SEBUAH LAGU NATAL: Tiga Roh Berhasil Mengubah Kehidupannya

Poster Drama Musikal SEBUAH LAGU NATAL - Vox Angelorum Choir

Drama musikal ini diadaptasi dari sebuah drama musikal yang diangkat dari Novel kisah natal yang sangat legendaris “A Christmas Carol” karya Charles Dickens. Novel ini menceritakan tokoh pria tua bernama Ebenezer Scrooge yang kaya raya namun sangat kikir.

Sehari menjelang perayaan Natal, Scrooge masih bekerja di kantornya bersama pegawainya yaitu Bob Cratchit. Selain kikir, Scrooge juga terkenal dingin dan tak pernah peduli dengan orang lain.

Scrooge menganggap bahwa hari Natal itu sama seperti hari-hari lainnya. Tidak ada bedanya. Orang yang datang kepadanya untuk meminta sumbangan Natal pun ditolak. Anak-anak yang menyanyikan lagu Natal juga diusirnya. Scrooge anti Natal.

Suatu malam, Scrooge didatangi roh temannya yang sudah meninggal, Jacob Marley. Marley adalah roh yang terbelenggu rantai dan selalu gentayangan. Marley datang dengan maksud ingin menolong Scrooge supaya tidak senasib dengannya, yakni mati penasaran. Hal itu terjadi karena semasa hidupnya, Marley hanya memikirkan masalah bisnis saja. Dia juga kikir dan hidup anti-sosial. Marley memperingatkan Scrooge bahwa 3 hari kemudian akan datang 3 arwah kepadanya, yaitu Roh Masa Lalu, Roh Masa Kini dan Roh Masa Depan.

Kedatangan 3 roh tersebut benar-benar menyadarkannya. Scrooge mendapat nasehat dan pelajaran yang sangat berharga dari 3 roh tersebut. Scroogepun tersadar dan segera memberikan beberapa kejutan Natal untuk orang-orang di sekitarnya. Scrooge juga menyisihkan uang bagi para pengemis.

Dia tidak pernah didatangi oleh roh lagi. Namun pelajaran yang ia dapatkan dari ketiga roh tersebut selalu tertanam di hati Scrooge. Kira-kira apa yang diberikan 3 roh tersebut kepada Scrooge sehingga dia sadar?

Ikuti kisahnya dalam drama musikal “SEBUAH LAGU NATAL” yang dipersembahkan oleh Vox Angelorum Choir. Drama musikal ini melibatkan lebih dari 60 anggotanya. Didukung dengan tata lampu dan tata suara yang epic, drama musikal ini akan membawa penontonnya pada kesadaran akan pentingnya manusia untuk berbagi dan mengasihi sesamanya. Kikir dan sifat jahat pada akhirnya hanya akan membinasakan diri sendiri.

***

Paduan Suara Vox Angelorum Choir akan menampilkan kehandalan suara setiap anggotanya. Kemampuan beradu peran dan berakting dalam cerita legendaris ini juga hendak ditunjukkan bagi Anda yang menyukai pertunjukan drama. Inilah penampilan perdana Vox Angelorum dalam sebuah drama musikal.

Informasi:
Drama Musikal Natal “SEBUAH LAGU NATAL”
diadaptasi dari Charles Dickens’ A CHRISTMAS CAROL
A New Musical by KEITH FERGUSON & BRUCE GREER

Minggu, 7 Desember 2014 pk 18.30 WIB
di Auditorium Gereja Maria Bunda Karmel

INFO & TIKET:
Ines – 0812 8233 3090
Gita – 0815 1300 6271
Rufina – 0819 0559 1729

Iklan

Pari, Aku Merindukanmu

Author Khaled Hosseini, author of "And the Mountains Echoed," poses for a photo before a book signing event at Barnes & Noble on Tuesday, May 21, 2013 in New York. (Photo by Charles Sykes/Invision/AP) - diambil dari: Denverpost.com

Author Khaled Hosseini, author of “And the Mountains Echoed,” poses for a photo before a book signing event at Barnes & Noble on Tuesday, May 21, 2013 in New York. (Photo by Charles Sykes/Invision/AP) – diambil dari: Denverpost.com

Bahagianya kita sebagai manusia jika suatu hari menemukan seseorang yang telah lama hilang kini kembali. Seseorang yang selalu kita nantikan, seseorang yang selalu ada di dalam hati dan seseorang yang benar-benar menjadi bagian dari hidup kita. Bahkan sampai berpuluh-puluh tahun pada akhirnya kembali ke pelukan kita. Kira-kira itulah inti cerita dari novel Khaled Hosseini yang berjudul And The Mountains Echoed

Ini buku ketiga Khaled Hosseini yang saya baca. Dua buku sebelumnya, The Kite Runner dan A Thousand Splendid Suns pernah saya baca beberapa tahun sebelumnya. Ketiga buku Khaled ini memiliki cerita dengan latar belakang negara yang sama, Afghanistan. Di buku yang ketiga ini, digambarkan juga kisah tentang Eropa dan sedikit soal Amerika.

*** Baca lebih lanjut

Lebih asoy kalau basah-basahan ya?

Sekedar berbagi pengalaman ketika aku berbelanja di Superindo-Meruya. Tanggal 2 Agustus 2009 lalu, aku dan sahabatku berbelanja kebutuhan barang sehari-hari di SuperIndo Meruya. Sebenarnya saat itu, aku tidak berniat berbelanja kebutuhan. Aku cukup membeli makanan ringan sebagai teman perjalananku nanti (karena malam harinya, aku harus berangkat dinas ke Jogja). Sahabatku itu yang berbelanja.

Baru pertama kali ini aku masuk dan membeli barang di supermarket ini. Seperti layaknya supermarket dan hipermarket lainnya, bahwa segala barang bawaan dan jaket, harus dititipkan kepada petugas. Itu sudah harus menjadi kewajiban, salah satu alasannya demi menjaga keamanan dan bahaya pencurian barang di supermarket tersebut.
Tetapi siang itu, ada kejadian yang menurutku tidak biasa sekaligus memiliki nilai moral yang seharusnya bisa aku ambil.
Ada seorang perempuan, mungkin usianya sekitar 20 tahun. Terlihat dari wajahnya yang masih muda. Di foto terlihat, dia berjongkok memakai baju biru dan celana pensil warna hitam, dan menggunakan sandal jepit.
Perempuan ini, ternyata diintip oleh seorang satpam berbadan kekar. Diintip dalam artian, sedang dimata-matai.
Aku mendengar percakapan satpam dan seorang SPG di Superindo itu. “Tolong diliatin, kayaknya dia ngambil barang,”
Pikiranku langsung menuju dugaan, bahwa si perempuan berbaju biru itu sedang diamat-amati oleh Satpam, lantaran si satpam curiga bahwa si perempuan itu mengambil barang dari supermarket tersebut.
Akupun juga kemudian, ikut mengamati gerak-gerik si perempuan tadi. Aku tidak mau menuduh. Tetapi yang kulihat adalah: dia membawa tas yang ia slempangkan di bahu kanannya. tangan kanannya memegang Segelas Fruit tea dan sepertinya sebuah sabun mandi. Tetapi tangan kirinya, ia masukkan terus di dalam tasnya. Tidak dikeluarkan sama sekali. Hatiku semakin panas mengatakan: “Wah, seru banget kalau si mbak ini ketangkap basah mencuri barang.” Aku tidak sabar menunggu ending dari drama intip mengintip ini.
Si perempuan ini hanya bolak-balik di tempat ia berdiri. Dia tidak berpindah-pindah ke lajur tempat belanja lain, layaknya orang berbelanja barang yang sering bolak-balik. dia hanya stay di tempat ia berdiri, dan sesekali melihat kiri dan kanan. Lagi-lagi, peristiwa ini, semakin menguatkan hatiku bahwa: “Dia mencuri,”. Ingin berteriak bahwa dia pencuri. Tapi kan aku tidak punya bukti dia mencuri. Dan sepertinya, pak satpam juga hendak ingin mengetahui ending drama intip-intipan ini. Dia ingin bukti. Makanya, dia menunggu bukti itu dimasukkan dalam tasnya.
aku tidak ingin ikut campur. segera kutinggalkan mereka dalam suasana masih intip-mengintip.
Aku kemudian pergi…
Huh… andai saja, aku masih di situ. Aku ingin sekali melihat akhir dari babak ini. Sudahlah… aku hanya bisa menerka-nerka, apakah si perempuan tadi benar-benar mencuri atau tidak.
Tapi menurutku, ada hal moral yang bisa dipelajari di sini.
Kalau si satpam sudah curiga akan gerak-gerik si perempuan tadi, mengapa dia hanya mengintip? mengapa dia hanya melihat dari kejauhan? Apakah teguran dari awal tidak bisa disampaikan?
memang…bisa jadi ketika si satpam menegur, si perempuan tadi akan merasa dituduh. Tapi yang penting adalah cara komunikasinya dan bahasa yang digunakan. Menurutku, dengan cara intip mengintip, kemudian ketika sudah akan keluar baru dicek, adalah peristiwa yang tidak tepat. Si perempuan akan malu bukan main, kalau ternyata dia mencuri dan mengambil barang. Si Satpam akan bangga dan tersenyum lebar, bagaikan Densus 88 yang sudah bisa menangkap pelaku teror bom.
seringkali, manusia ingin agar sesamanya ini bersalah, sesalah-salahnya, dan dialah yang dianggap pahlawan. Padahal, manusia bisa saling bertegur sapa, saling memperhatikan, agar tidak saling merugikan. Kalau si satpam menegur dari awal, kemungkinan untuk melakukan tindakan pencurian juga akan hilang. si satpam ini justru ingin menangkap sebasah-basahnya orang lain.
Lebih basah lebih baik. Lebih basah lebih dramatis. Lebih basah lebih jadi superhero. aku cuma merasa kasian dengan perempuan itu. Kalau dia mencuri betulan, betapa akan malunya si perempuan tadi. Mudah-mudahan, endingnya tidak demikian. Dan mudah-mudahan, manusia di dunia ini bertegur sapa, supaya bisa saling menghargai orang lain dan tidak merugikan pihak manapun.
Sekedar berbagi pengalaman ketika aku berbelanja di Superindo-Meruya. Tanggal 2 Agustus 2009 lalu, aku dan sahabatku berbelanja kebutuhan barang sehari-hari di SuperIndo Meruya. Sebenarnya saat itu, aku tidak berniat berbelanja kebutuhan. Aku cukup membeli makanan ringan sebagai teman perjalananku nanti (karena malam harinya, aku harus berangkat dinas ke Jogja). Sahabatku itu yang berbelanja.
Baru pertama kali ini aku masuk dan membeli barang di supermarket ini. Seperti layaknya supermarket dan hipermarket lainnya, bahwa segala barang bawaan dan jaket, harus dititipkan kepada petugas. Itu sudah harus menjadi kewajiban, salah satu alasannya demi menjaga keamanan dan bahaya pencurian barang di supermarket tersebut.
Tetapi siang itu, ada kejadian yang menurutku tidak biasa sekaligus memiliki nilai moral yang seharusnya bisa aku ambil.
Ada seorang perempuan, mungkin usianya sekitar 20 tahun. Terlihat dari wajahnya yang masih muda. Di foto terlihat, dia berjongkok memakai baju biru dan celana pensil warna hitam, dan menggunakan sandal jepit.
Perempuan ini, ternyata diintip oleh seorang satpam berbadan kekar. Diintip dalam artian, sedang dimata-matai.
Aku mendengar percakapan satpam dan seorang SPG di Superindo itu. “Tolong diliatin, kayaknya dia ngambil barang,”
Pikiranku langsung menuju dugaan, bahwa si perempuan berbaju biru itu sedang diamat-amati oleh Satpam, lantaran si satpam curiga bahwa si perempuan itu mengambil barang dari supermarket tersebut.
Akupun juga kemudian, ikut mengamati gerak-gerik si perempuan tadi. Aku tidak mau menuduh. Tetapi yang kulihat adalah: dia membawa tas yang ia slempangkan di bahu kanannya. tangan kanannya memegang Segelas Fruit tea dan sepertinya sebuah sabun mandi. Tetapi tangan kirinya, ia masukkan terus di dalam tasnya. Tidak dikeluarkan sama sekali. Hatiku semakin panas mengatakan: “Wah, seru banget kalau si mbak ini ketangkap basah mencuri barang.” Aku tidak sabar menunggu ending dari drama intip mengintip ini.
Si perempuan ini hanya bolak-balik di tempat ia berdiri. Dia tidak berpindah-pindah ke lajur tempat belanja lain, layaknya orang berbelanja barang yang sering bolak-balik. dia hanya stay di tempat ia berdiri, dan sesekali melihat kiri dan kanan. Lagi-lagi, peristiwa ini, semakin menguatkan hatiku bahwa: “Dia mencuri,”. Ingin berteriak bahwa dia pencuri. Tapi kan aku tidak punya bukti dia mencuri. Dan sepertinya, pak satpam juga hendak ingin mengetahui ending drama intip-intipan ini. Dia ingin bukti. Makanya, dia menunggu bukti itu dimasukkan dalam tasnya.
aku tidak ingin ikut campur. segera kutinggalkan mereka dalam suasana masih intip-mengintip.
Aku kemudian pergi…
Huh… andai saja, aku masih di situ. Aku ingin sekali melihat akhir dari babak ini. Sudahlah… aku hanya bisa menerka-nerka, apakah si perempuan tadi benar-benar mencuri atau tidak.
Tapi menurutku, ada hal moral yang bisa dipelajari di sini.
Kalau si satpam sudah curiga akan gerak-gerik si perempuan tadi, mengapa dia hanya mengintip? mengapa dia hanya melihat dari kejauhan? Apakah teguran dari awal tidak bisa disampaikan?
memang…bisa jadi ketika si satpam menegur, si perempuan tadi akan merasa dituduh. Tapi yang penting adalah cara komunikasinya dan bahasa yang digunakan. Menurutku, dengan cara intip mengintip, kemudian ketika sudah akan keluar baru dicek, adalah peristiwa yang tidak tepat. Si perempuan akan malu bukan main, kalau ternyata dia mencuri dan mengambil barang. Si Satpam akan bangga dan tersenyum lebar, bagaikan Densus 88 yang sudah bisa menangkap pelaku teror bom.
seringkali, manusia ingin agar sesamanya ini bersalah, sesalah-salahnya, dan dialah yang dianggap pahlawan. Padahal, manusia bisa saling bertegur sapa, saling memperhatikan, agar tidak saling merugikan. Kalau si satpam menegur dari awal, kemungkinan untuk melakukan tindakan pencurian juga akan hilang. si satpam ini justru ingin menangkap sebasah-basahnya orang lain.
Lebih basah lebih baik. Lebih basah lebih dramatis. Lebih basah lebih jadi superhero. aku cuma merasa kasian dengan perempuan itu. Kalau dia mencuri betulan, betapa akan malunya si perempuan tadi. Mudah-mudahan, endingnya tidak demikian. Dan mudah-mudahan, manusia di dunia ini bertegur sapa, supaya bisa saling menghargai orang lain dan tidak merugikan pihak manapun.
mode on: curhatan bermoral..
Belanja di SuperindoSekedar berbagi pengalaman ketika aku berbelanja di Superindo-Meruya, 2 Agustus 2009 lalu. Saat itu, sebenarnya aku tak berniat berbelanja kebutuhan. Aku hanya membeli makanan ringan sebagai teman perjalananku nanti (karena malam harinya, aku harus berangkat dinas ke Jogja). Sahabatku yang berbelanja banyak.
Baru pertama kali ini, aku masuk dan membeli barang di supermarket ini. Seperti layaknya supermarket dan hipermarket lainnya, bahwa segala barang bawaan dan jaket pengunjung, harus dititipkan kepada petugas. Itu sudah harus menjadi KEWAJIBAN, salah satu alasannya (tentunya) demi menjaga keamanan dan bahaya pencurian barang di supermarket tersebut.
Tetapi siang itu, ada kejadian yang menurutku tidak biasa sekaligus memiliki nilai moral yang seharusnya bisa aku ambil.
***
Ada seorang perempuan, mungkin usianya sekitar 20 tahun. Terlihat dari wajahnya yang masih muda. Di foto terlihat, dia berjongkok memakai baju biru dan celana pensil warna hitam, (dan menggunakan sandal jepit –> kalau yang ini kayaknya tak tampak di foto)
Perempuan ini, ternyata diintip oleh seorang satpam berbadan kekar. Diintip dalam artian, sedang dimata-matai.
Aku mendengar percakapan satpam dan seorang SPG yang berdiri di sebelah satpam. “Tolong diliatin, kayaknya dia ngambil barang…”
Mengintip perempuanPikiranku langsung menuju pada dugaan bahwa si perempuan yang sedang diamat-amati oleh si Satpam itu, diduga mengambil barang.
Terbawa rasa penasaran, akupun ikut mengamati gerak-gerik si perempuan tadi. Aku tidak mau menuduh. Tetapi yang kulihat adalah: dia membawa tas yang ia slempangkan di bahu kanannya. Tangan kanannya memegang Segelas Fruit tea dan sepertinya sebuah sabun mandi. Tetapi tangan kirinya, ia masukkan terus di dalam tasnya. Tidak dikeluarkan sama sekali. Hatiku semakin panas mengatakan: “Wah, seru banget kalau si mbak ini ketangkap basah mencuri barang.” Aku tidak sabar menunggu ending dari drama intip mengintip ini.
Si perempuan ini hanya bolak-balik di tempat ia berdiri. Dia tidak berpindah-pindah ke lajur tempat belanja lain, layaknya orang berbelanja barang yang sering bolak-balik. dia hanya stay di tempat ia berdiri, dan sesekali melihat kiri dan kanan. Lagi-lagi, peristiwa ini, semakin menguatkan hatiku bahwa: “Dia mencuri”. Ingin berteriak bahwa dia pencuri. Tapi kan aku tidak punya bukti dia mencuri??? Dan sepertinya, pak satpam juga tak sabar ingin mengetahui ending drama intip-intipan ini. Dia ingin bukti. Makanya, dia menunggu bukti itu dimasukkan dalam tasnya.
Drama mengintip perempuanAku tidak ingin ikut campur. Segera kutinggalkan mereka dalam suasana masih intip-mengintip.
Aku kemudian pergi…
Huh… Andai saja, aku masih di situ. Aku ingin sekali melihat akhir dari babak ini. Sudahlah… aku hanya bisa menerka-nerka, apakah si perempuan tadi benar-benar mencuri atau tidak.
Tapi menurutku, ada hal moral yang bisa dipelajari di sini.
Kalau si satpam sudah curiga akan gerak-gerik si perempuan tadi, mengapa dia hanya mengintip? Mengapa dia hanya melihat dari kejauhan? Apakah teguran dari awal tidak bisa disampaikan?
Memang… Bisa jadi ketika si satpam menegur, si perempuan tadi akan merasa dituduh. Tapi yang penting adalah cara komunikasinya dan bahasa yang digunakan… Menurutku, dengan cara intip mengintip, kemudian ketika sudah akan keluar baru dicek, adalah peristiwa yang tidak tepat. Si perempuan akan malu bukan main, kalau ternyata dia mencuri dan mengambil barang. Si Satpam akan bangga dan tersenyum lebar, layaknya Densus 88 yang sudah bisa menangkap pelaku teror bom.
Seringkali, manusia ingin agar sesamanya bersalah, sesalah-salahnya, dan dialah yang dianggap pahlawan dan yang benar. Padahal, manusia bisa saling bertegur sapa, saling memperhatikan, agar tidak saling merugikan. Kalau si satpam menegur dari awal, kemungkinan untuk melakukan tindakan pencurian juga akan hilang. Si satpam ini justru ingin menangkap sebasah-basahnya orang lain.
Lebih basah lebih baik. Lebih basah lebih dramatis. Lebih basah lebih jadi superhero. Aku cuma merasa kasian dengan perempuan itu. Kalau dia mencuri betulan, betapa akan malunya si perempuan tadi. Mudah-mudahan, endingnya tidak demikian. Dan mudah-mudahan, manusia di dunia ini bertegur sapa, supaya bisa saling menghargai orang lain dan tidak merugikan pihak manapun.
*) Tumben, aku merasa kasihan dengan orang lain