02/10 Kecelakaan atau Tidak, Kita Tetap Akan Mati

Foto Headline Kompas - 2 Oktober 2010

2 Oktober 2010, adalah hari yang cukup tragis bagi para penumpang kereta api bisnis senja utama jurusan semarang Tawang. Yah… bagi yang masih ingat, saat itulah terjadi sebuah kecelakaan kereta api yang menewaskan lebih dari 30 orang. Beruntung, saya yang turut dalam gerbong kereta tersebut, tidak luka fisik sedikitpun. Bagi yang belum tau atau lupa ceritanya, bisa dilihat di sini.

Dan… Hingga kini, saya masih suka porno parno kalau naik kereta api, bahkan kereta api eksekutif sekalipun. Meskipun rasa parno ini sebenernya tidak cukup beralasan jika dibawa-bawa sampai sekarang, tapi hal tersebut akan dianggap wajar, jika rasa parno (baca: kecemasan) itu muncul karena peristiwa yang sama sekali tidak diinginkan. Karena sayapun sadar, kecelakaan maupun tidak, pasti saya akan mati nantinya. Bukan begitu?

Nah, untuk hari ini, saya mencoba menulis tentang ketakutan saya pasca terjadinya kecelakaan tersebut.

3 Hari setelah kecelakaan, saya kembali ke Jakarta dengan kereta api Bisnis Senja Utama tetapi berangkat dari Solo. Ketakutan yang luar biasa terjadi, ketika kembali ke Jakarta dan mendapatkan tempat duduk di gerbong paling belakang (gerbong 1, kalau ke Jakarta, gerbong 1 akan menjadi gerbong terakhir). Sampai di Jakarta, badan saya pegal-pegal dan capek luar biasa, ya gimana mau tidur…keadaannya saja seperti itu. Sama sekali tidak bisa tidur.

Setahun sudah berlalu, tapi kenangan yang amat buruk itu masih melintas di pikiran saya. Agak sedikit takut kalau naik kereta bisnis. Sebenarnya -seperti yang saya katakan tadi– mau naik apapun kalau memang Tuhan berkehendak.. ya mau gimana lagi. Tapi ketakutan itu pasti ada. Naik pesawatpun juga tak kalah berresiko pula. Meskipun resikonya juga kecil. Naik sepeda di sekitaran kampungpun kalau memang sudah ‘apes’ ya tetep ‘apes’. Ya kan?

Pikiran itu membuat saya menjadi lebih bersyukur… ealahternyata aku masih bisa merasakan udara segar bumi sampai sekarang. Meskipun ya, kadang-kadang aku berpikir: jangan-jangan, aku sekarang sudah mati dan turut menjadi korban waktu kecelakaan itu, hanya saja, aku muncul dalam kehidupan kedua, yang sama, yang tidak jauh berbeda dari kehidupanku sebelumnya. Pikiran agak aneh sih, tapi pernahkah Anda dalam keadaan takut luar biasa tetapi bersyukur penuh emosi karena selamat dalam sebuah kecelakaan yang tragis?

Bulan September 2011 kemarin, saya dan 2 kawan saya (@gembrit dan @omemdisini) memutuskan untuk jalan-jalan ke Jogja naik kereta. Pilihannya justru lebih menegangkan: naik kereta ekonomi, yang terkenal dengan ketidak-amanannya dan minimnya kenyamanan yang diberikan. Maklum, sekarang kalau duduk berhadap-hadapan 2 & 3 orang di setiap sisi kursinya, ditambah dengan jarak tempuh yang cukup jauh, badan hanya dapat capek. Ya maklum sih, cuma 35 ribu untuk Jakarta-Jogja. Sangat jauh jika dibandingkan dengan kelas Ekonomi yang sudah sekitar 150 ribuan atau malah kelas Eksekutif yang sudah di atas 260 ribu.

Agak takut juga saat itu sebenarnya, karena kita mendapatkan gerbong nomor 1. Lagi-lagi dapat gerbong di paling depan (di belakang Kepala Gerbong). Ya rasa takut itu selalu ada, bahkan ditambah dengan rasa tidak aman karena orang yang berdesak-deasakan, dan hawa panas yang ada di dalam gerbong kereta. Sebenarnya sih saya selalu berusaha untuk tidak mendapatkan gerbong terakhir atau gerbong paling pertama, tapi kalau beli tiket kereta, terkadang kita tak bisa meminta.

Ya begitulah kira-kira tingkat keparnoan saya dengan kereta api. Tidak ekstrim, tetapi setiap mendapatkan gerbong paling depan atau paling belakang selalu was-was dan khawatir. Terlebih kalau dapat gerbong di paling belakang, goyangannya yang paling terasa. Hal yang paling bisa menjadi pelajaran adalah: berdoalah sebelum perjalanan. Apapun yang terjadi di perjalanan, hanya Tuhan yang menentukan.

2 thoughts on “02/10 Kecelakaan atau Tidak, Kita Tetap Akan Mati

  1. Ping-balik: Kisah Tragis Kecelakaan Kereta 3 Tahun Silam | Catatan Perjalanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s