Dibalik MELAMAR

Hola!,

Awal tahun baru ini, tepatnya di tanggal 2 Januari 2016 pukul 16.30, stasiun televisi NET TV menyiarkan acara reality show MELAMAR dengan edisi Saya dan Kristi. Banyak yang bertanya kepada kami, bagaimana bisa masuk tipi? Hihihi… Baiklah… akan dijawab…

Tapi kalau ada yang belum lihat tayangan acara MELAMAR, silakan dilihat dulu:

INI PART 1

INI PART 2

INI PART 3

Bagi pasangan yang bersepakat untuk melanjutkan jenjang pernikahan, biasanya ada acara bakar sate lamaran. Tidak semua sih… ini hanya biasanya saja… Daaaan sering kita mendengar cerita tentang lamaran-lamaran romantis dari seorang lelaki kepada perempuan pasangannya. Romantis itu memang relatif, tergantung bagaimana kita merasakannya. Betul kan? Setiap pasangan memiliki definisi romantis yang berbeda-beda. Dan pada umumnya, wanita suka dengan hal-hal berbau romantis seperti ini. Umumnya lho… tapi memang ada yang tidak umum. Baca lebih lanjut

Iklan

9 Jam, 9 Gua Maria dan 9 Novena

Tiba-tiba saya diajak seorang teman untuk berdoa. Cara doanya sedikit unik. Dia ingin berdoa di depan 9 Gua Maria di Jakarta dalam sehari. Saya pikir ini adalah sesuatu yang tidak biasa. Saya iyakan untuk bergabung dengannya. Lagipula saya juga sangat amat jarang berdoa devosi khusus pada Bunda Maria, apalagi di depan Gua Maria. Kami berangkat, hanya berdua saja.

Setiap gereja Katholik biasanya memiliki Gua Maria. Bentuknya bisa jadi tidak berupa gua buatan, tetapi hanya patung Bunda Maria dikeliling taman. Akhirnya kami pilih 9 Gua Maria di 9 tempat berbeda. Berbekal buku Novena Tiga Salam Maria, semangat dan sedikit nekat, akhirnya Sabtu (12 April 2014) kemarin, saya dan teman saya ini menyusuri jalanan Jakarta. Panas, Hujan lebat, lapar, kucel dan ngantuk, jadi satu.

Dan inilah petualangan di 9 Gua Maria yang kami kunjungi kemarin: Baca lebih lanjut

Dua tahun lalu, 36 orang tewas di Petarukan

Infografik KOMPAS tentang Kecelakaan Kereta di Petarukan.

Stasiun Solo Balapan – 4 Oktober 2010

Jam di handphone saya menunjukkan pukul 18.50. Kira-kira 10 menit lagi, kereta Senja Utama Solo yang saya tumpangi akan berangkat menuju Jakarta. Saya berdoa, memohon keselamatan selama perjalanan dari Yang Kuasa. Setiap kata-kata dalam doa saya menunjukkan bahwa saya masih ingin hidup, dan berharap kereta saya baik-baik saja hingga ke Jakarta. Pikiran tidak tenang karena mendapatkan tempat duduk di gerbong paling belakang kereta. Cemas dan gelisah menghantui diri saya. Orang-orang yang berada satu gerbong dengan saya tidak tahu, bahwa saya adalah salah satu korban kecelakaan kereta Senja Utama Semarang 2 hari sebelumnya. Kereta yang membawa saya dari Jakarta menuju Semarang.

Saya tahu, saya sedang mengalami trauma kecil. Jujur, sebenarnya saya masih merasa ketakutan untuk naik kereta. Bayangkan, dua hari sebelumnya saya melihat puluhan korban tewas tertabrak kereta yang sedang saya tumpangi, dan saya berada dalam satu gerbong yang –Puji Tuhan- tidak mendapatkan luka serius.  Dan sekarang saya harus kembali ke Jakarta naik kereta lagi. Trauma itu tidak bisa hilang dengan cepat. (Detik-detik kisah tragis kecelakaan itu bisa dibaca di blog saya, di sini).

Baca lebih lanjut

Astaghfirullah… Istriku Teroris

Istriku Teroris (The Attack) - Yasmina Khadra

Dari dulu saya tidak pernah bisa mengerti, apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang melakukan bom bunuh diri. Dan Jakarta adalah salah satu kota di Indonesia yang pernah diguncang bom bunuh diri beberapa kali. Sayapun kembali mempertanyakan: mengapa mereka berani melakukan hal itu? Apa yang sudah ada di dalam pikiran mereka? Motivasi besar apakah yang membuat mereka ingin melakukan seperti itu? Kisah-kisah tentang bom bunuh diripun sudah banyak diceritakan dan dibukukan.

Tapi bagaimana jika ternyata orang yang melakukan bom bunuh diri tersebut adalah orang yang kita sayangi ? Bagaimana jika mereka saudara kita? Atau bahkan suami atau istri kita sendiri? Nah, cerita tersebut bisa kita baca melalui sebuah novel karya Yasmina Khadra yang berjudul Istriku Teroris.

***

Diceritakan dalam novel tersebut, Amin Jaafari, seorang dokter bedah di sebuah rumah sakit di Tel Aviv, memiliki seorang istri yang ternyata menjadi pelaku sebuah bom bunuh diri di Israel. Betapa terpukulnya Amin setelah mengetahui bahwa pelaku bunuh diri yang menewaskan banyak jiwa itu ternyata istrinya sendiri. Orang yang dekat dengan dia. Orang yang setiap harinya hidup bersamanya dalam satu atap. Orang yang bahkan dianggap sangat sempurna sebagai seorang istri oleh Amin. Tak ada kekurangan.  Baca lebih lanjut

Memilih Tempat Dugem

Para Tamu menikmati Suasana Malam di Sebuah Klub

Bagi sebagian masyarakat urban – ibukota yang hidupnya cukup mampu, pergi ke tempat clubbing atau klub malam adalah salah satu bagian dari gaya hidup. Tapi jujur saja, meskipun saya sudah menjajal beberapa tempat clubbing di Jakarta, saya tetap tak bisa menjadikannya bagian dari hidup saya. Clubbing atau yang dibahasagaulkan oleh masyarakat umum sebagai dugem, bukanlah tempat yang tepat untuk melepaskan kepenatan (bagi saya).

Kalaupun saya tertawa dan ikut bergoyang di lantai dansa, kadang saya tak tenang dengan situasi. Suara musik jedag jedug memang menggeleparkan hati ini untuk larut dalam suasana. Tapi bau rokok, parfum & alkohol yang berlebihan, melihat orang mabuk, muntah, dan tertawa lepas penuh keriangan juga sebenarnya tidak saya sukai… (yaelah.. tempat dugem emang kayak gitu kali, war…..) . Memang, kalau urusan melek mata sampai malam hingga dini hari, saya tak terlalu bermasalah.

Sebenarnya, saya salut pada teman-teman saya yang bekerja di tempat clubbing. Mereka bisa kuat menemani para tamunya, merelakan kerja fisik yang (menurut saya) cukup melelahkan. Bayangkan, harus tertawa, mengumbar senyum, ikut minum, menyapa semua tamu (meski perasaan dan pikiran mereka entah ke mana) adalah pekerjaan yang tidak mudah. Malah, jika mereka (sebagai karyawan) dapat jatah show, mereka harus merelakan diri, menahan malu mungkin, tampil di depan orang untuk menghibur. Tapi kalau memang jiwa mereka sudah penghibur, ya itu lain lagi.

Baca lebih lanjut

Bekerja itu Ibadah

Dalam slip gaji bulan November yang saya terima, saya menerima sebuah tulisan inspirasi dari Pak Jakob Oetama, Presiden Komisaris Kompas Gramedia. Tentu saja, tulisan tersebut ditujukan bukan hanya untuk saya saja, tapi seluruh Karyawan Kompas Gramedia sebagai bagian dari pemberian motivasi dan inspirasi hidup (Empowering Talent) untuk seluruh karyawan KG. Tulisan yang indah dan mencerahkan tersebut dicetak dalam selembar kertas berwarna merah muda dan diberi judul BEKERJA ITU IBADAH, 5 paragraf panjangnya.

Banyak orang yang sudah mengatakan demikian, Bekerja itu Ibadah. Tulisan Pak Jakob-pun, menurut saya, bukanlah sesuatu yang baru. Tapi beliau kembali mengingatkan, bahwa memang salah satu tugas kehidupan manusia di dunia ini adalah menyeimbangkannya dengan berkarya. Kemudian, apa maknanya bagi saya?

Terkait dengan resolusi saya tahun 2010 ini, salah satunya adalah bekerja dengan sepenuh hati dan menerima penghargaan melalui pengangkatan karyawan. Dan (pada kenyataannya) tahun inipun saya belum mendapatkan pengangkatan. Merasa gagal, tapi ya sudah, tak apa. Yang penting resolusi saya sedikit terpenuhi, yakni bekerja dengan sepenuh hati. Masih banyak orang yang tak bisa bekerja. Bahkan, sudah mendapatkan gelar sarjanapun masih susah untuk mendapatkan pekerjaan. Saya mencoba menempatkan diri seperti mereka, ribuan pencari kerja itu, bahkan ratusan ribu.

Dua tahun di Jakarta

Bulan Agustus tahun ini, genap 2 tahun saya bekerja di Jakarta. Banyak pengalaman menarik selama bekerja di Jakarta. Entah itu pengalaman-pengalaman yang sifatnya terkait dengan pekerjaan maupun pengalaman bersama orang lain menjalani kehidupan sebagai bagian dari masyarakat Jakarta. Yang dipenuhi kemacetan jalan ketika pagi hari. Yang harus merogoh kocek setiap kali ingin terhibur dan terbahak-bahak. Yang setia berbanjir ria ketika harus hujan. Dan hal-hal merepotkan lainnya tentang Jakarta.

Baca lebih lanjut

Serunya Pesta Blogger+ 2010

Waaaooo!!! Itulah ekspresi ketika saya bergabung dalam Pesta Blogger+ tahun ini. Sekitar 50 juta 1500 blogger+ nggrudug Epicentrum Walk Jakarta dari berbagai wilayah di Indonesia. Waaa.. ramai sekali. Tanggal 30 Oktober kemarin, diselenggarakan acara blogger+ . Kami berkumpul, berpesta, berdiskusi, makan bersama, gembira ria bersama. Tahun ini, Sponsor utama dari pesta blogger+ adalah ACER. Ini adalah acara yang juga sebagai peringatan Hari Blogger Nasional, tanggal 27 oktober 2010.

Pesta Blogger ini dimulai dari tahun 2007. Dan sejak tahun 2008, saya sudah ikut mendaftar Pesta Blogger di Jakarta. Meski mendaftar 3 kali berturut-turut tiap tahun, baru tahun ini saya benar-benar baru bisa datang. Horeeeee!!!! Tahun 2008, ketika Pesta Blogger diselenggarakan, saya ada di Bandung. Dan ketika tahun 2009, saya juga sedang di Surabaya. Baru tahun inilah, saya ikut bergabung, bertemu dengan teman-teman blogger+.

Baca lebih lanjut