8 Pertanyaan Paling Banyak untuk Pengantin Baru

WeddingBulan Juli 2016 lalu kami melangsungkan pernikahan. Betapa bahagianya bisa menikmati kehidupan baru sebagai sepasang suami-istri. Dalam acara pernikahan sendiri, seringkali kita bertemu dengan para tamu undangan. Esoknya, ketika kita sudah mulai menjalani aktivitas rutin di kantor, di masyarakat dan di komunitas kita tinggal, para pengantin baru (khususnya ya kami ini…. ) seringkali diserbu oleh berbagai pertanyaan. Berdasarkan pengalaman kami, pertanyaan apa saja yang diutarakan orang-orang di sekitar kami?

  1. Gimana rasanya?

Kalau pertanyaannya seperti ini, pasti kami jawab: “Legaaaaa….”. Ya gimana ga lega, dengan urutan acara yang menghabiskan waktu berhari-hari, dengan persiapan berbulan-bulan yang harus kami detailkan, dengan keribetan yang sangat menghabiskan tenaga dan pikiran, akhirnya selesai juga seluruh rangkaiannya.  Kebetulan kami berdua sangat puas dengan acara akad (sakramen pernikahan) kami di Jakarta dan resepsi di Solo. Walaupun ada jeda 2 minggu dari acara itu, kami sebenarnya justru lebih merasa berdebar-debar tak terkira, bahkan di puncak-puncak acara 2 event besar kami ini.  Pada akhirnya semua selesai… syukurlah… fiuhhh… bisa bernafas dengan normal kembali.  Jadi… disitulah letak kelegaan kami berdua… Baca lebih lanjut

Dibalik MELAMAR

Hola!,

Awal tahun baru ini, tepatnya di tanggal 2 Januari 2016 pukul 16.30, stasiun televisi NET TV menyiarkan acara reality show MELAMAR dengan edisi Saya dan Kristi. Banyak yang bertanya kepada kami, bagaimana bisa masuk tipi? Hihihi… Baiklah… akan dijawab…

Tapi kalau ada yang belum lihat tayangan acara MELAMAR, silakan dilihat dulu:

INI PART 1

INI PART 2

INI PART 3

Bagi pasangan yang bersepakat untuk melanjutkan jenjang pernikahan, biasanya ada acara bakar sate lamaran. Tidak semua sih… ini hanya biasanya saja… Daaaan sering kita mendengar cerita tentang lamaran-lamaran romantis dari seorang lelaki kepada perempuan pasangannya. Romantis itu memang relatif, tergantung bagaimana kita merasakannya. Betul kan? Setiap pasangan memiliki definisi romantis yang berbeda-beda. Dan pada umumnya, wanita suka dengan hal-hal berbau romantis seperti ini. Umumnya lho… tapi memang ada yang tidak umum. Baca lebih lanjut

CERBUNG: Antara Solo dan London (Part 1)

Antara Solo dan London (credit photo: allposters.co.uk)

Antara Solo dan London (credit photo: allposters.co.uk)

“Rio… Aku pulang tanggal 17 bulan ini”

Begitu pesan Felis yang kuterima di WhatsApp pagi ini. Felis adalah gadis cantik asli Semarang. Menyebut namanya, mengingatkanku pada pertemuan kami 2 tahun silam dalam perjalanan dari Jakarta menuju London.

“Ada acara apa di Inggris?” tanyaku pada Felis saat di dalam pesawat.

“Kuliah master, Pak! Kebetulan dapat beasiswa di sana,” sementara wajahku mengernyit seolah menolak untuk disebut ‘Pak’. Dia pikir berapa usiaku?

“Eh… saya kan masih usia 27. Kenapa manggil, Pak? Udah keliatan tua?”

“Ah… Maaf. Bukan keliatan tua sih, tapi bingung mau manggil apa. Aku panggil kak aja kalo gitu…,”katanya.

“Kak boleh juga. Tapi Rio aja lebih enak kayaknya…”

“Rio…hmm… Kenapa kalo denger kata ‘Rio’ selalu terbayang Brazil ya? Aku Felis,” ujarnya sambil mengajakku bersalaman.

Bermula dari perkenalan singkat, aku tahu Felis adalah wanita yang mudah bergaul. Dia mempesona. Gaya bicaranya menawan. Kalau dia ikut seleksi putri Indonesia, pasti lolos jadi finalis. Felis termasuk gadis yang cerdas. Sepanjang perjalanan menuju London, dia banyak bercerita tentang perkembangan arsitektur di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Arsitektur adalah ilmu yang akan dia dalami di studi masternya di London.

Dia menjelaskan padaku tentang tata kota Jakarta yang sudah tak masuk akal. Sebuah bahan pembicaraan yang tak pernah menarik perhatianku tetapi justru membuatku harus memikirkannya lantaran wanita manis berambut hitam legam sepundak ini. Baca lebih lanjut

Menyanyi dengan Sepenuh Hati

Buset deh, ternyata lama juga saya ga nulis blog ini. Apa ya… mungkin karena kesibukan yang sangat luar biasa. Banyak waktu tersita untuk mengerjakan yang lain, sedangkan “menulis”  menjadi kesempatan yang langka untuk mengekspresikan diri…. ttsaaahhhh… 🙂

Menyanyi dengan Sepenuh Hati: Konser Requiem for The Mother of Songs (Bangkok, Juli 2012)

Apapun itu, akhirnya saya kembali menulis untuk sekedar curhat tentang apa yang saya alami. Padahal, rentang waktu antara bulan Maret (terakhir saya nulis blog) sampai September sekarang ini, saya sebenarnya punya berbagai cerita yang cukup menarik. Tapi ya nanti dulu, satu-satu saja yang harus ditulis.

Okeh, saya mulai dari hm….. kesibukan saya setahun terakhir ini.

Sssssttt… Jangan bilang siapa-siapa kalau ternyata setahun terakhir ini saya ikut paduan suara… halah… hahaha… Tapi ini paduan suara yang resmi dan terorganisir dengan baik lho. Menyanyi sih bisa, tapi menyanyi dengan aturan dan partitur yang kadang tebelnya kayak skripsi itu kadang bikin setres sendiri. Padahal niatnya ikut paduan suara biar ga setres, lha ini malah jadi tambah mumet…

***

Vox Angelorum di Bangkok

Sekitar setahun lalu, saya bergabung dengan paduan suara VOX Angelorum. Huaduuh… Namanya berat, sedara-sedara!!! Paduan suara yang –kalau dibayangkan– isinya malekat-malekat semua. Bahahahak… SE CA RA…. ANGEL itu kan artinya MALEKAT…. Eh tapi, setahun yang lalu ketika memutuskan untuk bergabung dengan paduan suara ini sama sekali tidak memperhitungkan soal nama.

Baca lebih lanjut

Baca Majalah itu Penuh Sensasi

Majalah Intisari

Bulan Maret 2012 ini, saya memutuskan untuk berlangganan 2 majalah sekaligus, yaitu: Reader’s Digest Indonesia dan Intisari. Kalau dipikir-pikir, hampir setiap bulan sebenarnya saya membeli buku untuk dibaca. Pada dasarnya memang saya suka membaca. Tapi terkadang membaca buku itu membutuhkan usaha yang luar biasa untuk bisa menyelesaikan sampai ujung halamannya. Bahkan ada beberapa buku yang belum saya buka plastiknya karena memang belum sempat dibaca. Itulah yang membuat saya memutuskan berlangganan majalah pengetahuan umum.

Ya kalau bisa dikatakan sih, saya ini cukup haus untuk informasi dan ilmu pengetahuan…(haus ya minum aja kaliii ya…). Bagi saya, membaca buku menjadi hal yang wajib…eciyeeeee…. Tapi, ya itu tadi.. terbentur dengan soal sempat dan tidak sempat, saya terkadang meninggalkan kebiasaan untuk membaca buku, apalagi kalau pas malam-malam udah capek karena pagi sampai sorenya udah kerja.

Dengan membaca majalah, harapannya nanti, saya tetap bisa merasakan sensasi membaca di malam hari dengan materi informasi yang tidak terlalu panjang, tetapi cukup memberikan banyak pengetahuan. Sebenarnya saya ingin berlangganan banyak majalah, misalnya National Geographic (majalah pengetahuan), Travel Fotografi (majalah fotografi yang baru) dan CHIP (majalah IT). Tapi apa daya, uang tak sampai. Hehehehe… Maka, saya putuskan untuk berlangganan 2 majalah saja: INTISARI dan REDAER’S DIGEST INDONESIA. Baca lebih lanjut

Nginep di mana ya?

Dua minggu lalu, iseng-iseng ikutan kuis yang diadakan oleh akun Facebook GRAHAWITA SANTIKA dan akun twitter @santikaonline. Saya sih sebenarnya jarang ikutan kuis-kuis yang diselenggarakan oleh social media. Tetapi kalau yang ini sih, saya cukup minat. Awalnya bukan karena fokus biar dapet hadiahnya, tapi karena saya merasa punya pengalaman menginap di Hotel Santika. Saya sih beberapa kali menginap di Hotel Santika (kalau pas lagi dinas luar kota aja). Hehehe…

Santika mengajak followers dan fans-nya di FB untuk membuat sebuah gambar yang menceritakan tentang pengalaman liburan dan asyiknya berwisata. Tempat wisatanya sih terserah, boleh dalam ataupun luar negeri. Pokoknya, di gambar itu harus menampilkan keunikan atau foto-foto yang menunjukkan asyiknya jalan-jalan dan wisata di tempat tersebut.

Kalau kuis yang satu ini, memang harus ada usaha sih. Paling tidak, harus bisa ngedit gambar. Ya… bagaimanapun caranya ya. Toh mengedit gambar juga ga harus pakai software yang macem-macem. Temen saya yang sering ikutan kuis dengan cara ngedit-ngedit gambar begini, sukanya juga ngedit gambar pake Powerpoint. Simple kan? Kalau saya, ya… agak yang sedikit canggihlah… pake Photoshop CS 2. Itupun juga masih pake editan yang standart.  Hehehe.. Baca lebih lanjut

Memilih Tempat Dugem

Para Tamu menikmati Suasana Malam di Sebuah Klub

Bagi sebagian masyarakat urban – ibukota yang hidupnya cukup mampu, pergi ke tempat clubbing atau klub malam adalah salah satu bagian dari gaya hidup. Tapi jujur saja, meskipun saya sudah menjajal beberapa tempat clubbing di Jakarta, saya tetap tak bisa menjadikannya bagian dari hidup saya. Clubbing atau yang dibahasagaulkan oleh masyarakat umum sebagai dugem, bukanlah tempat yang tepat untuk melepaskan kepenatan (bagi saya).

Kalaupun saya tertawa dan ikut bergoyang di lantai dansa, kadang saya tak tenang dengan situasi. Suara musik jedag jedug memang menggeleparkan hati ini untuk larut dalam suasana. Tapi bau rokok, parfum & alkohol yang berlebihan, melihat orang mabuk, muntah, dan tertawa lepas penuh keriangan juga sebenarnya tidak saya sukai… (yaelah.. tempat dugem emang kayak gitu kali, war…..) . Memang, kalau urusan melek mata sampai malam hingga dini hari, saya tak terlalu bermasalah.

Sebenarnya, saya salut pada teman-teman saya yang bekerja di tempat clubbing. Mereka bisa kuat menemani para tamunya, merelakan kerja fisik yang (menurut saya) cukup melelahkan. Bayangkan, harus tertawa, mengumbar senyum, ikut minum, menyapa semua tamu (meski perasaan dan pikiran mereka entah ke mana) adalah pekerjaan yang tidak mudah. Malah, jika mereka (sebagai karyawan) dapat jatah show, mereka harus merelakan diri, menahan malu mungkin, tampil di depan orang untuk menghibur. Tapi kalau memang jiwa mereka sudah penghibur, ya itu lain lagi.

Baca lebih lanjut