Menghadapi Sebuah Pilihan yang Sulit

10295056_10152362366448996_2867761502159881401_oDalam menapaki perjalanan hidup, kita seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak biasa. Pilihan hidup yang mungkin bisa membuat kita galau berhari-hari. Memikirkannya saja bisa membuat kita tak bisa tidur, makan tak enak atau merasa enggan bertemu dengan orang lain. Kita dihadapkan pada keadaan yang tidak pasti dan harus memutuskan pilihan mana yang nanti tepat untuk kehidupan kita selanjutnya. Pernah merasakannya juga?

Yang pasti dalam kehidupan ini adalah ketidakpastian itu sendiri. Manusia seperti kita, pasti akan mencari kepastian hidup yang tentunya kita yakini sebagai sebuah hal yang menggembirakan bagi hidup kita. Lalu, jika ketidakpastian itu ada dalam diri kita (dan akan selalu ada), mengapa harus mencemaskannya? Hal ini terjadi karena sifat manusia yang selalu ingin segala sesuatunya pasti, clear dan memudahkan kehidupannya. Uncertainty Reduction Theory. Manusia akan berusaha mengurangi ketidakpastian dalam hidupnya. Manusia cenderung akan memilih yang pasti-pasti saja. Baca lebih lanjut

Tentang Antusiasme Bekerja

Pada pertengahan 2015 lalu, saya naik pesawat Malaysia Airlines menuju Kuala Lumpur. Seperti yang kita tahu, perusahaan maskapai penerbangan Malaysia (waktu itu) tengah dirundung persoalan pelik. Setelah kasus pesawat MH370 dan MH17, perusahaan ini semakin terpuruk karena beban keuangan yang (sepertinya) sangat sulit diselesaikan.

Persoalan ini berdampak juga pada pilihan calon penumpang untuk memilih Malaysia Airlines sebagai maskapai penerbangan mereka. Keadaan semakin menyulitkan perusahaan ini untuk bisa bangkit. Citranya buruk di mata publik karena peristiwa beruntun yang mendera perusahaan ini.

Kembali ke pengalaman saya terbang bersama Malaysia Airlines. Ketika mulai dari check in di bandara, saya mulai memperhatikan bagaimana karyawan-karyawan maskapai penerbangan ini memberikan layanan kepada customernya (termasuk saya), di tengah kondisi perusahaan yang seperti itu. Baca lebih lanjut

Soal Menikah dan “Kapan nikah?”

"Semua akan indah pada waktunya..." (source: http://ashtonphotography.co.uk/)

“Semua akan indah pada waktunya…” (source: http://ashtonphotography.co.uk/)

Di usia saya yang semakin bertambah, pertanyaan sekitar “Kapan menikah?” kerap masuk ke telinga saya. Wajarlah demikian karena rekan-rekan saya (seumuran) yang belum menikahpun juga mendapat pertanyaan yang sama. Tentunya mereka memiliki reaksi sendiri-sendiri, tetapi hampir sebagian besar merasa panas hati dan gerah ketika pertanyaan itu dilontarkan, baik dari orangtua, saudara maupun tetangga. Begitu juga dengan saya, dalam hati sebal dan berpikir: “ngapain sih nanya-nanya”. *kipas-kipas*

Karena saya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan demikian, sayapun berusaha tidak bertanya pada teman yang -saya tahu- belum menikah. Saya tahu rasanya ditanya seperti itu, jadi saya tidak melontarkan hal yang sama. Banyak juga, orangtua dari temen-temen saya yang menanyakan hal itu pada saya. Biasanya, jawaban saya adalah: “saya sudah menikah kok…tapi diem-diem…” sambil nyengir.

Baca lebih lanjut

9 Jam, 9 Gua Maria dan 9 Novena

Tiba-tiba saya diajak seorang teman untuk berdoa. Cara doanya sedikit unik. Dia ingin berdoa di depan 9 Gua Maria di Jakarta dalam sehari. Saya pikir ini adalah sesuatu yang tidak biasa. Saya iyakan untuk bergabung dengannya. Lagipula saya juga sangat amat jarang berdoa devosi khusus pada Bunda Maria, apalagi di depan Gua Maria. Kami berangkat, hanya berdua saja.

Setiap gereja Katholik biasanya memiliki Gua Maria. Bentuknya bisa jadi tidak berupa gua buatan, tetapi hanya patung Bunda Maria dikeliling taman. Akhirnya kami pilih 9 Gua Maria di 9 tempat berbeda. Berbekal buku Novena Tiga Salam Maria, semangat dan sedikit nekat, akhirnya Sabtu (12 April 2014) kemarin, saya dan teman saya ini menyusuri jalanan Jakarta. Panas, Hujan lebat, lapar, kucel dan ngantuk, jadi satu.

Dan inilah petualangan di 9 Gua Maria yang kami kunjungi kemarin: Baca lebih lanjut

Sebelum Aku Mati

Before I Die (Source: goodreads.com)

Before I Die (Source: goodreads.com)

Kematian adalah salah satu babak kehidupan yang pasti dialami oleh makhluk hidup di bumi ini, pun manusia. Kisah-kisah menuju kematian seringkali kita dengar, kita baca dan kita saksikan sendiri. Kecelakan karena tertubruk kereta. Bunuh diri karena cinta. Meninggal di usia senja. Serangan jantung yang mendadak. Apapun itu. Tapi kematian adalah segmen yang sebenarnya hanya kita tunggu dari sebuah kehidupan.

***

Di akhir 2013, saya mulai membaca novel karya Jenny Downham. Dia adalah salah seorang aktris yang kemudian beralih profesi menjadi penulis novel. Novel yang saya baca adalah Before I Die. Novel ini sudah diterjemahkan dalam lebih dari 25 bahasa dan pernah meraih Branford Boase Award pada tahun 2008. Novel ini juga sudah difilmkan dengan judul NOW IS GOOD. Meski sudah dipublikasikan pada tahun 2007, novel ini baru dicetak untuk pertama kalinya pada April 2012 dalam bahasa Indonesia. Empat hari setelah tahun baru 2014, saya menyelesaikan novel setebal 363 halaman ini.

Judulnya saja sudah mengisyaratkan isi cerita di dalamnya: pasti bercerita tentang kisah hidup seseorang dengan penyakit yang dideritanya, dan pasti ada peristiwa-peristiwa unik sebelum kematian si tokoh utama. Alur ceritanya sudah bisa ditebak, bahkan saya sudah bisa menebak bahwa si tokoh itu pasti mati. Karena ujung cerita bukan sesuatu yang penting di sini, tetapi yang penting adalah cerita sepanjang persiapan kematian itu sendiri. Begitulah pemikiran saya di awal.

Baca lebih lanjut

Terima kasih 2013

Selamat Tahun BaruDi tengah keriuhan masyarakat dunia untuk menyambut tahun baru 2014, saya juga ingin larut di dalamnya. Tentunya dengan cara yang berbeda, dengan cara saya sendiri, menulis. Sesuatu yang sebenarnya tidak pernah saya lakukan untuk menyambut tahun baru. Tetapi sekali-kali perlu juga berbagi refleksi. Dan jangan pernah lupa, bahwa bersyukur atas apa yang sudah kita dapatkan di tahun-tahun sebelumnya adalah sebuah kewajiban. Berterima kasih kepada orang-orang yang telah mendukung kita dalam setiap pencapaian di tahun 2013 adalah sebuah keharusan. Bayangkan, tanpa merekapun, apalah artinya hidup kita. Demikian intro dari saya.

***

Hingga saya menulis hal ini, saya belum memiliki rencana untuk melakukan hal-hal yang spesial di tahun depan (2014), saya juga belum punya plan dengan cara seperti apa saya akan melakukan selebrasi pergantian tahun. Tetapi mari kita mulai dari hal yang kecil dulu: mengingat-ingat apa yang telah saya dan kita lakukan di 2013: Apa yang sudah saya capai di 2013? Apa yang sudah saya lakukan untuk pengembangan diri dan keluarga saya? Berapakah karya saya yang berguna bagi orang lain? Berapa novel yang sudah saya lahap dalam setahun terakhir ini? Berapa tulisan yang sudah saya masukkan di blog ini untuk sekedar melampiaskan perasaan? Dari hal yang sangat general, sampai dengan pemikiran yang remeh temeh seperti itu. Baca lebih lanjut

Psikologi Komunikasi: Yang Salah Siapa, Yang Marah Siapa

Kuasailah keadaan. Jangan dikuasai keadaan.

Kuasailah keadaan. Jangan dikuasai keadaan.

Ada seorang teman yang mengatakan pada saya: “Kendalikanlah keadaan, jangan sampai kamu dikendalikan oleh keadaanmu.” Kira-kira, terjemahannya bisa diumpamakan seperti yang saya alami kemarin, sebuah peristiwa komunikasi antara saya dengan sesama karyawan yang menurut saya nyebelin tapi pada akhirnya lucu: Yang Salah Siapa, Yang Marah Siapa.  Begini ceritanya.

***

Saya harus mendapatkan sebuah data (dengan deadline waktu tanggal 5 Desember) dari seorang pimpinan, sebut saja Pak CirKocarKacir. Saya berupaya ‘mboh pie carane’ (entah gimana caranya) agar mendapatkan data tersebut tepat waktu, bahkaaaaaaan kalau bisa sebelum tanggal 5 sudah saya dapatkan.

Tanggal 2 Desember (siang hari) saya menghubungi Pak CirKocarKacir supaya menyerahkan data itu ke saya. Ternyata si Bapak sudah menyerahkan data tersebut ke sekretarisnya yang bernama Bu RempongAbis, untuk kemudian diserahkan kepada saya, bahkan dengan sebuah catatan (dengan stiker Sticky Notes) dari Pak CirKocarKacir: “Bu RempongAbis, Tolong Kirim Balik ke Anwar” Kira-kira begitu.

Tanggal 2 Desember (sore hari) saya menghubungi Bu RempongAbis via telfon ruang kantornya. Tiga kali telfon di waktu berbeda. Tidak ada jawaban. “Mungkin lagi sibuk (a.k.a rempong) ,” pikir saya. Jadi saya memutuskan untuk ke ruangannya. Ternyata di ruangannya, Bu RempongAbis ini tidak ada. Saya putuskan untuk menghubungi via BBM tapi pada akhirnya juga cuma di R doang. Aduh, kasian sekali saya ini. Saya putuskan untuk menghubungi keesokan harinya untuk meminta data tersebut. Saya minta bantuan sekretaris di unit saya untuk membantu menghubungi Bu RempongAbis ini. Pekerjaan saya yang lain juga jadi terbengkalai kalau hanya mengurus seperti ini.

Saya mulai tidak sabar untuk sekedar ingin bertemu dengan Bu RempongAbis setelah diceritakan oleh sekretaris saya: “Tadi saya ketemu sama Bu RempongAbis pas makan siang, katanya nanti dia akan kirim datanya…”. Kenyataannya, saya bertemu dengan Bu RempongAbis aja susahnyaaaaa minta ampun. Padahal tiap hari saya ketemu pimpinannya. Jauh lebih sulit bertemu sekretarisnya dibandingkan pimpinannya. Itu di hari Selasa (3 Desember).

Baca lebih lanjut