Selamat Pagi Roma: 5 Tempat Menarik di Kala Pagi

Jika kita memiliki waktu sangat terbatas untuk berkunjung ke suatu kota. Ini rahasianya: bangunlah pagi, rasakan mentari hangat yang baru muncul dan datanglah ke tempat-tempat menarik di pagi hari. Niscaya, Anda akan semakin takjub melihat cahaya mentari pagi. Ketika kemarin mendapat kesempatan ke Roma, Italia. Sayapun menyempatkan waktu di pagi hari mengunjungi beberapa tempat yang luar biasa indah ketika pagi hari. Ini dia beberapa tempatnya:

  1. Basilika Santo Petrus

Bagi Anda yang ke Roma, sempatkan diri mengunjungi Basilika St. Petrus di pagi hari. Memang kita tidak akan bisa masuk ke dalam basilika ini namun pandanglah basilika dari lapangan basilika di depannya ketika pagi hari. Anda akan melihat kubah yang didesain oleh seniman Michaelangelo ini bagai mahkota bertahta emas dan berlian. Sungguh indah dan cantik. Dari kejauhan, mahkota ini sungguh luar biasa detail.

Basilika Santo Petrus tampak pagi hari dengan bulan yang masih terlihat.

Basilika Santo Petrus tampak pagi hari dengan bulan yang masih terlihat.

Baca lebih lanjut

Iklan

9 Jam, 9 Gua Maria dan 9 Novena

Tiba-tiba saya diajak seorang teman untuk berdoa. Cara doanya sedikit unik. Dia ingin berdoa di depan 9 Gua Maria di Jakarta dalam sehari. Saya pikir ini adalah sesuatu yang tidak biasa. Saya iyakan untuk bergabung dengannya. Lagipula saya juga sangat amat jarang berdoa devosi khusus pada Bunda Maria, apalagi di depan Gua Maria. Kami berangkat, hanya berdua saja.

Setiap gereja Katholik biasanya memiliki Gua Maria. Bentuknya bisa jadi tidak berupa gua buatan, tetapi hanya patung Bunda Maria dikeliling taman. Akhirnya kami pilih 9 Gua Maria di 9 tempat berbeda. Berbekal buku Novena Tiga Salam Maria, semangat dan sedikit nekat, akhirnya Sabtu (12 April 2014) kemarin, saya dan teman saya ini menyusuri jalanan Jakarta. Panas, Hujan lebat, lapar, kucel dan ngantuk, jadi satu.

Dan inilah petualangan di 9 Gua Maria yang kami kunjungi kemarin: Baca lebih lanjut

PERJALANAN KE TANAH EROPA [BAGIAN 2]: SELAMAT PAGI, SANKT AUGUSTIN!

Selamat pagi, Sankt Augustin!

Selamat pagi, Sankt Augustin!

Selamat Pagi, Sankt Augustin! Pukul enam pagi, dan saya sudah bangun. Jet lag? Ga tuh… Mungkin karena semalam saya sangat lelah dan memiliki waktu yang cukup untuk tidur malam. Bangun-bangun sudah segar bugar. Meski di luar 9 derajat, saya tidak merasakan dinginnya udara. Bergegas ke kamar mandi dan ganti baju. Cuci muka dan sikat gigi. Sepertinya si Ibu sudah gedombrengan di dapur untuk memasak.

***

Good morning, boys!” si Ibu selalu menyapa demikian setiap pagi, saya dan Kabul, teman se-homestay. Tiga koran harian sudah ada di atas meja makan kecil di dapur. Yes… Meski Jerman sudah terkenal dengan teknologi komunikasinya, keluarga ini tetap berlangganan tiga koran sekaligus. Kami diminta duduk di meja makan kecil itu. Sedikit berdiskusi dan berkenalan lebih lanjut. (dan berbasa basi soal tidur kami semalam). Keluarga kami, tentang Indonesia, dan lagi-lagi tentang Soekarno. Si Bapak sepertinya selalu menikmati pembahasan soal politik, ekonomi dan sepakbola. Semua dalam bahasa Inggris. Hanya saja…. Si bapak bisanya dikit-dikit. Jadi ya gitu deh… kalau ngomong boso enggres ya harus memutar otak. Satu topik lagi… soal perjalanan kami dari Indonesia ke Jerman.

Baca lebih lanjut

PERJALANAN KE TANAH EROPA [BAGIAN 1]: HATI-HATI YA, MAS!

Beberapa waktu lalu, banyak yang bertanya tentang apa yang saya lakukan di tanah Eropa. Saya ceritakan sedikit, di bulan Mei-Juni lalu, saya berangkat ke Jerman. Oh…maaf, bukan saya…tetapi kami. Ya… Saya dan 38 rekan dari paduan suara Vox Angelorum berangkat ke Jerman, memenuhi undangan, untuk sebuah kegiatan homestay yang cukup panjang (ya ±20 hari lah..) dan beberapa konser yang kami lakukan di Jerman. Ini pengalaman luar biasa… Pengalaman yang bagi banyak orang Indonesia ingin merasakannya. Ke tanah Eropa, tinggal bersama dengan penduduk, merasakan kehidupan mereka dan memotret bagaimana mereka mengamalkan kehidupan sebagai warga negara, umat dan masyarakat. Saya akan bagikan banyak kisah yang menarik tentang perjalanan saya ini dalam banyak bagian. Jadi sabar yeeeeee… Hahahaha…

***

16 Mei 2013 – Bandara Soekarno Hatta

Sekitar jam 6 pagi, ponsel saya berbunyi. Dari Mbak Yanti, penjaga kosan di tempat saya tinggal di Jakarta, mengirimkan pesan. “Hati-hati ya Mas. Jangan lupa lho, oleh-olehnya.”. Bagi saya, Mbak Yanti ini seperti malaikat. Semalaman dia membantu saya untuk packing. Menata seluruh bawaan saya. Pakaian harian, kostum, partitur untuk konser, makanan instan, sepatu, obat-obatan, sapi dan tetek bengek lainnya. Semua dibantu dan dimasukkan dengan rapi, teratur dan yang paling menakjubkan… muat banyak di koper pinjaman dari Tante Murni, Mamanya DITO (temen di SAMA Van Lith saya). Saya memang sengaja minta tolong bantuan Mbak Yanti. Secaraaaa yaaaa… dia adalah penjaga kosan sekaligus asisten rumah tangga yang cekatan dan sudah berpengalaman untuk packing ke Arab Saudi. Bolak-balik 3 kali ke tanah Arab untuk menjadi TKW, membuatnya jago untuk soal mengepak barang. Cihuuuyyy.. Baca lebih lanjut

JELAJAH PULAU TIMOR [BAGIAN 5]: DARI DILI HINGGA MANATUTO

Suasana perjalanan menuju distrik DILI

Suasana perjalanan menuju distrik DILI

Saya benar-benar menikmati perjalanan saya dari Mota Ain ke Dili. Capek tergantikan dengan pemandangan alam yang cukup menggairahkan untuk diambil gambarnya. Saya sama sekali tidak tidur, meskipun badan rasanya lemas karena  hampir menempuh perjalanan 7 jam. Saya banyak bercerita dengan saudara saya di mobil. Kami reunian. Menceritakan kisah-kisah Timor jaman pertama kali dia menginjakkan kaki di sini, sampai mengajari saya bagaimana menggunakan beberapa kata-kata sederhana dengan Bahasa Tetun, bahasa yang mayoritas digunakan warga Timor Leste.

Jika Anda memang berniat melakukan perjalanan darat dari perbatasan Mota Ain ke Dili, lebih baik jangan tidur. Banyak pemandangan luar biasa yang bisa dijadikan obyek foto di sana. Sepanjang perjalanan, Anda disuguhi dengan pemandangan pinggir pantai, perbukitan yang hijau, rumah-rumah tradisional yang sangat eksotik, hingga penjual-penjual pinggir jalan yang bervariasi, mulai dari ikan-ikanan, buah-buahan, hingga barang-barang bekas.

Tiga jam perjalanan dari perbatasan Mota Ain ke Dili. Melewati 3 Distrik yang ada di Timor Leste: Bobonaro, Liquica (Likuisa) dan Dili. Dan kini saya bisa menikmati Kota Dili yang terletak di pinggir pantai. Kami benar-benar baru memasuki Kota Dili sekitar pukul 17.00 Waktu Indonesia Bagian Tengah atau pukul 18.00 Waktu Bagian Timor Leste. Sejak merdeka, Timor Leste yang dulunya menggunakan Waktu Indonesia Bagian Tengah, kini menggunakan waktu sendiri, dan satu jam lebih cepat dari WITA.  Baca lebih lanjut

JELAJAH PULAU TIMOR [BAGIAN 4]: MELEWATI BATAS, MASUK TIMOR LESTE

Ini adalah rumah-rumah di sepanjang jalan menuju Dili.

Ini adalah rumah-rumah di sepanjang jalan menuju Dili.

Ga terasa, sudah 4 hari saya berada di Kefamenanu, kota Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya sudah merasakan kehidupan dan denyut nadi pedesaan yang cukup menyenangkan, ramah dan penuh dengan kehangatan. Tibalah saatnya untuk menyeberang ke negara tetangga, Timor Leste. Acara ‘melompati batas’ ini sudah saya pikirkan sewaktu masih di Jawa. Oleh karenanya, saya beranikan diri untuk membawa beberapa lembaran dollar US dari rumah, karena mata uang di Timor Leste adalah US$.

***

Tujuan utama saya ke Timor Leste adalah Dili. Di Dili, saya berencana untuk bertemu dengan adik dari kakak ipar saya yang sudah sekitar 12 tahun tinggal di Timor Leste (bisa kita singkat menjadi TiLes). Perjalanan menuju ke TiLes bukanlah sebuah perjalanan mudah bagi saya, yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Pulau Timor. Awalnya, saya ingin naik Timor Travel dari Kefamenanu menuju Dili, namun apa daya, ternyata saat itu situasi sedang libur natal, dan pemesanan travel dari Kefa tidak bisa mendadak. Saya menghubungi saudara di Dili, mereka bisa menjemput saya hanya di perbatasan Mota Ain. Mota Ain adalah salah satu perbatasan jalur darat untuk keluar masuk warga Timor Leste dan Indonesia. Baca lebih lanjut

JELAJAH PULAU TIMOR [BAGIAN 3]: PANTAI WINI DI PERBATASAN INDONESIA

Pantai Wini

Indahnya Pantai Wini

Kalau disuruh memilih pantai atau pegunungan, saya tetap kekeuh memilih pantai? Mengapa? Bagi saya, bermain air itu memang lebih menyenangkan. Kalau di pegunungan, bawaannya pasti cuma pengen tidur karena cuaca yang dingin.

Nah, sejak saya merencanakan ke Pulau Timor, saya memang sudah ‘ngidam’ untuk mengunjungi pantai-pantai di Pulau Timor. Akhirnya, dalam perjalanan saya selanjutnya di ujung timur Indonesia ini, saya menyempatkan diri untuk ber’dharmawisata’ ke sebuah pantai di Timor, namanya Pantai Wini.

***

Pantai Wini adalah sebuah pantai di Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Ibukota Kabupaten ini ada di Kefamenanu. Dari kota kabupaten Kefamenanu ini, jaraknya sekitar 65 km. Jauh juga sih. Saya berangkat dari Miomaffo Timur. Saya pikir, jaraknya dekat, karena toh masih dalam satu area kabupaten dan hanya beda kecamatan. Namun saudara-saudara… di Timor itu meskipun orang bilang dekat, jauhnyaaaaaaa minta ampun deh… Baca lebih lanjut