Ketika Mencinta by @om_em

Dengan ijin tertulis (via BBM) dari si empunya tulisan ( @om_em ), saya beranikan diri untuk mengcopy-pastekan tulisan tersebut. Mengapa saya ambil karena ini adalah pelajaran berharga untuk saya.

***

 “Immature love says: ‘I love you because I need you.’ Mature love says ‘I need you because I love you.‘” – Erich Fromm

Tadinya saya berpikir bahwa kehilangan seseorang adalah hal yang biasa. Bertahuntahun saya mengalami kegagalan cinta, saya bisa dengan mudahnya beralih tanpa keinginan mempertahankan. Dengan sombong saya mengatakan ke semua orang bahwa “move on” itu mudah. Bahwa saya bisa melupakan dengan mudah mereka yang pernah dekat dengan saya. Bahwa saya tidak akan pernah mengharap lagi satu hubungan yang sudah gagal bisa dikembalikan. Bahwa saya selalu mencibir mereka yang melakukan drama-drama kecil atau besar dalam hubungan cinta mereka.

Hingga saya bertemu dengan dia.

Dia yang mengubah persepsi saya bahwa Long Distance Relationship bukan hal mustahil untuk dijalankan. Membuat jarak Jakarta-Yogya menjadi demikian dekat . Membuat segala lelah perjalanan di kereta, bus, atau pesawat menjadi persoalan yang tidak patut dipermasalahkan. Membuat semua yang berkaitan dengan jarak tidak lagi saya hitung sebagai pengorbanan karena menikmatinya.

Dia juga yang mengubah kemalasan saya berbicara di telepon. Bersama dia, saya bertahan berjamjam bicara di telepon. Walau terkadang beberapa menit hanya terdiam mendengar dengusan nafas. Setiap waktu saya ingin mendengar kabarnya yang selalu menciptakan senyuman kecil di wajah saya. Membuat lelah saya di kantor menghilang. Membuat pertanyaan “udah makan?” atau “tidur gih” tidak lagi basabasi. Membuat bangun pagi saya selalu merasa ditemani seseorang.

Yah saya sangat mencintainya.

Kemudian, saya terpaksa harus melepaskannya. Kalau dulu saya begitu mudah melupakan seseorang. Tidak pernah terlibat dalam drama berkepanjangan. Kali ini tidak.

Dia membuat saya menangis berharihari hingga dahi saya rasanya mengisut. Membuat dada saya sesak merindu. Membuat saya tidak semudah dulu lagi melepas seseorang.  Berjuang sebisa saya untuk mempertahankannya. Membuat drama bodoh untuk sekedar mencari tahu kabarnya. Dia mematahkan pemikiran saya bahwa bukan gaya hidup saya mengemis untuk minta kembali bersama mantan. Dia mengubah seluruh cara saya berhubungan dan mencinta.

Akhirnya kini saya paham. Usia memang tidak menjamin seseorang punya pemahaman yang lebih baik dalam mencinta. Seperti saya yang baru dikejutkan oleh cinta di usia yang mendekati kepala tiga. Terlambat. Saya baru benarbenar merasakan bagaimana mencinta dan rasa kehilangan olehnya. Saya baru bisa memahami orangorang yang jatuh bangun memperjuangkan hubungannya yang terkadang terlihat sudah sering menyakiti. Baru merasakan suatu kebutuhan untuk mencintai seseorang. Merasakan kebahagiaan karena dibutuhkan seseorang.

Tapi nyatanya mencintai saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan. Belajar dari pengalaman kedua orang tua saya yang bertahuntahun mempertahankan hubungan, kita harus punya tujuan yang sama ketika mencinta. Dengan begitu, sesakit dan setidaknyaman apapun perjalanan kita mencinta, kita bisa bertahan untuk tujuan itu. Namun ketika tujuan itu sudah mulai berbeda, mau tidak mau kita harus siapsiap kehilangan.

Terima kasih telah menunjukkan pada saya apa itu cinta.

***

Bagus ya tulisannya… Drama banget, tapi… realistis banget…

Photo: Koleksi pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s