Hanya ada 1 pria baik di Afghanistan?

A Thousand Splendid Suns – Ini adalah buku kedua Khaled Hosseini yang membuat saya menitikkan air mata. Serius. Bukan sesuatu yang berlebihan. Buku pertamanya yang berjudul The Kite Runner sudah cukup membuat saya menyeka air mata dengan kaos. (ya maklumlah, di kosan tak ada tisu, pake kaos juga ga masalah to? hehehe).

Masih bercerita soal Timur Tengah. Pokok persoalannya adalah perjuangan anak wanita di tengah kehidupan yang teramat kejam di Afghanistan. Lebih tepatnya, 2 wanita Afghanistan (Mariam & Laila) yang hidup di jaman berbeda, tapi disatukan karena sama-sama memiliki perjuangan hidup (baca: kesengsaraan hidup) yang menyakitkan. Kehidupan Afghanistan yang cenderung sangat keras untuk kaum wanita, digambarkan secara apik dan ‘miris’ di Novel ini.

Ceritanya tidak jauh berbeda dengan apa yang (mungkin) sudah kita dengar soal Afghanistan dan kehidupan para wanitanya di sana. Ya… tidak jauh dari kekejaman dan pelanggaran HAM. Pernikahan dini, minimnya perlindungan hukum bagi wanita, kekerasan seksual dan kerusuhan politik menjadi background yang ingin diangkat oleh penulisnya.

Beberapa waktu lalu, saya menulis di blog ini bahwa ‘Cerita soal Timur Tengah selalu menarik perhatian saya’. Dan saya masih memegang kata-kata itu. Tulisan Khaled-pun sangat detail menyoal negara yang penuh huru-hara politik itu. Saya bisa membayangkan secara jelas bagaimana Kota Herat – Afghanistan digambarkan penulisnya di situ. Keindahannya. Angin yang berhembus dengan segarnya. Panasnya yang menyengat. Dan kekejaman politiknya yang teramat sadis.

Lelaki bukanlah sosok yang baik di Afghanistan. Begitulah kesimpulan yang saya dapatkan setelah membaca buku ini. Dari belasan lelaki yang digambarkan di buku ini, nyatanya hanya 1 yang masih baik dan setia terhadap cinta. Ada cerita cintanya? Itulah inti buku ini. Di dalam kekerasan dan kekejaman politik yang menindas rakyatnya (khususnya wanita), ternyata masih ada kebaikan cinta yang mereka bisa alami.

Penasaran bagaimana ceritanya? Lebih baik baca saja. Ingat ya, kalau buku ini di-film-kan, lebih baik jangan ditonton. Jangan sampai yang saya alami terjadi dalam diri Anda. Menangis gara-gara menonton film The Kite Runner – buku pertama Khaled. O..o..o..

 

3 thoughts on “Hanya ada 1 pria baik di Afghanistan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s