Mary dan Maryam itu 2 Orang yang Berbeda

COVER NOVEL: Mary of Nazareth (versi Indonesia)

Untuk pertama kalinya, saya membaca sebuah novel sastra keagamaan dengan judul Mary of Nazareth. Saya setuju jika novel ini memang tidak berusaha menggurui, tetapi justru “menantang pemikiran sehingga pengetahuan menjadi penemuan kita sendiri”. Setidaknya begitulah ungkapan yang ditulis Mas Seno Gumira Ajidarma yang akhir-akhir ini sering mondar-mandir di depan ruang kerja saya.

***

Novel dengan cerita tentang Maria -Ibu Yesus- ini ingin menggambarkan kisah kehidupan Maria di masa kecil dan dewasanya. Peran sebagai seorang Ibu justru mendapat porsi yang kecil, hanya dikisahkan dalam 1 bab. Sebagian besar isinya justru menceritakan perjuangan Maria sebagai seorang wanita di dalam cengkeraman kekuasaan Herodes dan dalam situasi sosial yang membuat wanita tidak pernah ‘beruntung’. Itu dituliskan dalam 17 bab dari total 18 Bab yang terdiri dari 3 bagian, yakni: Tahun ke 6 Sebelum Masehi (Bagian 1), Pilihan Damas (Bagian 2) dan Kabar Gembira dari Maria

Saya tetap memegang teguh, bahwa ini Novel. Tetapi Marek Halter, penulisnya, telah membawa saya pada beberapa kepercayaan mengenai sejarah tentang kehidupan zaman Roma dibawah kekuasaan Herodes. Pertama, bahwa ternyata Barabas si Pemberontak yang dibebaskan oleh suara rakyat itu ternyata adalah (dulunya) sahabat Maria, bahkan mereka pernah saling mencintai. Kaget kan? Saya sih sudah curiga dan menduganya di awal ketika membacanya. Karena aktor Barabas ini diceritakan di sepanjang novel ini. Gambaran tentang Barabaslah yang mengaburkan pemikiran saya mengenai tokoh pemberontak.

NOVEL: Mary of Nazareth

Kedua, novel ini meyakinkan saya bahwa sebenarnya pemberontak itu tidak selamanya buruk. Kesannya saja yang buruk. Kita saja yang kurang memahami sebuah konteks. Herodes kala itu memang terkenal kejam. Barabas adalah orang yang pemberani dan memiliki dukungan rakyat yang cukup besar untuk menghancurkan kekejaman yang telah dibangun kokoh oleh Herodes sang Penguasa. Saya jadi berpikir, bahwa penggambaran di Alkitab itu mungkin tidak kita pahami secara komplit.

Ketiga, Novel ini memberikan kepercayaan pada saya bahwa Maria itu adalah orang yang ‘keras kepala’ dan sangat teguh dengan pendiriannya. Dengan bahasa yang lebih positif, dia adalah tokoh pendobrak sistem yang penuh dengan ketidakadilan. Selama ini saya berpikir, bahwa Maria itu adalah wanita yang ‘nrimo’ (menerima apa adanya), pendiam, alim, sabar dan manutan (penurut). Tapi novel ini membuat saya yakin, bahwa Maria adalah gadis yang lahir dengan pemikiran yang berbeda dari wanita lain. Dia memang berbeda. Pemberani dan selalu memberikan gagasan yang berbeda dari wanita pada umumnya di kala itu.

Sepanjang saya membaca buku setebal 477 halaman ini, saya selalu berpikir: “Ini cerita bener ngga ya?” Ternyata saya sendiri terjebak dalam pemikiran “benar atau salah” sebuah cerita. Tetapi kemudian saya berpikir, bahwa sastra keagamaan yang kental dengan sejarah seharusnya memang tidak semata-mata kita artikan sebagai sebuah kisah nyata, tetapi harus kita maknai berbeda. Salah satu makna mendalam yang saya dapatkan dari membaca novel ini adalah peran Maria sebagai wanita. Marek Halter sebagai penulis novel inipun juga mengakui, bahwa ini adalah hasil dari catatan sejarah dan permenungannya mengenai sosok wanita kala itu. Ketika kita membacanyapun, kita bisa mendapatkan hasil permenungan yang berbeda. Sah saja.

Ketika pertama saya membaca novel ini, halaman demi halaman, saya mendapati bahwa sang pengarangnya ingin menonjolkan setiap peran tokoh-tokohnya. Dia menggambarkan begitu tajam dan kuat pada setiap tokoh yang ditampilkan. Marek Halter menggambarkan secara kuat bagaimana kaum Essene hidup, menggambarkan bagaimana kaum Saduki, kaum Zelot, Orang Farisi dan tokoh-tokoh lainnya. Saya jadi ingat yang diajarkan oleh Bu Retno, guru agama Katholik saya di SMA. Beliau pernah mengajarkan tentang sifat dan sikap tokoh-tokoh masyarakat di Jaman Yesus. Novel ini membantu saya memahami bagaimana mereka menjalani hidup di jaman itu.

Salah satu bagian cerita yang saya tunggu-tunggu dari novel ini adalah: “Bagaimana kisah tentang kehamilan Maria yang ajaib itu?” Apakah akan diceritakan tentang kedatangan Malaikat Gabriel seperti yang diceritakan di Kitab Suci? Hehehe… Novel ini berbeda. Pokoknya berbeda. Mary dan Maryam itupun adalah 2 orang yang berbeda. Kita akan terheran-heran, mengapa si pengarang novel menceritakan bahwa Maria sering keluar malam-malam. Baca saja kisahnya. Saya sih merekomendasikan novel ini dengan nilai 9. Pesan saya, tidak perlu dibanding-bandingkan dengan kitab suci, toh ini hanya novel. Meskipun di dalamnyapun juga dikisahkan mengenai kelahiran Yesus, penyaliban Yesus dan pemakaman Yesus. Tapi ini berbeda.

Bahasanya ringan dan tulisannya gede-gede. Pasti akan cepat selesai dibaca kok. Selamat membaca ya…

Gambar: gubukbuku.com, borders.com.au

One thought on “Mary dan Maryam itu 2 Orang yang Berbeda

  1. Sepertinya buku yg menarik,, jadi pengen nyari.

    Btw sudah baca “Unholy Night” karangan Seth Grahame-Smith? (Yg ngarang buku (dan film) Abraham Lincoln: Vampire Hunter itu..) Resensi buku Mary of Nazareth ini kayaknya mirip2 (secara genre) sama Unholy Night ini. Tentang kisah 3 majus yang dibuat dengan twisted plot yg menarik… Lebih banyak actionnya sih, seru banget. Very reccommended.Tapi sementara ini mungkin baru ada versi bahasa Inggrisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s