Hukum Balas Dendam

Tidak seperti biasanya, saya mengambil waktu ke gereja Sabtu Sore. Biasanya saya datang ke gereja hari Minggu Sore. Nampaknya, tak begitu banyak umat di ekaristi sabtu sore, minggu ini.

—–

Bagi saya, bacaan Injil minggu ini sangat menarik. Berikut salah satu kutipan Injil Matius bapb 5 tersebut:

“Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah juga pipi kirimu.”

Dan ayat selanjutnya dikatakan:

“Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”

Kata-kata tersebut memiliki makna yang begitu mendalam bagi saya. Siapa sih yang tidak sakit hati jika diejek orang? Siapa sih yang tidak marah jika dirinya dihina? Siapa yang tidak terluka jika martabatnya direndahkan? Seringkali, kita menjadi orang yang dihina, dijelek-jelekkan, direndahkan atau tidak dianggap oleh orang lain. Namun, sebagai orang Katholik yang dekat dengan hukum cinta kasih, saya diajak untuk melepaskan kesakithatian saya itu. Saya harus melepaskan luka hati yang kadang tidak bisa diobati dengan mengampuni orang yang telah merendahkan kita. Dan yang paling berat adalah mendoakan orang-orang yang telah menjadi ‘musuh’ kita. Bibir siapa yang sanggup mengucap doa untuk orang yang menyakiti kita dengan tanpa beban? Bagaimana bisa? Ini berat…

Sebenarnya, dasar untuk mengasihi sesama orang lain –terlebih yang menyakiti kita- bukan hanya bagi orang Katholik. Mengasihi, menolong, menghargai dan memberikan ampunan adalah bagian dari dinamika kehidupan sosial manusia. Tuhan saja mau memaafkan, mengapa kita sebagai ciptaanNya susah mengampuni orang lain? Tuhan mengajarkan hukum cinta kasih, mengapa kita menerapkan hukum balas dendam?

Kalau melihat situasi terakhir di negara kita, banyak terjadi tindakan kekerasan & anarkisme. Beberapa orang -sesama manusia- tewas sia-sia karena kekejian. Betapa mengerikannya situasi ini? Apakah manusia-manusia Indonesia sudah tumpul hati? Apakah masyarakat kita sudah tak lagi memiliki logika dan perasaan? Sebegitu berani dan kejinyakah kita pada orang yang sama-sama diciptakan oleh Tuhan?

Saya merasa, yang hidup dalam diri kita adalah hukum balas dendam. Itu termasuk: iri, dengki, ketidaksukaan, menganggap diri sendiri punya kemampuan, menganggap keyakinannya adalah yang paling benar. Meski kita sendiri tak melakukan kegiatan anarkisme, tetapi dalam ketidaksadaran diri, kita juga memberikan balas dendam ke orang lain, baik itu dalam bentuk perkataan, maupun perbuatan nyata.

Saya yakin bahwa ajaran mengasihi bukanlah milik orang kristiani. Semua ajaran agama memiliki ajaran yang baik untuk saling mengasihi. Tapi mengapa kekerasan, anarkisme bahkan pembunuhan bisa terjadi. Apa yang ada dalam diri dan otak manusia?

Memaafkan itu memang susah. Sayapun merasa demikian. Tetapi marilah, kita sama-sama belajar untuk memberikan ampun, mengembangkan cinta Tuhan pada sesama dan lingkungan.

Credit photo: thefeministwirec

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s