Sebelum Aku Mati

Before I Die (Source: goodreads.com)

Before I Die (Source: goodreads.com)

Kematian adalah salah satu babak kehidupan yang pasti dialami oleh makhluk hidup di bumi ini, pun manusia. Kisah-kisah menuju kematian seringkali kita dengar, kita baca dan kita saksikan sendiri. Kecelakan karena tertubruk kereta. Bunuh diri karena cinta. Meninggal di usia senja. Serangan jantung yang mendadak. Apapun itu. Tapi kematian adalah segmen yang sebenarnya hanya kita tunggu dari sebuah kehidupan.

***

Di akhir 2013, saya mulai membaca novel karya Jenny Downham. Dia adalah salah seorang aktris yang kemudian beralih profesi menjadi penulis novel. Novel yang saya baca adalah Before I Die. Novel ini sudah diterjemahkan dalam lebih dari 25 bahasa dan pernah meraih Branford Boase Award pada tahun 2008. Novel ini juga sudah difilmkan dengan judul NOW IS GOOD. Meski sudah dipublikasikan pada tahun 2007, novel ini baru dicetak untuk pertama kalinya pada April 2012 dalam bahasa Indonesia. Empat hari setelah tahun baru 2014, saya menyelesaikan novel setebal 363 halaman ini.

Judulnya saja sudah mengisyaratkan isi cerita di dalamnya: pasti bercerita tentang kisah hidup seseorang dengan penyakit yang dideritanya, dan pasti ada peristiwa-peristiwa unik sebelum kematian si tokoh utama. Alur ceritanya sudah bisa ditebak, bahkan saya sudah bisa menebak bahwa si tokoh itu pasti mati. Karena ujung cerita bukan sesuatu yang penting di sini, tetapi yang penting adalah cerita sepanjang persiapan kematian itu sendiri. Begitulah pemikiran saya di awal.

Baca lebih lanjut

Iklan

Saat ajal hampir menjemputku (part ii)

Bayangan kematian masih ada dalam diriku. Kali ini, Tuhan memang masih mencintaiku. Dia masih memberikan kesempatan untuk hidup yang kesekian kalinya. Kadang kita tidak menyadari itu. Tapi aku sadar, bahwa Tuhan itu amat mencintaiku.

Ini adalah sebuah peristiwa yang selalu kuingat, dan akan aku bawa sampai ajal menjemputku nanti. Sebuah peristiwa menyeramkan, dan aku tidak berharap akan mengulanginya lagi. sebuah kecelakaan, yang hampir saja merenggut nyawa kami bersama. Kami? Ya… Aku, Ibuku dan ayahku. Sebuah kecelakaan naas yang pernah menimpa kami.

Suatu ketika, kami bertiga jalan-jalan (dengan sepeda motor) di Nglipar – Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami memang punya rumah di sana, rumah nenek di sebuah bukit. Ekstrim kan? Betul kok… di atas bukit itu memang cuma ada rumah nenekku. Dan aku sering main ke rumah ini.

Waktu itu, aku kelas 5 SD, setahun setelah peristiwa ‘ajal yang hampir menjemputku’ itu. Setelah beberapa jam kami di rumah nenek, aku merengek untuk maen ke Jogja. Aku meminta dan memohon-mohon pada ayahku untuk mengantar ke Malioboro Jogja. Aku ingin sekali ke sana.

Aku masih ingat sekali, saat itu ayahku hanya bilang, “Nglipar ke Jogja itu sama dengan Nglipar ke Solo. Kalau kita ke Jogja, itu sama halnya dengan dua kali bolak-balik Nglipar-Solo. Jauh banget,” kata ayahku dengan bahasa Jawa. Tetapi Ibu melunakkan, “ya sudah, pak.. Ke jogja dulu juga ga apa-apa. Sekalian maen-maen.” Peran Ibu memang selalu melunakkan suasana.

Mungkin ayahku sudah punya firasat tidak baik. Karena awalnya dia menolak untuk memboncengkan kami. Ditambah lagi, nenek yang menangis karena ga mau ditinggal oleh anak dan cucunya untuk pulang. Hm… Tapi aku suka memaksa. Ga mau tau kondisi dan harus dilakukan. Keras kepala untuk melakukan sesuatu. Susah untuk diberitahu. Itulah pembawaanku dari dulu.

Baca lebih lanjut