Psikologi Komunikasi: Yang Salah Siapa, Yang Marah Siapa

Kuasailah keadaan. Jangan dikuasai keadaan.

Kuasailah keadaan. Jangan dikuasai keadaan.

Ada seorang teman yang mengatakan pada saya: “Kendalikanlah keadaan, jangan sampai kamu dikendalikan oleh keadaanmu.” Kira-kira, terjemahannya bisa diumpamakan seperti yang saya alami kemarin, sebuah peristiwa komunikasi antara saya dengan sesama karyawan yang menurut saya nyebelin tapi pada akhirnya lucu: Yang Salah Siapa, Yang Marah Siapa.  Begini ceritanya.

***

Saya harus mendapatkan sebuah data (dengan deadline waktu tanggal 5 Desember) dari seorang pimpinan, sebut saja Pak CirKocarKacir. Saya berupaya ‘mboh pie carane’ (entah gimana caranya) agar mendapatkan data tersebut tepat waktu, bahkaaaaaaan kalau bisa sebelum tanggal 5 sudah saya dapatkan.

Tanggal 2 Desember (siang hari) saya menghubungi Pak CirKocarKacir supaya menyerahkan data itu ke saya. Ternyata si Bapak sudah menyerahkan data tersebut ke sekretarisnya yang bernama Bu RempongAbis, untuk kemudian diserahkan kepada saya, bahkan dengan sebuah catatan (dengan stiker Sticky Notes) dari Pak CirKocarKacir: “Bu RempongAbis, Tolong Kirim Balik ke Anwar” Kira-kira begitu.

Tanggal 2 Desember (sore hari) saya menghubungi Bu RempongAbis via telfon ruang kantornya. Tiga kali telfon di waktu berbeda. Tidak ada jawaban. “Mungkin lagi sibuk (a.k.a rempong) ,” pikir saya. Jadi saya memutuskan untuk ke ruangannya. Ternyata di ruangannya, Bu RempongAbis ini tidak ada. Saya putuskan untuk menghubungi via BBM tapi pada akhirnya juga cuma di R doang. Aduh, kasian sekali saya ini. Saya putuskan untuk menghubungi keesokan harinya untuk meminta data tersebut. Saya minta bantuan sekretaris di unit saya untuk membantu menghubungi Bu RempongAbis ini. Pekerjaan saya yang lain juga jadi terbengkalai kalau hanya mengurus seperti ini.

Saya mulai tidak sabar untuk sekedar ingin bertemu dengan Bu RempongAbis setelah diceritakan oleh sekretaris saya: “Tadi saya ketemu sama Bu RempongAbis pas makan siang, katanya nanti dia akan kirim datanya…”. Kenyataannya, saya bertemu dengan Bu RempongAbis aja susahnyaaaaa minta ampun. Padahal tiap hari saya ketemu pimpinannya. Jauh lebih sulit bertemu sekretarisnya dibandingkan pimpinannya. Itu di hari Selasa (3 Desember).

Hari Rabu (4 Desember) ternyata ada event yang membuat Pak CirKocarKacir dan Bu RempongAbis tidak ada di kantor. Seharian juga tak akan ada hasil kalau menelfon, mem-BBM atau meng-E-mail.

Hari Kamis (5 Desember), deadline untuk data. Dan saya belum berhasil mendapatkannya. Alamaaaak. Data sudah ready dari Senin, tapi belum juga sampai di tangan. Tambah kaget lagi, Bu RempongAbis tidak masuk karena sakit. Waduuuuhhhh… Mampus saya. Kalau saya minta lagi ke Pak CirKocarKacir, rasanya kok jadi ga enak, karena dia sudah menyerahkan datanya, dan di hari yang samapun, Pak CirKocarKacir juga cuti. Ga mungkin saya kejar.

Jadi satu-satunya yang bisa saya kejar dan masih memungkinkan adalah Bu RempongAbis, meskipun dia sedang sakit dan ada di rumah, karena saya berpikir, pasti data (yang berbentuk hardcopy) itu tidak akan dibawa ke rumah.

Beginilah komunikasi BBM saya dengan Bu RempongAbis di tanggal 5 Desember 2013, Dengan sedikit editan ya. Hahahaha:

Saya: Bu, datanya gimana ya? (saya agak panik nih… hihi)

Bu RempongAbis (BRA): Sorri mas, aku ngga ngantor. Sakit. Ini mau ke UGD. Kemarin sih sudah aku tulis di buku ekspedisi, cuma aku taruh lagi di lemari. (saya shock… baru tahu kalau doi sakit)

Saya: Bu, karena data ini harus maksimal dikirim hari ini, jadi gimana ya? Bisakah ada OB (office boy) yang dimintain tolong untuk membukakan lemari. Saya harus dapat datanya itu.

BRA: Dilemari brankas mas. Boleh, besok ya. Aku tepar nih.

Saya: Maaf ya Bu, ganggu. Tapi ini pimpinan saya minta hari ini. Karena ini untuk penilaian seluruh unit. Hari ini adalah maksimal pengumpulannya. Soalnya data dari Pak CirKocarKacir harus ada. Kalau mau minta ulang ke Pak CirKocarKacir, dia sekarang juga lagi ga ada di tempat.

BRA: Pak CirKocarKacir cuti. Gue tepar nih mas. Perut gue parah nih. Bagaimana dong? (Saya juga semakin kaget karena baru tahu kalo Pak CirKocarKacir cuti….)

Saya: Kunci brankas / lemarinya dibawa Bu RempongAbis ya? Maksudku, kalau ada yang bisa mencarikan di mejanya/lemarinya Bu RempongAbis, biar nanti aku yang nyariin. OB atau siapa gitu. (saya sok-sok’an solutif… biar cepet selesai…hihi – si Bu RempongAbis tiba-tiba ganti status BBM: Gilaaaak, masih sakit tetep dipaksa juga)

BRA: Oke mas, kalo ada apa-apa dengan aku, kamu nanggung ya mas. (Mulai panas nih pembicaraan)… Brankas itu tempat uang, ngga mungkin OB dikasih. Nanti tanggung jawabnya siapa yang nanggung kalo ilang? (malah saya bingung… data hardcopy kok ditaruh di tempat duit… *muka lempeng*) si Bu Rempong Abis tiba-tiba update lagi ganti status BBM: Gilaaaak, masih sakit tetep dipaksa juga. Kalo duit ilang, lu mau tanggungjawab??? *dengan ditambah emoticon warna merah-merah marah. Bhihihik…

Saya: Bu RempongAbis ada solusi ga? (saya sudah capek jawabnya, jadi lebih baik nanya aja…)

BRA: Kamu maksa aku datang (ke kantor)? (SHOOOCCCKKK… Kesimpulan yang MEN-CE-NGANG-KAN)

Saya: Bukan maksa sih Bu, maksudnya adalah… kalo misalnya Pak CirKocarKacir mau ngisi data itu lagi yang akan aku kirimkan via online, biar beliau bisa ngisi lagi. Tapi kan aku ga mungkin minta Pak CirKocarKacir ngisi lagi, secara…dia taunya udah ngisi (dan tentunya sudah di serahkan ke sekretarisnya). (lah… ini saya masih mencoba sabar dan sok solutif…)

BRA: Terserah kamu deh mas, kalau maksa aku datang. (berasa kayak percakapan dua insan yang dilanda asmara ya… bhahahahak…)

Saya: Aku ga bilang minta datang sih Bu. Maaf… Bukan maksa buat datang. Tapi misalnya nih, Bu RempongAbis konfirmasi ke Pak CirKocarKacir soal data itu, nanti saya akan kirimkan permintaan lagi via email ke Pak CirKocarKacir, biar ngirim langsung ke saya. Soalnya saya juga akan disalahkan orang lain gara-gara data itu belum diserahkan, padahal kan datanya sudah dibuat sejak Senin. (Sedikit membela diri, supaya BRA tahu, bahwa saya juga dalam posisi yang tidak enak)

BRA: Udah mas, kalau kayak gitu aku datang. Biar kamu senang. Terserah. (dalam hati sih ya… terserah elo juga…bhahahak… tapi saya masih berkata sok diplomatis seperti layaknya final Putri Indonesia, dengan mengatakan:

Saya: Lho Bu, maaf ya Bu. Bukan saya maksa Ibu masuk. Saya juga bingung, harus gimana. Ga usah ke kantor aja Bu. Ibu Istirahat aja di rumah… Nanti saya yang bilang ke pimpinan saya aja. (dengan gaya saya yang sok-sok sabar ala-ala Presiden SBY)

BRA: Sabar aja mas, gue datang buat nyelamatin kerjaan elo. Dari tadi saya bilang saya sakit mas, kalo cuma sakit ngga parahpun saya ke kantor. Sekarang ini perut saya lagi melilit, dari tadi juga keringat dingin. So, kalau buat nyelamatin kerjaan orang saya akan datang. Kamu memang ngga bilang suruh masuk, tapi mojokin orang. Sabar…saya datang ke kantor. Habis dari dokter, saya ke kantor mas.  (no excuse yaaaaa….)

Saya: Bu, sekali lagi sih saya ga minta Ibu masuk ya. Ibu Istirahat aja. (diplomatis…cocok jadi diplomat asing…)

Setelah percakapan Ge-Je ini, saya masih berucap tiga kali maaf kepada Bu RempongAbis, yang pada akhirnya, membuat dia ucluk ucluk ucluk datang ke kantor. Menyerahkan data itu, tepat tanggal 5 Desember 2013 jam 4 sore. Dan kemenangan ada di tangan saya… Bhahahahahahahahahahak… Tersenyum bangga.

***

Cerita tersebut sekedar ilustrasi pengalaman tentang bagaimana kita bisa menguasai sebuah keadaan. Kalimat “tersenyum bangga” di akhir cerita saya tadi, sebenarnya bukan kebanggaan saya karena bisa membuat orang sakit masuk ke kantor, tetapi saya lebih bangga pada diri saya, karena saya tidak tersulut emosinya dengan menggunakan kata-kata semi “Egois” dan amarah. Kalau saya ikut emosi dan tidak mengontrol diri saya, saya bisa berapi-api dengan mengumpat ke Bu RempongAbis karena lalai dalam memberikan data ke saya, apalagi ini terkait dengan nasib banyak orang.

Saya juga bangga, karena pada akhirnya Bu RempongAbis juga sadar, bahwa sebenarnya dia juga lalai memberikan data tersebut. Pada akhirnya saya salut kepada Bu RempongAbis ya akhirnya berjuang untuk datang ke kantor. Itu artinya dia memang bertanggungjawab, meskipun terlambat.

Bukankah dia bisa menyerahkan data lebih awal dan tidak harus menyerahkan data saat dia sakit? Akhirnya dialah yang bergerak, bukan saya. Keadaanlah yang berubah, bukanlah saya. Keadaan itu harus ditangani dengan ketenangan dan kesabaran. Itu ujian bagi banyak orang.

Ada dua hal yang bisa dipelajari dari kasus ini:

Pertama: Yakinlah, bahwa jika memang keadaan di sekitar kita tidak nyaman, kita kurang, kita lemah, kita masih banyak pekerjaan, semua akan bisa kita kendalikan jika pikiran kita tenang dan sabar. Tekun menghadapinya dan semua akan berbuah dengan baik. Minimal untuk hati kita.

Kedua: Jangan macam-macam dengan sekretaris senior. Bhahahahahahahahak…. Nanti akan ditemukan sebuah kasus baru dengan tema: Yang Salah Siapa, Yang Marah Siapa, Yang Sakit Siapa.

***

foto: web-translations.com

4 thoughts on “Psikologi Komunikasi: Yang Salah Siapa, Yang Marah Siapa

  1. Bahahahahahaha bagus, lanjutkan… Mas Anwar orangnya sabar (y). Berarti konklusinya adalaaahh: SADAR DIRI.

    *btw teman kantorku juga baca ini dan dia manggut-manggut sambil senyam-senyum, terimakasih sudah menginspirasi* (y)

    —————————————

    Terima kasih sudah mengunjungi blog ini ya, Tiwi. Semoga terus menginspirasi kehidupan semua orang. Ingat, kesabaran akan berbuah kemanisan. Kalau terlalu manis, berarti gulanya kebanyakan. Hahahaha..

  2. wah nek aku yo wis emosi….
    ———————-

    Jan jane aku yo pengen emosi, Bu. Tapi ya gimana lagi. Aku harus sabar, karena kalau aku ikutan emosi, pasti aku akan ga dapet apa-apa. Ya to?

  3. Gile…si mawar sabar abis *emang wong solo harusnya gitu kan?*
    Kalo gue udah jawabnya gini…..” Makanya, bu…, kalau dititipin data sama boss langsung diserahin dong, kan gak perlu sampe begini !!!!!!!!!”
    Tapi mengalah itu justru sudah menang ya…….
    Jempolllllll

    —————————-

    Bhahahak…Betul Ci Elis… Orang Solo harus berani menerima kenyataan sebagai orang penyabar. Tapi jangan sampai lengah, biar ga mudah ditipu ci…

  4. hahahahahaha…….aku baca ini, jadi sakit perut!bukan karena pms, tapi kebayang gimana muka lempeng sama wajah sangar lagi adu tulisan!kembang eskpersinya dalam kurungnya bikin geli……ketawa ketiwi sendiri.
    bisa buat otot muka olah raga…biar lebih awetan dikit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s