JELAJAH PULAU TIMOR [BAGIAN 4]: MELEWATI BATAS, MASUK TIMOR LESTE

Ini adalah rumah-rumah di sepanjang jalan menuju Dili.

Ini adalah rumah-rumah di sepanjang jalan menuju Dili.

Ga terasa, sudah 4 hari saya berada di Kefamenanu, kota Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya sudah merasakan kehidupan dan denyut nadi pedesaan yang cukup menyenangkan, ramah dan penuh dengan kehangatan. Tibalah saatnya untuk menyeberang ke negara tetangga, Timor Leste. Acara ‘melompati batas’ ini sudah saya pikirkan sewaktu masih di Jawa. Oleh karenanya, saya beranikan diri untuk membawa beberapa lembaran dollar US dari rumah, karena mata uang di Timor Leste adalah US$.

***

Tujuan utama saya ke Timor Leste adalah Dili. Di Dili, saya berencana untuk bertemu dengan adik dari kakak ipar saya yang sudah sekitar 12 tahun tinggal di Timor Leste (bisa kita singkat menjadi TiLes). Perjalanan menuju ke TiLes bukanlah sebuah perjalanan mudah bagi saya, yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Pulau Timor. Awalnya, saya ingin naik Timor Travel dari Kefamenanu menuju Dili, namun apa daya, ternyata saat itu situasi sedang libur natal, dan pemesanan travel dari Kefa tidak bisa mendadak. Saya menghubungi saudara di Dili, mereka bisa menjemput saya hanya di perbatasan Mota Ain. Mota Ain adalah salah satu perbatasan jalur darat untuk keluar masuk warga Timor Leste dan Indonesia.

Jika saya dijemput di perbatasan Mota Ain, itu artinya, saya harus melakukan perjalanan dari Kefa menuju ke perbatasan. Fiuuuhhh… Saya harus mencari kendaraan untuk bisa sampai perbatasan. Dari Kefa menuju perbatasan Mota Ain, dibutuhkan waktu sekitar 2,5 jam lamanya. Saya kebingungan untuk mencari transportasi seperti apa yang bisa membawa ke Mota Ain, karena jika saya naik bis, saya hanya bisa sampai Atambua. Padahal, dari Atambua ke Mota Ain masih harus ditempuh dengan jarak 30 menit lagi.

Ini adalah barang bawaan saya. Tas dan kardus. Masih ada yang lain lho... Bener-bener kayak pengungsian yak.. hihihi...

Ini adalah barang bawaan saya. Tas dan kardus. Masih ada yang lain lho… Bener-bener kayak pengungsian yak.. hihihi…

Saudara saya membantu mencarikan sebuah mobil pengangkut kayu yang kebetulan akan berangkat ke Atambua. Setelah deal harga antara saya dan sang pemilik mobil (yang bernama AGUS), saya dan ayah saya berangkat naik mobil bak terbuka itu. Dengan harga sewa 350 ribu rupiah untuk 2 orang, saya pikir…ya sudahlah ya…daripada tidak ada transportasi menuju perbatasan. Dan saya sudah terlanjur berjanji ke Saudara saya di Dili, bahwa saya akan bertemu di perbatasan sekitar pukul 1 WITA. Artinya, paling lambat saya harus berangkat dari Kefa sekitar pukul 11 siang WITA.

Dengan bawaan yang cukup banyak, kami berangkat ke perbatasan Mota Ain. Saya diantar oleh 3 saudara saya: Nita Talan (masih kuliah), Buan Talan (masih SMA) dan Anti Talan (masih SMP). Kami bertiga duduk di bak belakang. Ayah saya duduk di depan dengan sang sopir. Kami berempat di belakang duduk lesehan, tetapi di atasnya tertutup terpal. Sambil menikmati perjalanan, Anti Talan berteriak kepada si sopir..”Kakak Agus, coba putar musik yang agak bajingan sedikit..” YANG ARTINYA: “tolong diputar musik yang agak kuat dan enak”

Jalan dari Kefa menuju Atambua…wuiiihhhh…berkelok-kelok, penuh liku, dan jalanan yang curam serta terjal. Jalannya sih halus, tapi ya itu, bagi mereka yang tidak kuat untuk menahan perut karena guncangan, bersiap-siaplah untuk muntah. Hihihi… untung saya membawa obat-obatan yang memadai dan juga membawa tas kresek. Saya sih awal-awal naik itu sangat amat pusing dan mual, lama-lama…karena saya juga ngemut permen, saya tidak sampai muntah.

Dari Atambua ke Mota Ain, membutuhkan waktu 30 menit, dan jalannya mengerikan. Kami berhenti sejenak untuk membantu Buan Talan yang muntah-muntah.. hihihi...

Dari Atambua ke Mota Ain, membutuhkan waktu 30 menit, dan jalannya mengerikan. Kami berhenti sejenak untuk membantu Buan Talan yang muntah-muntah.. hihihi…

Dari Atambua, mobil yang kami tumpangi masih harus menuju ke Mota Ain. Keadaan jalan dari Atambua ke Mota Ain tidak terlalu bagus. Masih banyak yang berlubang, naik turunnnya masih kejam juga. Di sinilah, saudara saya yang cowok, si Buan Talan muntah-muntah. Kami terpaksa harus berhenti dulu untuk menunggu situasi dan kondisi yang baik. Daaaaaaaannnn… sepanjang perjalanan kami masuk Atambua, hujan deras mendera. Meskipun sudah ada terpal yang menutupi atas bak mobil, kamipun masih kebasahan. Barang-barang yang kami bawa basah semua. Untunglah, surat-surat dan alat eletronik yang saya bawa masih aman di tas yang saya peluk.

Situasi jalanan yang sangat tidak bersahabat, ditambah cuaca buruk yang kami alami sepanjang perjalanan, tidak membuat saya lantas putus asa dan mengurungkan niat untuk melihat bumi TiLes. Keinginan saya justru semakin besar dan kuat. Bahkan, saya semakin ingin bertemu dengan saudara saya yang ternyata sudah ada di gerbang TiLes di seberang sana.

Memasuki perbatasan Mota Ain, ada pos polisi. Kami masih diminta untuk berjalan ke arah kanan bersama dengan mobil. Kira-kira 200 meter dari pos polisi, itulah batas terakhir mobil dan pengantar untuk tetap stay di wilayah Indonesia. Kami turun di batas negara. Saya membayar sang sopir sesuai dengan harganya, dan saya berpamitan dengan saudara-saudara yang telah mengantarkan saya hingga ke perbatasan Mota Ain.

Ini adalah jalan dari Atambua ke perbatasan Mota Ain. Jalannya ngeri.. naik turun gitu.. hihi

Ini adalah jalan dari Atambua ke perbatasan Mota Ain. Jalannya ngeri.. naik turun gitu.. hihi

Di perbatasan (yang masih wilayah Indonesia), Warga Negara Indonesia (WNI) yang hendak ke TiLes harus mengisi form keimigrasian dulu di sini. Hati-hati, banyak calo-calo ‘juru tulis’. Mereka menawarkan bantuan untuk menuliskan form imigrasi tersebut. Setelah membantu menuliskan, biasanya mereka minta duit. Saran saya, kalau sudah biasa menulis form imigrasi, lebih baik diisi sendiri, dan dengan sopan tolaklah puluhan orang yang menjadi ‘calo’ tersebut. Saya sih ngisi sendiri… hihihi..

***

Dari area perbatasan Mota Ain untuk menulis form keimigrasian. Kita harus berjalan dulu melewati sebuah jembatan yang menghubungkan kedua negara. Di situ saya sempat foto-foto sejenak hehehe… Maklum ya, kan narsis bisa ke luar negeri. Apalagi lewat jalur darat… Apabila Anda membawa barang yang cukup banyak, Anda pasti akan capek sendiri dan kelelahan karena harus jalan kaki sekitar 200 meter untuk menuju kantor Imigrasi Timor Leste. Selain agak jauh, panas pulak!!!! Tidak ada tempat yang teduh untuk berjalan melewati perbatasan. Waktu itu saya sudah tidak peduli jika kulit saya bertambah gelap, yang penting saya sampai ke TiLes dengan senang.

Ini adalah jembatan perbatasan antara Timor Leste dan Indonesia. Kita hanya diperbolehkan untuk berjalan kaki... untuk menuju Kantor Imigrasi dan melewati jembatan yang panjang dan panas ini.

Ini adalah jembatan perbatasan antara Timor Leste dan Indonesia. Kita hanya diperbolehkan untuk berjalan kaki… untuk menuju Kantor Imigrasi dan melewati jembatan yang panjang dan panas ini.

Sebelum masuk ke Timor Leste, Anda harus mengurus visa dulu di kantor keimigrasian Timor Leste. Jadi, di depan kantor imigrasi ini Anda harus mengisi sebuah form visa untuk bisa masuk ke TiLes. Silakan masukkan form tersebut di dalam paspor setelah itu bayarlah visa. Pada saat saya masuk ke sana, biaya yang harus saya keluarkan adalah US$ 35 per aplikasi visa. Sekitar 350 ribu per orang, dan kalau dua orang ya berarti 700 ribuan.  (Bayarnya harus pake dollar Amerika lho ya) Hahaha… yaiyalahyaaaaaa…  Untuk warga Negara Indonesia, diberlakukan Visa on Arrival, jadi ya tidak perlu ngurus ke kedutaan, jika sampai…barulah diurus dan dibayar.

Setelah beres urusan bayar membayar visa, sekarang mengantrilah di petugas imigrasi untuk interview yang sifatnya formalitas. Ingat kata-kata saya: “Tidak ada petugas imigrasi yang ramah, mereka hanya sok cool” hihihi… Waktu itu, ayah saya berada di belakang saya. Interview saya sih lancar… nah, Ayah saya ini kan punya masalah pada pendengarannya… (maaf ya pak.. hehehehe…), ketika si petugas nanya apa..ya dijawab apa… jadi ga nyambung.. Lama-lama saya cuman bilang ke petugasnya dengan bahasa isyarat bahwa itu adalah ayah saya… Akhirnya ya lolos juga.

Ini adalah kantor keimigrasian Timor Leste (ada di belakang saya). Foto ini diambil saat pulangnya sih... bukan saat masuk Tiles

Ini adalah kantor keimigrasian Timor Leste (ada di belakang saya). Foto ini diambil saat pulangnya sih… bukan saat masuk Tiles

Setelah dari pos interview si petugas imigrasi itu, kami berdua menuju pada pemeriksaan barang. Semua barang diperiksa dan diodal-adul. Saya paling sebel di pos yang ini. Mengapa tidak menggunakan alat pendeteksi yang sebenarnya ada dua di situ dan sama sekali tidak ada yang dipakai????? Heran deeeeh… Alhasil, barang-barang di tas dan di kardus saya yang mayoritas berisi oleh-oleh, harus dibongkar-bongkar semua. Sebelumnya, petugas imigrasi juga bertanya: “Ini isinya apa?” sambil menunjuk kardus oleh-oleh.. saya jawab: “ Isinya Roti…”… Lalu dengan gaya sok galaknya dia bilang: “Ya saya tahu…roti itu kan banyak…Roti apa????”…. diiiihhhh!!! Nyebelin deh… Masak iya, saya harus nyebutin “Pak, ini Roti Sobek Coklat Merek Sari Roti yang harganya 10 ribu rupiah”????? Helloooooo…. Dengan bersungut-sungut, akhirnya selesailah sudah pemeriksaan barang dan akhirnya saya boleh masuk ke Timor Leste.

***

Kejengkelan saya ternyata belum habis. Ada 1 lagi pos yang saya tidak tahu apakah itu wajib atau tidak. Tapi yang jelas ada pos tentara di ujung kantor imigrasi yang memanggil kami untuk diperiksa dulu paspornya. Akhirnya saya serahkan paspor saya dan milik ayah saya. Setelah saya serahkan, si tentara kayaknya tidak puas melihat paspor ayah saya. Ayah saya dipanggil oleh si tentara yang cungkring itu, ayah saya dibawa ke belakang (deket kamar mandi pos polisi tersebut). Dan ternyata DIPALAK dengan dimintai uang sebesar US$ 10. Diiihhhh… Apa-apaan lagi nih… Katanya sih ya, ini adalah biaya yang harus dikeluarkan karena ayah saya baru pertama kali ke Timor Leste… Ya ampun.. apa-apaan ini????

Ini adalah batas negara antara Indonesia dan Timor Leste...

Ini adalah batas negara antara Indonesia dan Timor Leste…

Mungkin begini kali ya kalau kita berhadapan dengan orang imigrasi. Tetapi intinya, saya tidak mau untuk urusan bayar membayar seperti ini, saya dengan tegas bilang: “Tadi di imigrasi kami sudah membayar visa, tidak ada alasan apapun untuk Anda meminta kami biaya tambahan. Kalau memang ada biaya tambahan, kami perlu bukti untuk pembayarannya.” Si tentara kayaknya ogah-ogahan untuk berurusan dengan kami. Dengan sigap, saudara saya yang sudah menunggu di ujung perbatasan dan sudah melihat saya dari jauh, datang menghampiri saya.

Si tentara masih saja bertanya-tanya: “Di Timor berapa lama? Tinggal dimana? Dengan siapa? Ada keperluan apa?”. Ini kayaknya sudah berlebihan. Dan Saudara saya akhirnya bilang: “Saya saudaranya, dan mereka akan tinggal di tempat saya.” Si tentara masih saya bertanya pada si saudara saya: “Anda kerjanya apa? Sudah berkeluarga?” Ini kok jadi aneh?? Malah saudara saya yang ditanya macem-macem… Ah… ini cuma pemalakan di perbatasan… Akhirnya si tentara mengalah, ga dapet duit..dan saya diperbolehkan untuk masuk ke Timor Leste… Aahhh.. Lega… Hati-hati kalau masuk ke TiLes dan melihat gelagat yang tidak menyenangkan seperti ini.

Lega... akhirnya lolos di keimigrasian Timor Leste. Sekarang menuju ke Dili..

Lega… akhirnya lolos di keimigrasian Timor Leste. Sekarang menuju ke Dili..

***

Kami naik mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Dili.. Aaahh.. Senang akhirnya bisa masuk ke Timor Leste. Dari Mota Ain menuju Dili, kami masih harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam. Aaaaakkk.. Sudah pegal kakiku. Tapi perasaan bahagia untuk menuju ke Dili, masih lebih kuat…

Jangan lupa, baca tulisan saya selanjutnya: JELAJAH PULAU TIMOR [BAGIAN 5]: DARI DILI HINGGA MANATUTO (tunggu yaaaa…..)

5 thoughts on “JELAJAH PULAU TIMOR [BAGIAN 4]: MELEWATI BATAS, MASUK TIMOR LESTE

  1. wah seru aku juga dulu pernah kesana dan menjelajahnya seharian dengan sepeda cuma harga penginapannya agak mahal karena waktu itu menggunakan dollar

  2. Hahahhahah seru jg nih perjuangan nya. Btw numpang tanya ne, di kantor Imigrasi Timor Leste ngmongnya pke bahasa apa ya? Portu? Indonesia? Inggris? Tetum? Dawan?

    Msalah nya portu kagak bsa ne? Bisa nya cuman Olá, como você está?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s