PERJALANAN KE TANAH EROPA [BAGIAN 1]: HATI-HATI YA, MAS!

Beberapa waktu lalu, banyak yang bertanya tentang apa yang saya lakukan di tanah Eropa. Saya ceritakan sedikit, di bulan Mei-Juni lalu, saya berangkat ke Jerman. Oh…maaf, bukan saya…tetapi kami. Ya… Saya dan 38 rekan dari paduan suara Vox Angelorum berangkat ke Jerman, memenuhi undangan, untuk sebuah kegiatan homestay yang cukup panjang (ya ±20 hari lah..) dan beberapa konser yang kami lakukan di Jerman. Ini pengalaman luar biasa… Pengalaman yang bagi banyak orang Indonesia ingin merasakannya. Ke tanah Eropa, tinggal bersama dengan penduduk, merasakan kehidupan mereka dan memotret bagaimana mereka mengamalkan kehidupan sebagai warga negara, umat dan masyarakat. Saya akan bagikan banyak kisah yang menarik tentang perjalanan saya ini dalam banyak bagian. Jadi sabar yeeeeee… Hahahaha…

***

16 Mei 2013 – Bandara Soekarno Hatta

Sekitar jam 6 pagi, ponsel saya berbunyi. Dari Mbak Yanti, penjaga kosan di tempat saya tinggal di Jakarta, mengirimkan pesan. “Hati-hati ya Mas. Jangan lupa lho, oleh-olehnya.”. Bagi saya, Mbak Yanti ini seperti malaikat. Semalaman dia membantu saya untuk packing. Menata seluruh bawaan saya. Pakaian harian, kostum, partitur untuk konser, makanan instan, sepatu, obat-obatan, sapi dan tetek bengek lainnya. Semua dibantu dan dimasukkan dengan rapi, teratur dan yang paling menakjubkan… muat banyak di koper pinjaman dari Tante Murni, Mamanya DITO (temen di SAMA Van Lith saya). Saya memang sengaja minta tolong bantuan Mbak Yanti. Secaraaaa yaaaa… dia adalah penjaga kosan sekaligus asisten rumah tangga yang cekatan dan sudah berpengalaman untuk packing ke Arab Saudi. Bolak-balik 3 kali ke tanah Arab untuk menjadi TKW, membuatnya jago untuk soal mengepak barang. Cihuuuyyy..

Mata saya masih terasa pedas. Jam 3 pagi tadi saya harus bangun. Packing juga baru selesai jam 12 malam. Jam 4 pagi sudah berangkat menuju bandara Soekarno – Hatta. Pesawat berangkat jam 07:25 dari Jakarta. Waktu 4 jam di bandara saya manfaatkan untuk check in di seluruh social media yang saya miliki: fesbuklah, twitterlah, instagramlah…dan laen laen. Ya… lumayanlah ya, bisa eksis dan nyombong dikit bisa ke tanah Eropa. Hihihi… Saya layaknya orang-orang sok-sokan lainnya, ganti status di BBm dengan status: GERMANY… halah… ya siapa tau seluruh kontak di BBm saya tau, kalau saya mau ke YYEERRRMAN… *ditoyor*

Ini di dalam pesawat pertama

Ini di dalam pesawat pertama

Saya menelfon Ibu. Berbicara juga pada Bapak. Pamitan. Mohon berkah supaya bisa kembali ke tanah air dengan selamat. Saya juga pamitan di group keluarga besar saya di Facebook… (sempet ya booookkk…). Ya siapa tau, saudara saya yang juga lagi di Eropa tau dan bisa ketemu gitu kamsudnya…

***

Saya terbangun. Masih di Pesawat ternyata. Emirates EK369. Saya duduk di Zone G nomor Kursi 16J. Sebelah kanan saya seorang om-om bule, yang logatnya sepertinya orang Italia. Sempat berbicara sedikit dengannya lantaran saya menumpahkan minuman di celananya… bhahahahak… Maaf ya Om Bule. Saya kan ga sengaja. Tapi dianya bilang, gapapa kok. Malah dia sempet menawarkan selai strawberi untuk saya… Hihihi… Ternyata faktor yang membuat saya ketiduran adalah capek dan ditimang-timang oleh film Perahu Kertas yang belum pernah saya tonton sepanjang masa. Sekitar tujuh jam perjalanan menuju Dubai. Dan pantat sudah mulai tidak nyaman. Panas…

***

12:30 Waktu Dubai

Dubai Airport. Inilah bandara tersibuk di Dunia. Saya jadi ingat liputan feature di National Geographic Channel tentang Airport ini. Wow! Besaaaaaaaaaaaaar. Seluas 356 kali lapangan sepakbola. Dubai Airport seperti sebuah miniatur dunia. Berbagai macam suku di seluruh dunia ada di sini. Yang kulitnya putih-putih, kecoklatan,dan hitampun ada. Yang matanya besar-besar sampai sipit-sipit juga ada. Yang berjenggot tebal sampai yang mulus bersih juga ada. Luar biasa ya manusia… bisa membangun sebuah bandara sehebat ini. Ya… namanya juga orang kampung yang baru pertama menginjakkan kaki Dubai. Pasti kagum… Wah, Mbak Yanti katanya juga pernah ke Dubai. Wuiiihhh… ternyata bener omongannya Mbak Yanti. Besaaaaar dan waaaaaahhhh…

Anak VOX terbang ke Eropa

Anak VOX terbang ke Eropa. Tapi poto dulu di DUBAI

Ya begini ini kalau tour tapi rame-rame. Foto-foto pasti jadi idaman

Ya begini ini kalau tour tapi rame-rame. Foto-foto pasti jadi idaman

Gaya dulu dong di bandara. Kali-kali kan bisa terkenal...

Gaya dulu dong di Dubai. Kali-kali kan bisa terkenal…

Berjalan dari tempat turun pesawat menuju tempat boarding pesawat selanjutnya adalah PR bangeeeet. Jauhnya booosssss… Pake acara naik kereta segala. Itu di dalam airproooot lho… Halah halah halah…

Saya sih mencoba untuk tidak duduk berlama-lama di airport. Saya gunakan waktu menunggu penerbangan selanjutnya dengan banyak berjalan. Ya tau dong, abis ini masih harus perjalanan ke Jerman, yang kurang lebih juga waktunya sama seperti Jakarta – Dubai. Capeee deh… Eh, iya… pas di Dubai, cek-in lagi dong. Hihihi.. Kan eksis… biar pada tau, kalau saya lagi di luar negeri… Selesai dengan cek-in yang memanfaatkan gratisan wi-fi, saya foto-foto. Hihihi…(Kampungan asli pokoknya…)

Jam 14.30 Waktu Dubai

Pesawat kedua. Emirates EK 047. Dari Dubai menuju Frankfurt. Ah… lega, untung sebelahnya temen-temen sendiri. Kali ini ga tidur sama sekali lho. Malah nonton film-film serem. Salah satunya adalah Paranormal Activity dan Mama. Eh… itu berarti salah dua ya… bukan salah satu… Temen di sebelah kanan dan kiri dua-duanya udah batuk pilek. Sepertinya terserang penyakit ‘terlalu senang ke Eropa’. Hihihi… Temen di belakang kursi ada yang muntah. Mungkin karena pengen gaya, semua minuman di pesawat dicobain. Karena ga ada baju ganti, terpaksa pakai baju kostum konser. Bhahahak…

Nah, ini dia... PR banget deh naik kereta di bandara... Jauhnyoooo...

Nah, ini dia… PR banget deh naik kereta di bandara… Jauhnyoooo…

***Ah.. akhirnya udara segar Frankfurt mulai terasa setelah keluar dari bandara. Jam di HP saya menunjukkan pukul 8 malam waktu Frankfurt. Tapi suasana masih sekitar pukul 5 sore di Indonesia. Saya masih bisa melihat dengan jelas matahari yang sayup-sayup akan tenggelam. Udara dingin… seperti di puncak. Hihihi… Tak lupa… sebelum keluar dari bandara. cek-in dulu, dan upload di instagram. Eksis dong yaaaaaa…

Kami dijemput oleh Pater Davis, Pater yang mengundang kami di Jerman. Naik bis menuju Sankt Augustin kota kecil yang kurang lebih ditempuh dengandalam jarak 2 jam dari Frankfurt. Saya duduk di paling belakang bis. Sendirian, bersama tas-tas dan alat musik yang dibawa.

Lalala…Yeyeye… Seneeeeng banget bisa menikmati tanah Eropa. Aaaaahhh… Saya Cuma bisa senyam senyum. Dan masih berpikir dalam hati..”Akhirnya…Akhirnya…Akhirnya…”. Penantian untuk ke Eropa tidak sia-sia. Akhirnya kami bisa bersama-sama berangkat menuju Jerman.

Dua jam perjalanan, saya sempat tertidur kira-kira 30 menit. Kalaupun saya terbangun, saya juga tidak bisa menikmati jalanan tol di Jerman yang gratis itu, lantaran sudah mulai gelap.

11 malam di Sankt Augustin

Perjalanan Menuju Sankt Augustin yang memakan waktu 2 jam

Perjalanan Menuju Sankt Augustin yang memakan waktu 2 jam

Tiba juga di Bandara Frankfrut. Jam 9 malam di sini. Tapi masih terang ya...

Tiba juga di Bandara Frankfrut. Jam 8 malam di sini. Tapi masih terang ya…

Duduk di paling belakang. Biar kalo tidur ngowoh ga dipoto.

Duduk di paling belakang. Biar kalo tidur ngowoh ga dipoto.

Akhirnya kami tiba di aula paroki gereja di Niederpleis. Keluar dari bis dan … fiuuuhh… dingggggiiiinnn… Kami disambut oleh calon-calon keluarga yang akan kami tinggali. Berbagai minuman hangat tiba-tiba dibutuhkan. Haus sudah tak tertahankan… Halah… Setelah mendapatkan sambutan dari Pater dan keluarga, kami melakukan pembagian tempat tinggal.

Cieeeee.. yang lagi pada ke Eropahhhh

Cieeeee.. yang lagi pada ke Eropahhhh

Saya diperkenalkan kepada keluarga Uleer, bersama dengan Ibu Maria dan Bapak Christoph. Untuk kesekian kalinya saya homestay lagi. Kemudian saya teringat akan pengalaman beberapa kali pernah homestay ketika di SMA Van Lith. Pak Warto, dialah ayah homestay saya di Gejayan – seorang petani yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung merapi. Kemudian Bu Rahman, dia adalah ibu homestay saya di Semarang, seorang tukang sayur yang rumahnya sangat amat sederhana di daerah Mangkang, Semarang (daerah konflik pabrikan). Waktu homestay di rumahnya, saya kebanjiran. Dan di rumah Pak Arswendo Atmowiloto, seniman, budayawan senior. Di keluarganyalah saya tinggal selama seminggu ketika Live-in Khusus. Dan kali ini, keluarga Uleer akan menjadi keluarga saya di Jerman. Saya langsung berpikir, tangisan pasti akan ada di akhir perpisahan kita.

Keluarga Uleer membawa kami ke rumahnya, dengan mobil BMWnya yang mewah itu. Seumur hidup juga belum pernah naik mobil BMW semewah ini. Saya tak bisa mengenali tipenya, karena waktu itu malam. Memikirkan tipenya juga ga sempat, karena capek terlalu capek untuk berpikir. Sekitar 20 jam di perjalanan. Dan itu cukup melelahkan.

Pembagian keluarga. Sambil menggigil kedinginan

Pembagian keluarga. Sambil menggigil kedinginan

Jam 12 Malam Waktu Sankt Augustin.

Terima kasih Tuhan, akhirnya saya tiba di kamar tamu keluarga Uleer. Bisa beristirahat. Besok kami akan melanjutkan petualangan, yang tentunya akan sangat menyenangkan.

***

Tunggu cerita kelanjutannya ya… Hihihihi…

NEXT: PERJALANAN KE TANAH EROPA [BAGIAN 2]: SANKT AUGUSTIN

Akhirnya sampai di kamar tidur. Di rumah keluarga Uleer.

Akhirnya sampai di kamar tidur. Di rumah keluarga Uleer. Ketika menginjakkan kaki pertama di sini, mereka terkesan dengan kaos saya, SOEKARNO. Keluarga Uleer mengenalnya.

4 thoughts on “PERJALANAN KE TANAH EROPA [BAGIAN 1]: HATI-HATI YA, MAS!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s