Antara Saya & (alm) K.G.P.A.A Mangkunegara VI

Astana Oetara - Kadipiro (Surakarta)

Banyak peristiwa di masa kecil yang sampai sekarang masih membekas di ingatan saya. Salah satunya adalah kehidupan yang saya lalui di Astana Oetara. Apakah itu sebuah istana? Bagi saya iya. Itu adalah sebuah istana. Makam sekaligus istana. Istana tempat saya bermain seharian bersama dengan pengasuh saya, ibu Sarwi. Setiap hari saya dibawa ke Astana Oetara di daerah Nayu, Kadipiro, Solo.

***

Setiap hari, ibu saya tidak ada di rumah karena harus bekerja. Sedangkan ayah saya yang bekerja sebagai anggota TNI-AD juga tak ada di rumah karena sering dinas ke luar kota. Oleh karenanya, setiap hari (sebelum saya masuk sekolah TK), saya selalu diasuh oleh ibu Sarwi. Kira-kira beliau mengasuh saya dari usia 2 sampai 4 tahun.

Ibu Sarwi ini adalah putri menantu dari tukang bersih-bersih dari Astana Oetara (begitulah kira-kira singkatnya). Seperti yang sudah saya ceritakan, Astana Oetara adalah makam. Menyeramkan dong? Ngga tuh… Astana Oetara adalah makam yang penuh dengan sejarah. Pemakaman ini didirikan pada tahun 1928. Di situlah terdapat makam KGPAA Mangkunagoro VI beserta keluarga & abdi dalemnya.

Ada hal yang selalu saya ingat ketika bermain-main di sekitar makam, yakni memungut uang jika ada kerabat keraton yang disemayamkan di situ. Para pelayat yang datang, biasanya menebar uang koin dan bunga tabur di sekitaran makam. Saya memungutinya.

Patung bocah di Astana Oetara

Hal lain yang saya ingat di sana adalah, sebuah patung anak kecil yang membawa lingkaran. Inilah patung sambutan ketika akan memasuki Astana Oetara. Sampai sekarang, patung itu masih ada. Patung ini sangat khas tapi tampak menyeramkan. Coba Anda liat gambarnya.

Saya sering tertidur di bale-bale sekitar Astana Oetara. Disitulah dulu masjid Astana Oetara. Sekarang, masjid itu sudah tidak ada. Namun, bedug-nya sampai sekarang masih ada. Bale-balenyapun juga masih utuh berdiri. Bu Sarwi waktu itu, ikut bekerja membersihkan Astana Oetara.

***

Bulan April tahun 2011, saya mendatangi istana yang pernah menjadi rumah saya waktu kecil, Astana Oetara. Saya melihat kondisi makam para leluhur Mangkunegaran ini. Pikiran saya terlempar ke masa kecil saya. Kondisinya tidak jauh berubah. Dominasi warna hijau dan kuning masih menghiasi makam. Suasana nyaman dan tenteram nampak hadir di sekitar makam ini. Gerbang Astana Oetara bagai memisahkan antara dunia yang keras (di luar halamannya) dan nirwana yang teduh (di dalam komplek astana).

Pintu masuk Astana Oetara

Kemudian, di bulan Juni 2011, saya kembali datang ke Astana Oetara. Kali ini, saya bertemu dengan pengasuh saya, Ibu Sarwi. Rupanya, beliau sekarang berjualan makanan di depan Astana Oetara. Pelanggannya adalah orang-orang yang suka nongkrong dan berteduh di Astana Oetara. Sayang sekali, suami ibu Sarwi (Pak Budi) yang dulunya berprofesi sebagai fotografer sedang sakit keras, terserang stroke.

Saya menatap Astana Oetara dari depan. Patung lelaki kecil yang membawa lingkaran itu masih ada sampai sekarang. Kali ini, tubuhnya bercat perak dan celananya berwarna hijau. Iseng-iseng saya googling tentang Astana Oetara, dan saya menemukan tulisan ini tentang Astana Oetara. Menyeramkan juga ternyata…

Foto: Dok Pribadi & indonesiawallpaper.blogspot.com

***

(diambil dari Suara Merdeka – 18 September 2002)

Astana Oetara, Penyimpan Kisah Mangkunagoro VI

ZAMAN Perang Kemerdekaan 1948-1949. Puluhan mortir Belanda dijatuhkan di pemakaman yang ketika itu menjadi salah satu tempat pengungsian warga Solo. Ajaib! Tak satu pun mortir meledak. Lalu menyebarlah cerita tentang tuah makam itu.

Pemakaman yang dibangun 1928 itu bernama Astana Oetara atau lebih dikenal masyarakat Solo sebagai Pasareyan Nayu. Ada juga yang menyebutnya Pasareyan Giri Yasa. Sebab sebelum menjadi makam, areal itu sebuah bukit. Terletak di utara Kota Solo, dekat Jembatan Kalianyar dan Terminal Tirtonadi, termasuk wilayah Kelurahan Nusukan, Banjarsari, Solo.

Apa yang menyebabkan kompleks itu istimewa bagi orang Solo? Di situ dikebumikan KGPAA Mangkunagoro VI beserta keluarga dan abdi dalemnya.

Berbagai kisah keistimewaannya seolah-olah tersimpan pada kompleks makamnya. Kisah lain, soal kesaktiannya dapat merogoh sukma hingga menjadi enam bagian.

”Sri Paduka itu terkenal sebagai penguasa yang disiplin dan anti-Belanda. Beliau juga dikenal sebagai ahli ekonomi andal,” tutur juru kunci makam sekaligus buyut Mangkunagoro VI, RM Haryanto, ketika ditemui Suara Merdeka.

Kepribadiannya juga diperjelas dengan prasasti di bawah patung Mangkunagoro VI pada halaman menuju pintu masuk ke makam. Dia disebut sebagai penguasa Mangkunegaran yang sugih (kaya), martabrata (rendah hati), dan setyapraja (setia pada pemerintah).

Mangkunagoro VI lahir pada Jumat Pon 17 Rejeb Wawu 1785 (13 Maret 1857 Masehi) dengan nama GRM Soejitno, putra keempat Mangkunagoro IV dengan permaisuri. Gelar KPA Dhayaningrat disandangnya saat berusia 17 tahun (29 Agustus 1874) dan naik takhta pada Sabtu Legi, 15 Jumadilakir Jimakir 1826 (21 November 1896 Masehi).

Haryanto mengemukakan, dia sebenarnya tidak berhak atas takhta Pura Mangkunegaran. Tapi lantaran putra mahkota dari Mangkunagoro V meninggal saat masih kecil, kekosongan takhta itu dia duduki.

Begitu putra mahkota telah cukup usia, atas kehendak sendiri dia turun takkta pada Selasa Kliwon, 3 Mulud Je 1846 (11 Januari 1916 Masehi) dan ambegawan sebagai Satria Pinandhita di Kota Surabaya hingga meninggal 24 Juni 1928.

Jasa

Tak terbilang jasa Mangkunagoro VI dalam 19 tahun delapan bulan memegang tampuk Mangkunegaran. Paling menonjol, cerita Haryanto dan dikukuhkan juga dalam buku khusus tentangnya yang diterbitkan Yayasan Dhayaningrat (yayasan keluarga Mangkunegara VI-Red) adalah jasanya mengembalikan kebangkrutan ekonomi yang diderita Pura Mangkunegara pada masa Mangkunagoro V.

Usaha nyatanya berupa penghematan secara ekonomis di segala bidang dan ditujukan bagi keluarga dan seluruh pangreh praja Mangkunegaran. Hasilnya, begitu dia turun tahta, meninggalkan efecten (warisan) 10 juta gulden. Jumlah itu dari upaya penghematannya selama memangku takhta.

Selain itu, dia juga menarik pajak tanah yang dipakai Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (kereta api swasta Belanda) hingga ketika kolonial tidak mampu membayar kereta api jurusan Solo-Surabaya disita sebagai miliknya. Itu juga menjadi tengara mengenai sikapnya yang anti-Belanda.

Masih banyak lagi kiprahnya di bidang ekonomi. Perluasan areal perkebunan tebu untuk dua pabrik gula Tasikmadu dan Colomadu merupakan contoh paling tipikal.

Di luar bidang ekonomi, kesaktian Mangkunagoro VI juga banyak disebut masyarakat yang ikut menikmati hidup dari areal pemakaman. Suyitno (70) yang mengaku saksi peristiwa kegagalan peledakan mortir di situ menuturkan,

”Saya dengar dari budhe saya, Kanjeng Gusti itu bisa ngrogoh suksma hingga enam. Itu yang dipakai dalam menghadapi tekanan Belanda.”

Tapi bagi RM Haryanto, lebih baik peziarah yang selalu penuh setiap malam diarahkan untuk meneladani sikap hidup Mangkunagoro VI dan bukan kisah mistis yang mengikutinya.(Saroni Asikin-42j)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s