JELAJAH PULAU TIMOR [BAGIAN 1]: Tas Kresek Ajaib Menuju Kefa

Saya masih tidak percaya bisa melakukan sebuah perjalanan yang cukup mengesankan ke Pulau Timor pada akhir Desember 2012 lalu. Dengan berbekal informasi seadanya, dan berangkat bersama dengan ayah saya yang memiliki pengalaman jauh lebih banyak tentang Timor, kami memberanikan diri untuk terbang ke sana. Menikmati sebagian keindahan pulau Timor, menyeberang ke negara tetangga di Timor Leste, merasakan sayur pakis yang terasa aneh di lidah, hingga merasakan sopi (semacam arak) asli Timor yang membuat panas di perut. Beginilah kisah kami…

***

Bandar Udara El Tari Kupang

Bandar Udara El Tari Kupang

23 Desember 2012. Perjalanan kami mulai dari Jakarta menuju Kupang. Pesawat yang seharusnya berangkat pukul 11.45 WIB, harus ditunda jam keberangkatannya. Kami benar-benar baru berangkat pukul 15.30 WIB. Agak dongkol dengan jadwal penerbangan yang mundur ini, tetapi yasudahlah… mau marah-marah juga tidak membuat pesawat berangkat lebih cepat. Diberi nasi kotak oleh pihak maskapai penerbanganpun sebenarnya tidak mengubah rasa dongkol saya yang sudah sejak jam 9 pagi sudah siap di bandara Soekarno Hatta.

Kedongkolan itu ditambah pula dengan pengumuman bahwa pesawat yang saya tumpangi harus transit dulu di Surabaya. Hadeuuuhhh… Dulu waktu saya beli tiket pesawat Jakarta – Kupang, saya memilih pesawat yang tidak transit. Apadaya… bukan saya yang menentukan rute pesawat, mau tidak mau ya harus dimaklumi. Ngalah. Saya ga harus menyebut nama maskapai penerbangannya kan ya??? 

Ngueeeeeeenggg… (pesawatnya terbang) :) 

Dan akhirnya, pukul 20.00 WITA, saya tiba di Bandara El Tari Kupang (Jakarta – Kupang: 2 jam 45 menit). Bingung bukan kepalang, karena saya masih harus menyelesaikan perjalanan hingga ke Kefa. Padahal dari Kupang ke Kefa, masih harus ditempuh dengan jalan darat selama kurang lebih 5 jam. Sempat terbersit pemikiran bahwa kami akan menginap dulu di Kupang semalam, besok paginya baru berangkat ke Kefa. Mengingat juga, jalan ke arah Kefa itu gelap dan bis malam tidak ada.

Kami baru benar-benar keluar dari bandara El Tari – Kupang jam 9 malam WITA. Karena pengambilan bagasi yang cukup ribet dan penuh sesak. Barang bawaan juga cukup banyak, termasuk oleh-oleh dari Jawa yang beraneka macam rasa dan bentuk itu. Maklum, kalau mau mengunjungi saudara kan kita harus bawa oleh-oleh. Ya to???

Setelah keribetan yang dicampur dengan keringetan itu selesai, kami dijemput oleh salah satu saudara jauh yang ada di Kupang, namanya Willi. Dia mahasiswa di Kupang. Kami akan dibawa menuju sebuah pasar tempat mobil-mobil sewaan berangkat ke Kefa. Dalam hati, saya masih ragu untuk berangkat ke Kefa malam itu juga, mengingat bahwa sudah larut malam dan kamipun tidak tahu jalan. Takut nyasar dan takut ada apa-apa di jalan. Tetapi setelah dijelaskan secara lebih detail, kami putuskan berangkat ke Kefa malam itu juga.

Dari bandara menuju pasar tempat mobil rental/sewaan tersebut, kami naik taksi. Di sana ga ada taksi yang pake argo. Semua tawar menawar. Tapi harga standarnya dari dan ke bandara adalah 60 ribu rupiah. Saya bayar taksinya. Dan saya menyempatkan diri untuk beli makan dulu. Mengingat, ini sudah jam 9, dan perut saya belum terisi makanan.

Saya bertanya pada si Willi tentang jenis mobil yang akan membawa saya ke Kefa, jumlah duit yang harus saya bayarkan pada si sopir, dan lagi-lagi soal keamanan di jalan. Maklum ya, baru pertama kali ke Timor dan tidak tahu jalan, rasa takut itu pasti ada.

Ternyata saya harus membayar sebesar 140 ribu rupiah untuk 2 orang. Termasuk murah. Saya pikir, mobil yang akan saya sewa adalah mobil yang hanya membawa dua orang. Saya dan ayah saya. TERNYATA… mobil itu adalah mobil rental yang juga membawa penumpang lain ke Kefa. Mobilnya sih lumayan, Avanza berwarna putih. Tapi dengan kenyataan bahwa 1 mobil diisi oleh 8 orang dengan penuh barang bawaan adalah sesuatu yang berada di luar dugaan dan muncul perasaan yang ga enak.

Jalan menuju Kefa (diambil saat siang ya...bukan saat kejadian)

Jalan menuju Kefa (diambil saat siang ya…bukan saat kejadian)

Tapi karena sistem kepercayaan sudah mulai dibangun antara saya dengan sang sopir, ya sudahlah. Kami menurut untuk naik mobil avanza tersebut. Di dalamnya, ternyata sudah duduk seorang professor yang kabarnya mencalonkan diri jadi bupati, kemudian ada 1 orang pemabuk dari Kefa, 1 orang yang baru datang dari Surabaya,dan 2 orang pekerja bangunan di Kupang yang akan ke Kefa. Salah satunya bernama John. Tentu saja ditambah saya, ayah saya dan sang sopir. Pas 8 orang.

Berangkatlah kita dari Kupang jam 10 WITA menuju Kefa.

Awalnya, jalan ke arah Kefa lurus dan hanya naik turun. Lama-lama, kita naik bukit dan penuh jalan-jalan tikungan yang tajam dan berliku. Hal tersebut berlangsung selama berjam-jam menuju Kefa dan terasa sangat lamaaaaaaaaa….  Saya Cuma berpikir: “Kalau mobil ini jatuh ke jurang, matilah kita semua… Ga ada yang tahu…Semoga tidak terjadi apa-apa Ya Tuhan… ” Jalan gelap. Tak ada lampu sepanjang jalan. Semua hanya berpegang pada lampu mobil dan juga klakson mobil untuk tanda keamanan ketika menikung.

Lemes di pesawat, masih ditambah lemes di perjalanan menuju Kefa. Saya sudah tidak kuat menahan perut yang mual karena jalanan yang naik turun, berkelok-kelok dan cara mengendarai si sopir yang cukup ugal-ugalan. Mungkin di sini si sopir tidak termasuk ugal-ugalan, tapi menurut standar saya, si sopir ini sangat ekstrim dalam mengendarai. Badannya sampai bergoyang ke kiri dan ke kanan ketika menyetir mobil dengan kecepatan yang luar binasa. Lebay deh pokoknya…. Itu yang membuat saya mual-mual.

Saya masih mencoba bertahan dalam sesaknya mobil. Ditambah lagi, saya duduk di paling belakang. Kaki sudah mulai kesemutan. Berbagai posisi duduk sudah saya coba agar aliran darah tetap mengalir sempurna. Semua jendela mobil dibuka selebar-lebarnya. Saya cuman berpikir: “Sampai Kefa pasti saya masuk angin… Niatnya jalan-jalan, tapi malah sakit deh…” Saya bilang ke orang di depan saya (si pemabuk itu), agar sedikit menutup jendela mobil yang anginnya mengarah kencang ke arah muka saya. Dia menolak untuk menutup dengan alasan dia butuh udara segar karena dia sedang mabuk. Kalau dia tidak mendapatkan udara segar, dia akan muntah-muntah. Hadeeeuuuhhh… Pengen aku gablok pake 2 botol aqua besar yang aku bawa deh tuh orang… Egoisnya minta ampuuuunnnn…. Saya cuman diingatkan oleh si John, tukang bangunan itu, agar tidak usah berbicara dengan si pemabuk itu, karena dia sedang mabuk. Fiiuuuuhhh…

Ya sudahlah. Ngalah lagi. Saya punya akal. Rompi yang saya pakai harus dicopot, dan saya jadikan selimut perjalanan. Dan itulah yang bisa saya lakukan. Tangan kanan saya menggenggam plastik kresek warna hitam. Plastik yang saya dapatkan dari membeli minuman botol waktu di Kupang. Saya genggam erat, dan harus siap saya buka ketika saya harus hoek hoek di perjalanan… alias mabuk darat. Minyak angin dan antimo sebenarnya ada di kantong. Tapi dengan perjalanan yang ekstrim tersebut, nampaknya susah untuk minum di perjalanan.

Saya mencoba memejamkan mata untuk bisa istirahat di dalam mobil. Saya melihat ayah saya juga belum tertidur. Dia duduk di kursi tengah mobil. Saya tetap berusaha untuk tidur karena saya tahu, bahwa perjalanan kami 5 jam di mobil, dengan jalanan yang super duper membuat mual perut. Awalnya agak susah untuk bisa tidur di dalam mobil yang bergoyang-goyang seperti itu. Tapi lama-lama saya terpejam juga…

***

Mobil berhenti… di sebuah warung kecil di pinggir jurang, yang sayapun tidak tahu itu di daerah mana. Saya terbangun. Sinyal Hape juga cuman GSM. Mau internetan untuk memastikan wilayah dimana saya beradapun juga pasti koneksinya lambat. Kami berhenti karena sopir kehabisan rokok. Sepanjang jalan, sopir harus merokok. Lebih baik sopirnya merokok dan tetap terjaga ketika menyetir, dibandingkan dia tertidur dan ngantuk di perjalanan. Bisa berabe kalau si sopir tertidur…. ngerriiii…….

Selain beli rokok, kami semua berhenti untuk buang air kecil di pinggir jalan. Ga ada pom bensin selama di perjalanan yang kami lewati untuk bisa kencing di toilet pom bensin. Kami buang air ya di sepanjang jalan itu. Sepi dan hanya lampu dari warung kecil itu yang menyala. Saya heran, warung kecil di tengah pegunungan yang sepi itu, siapa yang mau beli???? Saya jadi inget film Suzana sama bokir… yang adegannya ada di pos kamling atau di warung sepi di tengah hutan gitu…

Kota Kefa dilihat dari atas

Kota Kefa dilihat dari atas bukit Punak Sinai

Sudah selesai, mobil berjalan lagi. Saya kembali tertidur tapi sesekali bangun. Melihat pemandangan sekitar yang masih dipenuhi dengan pepohonan, bukit-bukit dan jurang. Semua masih gelap. Jarang ada rumah yang saya lihat. Saya masih melihat jam… sepertinya masih jauh…dan saya tertidur lagi sambil (masih) menggenggam tas kresek yang siap untuk dijadikan tempat hoek-hoek nantinya.

Saya bangun. Agak bahagia melihat jalanan sudah lurus dan hanya naik turun. Si sopir juga bilang, bahwa kami sudah tiba di Kefa. Hanya saja, saya harus memastikan, di Kefa bagian mana saudara saya tinggal, supaya diantarkan sampai ke rumah. Setelah saya telfon, kami harus menuju Kuatnana. Aaaahhh… Akhirnya ketemu juga, karena hanya itulah satu-satunya jalan ke Kuatnana di Kefa.

Kami benar-benar baru sampai di Kuatnana-Kefa sekitar pukul 01.00 WITA. Itu artinya, kami hanya 3 jam berada di dalam mobil. Peristiwa yang luar binasa, kami masih selamat, meskipun gerakan menyetir si sopir yang cukup ekstrim tersebut.

Fiuuuuhhh.. Lega bercampur haru dan bahagia. Akhirnya, saya bertemu dengan keluarga di Kefa – Timor Tengah Utara (NTT). Plastik kresek yang dari tadi saya genggam, masih bersih. Tidak ada noda hoek-hoek di situ. Saya berhasil melalui sebuah tantangan 3 jam di mobil dengan goyangan yang luar biasa menuju Kefa. Hahahaha….

Pemandangan Terminal di Kefa

Pemandangan Terminal di Kefa

Kefamenanu (4)

Nampang di depan Kantor Kelurahan Oesena (Kuatnana)

Ikuti cerita selanjutnya… JELAJAH PULAU TIMOR [BAGIAN 2]: NATAL DI UJUNG TIMUR

Foto: Dok. pribadi

5 thoughts on “JELAJAH PULAU TIMOR [BAGIAN 1]: Tas Kresek Ajaib Menuju Kefa

  1. Hehehe… Itu maskapai yang depannya S belakangnya A. Hayooo tebak…
    Itu gambarnya memang kecil kotanya sih. Kefa adalah Kota kabupaten Timor Tengah Utara. Kotanya juga kecil. Bukan kota yang rame banget. Gambarnya agak kecil ditengah yang ramai dengan perumahan begitu.

  2. salam abang… saya juga orang timor kefa lebih tepat’y distrik oecusi(tiomor leste) slam kenal <<<>>>>>>>>>neh nama FB aku abang>>>Greg Lelan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s