Tertular Virus Nunduk

Apakah Anda pernah merasa jengkel ketika bicara tapi tidak diperhatikan lantaran yang diajak bicara justru asyik menggenggam gadgetnya?

Kadang saya merasa sebel kalau diperlakukan demikian. Bukan kadang lagi sih, tapi saya memang tidak suka. Tapi, bagaimana kalau yang melakukan hal tersebut adalah diri kita, dimana kita tidak memperhatikan orang lain ketika sedang diajak bicara, dan kita justru senyam-senyum sendiri melihat status atau membalas komentar di gadget kita? Nah lo…

Terkadang, secara tidak sadar, kita juga membuat orang lain sebal atau jengkel. Apa yang orang lain perbuat, secara tidak sengaja juga kita lakukan. Contohnya ya itu tadi, ketika diajak bicara, justru kita asyik cengar-cengir menggenggam Blackberry atau BB KW 2 kita dan asyik bercengkerama dengan orang-orang di dunia maya. Banyak yang bilang: “Gadget mendekatkan orang-orang yang jauh, dan menjauhkan orang-orang yang dekat”.

Ketika belum punya BB, saya juga cenderung tidak banyak bertatap muka dengan gadget saya. Terkadang, hanya membalas SMS atau mengangkat telpon, tapi dengan adanya BB, saya jadi sering melihat layar ukuran kecil mungil itu berulang-ulang. Ya, berulang-ulang. Bahkan mengomentari status Blackberry Messenger yang sebenarnya kalau dipikir-pikir, ngapain dikomentari ya? (dan baru sadar sekarang…. hakkkdeeesss)

Lalu, kata teman saya: “Selamat datang di Genduk“… Apa itu Genduk? Genduk kepanjangan dari Geng Nunduk. Jadi, kalau kita sudah pegang gadget mahal dan full bisa berjejaring sosial, kita jadi nunduk terus melihat layar, sambil cengar-cengir dan cetat-cetit di hape. Kalau jalan, nunduk. Dudukpun nunduk. Dan sayapun tertular virus nunduk. Jalan di tangga, nunduk. Masuk ke lift, nunduk. Nunggu orang, nunduk. Masak mie rebus, nunduk. Pokoknya semua dilakukan dengan nunduk. Begitukah kehidupan kita? Nunduk, senyam-senyum dan jauh dari orang-orang sekitar. Mungkin memang seperti itu sekarang ini…

Nah, apa yang terjadi ketika saya nunduk terus?

Saya jadi lupa untuk menyapa orang yang saya temui di jalan. Saya jadi lupa, bahwa ada orang-orang di sekitar saya yang butuh sapaan. Dan saya lupa, bahwa ada orang di hadapan saya yang juga butuh diperhatikan. (jangan-jangan orang yang berpapasan dengan saya nunduk semua….)

Sayapun pernah melakukan reuni kecil-kecilan dengan teman-teman SMA (sekitar 15-an orang). Mayoritas membawa gadget mereka masing-masing, dan semua nunduk, asyik bercengkerama di dunia genggaman maya. Tiba-tiba 1 orang nyeletuk: “Guys, plis deh ya… ini reunian… ayo, kumpulin BB-nya dulu…” Dan akhirnya sepakat mengumpulkan BB-nya di tengah. Kita bercerita tanpa diganggu oleh gadget.

Nampaknya, kita sekarang ini sudah mulai lupa diri. Menjauhkan yang dekat. Padahal orang di hadapan kita lebih nyata. Bahkan, seringkali justru kita membicarakan orang di hadapan kita melalui gadget kita. Waduh… Kasian sekali…

Untunglah, saya masih ingat untuk tidak menundukkan kepala kalau harus merayakan misa kudus di gereja. Dalam arti, tidak bermain-main dengan gadget selama misa berlangsung. Meski saya tetap membawa gadget masuk ke dalam gereja, namun, saya selalu ingat untuk mendiamkan sejenak gadget saya. Saya benar-benar melepaskan gadget yang saya miliki, untuk bertemu dan berbicara dengan Tuhan. Tidak membalas apapun, tidak memberikan komentar apapun, saat ekaristi dimulai, hingga ekaristi selesai. Bahkan untuk menerima telfon sekalipun.

Kadang kita butuh kesendirian tanpa ada yang mengganggu, bahkan gadget sekalipun. Hanya ada saya dan Tuhan.

Dan dengan gadget yang sudah hadir dalam kehidupan saya, saya perlu belajar lebih banyak, untuk menghargai orang-orang di sekitar saya. Untuk merasakan kegembiraan dan tetap bisa cengar-cengir tanpa harus menjauhkan yang dekat.

Note: bukan saya menyalahkan gadget saya, tetapi sepertinya saya menjadi semakin tidak bijak menggunakan gadget saya. “Itu sudah…” (kata orang Timor)

Gambar: freakingnews.com

2 thoughts on “Tertular Virus Nunduk

  1. BB kan smartphone ya… tapi sebagai penggunanya, kita lah yang seharusnya lebih smart. Kita lah yang mengendalikan gadget kita, dan bukan gadget yang mengendalikan kita. Aku juga sering membunuh gadgetku saat aku gak ingin diganggu, misal sedang di gereja, lagi ngetik, tidur dsb..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s