PERJALANAN KE TANAH EROPA [BAGIAN 2]: SELAMAT PAGI, SANKT AUGUSTIN!

Selamat pagi, Sankt Augustin!

Selamat pagi, Sankt Augustin!

Selamat Pagi, Sankt Augustin! Pukul enam pagi, dan saya sudah bangun. Jet lag? Ga tuh… Mungkin karena semalam saya sangat lelah dan memiliki waktu yang cukup untuk tidur malam. Bangun-bangun sudah segar bugar. Meski di luar 9 derajat, saya tidak merasakan dinginnya udara. Bergegas ke kamar mandi dan ganti baju. Cuci muka dan sikat gigi. Sepertinya si Ibu sudah gedombrengan di dapur untuk memasak.

***

Good morning, boys!” si Ibu selalu menyapa demikian setiap pagi, saya dan Kabul, teman se-homestay. Tiga koran harian sudah ada di atas meja makan kecil di dapur. Yes… Meski Jerman sudah terkenal dengan teknologi komunikasinya, keluarga ini tetap berlangganan tiga koran sekaligus. Kami diminta duduk di meja makan kecil itu. Sedikit berdiskusi dan berkenalan lebih lanjut. (dan berbasa basi soal tidur kami semalam). Keluarga kami, tentang Indonesia, dan lagi-lagi tentang Soekarno. Si Bapak sepertinya selalu menikmati pembahasan soal politik, ekonomi dan sepakbola. Semua dalam bahasa Inggris. Hanya saja…. Si bapak bisanya dikit-dikit. Jadi ya gitu deh… kalau ngomong boso enggres ya harus memutar otak. Satu topik lagi… soal perjalanan kami dari Indonesia ke Jerman.

Keluarga Uleer adalah keluarga yang smart. Mereka sangat amat terdidik. Mereka memiliki tiga putra, dan sayang sekali, ketiganya tidak tinggal di rumah tersebut. Sudah dewasa, dan tinggal bersama dengan pasangannya sendiri-sendiri… Kasian si Ibu dan Bapak…

Menikmati Nescafe Dolce Gusto di atas meja makan kecil di dapur itu ternyata menjadi kebiasaan si Bapak. Di Indonesia, Nescafe model beginian baru masuk di awal 2013, tapi di sana, Nescafe Dolce Gusto ternyata sudah lebih dulu ada. Agak heran juga sih dengan alatnya yang canggih. Dari sebuah cup kecil kopi, bisa menjadi sebuah minuman hangat yang sangat aduhai baunya… wangii…. Dapur itu kecil, tetapi sangat rapi, bersih dan teknologinya luar biasa. *ngowoh ngeliatnya*

“Saya anak kedua. Saya bekerja di Jakarta. Tetapi rumah saya di Surakarta. Dekat dengan Yogyakarta”. Pembicaraan basa-basi ini sebagai perkenalan saya kepada mereka. Saya menyebut Yogyakarta, agar si Ibu tahu, bahwa tempat kelahiran saya memang jauh dari Jakarta. Ibu pernah ke Indonesia, dan pernah ke Yogyakarta pada tahun 90-an. Huuuuu.. tentunya dia sudah lupa. Yang dia ingat adalah Jakarta dan Yogyakarta itu memang jauh.

Sebelum jalan-jalan, foto dulu dooong... Belakangku itu pohon natal yang belum dihias kayaknya...

Sebelum jalan-jalan, foto dulu dooong… Belakangku itu pohon natal yang belum dihias kayaknya…

Si bapak menantang kami untuk bermain ping pong (tenis meja). Ah… bakal seru nih… Tapi sepertinya, si Ibu akan mengajak kami berkeliling Sankt Augustin di hari pertama. Beliaunya mengajak kami membeli roti untuk makan siang. Dan sedikit berbelanja untuk kebutuhan di supermarket HIT (Salah satu supermarket yang memang nge-hit di wilayah itu…) Waaaaaahhh, pasti menyenangkan…

***

IMG_4454Kami. Saya dan Kabul diajak berkeliling Sankt Augustin. Tujuan pertama kami adalah membeli roti gandum untuk makan siang dan makan malam. Yaaaaa.. roti… hidangannya roti terus. Bhahahak… Tapi itulah budaya Eropa. Mau tidak mau. Suka tidak suka, harus diikuti.

Dengan mobil BMW-nya, kami dibawa menuju ke toko roti dekat rumah. Ga deket-deket banget sih, kira-kira 4 km dari rumah. Nama toko roti itu adalah “BACKEREI OEHMIGEN KONDITOREI”. Sepertinya saya (sedikit) salah kostum. Saya pakai sandal jepit saudara-saudara… bhahahak.. Si Ibu nanya: “Kaki kamu ga kedinginan?” hihihi… Dingin sih, tapi apa boleh buat. Ga biasa pake sepatu kalo cuma jalan ke toko roti. Hahahaha…

Di toko roti itu, saya diperkenalkan oleh pemiliknya. Ternyata, seluruh roti-roti yang dia jual di toko tersebut adalah buatan sendiri lho… Toko kecil di tengah kampung ini cukup ramai ternyata. Dan si Ibu menerangkan kepada banyak orang, bahwa dia mendapatkan tamu dari Indonesia. Saya dan Kabul. Tamu ndeso yang sukanya foto-foto.. hihihi..

Tempat pembuatan roti

Tempat pembuatan roti

Si pemilik toko sekaligus pelayannya mempersilakan kami untuk berfoto-foto di dapur mereka. Dapurnya cukup besar dengan mesin-mesin penggilingan dan cetakan roti yang besar-besar pula. Gilak nih… tempatnya bersih. Orang Jerman memang bersih-bersih ya… Semua dikerjakan dengan mesin, minim pegawai. Saya melihat, ada seorang laki-laki yang membantu dalam penggilingan roti. Dan seorang wanita yang sepertinya keturunan Asia Selatan juga membantu mereka. Menyenangkan melihat mereka bekerja secara cekatan, dan sepertinya mudah.

“Let’s go, boys…!!!! “ si Ibu mengajak kami untuk meninggalkan tempat pembuatan roti. Si wanita pemilik toko yang agak nyentrik itu mengucapkan salam. Di pertemuan kami selanjutnya, dia ternyata masih ingat dengan saya…

***

Mejeng dulu ah...

Mejeng dulu ah…

Sepertinya enak ya...

Sepertinya enak ya…

 

Ini dia. Dua pegawai bank yang memang cuma berdua... hahaha...

Ini dia. Dua pegawai bank yang memang cuma berdua… hahaha…

Kami ke bank. Sekedar mengambil uang. Ini pertama kalinya saya masuk ke kantor sebuah bank di kota kecil, Sankt Augustin. Oh… Bedaaaaa jauh dengan bank di Indonesia kali ya. Ruangannya besar, bersih, rapi, teratur tetapi yang di office hanya dua orang. Hihihi…Mungkin sepi kali. Tapi merekapun ramah, dan sangat mengenal nasabahnya dengan baik. Eh… ga lupa dong, saya foto-foto sama pegawai bank-nya… hihihi… Padahal saya belum mandi lho itu… hahahahahaha….

Selanjutnya, kami berbelanja di supermarket. Hmmmm… Kami akan berbelanja… Wah, menyenangkan sekali bisa melihat cara orang Eropa berbelanja. Kami datang ke salah satu supermarket yang letaknya dekat dengan rumah.

Supermarket di sini tentunya sama dengan di Indonesia. Semua serba ada. Mulai dari buah-buahan, makanan, perlengkapan mandi sampai dengan tanaman. Tapi jika ingin berbelanja, bawalah sendiri tas plastik atau tas belanjaan sendiri ya. Soalnya tidak ada tas plastik untuk barang belanjaan. Waaaaah.. menarik kan? Beda dengan di Indonesia. Dikit-dikit dapet plastik. Beli minum aja diplastikin. Bener-bener perusak lingkungan ya… Sebenarnya ada plastic, hanya saja..kita harus membayar lebih untuk sebuah plastik. Orang Jerman sepertinya sudah memiliki budaya anti plastik. Nah, dengan belanjaan yang bertumpuk-tumpuk, maka tugas kami adalah membawakan belanjaan tanpa tas. Ibu juga membeli bunga untuk di rumah.

Yaaaaak... Si Kabul mborong belanjaan. Tanpa plastik dan harus dibawa sendiri... Selamet ye, Bul!!!!

Yaaaaak… Si Kabul mborong belanjaan. Tanpa plastik dan harus dibawa sendiri… Selamet ye, Bul!!!!

***

Ditantang si Bapak main tenis meja

Ditantang si Bapak main tenis meja

Fiuuuh. Akhirnya sampai di rumah. Si Bapak nampaknya sudah tak sabar menanti untuk bertanding tenis meja dengan kami. Si Bapak teriak-teriak dari belakang. “Anwaaaaar… sini… ayo main tenis meja… Ambil peralatannya di sini..” Kira-kira begitulah si Bapak berteriak. Saya dan Kabul langsung ngibrit ke belakang rumah yang tamannya sangat luar biasa indah. Ternyata si Bapak punya satu set peralatan tenis meja.  Saya dan Kabul mengeluarkan peralatan tenis meja yang menurut si Bapak ‘lumayan mahal’ itu. Didorong dari sebuah gudang belakang rumah. Daaaan… yaaaakkk…kita bermain tenis meja di halaman belakang rumah…

Hihihi… Keluarga ini memang menyenangkan… Kami disambut dengan ramah. Kami dimanjakan betul. Seperti anak-anak mereka. Hihihi…

Pura-pura main tenis meja. Seolah-olah jadi atlit.

Pura-pura main tenis meja. Seolah-olah jadi atlit.

***

Naik sepeda muterin kampung

Naik sepeda muterin kampung

Si Bapak masih semangat sekali untuk mengajak kami muter-muter. Beliau mengajak kami untuk muterin kampung naik sepeda. Di rumah, terdapat 3 sepeda. Pas sekali. Untuk saya, si Bapak dan untuk si Kabul. Tapi yaaaa.. yang PR banget adalah… ban-nya gembos semua. Jadi kami harus memompa dulu ban sepedanya. Dan karena pompa ban sepeda di rumah sedang rusak, kami meminjam pompa sepeda tetangga. Hihihi…. Segitunya ya…

Taraaaaaaaaa!!!! Sepeda telah siap… Dan kamipun bersepeda ria. Kebetulan sekali, belakang rumah di Bapak ini berbatasan langsung dengan padang golf “Internationaler Golf Club Bonn”. Waaah, ini menambah keasyikan tersendiri dalam bersepeda mengelilingi kampung. Si Bapak mengajak berkeliling naik sepeda yang ga ada rem tangannya ini. Hihihi… Jadi inget ‘pit kebo’ yang dulu ada di rumah. Kalau nge-rem harus genjot ke belakang. Hihihi…

Selain mengelilingi padang golf, kami juga mampir ke kandang kuda. Si pemilik kandang kenal baik dengan si Bapak. Kata si Bapak “Itu si Ibu yang punya kandang kuda punya masalah dengan anakku, makanya…anakku ga pernah rukun dengannya”… Hihihi… Urusan keluarga jadi curhatan di tengah jalan ketika bersepeda. Hahahaha…

Sampai rumah. Sup asparagus menanti… hhhmmmm… enak..!!!

***

Sankt Augustin adalah sebuah kota yang ramah lingkungan. Semua penduduknya memiliki kebiasaan untuk membersihkan rumahnya, tamannya dan sekeliling tempat mereka tinggal. Tidak ada sampah berserakan. Semua rapi, semua tertata. Sampah dikumpulkan sesuai jenisnya. Jalanan juga sepi, tidak ada macet. Udara bersih. Kesejukan selalu terasa dalam setiap hirup nafas. Aaaaah… Bersyukur bisa terbebas sejenak dari  sumpeknya Jakarta.

Dok: Foto Pribadi

NEXT: PERJALANAN KE TANAH EROPA [BAGIAN 3]: MENIKMATI KOTA SEJARAH, BONN 

 

2 thoughts on “PERJALANAN KE TANAH EROPA [BAGIAN 2]: SELAMAT PAGI, SANKT AUGUSTIN!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s