Oei Hui Lan: Tidak Ada Pesta yang Abadi

Oei Hui Lan

Kaya tak selamanya bahagia. Inilah inti dari kisah yang disampaikan oleh Agnes Davonar sebagai penulis buku Kisah Tragis Oei Hui Lan. “Tidak ada pesta yang abadi” – “Tak ada pesta yang tak berakhir” begitulah cuplikan kalimat yang ada dalam buku tersebut. Kalimat tersebut menggambarkan bahwa: tidak ada sesuatu hal yang selamanya akan menjadi milik kita, baik harta maupun kekuasaan. Semuanya akan bisa hilang dan berakhir.

***

Jam di kamar saya menunjukkan pukul 23 lewat 50 menit. 10 menit lagi hari akan berganti, menjadi hari Selasa tanggal 16 Agustus 2011. Dan saya baru saja menyelesaikan sebuah buku karya Agnes Davonar yang berjudul Kisah Tragis Oei Hui Lan: Putri Orang Terkaya di Indonesia. Senang rasanya, bisa membaca kisah biografi Oei Hui Lan hanya dalam semalam.

Saya membuat buku ini menjadi DP di BBM (Blackberry Msgr) saya. Beberapa bertanya: “Bukunya bagus ngga?” Saya sih jawab: “Biasa saja”. Pertama, saya tidak terlalu suka buku yang berbau biografi seseorang, dan Kedua penggambaran cerita di dalamnya tidak detail. Sebagai contoh, ketika menggambarkan kota Semarang, mungkin saya kurang bisa mengimajinasikan Semarang seperti apa waktu jamannya Oei Hui Lan hidup.

PING!!!

Buku Kisah Tragis Oei Hui Lan

Kemudian masuklah komentar dari Pak Jo (mantan dosen saya ketika di FISIP-Atma Jaya) via BBM: “sebenarnya ceritanya bagus, dan akan lebih bagus lagi kalau penulisnya melakukan riset yang lebih mendalam”. Sepertinya memang begitu. Kalaupun mau dibuat biografi personal, memang data-data penguat melalui daftar pustaka harus setebal bukunya yang lebih dari 300 halaman ini.

Terlepas dari ketidaksukaan saya dengan biografi, tetapi toh saya membacanya sampai Akhir. Ada banyak hal yang bisa saya ambil dari sini. Saya belajar mengenai perjuangan, cinta kasih keluarga, semangat hidup, dan cara berkeluarga. Ternyata inilah yang justru menjadi poin utama buku ini. Penulisnya tidak menelurkan sesuatu yang detail mengenai lokasi dan situasinya –meskipun kisah perjalanan itu sanggup dipaparkannya mulai dari Oei Hui Lan lahir hingga masa tuanya– tetapi yang lebih berharga dari buku ini adalah pelajarannya.

Seperti apa isinya?

Diceritakan dalam buku ini, Oei Hui Lan adalah seorang putri (putri kedua) dari seorang Raja Gula di tanah Jawa (keturunan China). Kekayaannya yang amat melimpah, sehingga penulisnya mengatakan bahwa Oei Hui Lan adalah Putri Orang Terkaya di Indonesia. (mungkin sih lebih tepatnya Hindia Belanda, karena waktu itu Indonesia masih dikuasai oleh Belanda dan belum merdeka). Banyak intrik keluarga di dalamnya, termasuk kebiasaan ayahnya yang suka menikah dengan wanita lain (memiliki gundik).

Diceritakan pula, Oei Hui Lan melakukan perjalanan ke negara-negara asia (Singapura, Hongkong, Melayu dan lainnya), kisah cintanya dan pendidikannya. Kemudian di masa remajanya, Oei Hui Lan menghabiskan waktunya di Eropa bersama sang ibu dan kakaknya.

Dan pada akhirnya, Hui Lan mendapatkan jodoh (suami) seorang diplomat ulung dari Cina yang amat terkenal, yakni Wellington Koo (sebagai istri ketiga). Kisah keluarganya sendiri juga penuh dengan persoalan. Oei Hui Lan memiliki kebiasaan hidup boros dan suka menghambur-hamburkan uang, sedangkan suaminya memiliki wanita lain (memiliki gundik).

Oei Hui Lan di masa senja

Nah, dari cerita yang dipaparkan oleh penulisnya, satu hal yang paling utama dari buku ini: Tak ada pesta yang abadi. Kekayaan dalam bentuk apapun, yang ada dalam diri kita sekarang ini, suatu saat akan lenyap seiring berjalannya waktu. Kalau mau dikatakan: Kadang roda berputar di atas, kadang di bawah. Kadang kita akan merasakan kebahagiaan hidup, kadang pula kita akan merasakan kegetirannya.

Catatan dari saya: banyak kata-kata yang salah cetak di buku ini. Mungkin edisi cetak ulangnya harus diperbaiki dan lebih baik lagi. Dan gambar-gambar yang disajikan, hendaknya berurutan mulai dari masa kecilnya, hingga masa tuanya.

***

Setelah selesai membaca. Saya mandi dan merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Andaikan saja, saya menjadi Oei Hui Lan dengan kekayaan yang amat sangat melimpah. Memiliki istana di Semarang dengan ratusan kamar, puluhan pembantu rumah tangga, uang yang tidak akan habis, punya fasilitas guru privat, punya danau dan kebun binatang pribadi: APA YANG AKAN SAYA LAKUKAN SEKARANG?

Bisa jadi, saya tidak menghargai sesuatu yang kecil, bisa jadi saya meremehkan apa yang saya punya karena merasa mudah mendapatkan, bisa jadi saya sombong, bisa jadi keluarga saya berantakan. Dan banyak kemungkinan buruk lainnya yang sliweran di otak. Saya membuyarkan angan-angan saya sendiri, dan kemudian saya menghela napas dan mengucapkan: Syukur, Tuhan… saya masih bisa hidup dan mempunyai keluarga yang membahagiakan.

Foto: fiksi.kompasiana.com, imeldasarina.tumblr.com, steycool-blog.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s