Dua tahun lalu, 36 orang tewas di Petarukan

Infografik KOMPAS tentang Kecelakaan Kereta di Petarukan.

Stasiun Solo Balapan – 4 Oktober 2010

Jam di handphone saya menunjukkan pukul 18.50. Kira-kira 10 menit lagi, kereta Senja Utama Solo yang saya tumpangi akan berangkat menuju Jakarta. Saya berdoa, memohon keselamatan selama perjalanan dari Yang Kuasa. Setiap kata-kata dalam doa saya menunjukkan bahwa saya masih ingin hidup, dan berharap kereta saya baik-baik saja hingga ke Jakarta. Pikiran tidak tenang karena mendapatkan tempat duduk di gerbong paling belakang kereta. Cemas dan gelisah menghantui diri saya. Orang-orang yang berada satu gerbong dengan saya tidak tahu, bahwa saya adalah salah satu korban kecelakaan kereta Senja Utama Semarang 2 hari sebelumnya. Kereta yang membawa saya dari Jakarta menuju Semarang.

Saya tahu, saya sedang mengalami trauma kecil. Jujur, sebenarnya saya masih merasa ketakutan untuk naik kereta. Bayangkan, dua hari sebelumnya saya melihat puluhan korban tewas tertabrak kereta yang sedang saya tumpangi, dan saya berada dalam satu gerbong yang –Puji Tuhan- tidak mendapatkan luka serius.  Dan sekarang saya harus kembali ke Jakarta naik kereta lagi. Trauma itu tidak bisa hilang dengan cepat. (Detik-detik kisah tragis kecelakaan itu bisa dibaca di blog saya, di sini).

Ketika di twitter, teman saya bilang: “Kenapa baliknya ga naik pesawat aja? Kamu ga trauma?”. Saya hanya mencoba untuk melawan ketakutan. Sebenarnya bukan soal ketakutan saja, tapi saya juga ga mau rugi, karena sudah terlanjur membeli tiket bolak-balik dari Jakarta ke Semarang dan dari Solo ke Jakarta.

Trauma kecil itu ternyata sampai sekarang masih membekas dalam diri saya. Percaya atau tidak, setiap naik kereta, dan mendengar ada bunyi ‘klakson’ kereta api yang lewat di lajur yang saling berseberangan, saya selalu kaget dan bangun ketika tidur.  Itu terjadi hingga sekarang.

Sampai detik ini, saya masih bersyukur karena tidak termasuk dalam daftar penumpang tewas di dalam gerbong kereta naas Senja Utama Semarang itu. Stasiun kecil Petarukan itu menjadi saksi kengerian kecelakaan kereta yang terjadi dini hari. Di saat penumpang masih tidur terlelap, kereta Senja Utama Semarang ditabrak dari belakang oleh Kereta Argo Bromo Anggrek.

Kabarnya, setelah kejadian mengerikan yang menewaskan lebih dari 30 orang itu, sekarang PT KAI sudah membuat gerbong terakhir dari setiap kereta penumpang adalah gerbong barang dan bukan lagi gerbong penumpang. Meski demikian, saya selalu was-was dan agak sedikit ‘mikir’ ketika saya mendapatkan gerbong paling akhir. Takut ditabrak dari belakang. Itulah pikiran saya ketika tanggal 4 Oktober 2010 saya harus kembali ke Jakarta. Mendapatkan tempat duduk di gerbong terakhir, dengan keadaan 2 hari yang lalu gerbong terakhir kereta Senja Utama Semarang yang saya tumpangi hancur total.

Tiket kereta milik saya: Kereta Senja Utama Semarang yang naas. (1 Oktober 2010)

***

Melihat PT KAI yang sekarang, saya melihat ada perubahan besar. Stasiun-stasiun mulai berbenah. Sistem penjualan tiket mulai diperbaiki. Mau tak mau, perusahaan jasa layanan kereta api satu-satunya di Indonesia ini harus memperbaiki diri. Namun, PT KAI harus bisa melakukan lebih banyak dari yang sudah dibenahi. Tidak hanya soal tampilan dan sistem tetapi juga soal layanan-layanan kecil yang harus diberikan kepada setiap penumpangnya.

Sekarang, di stasiun-stasiun kereta api dilakukan sistem boarding pass seperti layaknya di bandara. Penumpang yang datang memang menjadi nyaman. Namun, fasilitasnya belum secanggih yang di bandara. Sepertinya PT KAI belum siap melakukan transformasi sistem yang seperti ini. Harusnya, fasilitas untuk difabel juga disediakan, fasilitas kebersihan dan tempat tunggu juga harus diperbaiki.

Yang terpenting adalah sistem manajemen transportasi kereta yang harus ditata ulang oleh kereta api. Jangan sampai terjadi hal serupa seperti 2 tahun silam.

***

Doa saya, semoga arwah mereka yang meninggal karena kecelakaan kereta Senja Utama Semarang, mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan. Amin.

Foto: dok.pribadi

One thought on “Dua tahun lalu, 36 orang tewas di Petarukan

  1. Ping-balik: Kisah Tragis Kecelakaan Kereta 3 Tahun Silam | Catatan Perjalanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s