Tentang Antusiasme Bekerja

Pada pertengahan 2015 lalu, saya naik pesawat Malaysia Airlines menuju Kuala Lumpur. Seperti yang kita tahu, perusahaan maskapai penerbangan Malaysia (waktu itu) tengah dirundung persoalan pelik. Setelah kasus pesawat MH370 dan MH17, perusahaan ini semakin terpuruk karena beban keuangan yang (sepertinya) sangat sulit diselesaikan.

Persoalan ini berdampak juga pada pilihan calon penumpang untuk memilih Malaysia Airlines sebagai maskapai penerbangan mereka. Keadaan semakin menyulitkan perusahaan ini untuk bisa bangkit. Citranya buruk di mata publik karena peristiwa beruntun yang mendera perusahaan ini.

Kembali ke pengalaman saya terbang bersama Malaysia Airlines. Ketika mulai dari check in di bandara, saya mulai memperhatikan bagaimana karyawan-karyawan maskapai penerbangan ini memberikan layanan kepada customernya (termasuk saya), di tengah kondisi perusahaan yang seperti itu.

Dalam hati saya bertanya-tanya “Gimana rasanya ya, bekerja di perusahaan maskapai dengan situasi perusahaan yang sedang dalam kondisi krisis seperti ini?”. Saya berpikir bahwa pasti mereka harus tetap semangat melayani. Para frontliner yang bekerja untuk maskapai ini pasti harus tetap tersenyum ceria menyambut calon-calon penumpang yang akan naik pesawat ini.

Tapi memang suasana tidak nyaman itu amat terasa sekali. Khususnya mulai di ruang tunggu bandara. Saya belum bisa memastikan apakah itu benar-benar karyawan yang secara institusi digaji Malaysia Airlines (MA) atau bukan, tetapi yang jelas mereka menggunakan identitas maskapai MA. Di ruang tunggu bandara, mereka tampak kurang bersemangat bekerja. Mereka tidur-tiduran di ruang tunggu, sambil memainkan telepon genggam. Sambutannya dingin ketika calon penumpang masuk ke ruangn itu.

Begitu pula ketika saat aktivitas inflight. Ketika para penumpang -termasuk saya- memasuki pesawat, sambutan kru pesawat terlihat kaku dan tegang. Senyuman mereka sepertinya kurang plong. Ada sesuatu yang mengganjal. Entah ada apa di balik itu semua, tetapi aura itu benar-benar sangat kuat. Semoga pemikiran ini salah. Tetapi saya bisa merasakan, antusiasme bekerja mereka semacam punah.

Orang yang antusias dalam bekerja itu mudah dikenali kok. Apalagi karyawan yang bekerja memberikan pelayanan langsung kepada customer. Mata tak bisa berbohong. Mimik muka adalah cerminan perasaan. Ketulusan senyuman adalah ujung yang bisa dipandang. Banyak hal lagi yang bisa ditelaah: tingkah laku, gesture, kecepatan merespon, dan lain-lain.

Citra perusahaan adalah faktor luar yang tidak bisa dikendalikan langsung oleh seorang diri karyawan. Berkembangnya pandangan orang tentang perusahaan tempat kita bekerja tidak bisa kita batasi. Dalam kasus MA, pandangan negatif publik terhadap maskapai MA tidak dapat dihindari pasca kejadian 2 pesawat tersebut. Inilah krisis itu sebenarnya. Pertanyaannya, bagaimana menumbuhkan semangat dan antusiasme bekerja di dalam kondisi krisis?

Bagi sebagian orang, ketika sedang mengalami krisis, lebih baik menghindari krisis itu. Apalagi orang yang bekerja di perusahaan swasta. “Ngapain lama-lama bekerja di situ? Emang ini perusahaan nenek lu?”. Mungkin itu salah satu jawabannya. Tetapi tidak jarang, ada karyawan-karyawan yang tetap setia, loyal dan berusaha keras, bergotong royong untuk memperbaiki keadaan. Mereka yang bertahan juga memiliki karakter berbeda-beda dalam menghadapi krisis. Ada yang tetap antusias, ada yang masa bodo, ada yang terus-menerus berkasak-kusuk, ada yang tetap tekun bekerja. Kebanyakan sih melemah.

Nah, bagaimana menjaga api antusiasme itu supaya tetap menyala terang dan tetap memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki?

Pertama, bergembiralah & tersenyumlah. Tumbuhkan rasa kegembiraan itu dalam bekerja dan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Jika pada saat pagi hari kita sudah dihadapkan pada berbagai pekerjaan yang menumpuk. Ubahlah pemikiran bahwa pekerjaan itu adalah mainan kita, yang siap kita lempar, kita tendang, kita maksimalkan untuk dilakukan. Jadi, tak ada salahnya jika kita tetap bergembira dan tersenyum.

Kedua, buatlah daftar mimpi. Semua orang boleh bermimpi. Tetapi yang lebih penting, setiap orang sangat boleh mengejar mimpi-mimpi itu. Apa impianmu? Jangan-jangan selama ini, kita fokus bekerja tetapi tidak ada impian apapun. Pupuklah pemikiran, bahwa khayalan itu akan segera nyata. Kita harus segera mengejarnya. Wujudkan mimpi itu untuk diri dan perusahaan kita.

Kedua, jangan fokus pada apa yang dibicarakan orang lain. Banyak meme yang beredar: kita yang mengerjakan, orang lain yang mengomentari. Tenang saja, orang lain akan selalu mengomentari apa yang kita lakukan. Biarkanlah fungsinya sebagai komentator. Yang penting apa yang kita lakukan sudah tepat. Orang lain hanya akan mematahkan antusiasme bekerja kita.

Keempat, syukurilah yang ada saat ini. Orang yang tidak pernah bersyukur, akan selalu merasa dirinya kurang. Ketika merasa segalanya kurang, kita menumbuhkan semangat negatif yang ada di dalam diri. Jika tahap awal sudah muncul kesan yang negatif, kita akan sulit melangkah naik untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Kelima, tak perlu khawatir dan berpikirlah positif. Sebagai manusia, rasa kekhawatiran itu pasti ada. Ketidaknyamanan itu akan datang suatu waktu. Tetapi kekhawatiran itu tak akan datang ketika kita memiliki pegangan dan panduan yang kuat untuk bergerak dan bekerja. Tenanglah, dan berpikirlah bahwa semua akan baik-baik saja.

***

Teruslah berantusias dalam mengerjakan apapun. Karena antusiasme adalah aura positif yang bisa menebarkan kegembiraan. Antusiasme itu melipatgandakan energi kita dalam bekerja. Semakin banyak energi, semakin cepat pula pekerjaan itu diselesaikan. Dalam hal krisis, antusiasme itu menimbulkan kepercayaan diri. Kepercayaan diri membuat kita bisa bangkit dari keterpurukan. Selamat mencoba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s