Orang Timor: "Bajingan itu Kuat & Gagah!!!"

Perbedaan budaya itu adalah hal yang wajar. Tidak perlu menjadi perdebatan, pertentangan apalagi harus diperkarakan ketika terjadi kesalahpahaman komunikasi di antara 2 budaya yang berbeda. Inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi kita untuk menghargai sesama masyarakat yang berlainan budaya. Ngomong-ngomong soal perbedaan jenis kelamin budaya, ada sedikit kisah yang menarik di keluarga monyet saya.

Saya punya saudara (adik perempuan ibu saya, yang sering saya panggil Bulik Atan) yang sudah lama tinggal Hutan Amazon Kefamenanu. Di manakah itu? Kalau tidak tahu, coba carilah di Google. Masih di Indonesia juga kok. Tapi di ujung bagian selatan-timur sana. Nah, udah ketemu kan? Yaaaaak, betul sekali. Kefa (sebutan kota kecil tersebut), adalah kota kecamatan, yang merupakan pusat pemerintahan ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara, di provinsi Nusa Tenggara Timur. Disana, dia menikah dengan orang NTT, suaminya (saya memanggil Om Mik, karena namanya Mikael Talan) dulu pernah tinggal di Solo. (itu foto kota Kefamenanu, saya ambil dari blog sahabat saya dari Kefa: Ermalindus Sonbay)

Om Mik dan bulik saya tadi, memiliki 4 anak, dan dua anaknya yang paling besar (namanya Nia Talan dan Nita Talan) sekarang tinggal di Solo untuk kuliah. Waktu pulang bulan Desember 2010 kemarin, saya bertemu dengan bulik saya yang kebetulan juga pulang ke tanah air beta Jawa. Kami saling melepas rindu dan menikmati liburan Natal bersama dengan artis Hongkong keluarga besar.

Waktu saya pulang ke kandang rumah, kebetulan saya membawa teman ke rumah. Dia hanya mengatarkan saya dari stasiun menuju rumah. Dan kami bertemu lalu bercengkerama bersama dengan Bulik Atan serta beberapa keluarga yang lain. Kemudian bulik saya bicara: “Wah, ko su tampak bajingan-e???” Dengan nada e yang naik di setiap akhir kalimatnya. Maklumlah ya… sudah sekitar 15 tahun di daerah terpencil sana, logat sudah es campur aduk jadi satu.

Bulik Atan & Nia

Lah, ini si bulik kok tiba-tiba ngomong bajingan ya? Kan kaget juga… Setelah dijelaskan lebih lanjut… Ternyata, kata bajingan itu mengacu pada sifat yang letoy gagah dan kuat. Oooo.. Begitu… jadi kalimat: “Wah, ko su tamp

ak bajingan-e???” berarti “Wah, kau sudah tampak gagah/kuat?” ..Ya..ya..ya… Kalau di Jawa, Bajingan itu kasar. Dan mengacu pada orang-orang yang sifat pekerjaannya juga kasar. Bukan begitu??? Dan memang begitulah kenyataannya… Kata ‘Bajingan’ di sana justru mengacu pada kejantanan, kehebatan dan keperkasaan. Kadang-kadang lucu juga kalau dipikir.

Tapi begitulah komunikasi antar budaya. Kadang ada persamaan berucap. Tetapi memiliki makna yang berbeda. Bahkan, gestur, gerak tubuh, cara bicara, intonasi, gaya bicarapun seringkali mengalami perbedaan yang cukup signifikan. Kita selalu dihadapkan pada situasi bagaimana kita bisa memahami komunikasi silang budaya. Kalau memang tidak cerdas untuk memaknai, maka kesalahpahaman bisa saja terjadi. Bagaimana kalau memahami dan memaknai pasangan??? Ah… sudahlah… itu bukan topik kita kali ini… *kabuuurrr*

Foto: Colongan dari blognya Sonbay & Dok. Pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s