Cetho: Mereka Membawa Tumpukan Batu Ke Puncak Tertinggi

Beberapa waktu lalu, saya pulang ke rumah (di Solo). Kesempatan yang sangat langka ini (hiyaaa…), saya manfaatkan untuk jalan-jalan & berkeliling ke tempat wisata. Salah satu tempat yang saya kunjungi adalah Candi Cetho. Belum pernah dengar namanya kan? Coba,…. akan saya gambarkan bagaimana Candi Cetho itu.

Saya berangkat naik motor dari rumah kakak saya yang memang sudah di area Karanganyar (Jawa Tengah). Lokasi candi Cetho sendiri berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Lumayan jauh kalau dari tempat kakak saya di Watusambang. Kira-kira 30 menit naik motor. 

Kompleks Candi Cetho

Sepanjang perjalanan dari Watusambang ke Candi Cetho, kita akan disuguhi pemandangan yang sangat menyegarkan mata, warna hijau perkebunan teh dan pemandangan Kota Solo yang sangat indah dilihat dari ketinggian yang amat tinggi…(halah… hihihi…). Kalau candinya sendiri sih berada di ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut. Cukup tinggi kan ya… dan yang jelas udaranya sangat dingin. (Meskipun tidak sedingin lemari es merek National yang saya miliki di rumah….)

Waktu saya & keponakan yang paling cantik si Talita sampai di sana, suasananya masih sepi. Maklum, waktu itu masih pagi dan memang belum banyak pengunjung yang datang. Suasananya cukup mistis dan agak horor sih… hihihi… Kami sampai di lokasi kira-kira pukul 10 pagi.

Perkebunan Teh Sepanjang Jalan ke Cetho

Bagi yang ingin menempuh perjalanan ke Candi Cetho di Karanganyar ini, saya anjurkan untuk naik motor. Dan gunakanlah motor yang memang sudah biasa digunakan untuk naik ke tanjakan-tanjakan yang curam. Maklum, ketinggiannya yang sangat tinggi (halah.. diulangi lagi) membuat jalanannya juga menanjak kalau naik, dan menurun kalau turun… (opppoooo iki… bahasane ga jelas…)

Yang bawa mobil sih bisa-bisa aja sampe atas. Tapi jangan sampai kehabisan bensin di atas ya…. Isi bensinnya dulu sampai penuh, lalu masuklah ke jalanan menuju Candi Cetho. (yaiyalah ya… kalau naik mobil ga ada bensinnya juga gimana gitu…SE SU A TU deh…). Tapi saya sendiri juga heran sih, kenapa mobil aja bisa sampai ke area parkiran Candi Cetho, karena… tanjakan yang amat curam membuat saya berpikir ulang untuk membawa mobil sampai ke area parkir atas. Harus orang yang mahir betul kalau mau naik mobil dan membawanya sampai area parkir paling atas.

Puri Saraswati

Untuk biaya parkir, cukuplah kalau si mas-masnya kita kasih uang 1000 perak (berdasarkan kurs per Oktober 2011 ya… hiyaaaa) ditambah dengan biaya masuk yang besarnya 5000 perak per gundul. Kalau mau beli minum, di sana juga ada. Tapi jangan berharap banyak pada yang jual makanan. Sangat jarang sih…. Saya sendiri juga heran, banyak penduduk yang tinggal di sekitaran sana. (ga banyak… mungkin sekitaran 30 KK), padahal udaranya kan dingin sekali dan jarang ada kehidupan (dalam artian ga ada mall atau minimal toko roti… yaiyalaaahhh… helllooowww…).

Sekarang aja masih bingung, kok ya mau-maunya orang-orang desa itu tinggal di sekitaran Candi Cetho itu. Bukannya sepi sekali kalau malam ya? Sebenarnya yang lebih heran lagi, jaman dulu (sekitaran abad 15), ngapain juga orang-orang itu bikin tumpukan-tumpukan batu di ujung tinggi seperti ini ya? Ini kan cukup mengherankan… Bagaimana mereka membawa tumpukan-tumpukan batu itu ke atas puncak setinggi itu?????

Kalau untuk sejarahnya, saya sih kurang begitu paham ya. Tapi setelah saya cari di Wikipedia, ternyata ada juga sih: kira-kira begini informasi tentang Candi Cetho di Wikipedia:

Candi Cetho (ejaan bahasa Jawa: cethå) merupakan sebuah candi bercorak agama Hindu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit (abad ke-15). Laporan ilmiah pertama mengenainya dibuat oleh Van de Vlies pada 1842. A.J. Bernet Kempers juga melakukan penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk kepentingan rekonstruksi dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas Purbakala Hindia Belanda.

Di Area Candi Cetho sendiri ada sebuah tempat untuk berdoa untuk umat Hindu yang dinamakan dengan Area Puri Saraswati, sumbangan dari Kabupaten Gianyar, pada bagian timur kompleks candi.Di sanalah umat Hindu berdoa dan melakukan ritual. Bau dupa ada di mana-mana ketika Anda memasuki komplek ini. Patung-patung kuno jaman baheulak juga ada di sini lho… (yaiyalah… namanya juga candi)

Ini adalah kali kedua saya mengunjungi Candi Cetho, terakhir saya ke sana sekitar tahun 2006. Yang artinya sudah 5 tahun yang lalu saya ke sana. Banyak perubahan yang terjadi, khususnya pada Puri Saraswati.

Sebenarnya di belakang komplek Candi Cetho ada komplek Candi Kethek, tapi jalannya menyeramkan. Hanya ada jalan setapak yang di sampingnya jurang. (Ada blogger yang sudah sampai sana ternyata… coba cek di sini…) Waktu itu, saya dan keponakan saya ingin berkunjung sekalian ke sana, tapi sepertinya ada rasa takut untuk ke sana, takut jalannya longsor. Itu aja sih. Padahal sebenarnya tidak apa-apa… Lain kali, kalau saya ke Candi Cetho, saya harus ke Candi Kethek sekalian. Agak menyesal sih, udah sampai Cetho tapi ga jalan ke Candi Kethek.

Berminat ke sana? Coba deh ya… Silakan kalau mau… Saya kasih bonus foto-foto narsis saya:

(Foto-foto: Dok. Pribadi)

Foto saya nih...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s