Buah Ritual Kontemplatif dari #NoComplaintWeek

Inilah kisah saya, berdasarkan pengalaman menjalani proses ritual 7 hari tanpa keluhan… Semoga bermanfaat…

***

Secara sadar, saya mengikuti sebuah ‘proses refleksi’ yang dibangun oleh salah seorang yang cukup eksis di twitter, Henry Manampiring (@newsplatter).

Pada hari Minggu, 13 Februari 2011, dia mengajak followersnya melakukan aktivitas untuk tidak mengumbar keluhan atau komplain yang kemudian dikenal lewat hashtag #NoComplaintWeek. (Background dan cerita lengkapnya ada di blog ini.)

Bagi saya, ajakan Henry adalah sebuah tantangan. Mengapa? Saya akan paparkan sedikit pengalaman dalam kehidupan jejaring sosial.

Di akun twitter dan facebook, teman-teman saya bisa menge-update status dengan konten apapun. Banyak di antara mereka yang menjadikan media tersebut sebagai pelampiasan dari kekesalan, kemarahan, kebencian, ketidaksukaan, kecemburuan, dan pesona negatif lainnya. Terkadang itupun terjadi dalam diri saya.

Tidak salah memang.

Tetapi ketika saya membaca status-status mereka, dalam hati saya berpikir bahwa: “Mengapa harus menyebarkan kejelekan dan ketidaksukaan diri sendiri dengan mengumbar ke orang lain? Mengapa harus mengumbarnya ke jejaring sosial? Kebutuhan eksistensi dan kebutuhan didengarkan? Afeksi?

Sekali lagi ini tidak salah, tapi dari sebuah belief yang saya tanamkan –dan dapatkan- dari seorang motivator bernama Jamil Azzaini, bahwa ketika kita ‘membuang’ hal yang negatif (yang kita sebut sebagai Energi Negatif – ENEG) kita akan mendapatkan Energi Negatif pula (bisa jadi dalam bentuk yang lain). Prinsipnya sama dengan Hukum Kekejalan Energi.  Kalau kita membuang Energi positif (EPOS – berbentuk kebaikan) maka yang akan kembali dalam diri kita adalah kebaikan pula.

Singkatnya, jiks kita mengumbar hal-hal positif berbentuk semangat, dorongan serta ajakan positif lainnya, maka hal tersebut akan berbalik ke kita dalam bentuk yang positif pula. Begitu juga, jika yang kita keluarkan berbentuk negatif seperti umpatan, perilaku buruk, pikiran negatif dan sebagainya… maka nantinya, yang akan kita terima di masa depan adalah kesuraman dan kegagalan (atau hal negatif dalam bentuk lain).

So?


Dengan landasan itulah, saya menyetujui ‘kontemplasi’ ringan yang ditawarkan oleh Henry: 7 hari tidak mengumbar keluhan, baik melalui perkataan & perbuatan kita sehari-hari atau minimal dalam aktivitas kita menulis di status di akun jejaring sosial yang kita miliki.

Parameternya bagaimana?

Henry dalam beberapa twitnya memang memberikan semacam kisi-kisi dan peraturan. Tapi saya punya parameter sendiri untuk menilai mana yang termasuk komplain dan mana yang bukan komplain. Lantas… Siapa yang menilai? Ya diri saya sendiri. Maka, dibutuhkan keteguhan hati dan kesadaran yang cukup besar dalam menegakkan refleksi singkat selama 7 hari ini.

Yang saya lakukan ketika minggu malam (13/02/2011) adalah melakukan permenungan singkat. Pertama, saya berjanji pada diri sendiri, bahwa komplain/keluhan dalam bentuk apapun, tidak akan saya lemparkan di situs jejaring sosial. Kedua, saya harus memiliki semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Mulai dari bangun pagi, hingga malam menjelang tidur. Ketiga, saya tidak menghalangi (masih mentolerir) bentuk komplain yang  terjadi dalam hati, atau dalam bahasa Jawa disebut nggrundel. Selama saya tidak mengungkapkannya dalam perkataan dan perbuatan maka agenda #NoComplaintWeek belum dianggap batal. Bagi saya, mengeluh dalam batas perasaan, di situlah ajang kita berbicara dengan hati nurani untuk tetap semangat menjalani hidup dan aktivitas saya. Jadi, itulah parameter dan aturan utama yang nantinya saya terapkan.

Lalu, apa selanjutnya?

Yaitu materi yang dikomplainkan -yang dianggap bisa membatalkan ‘kontemplasi’ #NoComplaintWeek-. Saya menganggap, semua jenis komplain bisa masuk. Mulai komplain tentang pekerjaan, pasangan, soal teman, soal barang pribadi, soal layanan umum dan sebagainya. Tentu saja, komplain dan keluhan itu yang sifatnya negatif, berbeda jika konteksnya adalah kritik dan saran yang membangun. Saya harus bisa memisahkan bentuk komplain yang beda-beda tipis ini.

Selesai.

Begitulah beberapa parameter yang saya terapkan. Dan benar-benar saya lakukan hingga 7 hari selesainya ‘acara’ yang reflektif ini. Ya… benar-benar mencapai hari Minggu tanggal 20 Februari 2011 jam 12 tepat.

Bagaimana saya menjalani itu?

Bukan hal yang mudah lho melaksanakan sebuah refleksi kecil tanpa ada orang yang mengingatkan. (Yang mengingatkan adalah orang-orang yang menggunakan HT #NoComplaintWeek – secara tidak langsung). Tapi untunglah, niatan besar itu memberantas pesimisme saya untuk melakukannya. Sayapun bukan orang yang suka nyinyir atau cepat mengeluh karena suatu hal. Jadi, dengan penuh keyakinan ini, mudah-mudahan saya bisa menjalani #NoComplaintWeek dengan sepenuh hati…

Apa rintangannya? Akan saya ceritakan satu per satu…

Hari Pertama (14 Februari 2011): Hari kejepit, hujan, dingin dan macet. Itulah yang membuat kita malas bekerja. Banyak yang komplain di twitter, tapi toh saya jalan terus. Tak ada halangan bagi saya untuk lebih semangat di Hari Senin meskipun hari Valentine dan hari kejepit pula. Malamnya, saya menunggu teman yang berjanji akan makan bersama di Plaza Indonesia. Nyatanya, dia datang terlambat karena ketiduran dan kitapun terlambat memesan makanan yang ingin kita santap. Saya harus menunggu 1,5 jam kedatangannya dan makananpun tak didapatkan. Komplain? Ah ngga perlu… toh dia teman saya… buat apa mengeluarkan energi hanya untuk komplain atas keterlambatannya? Kalau saya komplain, makan akan jadi terasa tak nyaman dan pertemuan kami menjadi tidak menyenangkan. Betul kan?

Hari Kedua (15 Februari 2011): Hari kedua, hari libur. Saya menghabiskan waktu di rumah. Kalau di rumah sih, memang tak banyak godaan. Seharian di depan laptop dan mengerjakan beberapa kerjaan kantor di rumah. Tak boleh mengeluh, karena itu kewajiban. Okelah… sambil iseng, saya mengomentari status Facebook teman-teman. Dan ada salah satu sahabat saya yang statusnya saya komentari. Eeee.. ternyata komentar saya yang menurut saya sangat-amat-biasa saja itu dihapus olehnya, karena takut pacarnya marah. Hloooh??? Tetep sabar dan tidak komplain… Mencoba memahami dan mengerti keadaan. Saya tak perlu memaksakan diri. Kalau dipikir-pikir, bukan sesuatu yang penting untuk marah-marah karena sebuah komentar dihapus…. EPOS EPOS EPOS *mungkin komplainnya baru sekarang kali ya… hehehe…

Hari Ketiga (16 Februari 2011): Hari biasa untuk bekerja, memutar musik pagi hari ketika dandan dan bersiap ke kantor. Yang penting, membuat hari ini tambah semangat. Tapi sepanjang hari, saya mendapatkan SMS yang berasal dari Centra Cell mengajak untuk bergabung jualan pulsa. Seharian saya mendapatkan 5 kali. Hati ini dongkol, tetapi tak perlulah untuk mengumbarnya di jejaring sosial. Cukup saya kirimkan SMS balik (entah itu nomor yang diseting mesin atau tidak). “Maaf sekali, saya tidak berminat. Dan mohon untuk tidak mengirimkan sms itu lagi. Terima kasih.” Selesai kan masalahnya? Tanpa harus komplain yang macam-macam? Toh, sampai sekarang SMS itu sudah tak ada lagi… Aman.

Hari keempat (17 Februari 2011): Masih diliputi rasa senang dan semangat menjalani pekerjaan. Tetapi Kamis pagi, entah kenapa akses internet di laptop, super lemot sepanjang hari. Kebiasaan teman saya kalau mengalami koneksi yang ngadat, pasti komplain lewat twitnya. Saya sih cuman nulis status: “Sabar… sabar… sabar… Orang sabar disayang Tuhan…” Bukan sebuah komplain, tapi sebuah peringatan dan kebijaksanaan untuk saya dan untuk teman-teman saya yang membacanya. Lebih tidak menjadi arti jika saya menuliskan: “Anj*ng!!! Koneksinya memble abissss!! BIKIN BETEEEE” Apa yang akan kita dapatkan dari umpatan demikian??? Kepuasan? Ngga ah

Hari kelima (18 Februari 2011): Tak ada catatan apapun. Saya cukup menikmati hari ini. Senyum, Sapa dan Salam terangkai di hari terakhir saya bekerja di minggu tersebut. Bukan menjadi halangan tentunya. Membawa setumpuk pekerjaan untuk diselesaikan di hari Sabtu-Minggu di rumah adalah resiko orang bekerja. Ya begitu. Dan tak perlu diadakan status komplain. Saya menikmati hidup ini. Dan berusaha menikmati apa yang akan saya hadapi dalam pekerjaan-pekerjaan saya. Komplain? No way…

Hari keenam (19 Februari 2011): Seharian saya di rumah. Ada janji dengan teman-teman alumni kampus di Plaza Semanggi. Tetapi saya batalkan dengan permohonan maaf karena saya harus menyelesaikan pekerjaan yang sudah menumpuk. Saya juga tak mengeluh mendapatkan pekerjaan di hari Sabtu-Minggu. Kalaupun saya mau, saya bisa meninggalkan pekerjaan dan menikmati canda tawa bersama teman-teman. Saya lebih memilih untuk menekuni pekerjaan saya hingga selesai. Saya tahu resikonya dan saya tak mengeluh atas opsion yang sudah saya pilih. Sorenya, saya ke gereja, mengucapkan syukur atas anugerah kehidupan, dan memohon berkat, semoga saya menjadi orang yang tak mudah mengeluh dan berputus asa.

Hari ketujuh (19 Februari 2011): hari terakhir dalam proses refleksi singkat ini. Lagi-lagi saya memang hanya di rumah. Tak ada kejadian yang menurut saya menjadi rintangan dalam menjalani proses ini. Syukurlah. Bahkan sampai malam berlanjut. Saya masih setia dengan janji mengikuti #NoComplaintWeek yang berakhir tepat di jam 12 malam.

Dan…. Akhirnya… selesailah sudah ‘kontemplasi’ tawaran Henry ini saya lakoni.

Sungguh, ini sangat fantastis.

Saya seperti terlahir baru.

Ektsrim mungkin. Tapi dari proses ini, saya belajar sesuatu. Belajar memahami lingkungan. Belajar memahami situasi orang lain dan diri sendiri. Semua bisa dilakoni tanpa kita mengeluh dulu. Yang penting dijalani, setelah itu baru berkomentar. Tentu saja, luapkanlah komentar itu dengan kesungguhan hati yang positif. Tidak hanya sekedar cercaan dan hinaan atas ketidaksukaan kita.

Memang, beragam orang mengungkapkan kekesalannya. Tapi sebelum kesal, alangkah baiknya kita menilai diri sendiri. Jangan-jangan kita yang salah. Jangan-jangan kita yang kurang tepat. Jangan-jangan kita yang terlalu egois. Jangan-jangan kitalah yang tidak bisa memahami lingkungan sekitar kita. Terlalu tinggi hati dan umuk. Jangan-jangan, dengan berbagai keluhan, masalah yang kita hadapi justru semakin runyam.

Jadi, dengan ini… saya nyatakan… saya lulus untuk tantangan #NoComplaintWeek dari Henry. Saya menerima tantangan lain yang (tentunya) bisa mendewasakan hati, pikiran dan perbuatan saya. Karena saya selalu ingin belajar.

Hanya 7 hari??? Ah…. Masih kurang…..

Credit photo: cacina.wordpress.com, eyesofenhance.com, 3.bp.blogspot.com, 2.bp.blogspot.com, farm3.static.flickr.com

3 thoughts on “Buah Ritual Kontemplatif dari #NoComplaintWeek

  1. hm, boleh lah kalo nggak komplain.. gimana kalo nggak misuh? tapi dengan kondisi setiap hari harus berjuang di tengah kemacetan berjam-jam di Jakarta..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s