa dia pencuri. Tapi kan aku tidak punya bukti dia mencuri. Dan sepertinya, pak satpam juga hendak ingin mengetahui ending drama intip-intipan ini. Dia ingin bukti. Makanya, dia menunggu bukti itu dimasukkan dalam tasnya.
aku tidak ingin ikut campur. segera kutinggalkan mereka dalam suasana masih intip-mengintip.
Aku kemudian pergi…
Huh… andai saja, aku masih di situ. Aku ingin sekali melihat akhir dari babak ini. Sudahlah… aku hanya bisa menerka-nerka, apakah si perempuan tadi benar-benar mencuri atau tidak.
Tapi menurutku, ada hal moral yang bisa dipelajari di sini.
Kalau si satpam sudah curiga akan gerak-gerik si perempuan tadi, mengapa dia hanya mengintip? mengapa dia hanya melihat dari kejauhan? Apakah teguran dari awal tidak bisa disampaikan?
memang…bisa jadi ketika si satpam menegur, si perempuan tadi akan merasa dituduh. Tapi yang penting adalah cara komunikasinya dan bahasa yang digunakan. Menurutku, dengan cara intip mengintip, kemudian ketika sudah akan keluar baru dicek, adalah peristiwa yang tidak tepat. Si perempuan akan malu bukan main, kalau ternyata dia mencuri dan mengambil barang. Si Satpam akan bangga dan tersenyum lebar, bagaikan Densus 88 yang sudah bisa menangkap pelaku teror bom.
seringkali, manusia ingin agar sesamanya ini bersalah, sesalah-salahnya, dan dialah yang dianggap pahlawan. Padahal, manusia bisa saling bertegur sapa, saling memperhatikan, agar tidak saling merugikan. Kalau si satpam menegur dari awal, kemungkinan untuk melakukan tindakan pencurian juga akan hilang. si satpam ini justru ingin menangkap sebasah-basahnya orang lain.
Lebih basah lebih baik. Lebih basah lebih dramatis. Lebih basah lebih jadi superhero. aku cuma merasa kasian dengan perempuan itu. Kalau dia mencuri betulan, betapa akan malunya si perempuan tadi. Mudah-mudahan, endingnya tidak demikian. Dan mudah-mudahan, manusia di dunia ini bertegur sapa, supaya bisa saling menghargai orang lain dan tidak merugikan pihak manapun.
mode on: curhatan bermoral..
Belanja di SuperindoSekedar berbagi pengalaman ketika aku berbelanja di Superindo-Meruya, 2 Agustus 2009 lalu. Saat itu, sebenarnya aku tak berniat berbelanja kebutuhan. Aku hanya membeli makanan ringan sebagai teman perjalananku nanti (karena malam harinya, aku harus berangkat dinas ke Jogja). Sahabatku yang berbelanja banyak.
Baru pertama kali ini, aku masuk dan membeli barang di supermarket ini. Seperti layaknya supermarket dan hipermarket lainnya, bahwa segala barang bawaan dan jaket pengunjung, harus dititipkan kepada petugas. Itu sudah harus menjadi KEWAJIBAN, salah satu alasannya (tentunya) demi menjaga keamanan dan bahaya pencurian barang di supermarket tersebut.
Tetapi siang itu, ada kejadian yang menurutku tidak biasa sekaligus memiliki nilai moral yang seharusnya bisa aku ambil.
***
Ada seorang perempuan, mungkin usianya sekitar 20 tahun. Terlihat dari wajahnya yang masih muda. Di foto terlihat, dia berjongkok memakai baju biru dan celana pensil warna hitam, (dan menggunakan sandal jepit –> kalau yang ini kayaknya tak tampak di foto)
Perempuan ini, ternyata diintip oleh seorang satpam berbadan kekar. Diintip dalam artian, sedang dimata-matai.
Aku mendengar percakapan satpam dan seorang SPG yang berdiri di sebelah satpam. “Tolong diliatin, kayaknya dia ngambil barang…”
Mengintip perempuanPikiranku langsung menuju pada dugaan bahwa si perempuan yang sedang diamat-amati oleh si Satpam itu, diduga mengambil barang.
Terbawa rasa penasaran, akupun ikut mengamati gerak-gerik si perempuan tadi. Aku tidak mau menuduh. Tetapi yang kulihat adalah: dia membawa tas yang ia slempangkan di bahu kanannya. Tangan kanannya memegang Segelas Fruit tea dan sepertinya sebuah sabun mandi. Tetapi tangan kirinya, ia masukkan terus di dalam tasnya. Tidak dikeluarkan sama sekali. Hatiku semakin panas mengatakan: “Wah, seru banget kalau si mbak ini ketangkap basah mencuri barang.” Aku tidak sabar menunggu ending dari drama intip mengintip ini.
Si perempuan ini hanya bolak-balik di tempat ia berdiri. Dia tidak berpindah-pindah ke lajur tempat belanja lain, layaknya orang berbelanja barang yang sering bolak-balik. dia hanya stay di tempat ia berdiri, dan sesekali melihat kiri dan kanan. Lagi-lagi, peristiwa ini, semakin menguatkan hatiku bahwa: “Dia mencuri”. Ingin berteriak bahwa dia pencuri. Tapi kan aku tidak punya bukti dia mencuri??? Dan sepertinya, pak satpam juga tak sabar ingin mengetahui ending drama intip-intipan ini. Dia ingin bukti. Makanya, dia menunggu bukti itu dimasukkan dalam tasnya.
Drama mengintip perempuanAku tidak ingin ikut campur. Segera kutinggalkan mereka dalam suasana masih intip-mengintip.
Aku kemudian pergi…
Huh… Andai saja, aku masih di situ. Aku ingin sekali melihat akhir dari babak ini. Sudahlah… aku hanya bisa menerka-nerka, apakah si perempuan tadi benar-benar mencuri atau tidak.
Tapi menurutku, ada hal moral yang bisa dipelajari di sini.
Kalau si satpam sudah curiga akan gerak-gerik si perempuan tadi, mengapa dia hanya mengintip? Mengapa dia hanya melihat dari kejauhan? Apakah teguran dari awal tidak bisa disampaikan?
Memang… Bisa jadi ketika si satpam menegur, si perempuan tadi akan merasa dituduh. Tapi yang penting adalah cara komunikasinya dan bahasa yang digunakan… Menurutku, dengan cara intip mengintip, kemudian ketika sudah akan keluar baru dicek, adalah peristiwa yang tidak tepat. Si perempuan akan malu bukan main, kalau ternyata dia mencuri dan mengambil barang. Si Satpam akan bangga dan tersenyum lebar, layaknya Densus 88 yang sudah bisa menangkap pelaku teror bom.
Seringkali, manusia ingin agar sesamanya bersalah, sesalah-salahnya, dan dialah yang dianggap pahlawan dan yang benar. Padahal, manusia bisa saling bertegur sapa, saling memperhatikan, agar tidak saling merugikan. Kalau si satpam menegur dari awal, kemungkinan untuk melakukan tindakan pencurian juga akan hilang. Si satpam ini justru ingin menangkap sebasah-basahnya orang lain.
Lebih basah lebih baik. Lebih basah lebih dramatis. Lebih basah lebih jadi superhero. Aku cuma merasa kasian dengan perempuan itu. Kalau dia mencuri betulan, betapa akan malunya si perempuan tadi. Mudah-mudahan, endingnya tidak demikian. Dan mudah-mudahan, manusia di dunia ini bertegur sapa, supaya bisa saling menghargai orang lain dan tidak merugikan pihak manapun.
*) Tumben, aku merasa kasihan dengan orang lain

Mungkin sedang berfantasi seksual…

Baru kali ini, aku melihat sebuah kamar hotel yang agak ‘nyeleneh’…
Ceritanya begini:
Temanku datang dari Londo Itali (orang bule selalu dipanggil Londo, meski bukan dari Belanda tapi dari Jerman, Amerika, Prancis, Irak atau afrikapun, dipanggil dengan Londo. Ini penggunaan kata yang merupakan sisa-sisa jaman kompeni dulu kali ya…. Orang Indo memang agak latah untuk masalah penggunaan kata-kata…latahnya ini sampai turun temurun… Goblok banget…!!!)
Tapi, temanku ini bukan Londo, pura-pura jadi londo saja. Sekolah di Polandia, trus pindah ke Itali, tapi aslinya Jowo-Semarang. Ni, ada fotonya…
Tanggal 26 Juli 09, balik ke Indonesia, berniat untuk liburan dan kembali ke kampung halaman.
(ni cerita versia dia ya….)
Singkat cerita, hari itu juga, dia ingin langsung kembali ke rumah tercintanya di Semarang. Tapi gara-gara pesawat dri Dubai terlambat (karena harus ganti cangcut pesawat sekalian di Dubai), maka sampai Jakarta-Indonesiapun terlambat. Sekitar jam 12-an malam baru sampai di Jakarta. Padahal, pesawat yang membawanya ke Semarang sudah terbang…
Maskapai kemudian menyediakan penerbangan di  hari berikutnya ke Semarang. sebagai bentuk pelayanan untuk menunggu pesawat esok harinya. Ditambah menginap di sebuah hotel di Jakarta (dekat Bandara Soekarno Hatta. Untuk mempermudah akses ke bandara, hari selanjutnya)
Nah, hotel yang dipilih si maskapai ini adalah Hotel FM7. (sepertinya hotel bintang 4). Tak tahu kenapa, si temanku ini dimasukkan ke kamar eksekutif. Padahal, tampangnya bukan kayak orang eksekutif dan bukan kelas VIP. Badan cungkring, nampak kurang gizi… hahahaha…
Sebagai teman yang sudah lama tak ketemu. Akupun menyempatkan diri untuk ke hotelnya… sekalian menagih janjinya untuk membawakan oleh-oleh untukku. (Akhirnya dapat kaos dengan tulisan BERLIN dan sebuah gantungan kunci dari Poland bertuliskan POLSKA…thanks, sob..)
Sekitar jam 1 pagi, aku meluncur dengan Blue Bird ke daerah Cengkareng. Mulanya agak heran, kenapa si hotel itu berdiri di tengah-tengah perkampungan warga Cengkareng yang agak tidak nyaman dan aman (menurutku…), tapi ya sudahlah… yang penting aku bertemu dengan sahabatku yang satu itu…
Yap.. akhirnya aku ketemu dengannya…
Masuk ke kamar hotel… Mulanya aku tak heran.. tapi kok ada 1 hal yang menurutku aneh…
Ya…. aku tahu.. KAMAR MANDINYA anehhhhhhhhh….
Kamar mandinya terbuka… berkaca dan tidak ada penutupnya sama sekali… Wah…. SEKSI donk kalau mandi… jadi, kalau kita mandi di kamar mandi itu, tubuh bugil kita akan terlihat orang yang berada di kamar itu. Bahkan kalau harus (maaf), pup-pun.. juga akan terlihat jelas ekspresi dan bagaimana orang yang pup di kamar mandi itu… Jijay deh kalau pup.. (kalau mandi sih masih oke.. hahaha…)
Mau pipis pun juga akan keliatan. aktivitas apapun yang terjadi di kamar mandi, pasti akan terlihat. Hayo loh… gimana nutupinnya??? tak ada gorden, atau sliding pintu penutup kaca. Ya sudah… terbuka saja….
Aku berpikir, sepertinya kamar ini cocok buat pasangan suami istri.. hahaha… pikiran yang sama ada di otak temanku itu… Pantes, yang nginep di situ, pasangan-pasangan londo semua. atau jangan-jangan, itu dibuat untuk Londo mania, yang sepertinya haus akan fantasi-fantasi seksual…
SNAP
Nampaknya, si desain interiornya sedang horni. Mungkinkah dia berfantasi seksual (yang tidak-tidak) ketika mendesain kamar hotel itu????
Baru kali ini, aku melihat sebuah kamar hotel yang agak ‘nyeleneh‘ *)…
Ceritanya begini:
Temanku datang dari negara Londo Itali (orang bule selalu dipanggil Londo, meski bukan dari Belanda tapi mungkin dari Jerman, Amerika, Prancis, Irak atau bahkan Afrikapun, dipanggil dengan Londo. Ini penggunaan kata yang merupakan sisa-sisa jaman kompeni dulu kali ya…. Orang Indo memang agak latah untuk masalah penggunaan kata-kata…latahnya ini sampai turun temurun…  Orang Indo memang goblok pinter banget…!!!)
Tapi, temanku ini bukan Londo, pura-pura jadi londo saja di negri orang. Sekolah master di Polandia, trus pindah ke Itali, tapi aslinya Jowo-Semarang. Ni, ada fotonya…
Tanggal 26 Juli 09, balik ke Indonesia, berniat untuk liburan dan kembali ke kampung halaman (di Semarang)
(ni cerita versia dia ya….)
Singkat cerita, hari itu juga, dia ingin langsung kembali ke rumah tercintanya di Semarang. Tapi gara-gara pesawat dari Dubai terlambat (karena harus ganti cangcut pesawat di Dubai), maka sampai Jakarta-Indonesiapun terlambat. Sekitar jam 12 malam baru sampai di Jakarta. Padahal, pesawat yang membawanya ke Semarang sudah terbang (di hari yang sama)…
Maskapai kemudian menyediakan penerbangan di  hari berikutnya ke Semarang. sebagai bentuk pelayanan untuk menunggu pesawat esok harinya. Temanku ‘diinapkan’ di sebuah hotel di Jakarta (dekat Bandara Soekarno Hatta. Untuk mempermudah akses ke bandara, hari selanjutnya)
Nah, hotel yang dipilih si maskapai ini adalah Hotel FM7. (sepertinya hotel bintang 4, terkesan mewah, tapi bentuknya kaku… Kotak semua…). Tak tahu kenapa, si temanku ini dimasukkan ke kamar eksekutif. Padahal, tampangnya jauh dari kesan eksekutif dan bukan kelas VIP. Badan cungkring, nampak kurang gizi… hahahaha… (peace, pras…)
Sebagai teman yang sudah lama tak bertemu, akupun menyempatkan diri untuk menemani di hotelnya… sekalian menagih janjinya untuk membawakan oleh-oleh untukku. (Akhirnya dapat kaos dengan tulisan BERLIN dan sebuah gantungan kunci lucu dari Poland bertuliskan POLSKA…thanks ya, sob..)
Sekitar jam 1 pagi, aku meluncur dengan Blue Bird ke daerah Cengkareng. Mulanya agak heran, kenapa hotel itu dibangun di tengah-tengah perkampungan warga Cengkareng yang agak tidak nyaman dan aman (menurutku…), tapi ya sudahlah… yang penting aku bertemu dengan sahabatku yang satu itu…
Yap.. akhirnya aku ketemu dengannya…
Masuk ke kamar hotel… Mulanya aku tak heran.. tapi kok ada 1 hal yang menurutku aneh…
Ya…. aku tahu.. KAMAR MANDINYA anehhhhhhhhh….Show di kamar mandi
Kamar mandinya terbuka… berkaca dan tidak ada penutupnya sama sekali… Wah…. SEKSI donk kalau mandi… jadi, kalau kita mandi di kamar mandi itu, tubuh bugil kita akan terlihat orang yang berada di dalam kamar itu. Bahkan kalau harus (maaf), pup-pun.. juga akan terlihat jelas ekspresinya dan bagaimana orang yang pup di kamar mandi itu… Jijay deh kalau pup.. (kalau mandi sih masih oke.. hahaha…)
Kamar Mandi anehMau pipis pun juga akan keliatan. aktivitas apapun yang terjadi di kamar mandi, pasti akan terlihat. Hayo loh… gimana nutupinnya??? tak ada bakpao gorden, atau sliding pintu penutup kaca. Ya sudah… terbuka saja…  SYUR… HOT dan… SEXY….
Aku berpikir, sepertinya kamar ini cocok buat pasangan suami istri.. hahaha… pikiran yang sama ada di otak temanku itu… Pantes, yang nginep di situ, pasangan-pasangan londo semua. atau jangan-jangan, itu dibuat untuk Londo mania, yang sepertinya haus akan fantasi-fantasi seksual?
SNAP!!!
Nampaknya, si desain interiornya sedang horni. Mungkinkah dia berfantasi seksual (yang tidak-tidak) ketika mendesain kamar hotel itu????
*) aneh, lain dari yang lain

tempat pup

aku lebih beruntung dari Nicholas Saputra

Hari Kamis malam, 27 Agustus 2009, sengaja tiduran di depan TV di kamarku. Sambil melepas capek dan tangan kananku memencet-mencet remote TV, memilih channel yang mungkin bisa menarik perhatianku. Benar saja, aku berhenti di Metro TV.

Saat itu, program yang baru akan dimulai adalah Just Alvin. Acara ini menarik menurutku. Talkshow dengan narasumber yang memiliki pencapaian prestasi tertentu, dibalut dengan nuansa entertain. Tidak norak dan terlalu lebay untuk menghibur pemirsanya. Pantas, kalau tagline acara ini: Friendship, Trust dan Untold.

Sebagai sang pembawa acara, Alvin juga bukan orang yang terlalu heboh untuk memandu sebuah acara layaknya pembawa acara dengan gaya-gaya norak di TV lain. Praktis, elegan dan memberikan pencerahan. Itulah Just Alvin yang kupahami, seperti seniornya, Andy yang ada di acara Kick Andy.

Nicholas SaputraMalam itu, si narasumber adalah Nicholas Saputra dengan judul: “THE WORLD IS MY PLAYGROUND” Aku rasa agak aneh menghadirkan si Nicholas Saputra. Batinku: “hanya artis biasa, layaknya artis yang lain. Buat apa didatangkan? Paling juga karena iklan.” Dan benar, kehadiran Nicholas Saputra memang didukung oleh Loreal Men Expert.

Sebuah produk kegantengan (bukan kecantikan) berkelas internasional untuk para pria. Di situ, ia mengaku cukup bangga karena disejajarkan dengan si James “Pierce Brosnan” Bond dan Daniel Wu, model berkebangsaan Hongkong yang menjadi Tokoh Tionghoa-Amerika.

Batinku itu kemudian hilang dari menit ke menit, aku mengikuti serius perbincangan dua kaum adam itu. Pernyataan di hatiku ternyata luluh setelah aku mengenal Nicholas Saputra dalam perbicangan yang lama-lama membuatku tertarik. Aku tertarik dengan Nicholas Saputra. Maaf. Aku revisi. Aku tertarik dengan ‘kehidupan’ Nicholas Saputra. Ada satu kalimat yang disampaikan Alvin saat itu. “Nich, kamu orang yang cukup beruntung.” Dan dengan jawaban cool, nicho menjawab kira-kira begini: “Ya.. saya adalah orang yang beruntung.”

Siapa yang tidak kenal Nicholas Saputra? Aktor film tampan dan digandrungi banyak wanita. Lulusan arsitektur UI, yang berprestasi di dunia akting dan meraih banyak penghargaan nasional bahkan internasional.  Di usianya yang ke 25 tahun, dia sudah membintangi beberapa film yang akhirnya lolos dalam berbagai penghargaan. Gie, adalah salah satu film yang dibintanginya. Jangan lupa, fenomena cinta remaja diawali dengan film AADC, yang menyandingkannya dengan Dian Sastrowardoyo. AADC Membuat nama Nicho saat itu menjadi amat populer.

Satu hal pencerahan dari perbincangan di Just Alvin saat itu (bagiku), yakni:

“KEBERUNTUNGAN”

Nicho mempunyai sebuah keberuntungan. Beruntung dianugerahi ketampanan. Beruntung dianugerahi bakat. Beruntung mendapat kesempatan main film. Beruntung mendapatkan berbagai penghargaan. Beruntung mendapatkan apa yang bisa dia raih.

Kadang aku berkhayal untuk mendapatkan sebuah rejeki yang tak terduga entah darimana asalnya

Kadang aku bermimpi, bahwa aku akan bisa main film di layar lebar

Kadang aku melamun, membayangkan diriku bersama dengan para penggemar-penggemarku.

Itulah keberuntungan yang ada dalam frame otakku. Berusaha menyamakan kehidupan beruntung dengan Nicholas Saputra. Nampaknya, aku sendiri tak pernah bisa memahami makna Keberuntungan dalam hidupku

Acara selesai…

Aku melamun… Agak lama… sambil mengganti acara-acara lain. Rasa kantuk menyerang…

Keberuntungan itu masih berlari-lari di otakku. Aku mencoba untuk larut dalam doa malam yang memang kurancang agar aku bisa membaca buah-buah keberuntungan yang sudah aku peroleh.

Dan…

Aha….

Kini aku menemukan jawabannya…

Sekarang mungkin aku tidak memiliki keberuntungan seperti Nicholas Saputra. Tapi aku memiliki banyak keberuntungan, jauh lebih banyak dari Nicholas Saputra. Dan sudah kutambahkan dalam doa malamku…

Tuhan, terima kasih atas keberuntungan untuk hidup hari ini, atas nafas yang kau berikan hari ini…

Tuhan, terima kasih atas keberuntungan mendapatkan orangtua yang amat manis menjagaku hingga usia dewasa

Tuhan, terima kasih atas keberuntungan memiliki sedikit rejeki. Aku tak akan tahu apa yang terjadi jika aku memiliki rejeki yang berlimpah. Mungkin aku tak akan bisa mengelolanya dan akan bangkrut.

Tuhan, terima kasih atas keberuntungan mendapatkan 1 wanita yang menemaniku. Mungkin jika aku mendapatkan banyak orang yang menyukaiku, akan bingung sendiri dan justru akan bunuh diri karenanya.

Tuhan, terima kasih atas keberuntungan bisa melihat Nicholas Saputra yang menginspirasi hidupku. Tidak seperti Nicholas Saputra, yang tidak bisa melihatku di TV. Aku lebih beruntung dari dia. Amin.

Thanx Nicho, Thanx Alvin and Thanx God!!!

only justAlvin

Just Alvin

gambar diambil dari: izoruhai.files.wordpress.com dan just-alvin.com