Sebuah Rahasia Asrama VanLith

17 MEI 2014. SELAMAT HARI VANLITH.

Masa remaja saya dibentuk oleh kehidupan asrama. Selama tiga tahun (saat SMA), saya tinggal bersama dengan ratusan anak-anak rantau lainnya dan tinggal di Asrama VanLith, Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Asrama tersebut dipergunakan untuk menampung seluruh siswa siswi yang bersekolah di SMA PANGUDI LUHUR Van Lith (wajib asrama).

Beberapa orang awam (khususnya umat Katholik) sudah tahu tentang sekolah VanLith (VL). Yang sudah tahu tentang VL biasanya mengorelasikan dengan kedisiplinan, kepandaian, anak-anak pilihan dan hal-hal positif lainnya. Tidak salah memang, tetapi tidak juga demikian. Dengan membawa nama besar Pastur VanLith, sebagai salah satu Pastur yang membawa misi ke-Katholik-annya yang khas di tanah Jawa, sekolah VanLith menanamkan nilai-nilai luhur yang dahulu pernah diajarkan oleh sang Pastur kepada murid-muridnya kala itu. 

Asrama Putra VanLith (dok: pribadi)

Asrama Putra VanLith (dok: pribadi)

Bagi saya sendiri, asrama itu menyenangkan. Sungguh menyenangkan. Sebagai anak remaja yang mendambakan kebebasan dan inginnya pergi dari rumah, asrama itu menumbuhkan semangat kehidupan mandiri. Saya akui itu betul. Keputusan-keputusan yang harus kita ambil, membawa kita pada kedewasaan natural, dan seringkali tanpa campur tangan orangtua. Kecuali soal bayar duit sekolah dan asrama.

Tapi dibalik tembok asrama yang hanya bisa ditembus saat jam bebas dan kesempatan-kesempatan yang terbatas, asrama (dalam konteks ini adalah VanLith) telah memberikan nilai yang pada akhirnya sulit ditemukan di tempat lain, secara bebas oleh remaja-remaja pada umumnya:

1. Menghargai waktu

Jika tak sesuai dengan jadwal, kami akan tertinggal. Waktu adalah hal yang sangat berharga. Saya baru menyadarinya justru setelah lulus. Saya benar-benar harus menyesuaikan dengan keadaan, kapan saya harus mencuci baju di saat banyak PR dan tugas-tugas sekolah yang lain menunggu. Saat makan harus cepat karena saya bertugas untuk cuci piring untuk seluruh piring kotor asrama, sementara jam 7 pagi sudah harus masuk sekolah. Saya harus membagi waktu dengan orang lain ketika mandi, antrian di belakang saya 5 orang. Sekecil apapun waktu itu, harus saya pikirkan, karena saya hidup dengan orang lain. Saya tak bisa memikirkan diri saya sendiri.

2. Budaya bercerita dan sharing

Tiga tahun hidup di 4 unit / kamar berbeda. Setiap menjelang tidur secara alamiah kami bercerita tentang kejadian setiap hari. Posisinya, tertidur di tempat tidur masing masing. Tetapi kami saling menceritakan kelucuan kelucuan hari itu, yang patut ditertawakan dan kadang kadang masuk ke dalam mimpi. Budaya ini juga ada ketika kami bekerja dalam kelompok kelompok kecil di asrama, misalnya ada kelompok opera / beres-beres asrama. Saat bekerja, mau tak mau kami bercerita, dengan demikian kami merasa pekerjaan semakin menyenangkan. Saya sadar, saya selalu membutuhkan orang lain.

Pastur VanLith (dok: jakarta.go.id)

Pastur VanLith (dok: jakarta.go.id)

3. Belajar Membentengi Diri

Pencurian di asrama itu tidak dapat terhidarkan. Mulai dari pencurian uang, sampai dengan pencurian barang sepele, seperti celana dalam, kaos olahraga, shampoo, setrika, dan lain lain. Kasus-kasus pencurian, membuat anak-anak asrama menjadi lebih berhati-hati, membentengi diri dan barang-barangnya agar terbebas dari bahaya pencurian dan kesempatan-kesempatan yang dimanfaatkan para pencuri cilik itu. Kita menjadi belajar, menghargai barang yang kita miliki. Menjaganya agar tak hilang.

4. Mengenal berbagai karakter

Di asrama, ada yang tempramental. Ada yang suka membantu orang lain, ada yang lucu, ada yang pendiam, ada yang doyan baca buku, ada yang kecanduan film porno, ada yang galak, ada yang dari Papua, ada yang suka menghina, ada yang pintarnya ga ketulungan, ada yang Batak, ada yang pelit, ada yang suka nanya-nanya terus, dan buanyak lagi macamnya. Dengan demikian, saya sering memposisikan diri agar nyaman berdiskusi dan berbicara dengan lawan saya. Berinteraksi dengan berbagai macam karakter inilah yang membuat saya lebih tahu bagaimana saya harus berbicara.

 5. Merasakan Pahit dan hidup sulit

Kebetulan, asrama VL menerapkan banyak peraturan yang waktu itu diterapkan, seperti uang saku maksimal yang dibawa, peralatan elektronik yang dibawa dan banyak keterbatasan lain yang pada awalnya sulit dilakukan. Tapi toh akhirnya anak-anak asrama bisa juga melakukannya. Apa yang harus dilakukan jika duit yang ada terbatas? Apa yang dilakukan jika benar benar dalam keadaan sedih dan kalut? Semakin anak anak asrama merasakan kepahitan, semakin sering dia akan mencari jalan untuk mewujuukan sebuah keberhasilan melewatinya. Seluruh kebahagiaan itu memang diawali dengan kesulitan.

***

Tulisan ini memang untuk menyanjung asrama VL. Saya selalu berpikir bahwa sekolah asrama ini selalu memberikan kesan. Pada kenyataannya, hampir seluruh teman seangkatan saya merindukan suasana asrama. Banyak orang yang menginginkan itu kembali sekarang, tapi tidak mungkin itu terjadi. Yang bisa dilakukan adalah mengambil nilai nilai kehidupan asrama itu, untuk diterapkan dalam kehidupan kami masing-masing yang kini berjuang di dunia yang lebih luas.

Selamat merayakan Hari Van Lith (17 Mei 2014). Selamat mengobarkan semangat Romo VanLith di manapun kita berada. Asal tahu saja, kini sayapun merindukan asrama VanLith.

 

Cerita-cerita lain soal kehidupan angkatan 11, bisa dilihat di: vanlith11.wordpress.com

rutten-a

Unit Rutten-A

hoecken-a

Unit Hoecken-A

rutten-b

Unit Rutten-B

hoecken-b

Unit Hoecken-B

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s