Nazaruddin dan Goyangan Banci

Kasus kriminal dan peristiwa seputar korupsi nampaknya sudah menjadi santapan sehari-hari bagi kita, masyarakat Indonesia melek media. Melalui koran, televisi, radio dan media online, kita dibombardir informasi seputar korupsi yang nampaknya (lama-lama) membuat capek otak ini….(yaelah ngapain lo pikirin juga) Pikiran kita kemudian menerawang jauh, akankah hidup di Indonesia ini bisa sejahtera TANPA ADA KORUPSI?

Korupsi ketika masuk sebuah media itu bisa menjadi sebuah drama. Bisa dibikin cerita. Bisa ditampilkan pula: siapa tersangkanya, siapa yang menuntutnya, siapa yang akan menghakiminya, adegannya seperti apa.

Korupsi itu dramaturgi paling seru bagi pemilik media. Cerita-cerita yang kadang kita sendiri berpikir: sebenarnya dia bersalah apa tidak sih?

Masyarakat bingung. Kita dibuat kesal. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Hanya mematikan TV atau menutup lembaran koran, kemudian pergi ke rumah bordil kebun binatang Ragunan. Kira-kira seperti itu.

Okelah kalau begitu keadaannya. Sekarang kita ngomongin si hidung mancung produk arab, Nazaruddin, mantan bendahara Partai Demokrat. Wajahnya yang terlihat mapan dan gagah ternyata tak sebanding dengan sikapnya yang sangat amat banci dan ngondek cyyynnnn.

***

Beberapa waktu yang lalu (seperti yang kita tahu bersama) terkuaklah sebuah kasus korupsi dalam penganggaran proyek wisma atlet SEA Games yang bernilai Rp 191 miliar. Nama Nazaruddin dikaitkan dengan pusaran tornado kasus yang turut menjerat Sesmenpora Wafid Muharram sebagai tersangka. Kasus tersebut bergulir dan terus diberitakan. Terseretlah nama-nama orang-orang gila gede di negeri ini.

Bukan beritikad baik untuk menyelesaikan persoalan, Nazaruddin malah minggat dan sembunyi di … hm….hm… di mana ya??? Di Singapura kali ya. Soalnya begini, tanggal 23 Mei lalu, Nazaruddin ngamen ke Singapura, katanya sih mau jadi banci lipsing menjalani pengobatan. Ia malah mangkir dari panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam pemeriksaan sebagai saksi dalam kasus dugaan suap Sesmenpora. Bahkan, Nazaruddin sendiri sudah resmi menjadi buronan interpol. (nihhh.. fotonya di INTERPOL) Orang jahat kan ya? Labeling? ya gimana lagi… Memang kenyataannya seperti itu.

Interpol kayaknya juga lemah. Sampai sekarang ga bisa membawa pulang Nazaruddin. Padahal nih ya, yang namanya Nazaruddin itu sampai sekarang juga sering ngirim message di BB, bahkan kemarin, media TV menyiarkan langsung wawancara yang disebut sama mereka adalah ‘tayangan eksklusifsetajam silet. Merasa paling beken dan keren, karena TV-nya bisa wawancara langsung dengan Nazaruddin. Padahal interpol sendiri ngga tau lho, di mana Nazaruddin. Aneh kan? Bingung kan? nah.. begitulah masyarakat Indonesia dibuat oleh kasus tidak jelas ini dan media.

Dalam wawancara TV, Nazaruddin menyebut berbagai macam nama orang yang juga turut mendapatkan ‘bagi hasil’ atas suap ini. Siapapun disebutnya, yang kira-kira juga bisa dimasukkan dalam pusaran kasus ini. Ini nampaknya buah dari rasa ketakutan Nazaruddin terhadap situasi yang melilitnya. Kalau mas Nazaruddin baca tulisan ini, mbok iyao..

Anda itu pulang dan ngomong ke KPK apa yang sebenarnya terjadi. Jangan cuma berbusa-busa di berbagai media. Anda sudah dewasa dan tahu hukum. Kalau Anda hanya bisa melakukan demikian, Anda itu orang goblog dan banci.

***

Apa yang bisa kita tangkap dari peristiwa mengharu-biru menyedihkan bangsa ini? Ya… salah satunya (dan yang paling mendasar) adalah cara jadi banci BERTANGGUNGJAWAB. Mungkin kalau jadi Nazaruddin, saya akan bertanya: “Mempertanggungjawabkan apa? Saya hanya imbas dari putaran kasus ini!!! Saya tidak bersalah!!”

Mas Nazaruddin, Makna bertanggungjawab bukan saja bermaksud meng-iya-kan untuk mengakui kesalahan atau tidak, tetapi lebih dari itu. Tanggungjawab bernilai untuk berani membeberkan fakta melalui prosedur yang benar, bertanggungjawab atas setiap perkataan yang diucapkan, bertanggungjawab sebagai warga negara Indonesia untuk mengakui perbuatan (jika ternyata memang terbukti).

Kalau toh Nazaruddin merasa tidak bersalah, kenapa harus takut menghadapi kasus ini? Kalau kita takut mendatangi KPK untuk diperiksa, bukankah justru kecurigaan akan semakin banyak muncul?

Bukankah kalau demikian itu artinya lari dari tanggungjawab? Apalagi sudah jadi buronan interpol. Apakah tidak malu, jutaan orang Indonesia sudah mencerca dan banyak orang pula yang sudah mengutuk perbuatannya (meskipun belum terbukti bersalah)?

Kadang kita dihadapkan pada situasi yang menimpa Nazaruddin, bingung dan takut menghadapi persoalan. Kalau kata Pak Pembina Partai Demokrat, Nazaruddin itu LABIL. (Menghadapi situasi pelik yang membuat kita memilih jalan untuk menghindar) Tapi sampai kapan? Kita hanya bisa berkoar-koar, tanpa melakukan sesuatu untuk menyelesaikan persoalan. Kita bergoyang, hanya di mulut. Sama saja itu dengan goyangan banci.

gambar: interpol.int & 2.bp.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s