Bercinta ke Ujung Dunia

Kalau belum baca tulisan saya tentang KKMK: Kalau Kekasih Meninggalkan Kita, lebih baik dibaca dulu. Tapi kalau ga mau baca, ya tak masalah sih. Hihihi…

Nah, tulisan ini sebenarnya lanjutan dari tulisan yang lalu, soal resensi buku miliknya Franz Wisner. Ini adalah buku keduanya yang berjudul: “How the World Makes Love” lanjutan yang sebenarnya bukan lanjutan dari buku sebelumnya yang berjudul Honeymoon with My Brother.

Inti dari buku ini sebenarnya ingin menggambarkan, bagaimana Cinta (dan nafsu) itu dipersepsikan, dihayati dan dilakukan oleh manusia di seluruh penjuru dunia. Franz Wisner menuliskan banyak cerita-cerita munculnya cinta di berbagai lapisan masyarakat di dunia, dan dari berbagai negara. Tulisannya sangat menarik. Inspiratif dan membuat akhir setiap kisahnya menjadi ‘Wow’ yang sangat ‘wow’… (halah….)

Lapisan masyarakat seperti apa yang digambarkannya?

Macam-macam. Mulai dari kisah cinta para remaja di Afrika, hingga kisah cinta para pemain film porno di belahan Amerika Latin. Kisah yang ditulisnya kecil-kecil. Dan setiap ceritanya membuat pembacanya tersenyum. Oooo.. ternyata begitu ya kalau jatuh cinta di Brazil. (Dan nampaknya Franz paling banyak memberikan tulisannya untuk gadis-gadis Brazil. Dia pemuja Brazil).

Ada pula kisah para jompo yang setia pada pasangannya. Atau kisah cinta gay yang penuh dengan penolakan masyarakat. Semua jenis cinta dan rasa suka dituangkan dalam buku yang jumlah halamannya melebihi buku pertamanya ini. 500 halaman lebih. Tapi puas bacanya dan … tidak akan sia-sia karena banyak sekali pelajaran cinta yang akan kita dapatkan di sini.

Saya sudah beli buku ini di awal tahun. Tapi memang baru sempat membacanya akhir-akhir ini. Ya.. begitulah. Membaca kadang membutuhkan waktu yang cukup panjang karena aktivitas membaca harus berebut dengan aktivitas bekerja dan hobi saya yang lain. Dan kadang, kalau membaca bukunya Franz, harus kita ulang lagi. Bahasanya memang agak sedikit kurang ramah dengan bahasa Indonesia. Tapi kadang kita jadi paham, ya begitulah bahasa sono. Agak njlimet sih, meskipun kisahnya sendiri simple.

Kira-kira buku ini cocok untuk siapa?

Jangan untuk orangtua deh. Lebih baik untuk kita-kita saja yang sedang pacaran, sedang cari jodoh atau keluarga muda yang baru menikah. Semacam ada tips yang juga diberikan Franz melalui tulisannya. Meskipun tersirat dan kadang harus diulang membacanya, supaya makna cintanya dapet.

Coba baca deh… tapi saran saya sih… baca dulu buku pertamanya, Honeymoon with My Brother. Supaya kita tambah ngeh, kenapa si Franz memaparkan cerita-cerita cinta. Salah satu pokok alasannya adalah, karena ia pernah disakiti oleh cinta di buku pertamanya. hihihi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s