Kisah Tragis Kecelakaan Kereta 3 Tahun Silam

Kecelakaan Kereta di Petarukan (Source: Wikipedia)2 Oktober 2013. Tepat 3 tahun silam terjadi kecelakaan kereta yang tragis dalam 10 tahun terakhir. Kereta Api Senja Utama Semarang ditubruk Kereta Api Argo Bromo di jalur utara pulau Jawa, tepatnya di Stasiun Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah. Tiga puluh enam orang tewas, dan ratusan lainnya cedera. Saya masih mengingat betul bagaimana detik-detik kejadiannya. Dan Saya adalah salah satu korban yang selamat dalam musibah naas itu.

Tulisan saya sebelumnya: 

02/10 KECELAKAAN ATAU TIDAK, KITA TETAP AKAN MATI (1 Oktober 2011)

DUA TAHUN LALU, 36 ORANG TEWAS DI PETARUKAN (1 Oktober 2012)

***

Ini adalah tahun ketiga saya menuliskan kisah kehidupan dari peristiwa yang saya alami tanggal 2 oktober 2010 dini hari itu. Setiap tahun saya berusaha merefleksikan diri atas kejadian yang saya alami. Tentunya saya harus bersyukur karena selamat dari kejadian itu, tetapi saya tidak lantas bahagia karena kenyataannya tidak semua orang seberuntung saya. Saya beruntung karena pada posisi duduk yang memang terselamatkan, tetapi tidak bagi mereka yang akhirnya harus pergi dan berpisah dengan keluarganya. Menyedihkan.

Saya masih ingat betul bagaimana manusia-manusia yang menjadi korban itu penuh luka, dan tak bernyawa.

Saya masih ingat, ketika polisi membawa saya dan teman-teman saya yang cedera menuju Rumah Sakit Santa Maria sambil duduk di mobil polisi bak terbuka.

Saya masih ingat, ketika tangan saya memegang tangan teman saya dan berkata “Kita masih selamat…”

Saya masih ingat, ketika harus melayani wawancara beberapa stasiun TV, media online dan media cetak lainnya. Sambil tetap bisa online mengabarkan informasi terkini dari TKP.

Kengerian dari setiap detik peristiwa itu seakan tak mau lepas dari ingatan.

***

Hidup dan mati seutuhnya ada di tangan Sang Pencipta. Manusia hanya akan mendapatkan jawaban dan menjalaninya. Dua hari sebelum saya menulis refleksi ini, saya bermimpi yang menceritakan tentang gambaran masa depan saya. Dalam mimpi, saya menggendong seorang bayi, di sebuah taman. Bayi itu masih sangat kecil, tetapi dia hebat karena bisa berbicara. Si bayi mengatakan pada saya bahwa umur saya hanya sampai pada usia 61 tahun, dan di usia ke 46, saya akan mengalami hal yang paling tidak menyenangkan dalam hidup.

Saya terbangun. Bagi saya, mimpi adalah sebuah bunga tidur yang berasal dari alam bawah sadar kita yang ingin ‘mengatakan sesuatu’. Setidaknya begitulah referensi yang saya dapatkan dan komen-komen teman saya melalui social media. Malah ada yang mengatakan bahwa mungkin saya sudah ingin momong bayi, sehingga meminta saya untuk cepat-cepat menikah dan memiliki anak. Ada benarnya juga.

Tapi saya bukan orang yang suka membuka buku dan mencari-cari tentang tafsir mimpi. Atau kalau mau sedikit repot dan punya effort, saya juga bisa menghubungi orang pintar yang bisa membaca mimpi saya tersebut. Saya enggan untuk melakukannya, karena mimpi tidaklah penting bagi saya, kehidupan kita yang sebenarnyalah yang perlu dibenahi dan ditata. Kalaupun benar usia saya hanya sebatas 61 tahun, biarkanlah itu menjadi catatan kecil kehidupan saya. Tapi lagi-lagi, saya tidak ingin itu sebagai kepercayaan mutlak. Itu jelas-jelas hanyalah mimpi. Karena saat inipun, Tuhan bisa mengambil hidup saya.

***

Sejak peristiwa 2 Oktober 2010, saya selalu berusaha mencoba merefleksikan tentang rasa syukur atas kenikmatan hidup. Hidup itu perlu disyukuri. Sepahit apapun harus dijalani. Sesakit apapun harus dirasakan dan dinikmati. Karena menikmati kesengsaraan dan kegetiran hidup itu memiliki seni tersendiri. Manusia kemudian akan berstrategi untuk selalu bisa survive. Seninya datang dari setiap strategi kehidupan yang kita pilih.

Hendaknya pula, strategi untuk bisa survive menikmati kehidupan itu adalah menguatkan diri dengan doa. Titik mula inilah yang kadang kita lupakan. Sayapun demikian, seringkali lupa. Doa itu ungkapan syukur yang gratis, tak terbatas dan mudah. Kita sendirilah yang membuatnya menjadi susah. Berdoa untuk mengawali perjalanan itu mungkin hanya 5 menit, bahkan kurang dari itu. Tetapi kadang saya juga enggan melakukannya. Doa itu membuat kita semakin meyakinkan diri bahwa Tuhan akan selalu ada dalam diri kita. Apapun kejadiannya di depan nanti, pasti ada Sang Ilahi yang memberikan tuntunan.

Sebagai orang Katholik, salah satu doa yang menguatkan dalam hidup saya adalah Doa Bapa Kami. Saya juga pernah menuliskan refleksi saya tentang doa ini (bisa dibaca di link ini) Doa ini membuat saya merasa ‘betapa saya sangat amat hina dan kecil di hadapan Tuhan’. Di sisi lain, melalui doa ini, saya diajari untuk rendah hati, mengampuni dan mengasihi. Ini adalah modal kita nanti, kita tiba-tiba kita harus menghadap Sang Maha Besar.

***

Semoga refleksi tahunan ini menjadi modal yang menerangkan kita semua akan pentingnya kehidupan dan mensyukurinya dalam segala hal. Saya khusus berdoa untuk seluruh korban kecelakaan kereta 2 Oktober di Petarukan. Semoga mereka semua tenang abadi di surga. Suatu saat nanti, kita akan bersama-sama bertemu di sana. Amin.

12 thoughts on “Kisah Tragis Kecelakaan Kereta 3 Tahun Silam

  1. Cocok banget lu jd frater war.. tetap semangatt!! Walaupun badai menerpaa.. tetap percaya dan semangatt!!! Tuhan tdk pernah meninggalkan kita umatnya yg hina ini🙂

  2. Wah…serem bener pengalaman loe war…untung masih dikasih umur panjang yah…kalo ga kan ga bs ketemu eka si tenor ganteng #ehsalahfokus

  3. Bersyukurlah bahwa Tuhan masih kasih kesempatan untuk menikmati hidup. Jarang sekali Tuhan kasih kesempatan kedua (hidup) kepada kita. Berarti Tuhan masih menginginkan kita menjadi manusia yang lebih baik lagi, bisa sharing pengalaman hidup kepada orang (siapa tau dapat bermanfaat bagi orang lain). Syukurilah hidupmu demi nama Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s