Bekerja itu Ibadah

Dalam slip gaji bulan November yang saya terima, saya menerima sebuah tulisan inspirasi dari Pak Jakob Oetama, Presiden Komisaris Kompas Gramedia. Tentu saja, tulisan tersebut ditujukan bukan hanya untuk saya saja, tapi seluruh Karyawan Kompas Gramedia sebagai bagian dari pemberian motivasi dan inspirasi hidup (Empowering Talent) untuk seluruh karyawan KG. Tulisan yang indah dan mencerahkan tersebut dicetak dalam selembar kertas berwarna merah muda dan diberi judul BEKERJA ITU IBADAH, 5 paragraf panjangnya.

Banyak orang yang sudah mengatakan demikian, Bekerja itu Ibadah. Tulisan Pak Jakob-pun, menurut saya, bukanlah sesuatu yang baru. Tapi beliau kembali mengingatkan, bahwa memang salah satu tugas kehidupan manusia di dunia ini adalah menyeimbangkannya dengan berkarya. Kemudian, apa maknanya bagi saya?

Terkait dengan resolusi saya tahun 2010 ini, salah satunya adalah bekerja dengan sepenuh hati dan menerima penghargaan melalui pengangkatan karyawan. Dan (pada kenyataannya) tahun inipun saya belum mendapatkan pengangkatan. Merasa gagal, tapi ya sudah, tak apa. Yang penting resolusi saya sedikit terpenuhi, yakni bekerja dengan sepenuh hati. Masih banyak orang yang tak bisa bekerja. Bahkan, sudah mendapatkan gelar sarjanapun masih susah untuk mendapatkan pekerjaan. Saya mencoba menempatkan diri seperti mereka, ribuan pencari kerja itu, bahkan ratusan ribu.

Dua tahun di Jakarta

Bulan Agustus tahun ini, genap 2 tahun saya bekerja di Jakarta. Banyak pengalaman menarik selama bekerja di Jakarta. Entah itu pengalaman-pengalaman yang sifatnya terkait dengan pekerjaan maupun pengalaman bersama orang lain menjalani kehidupan sebagai bagian dari masyarakat Jakarta. Yang dipenuhi kemacetan jalan ketika pagi hari. Yang harus merogoh kocek setiap kali ingin terhibur dan terbahak-bahak. Yang setia berbanjir ria ketika harus hujan. Dan hal-hal merepotkan lainnya tentang Jakarta.

Lama-lama, seiring waktu saya bekerja di Jakarta, saya memiliki bakat khusus untuk hidup di Jakarta. Bakat ini yang (barangkali) tidak dimiliki orang lain yang pernah tinggal di Jakarta. Orang baru di Jakarta, merasa parno dengan seramnya ibukota. Setidaknya saya tak lagi  mengalami ketakutan jika harus terjebak di sebuah gang atau jalan di antahbarantah atau di tengah-tengah ibukota. Ini sebuah kelebihan.

Tapi, tetap saja ada kegelisahan yang meraung-raung dalam pikiran saya. Apakah saya akan mengabdikan diri selamanya untuk tinggal di ibukota? Beberapa waktu lalu, kakak saya mengirimkan sebuah pesan singkat, yang intinya adalah bertanya kepada saya, sebenarnya apa yang sudah saya lakukan selama 2 tahun di Jakarta. ‘Apa yang sudah kamu dapatkan selama di Jakarta?’

Jujur, ini adalah sebuah tamparan. Di satu sisi, saya bersemangat dan selalu ingin maju dalam menjalani setiap tantangan pekerjaan. Tapi di sisi lain, ada sebuah ketidakpercayaan dari keluarga terhadap eksistensi saya untuk tinggal di Jakarta. Mungkin pertanyaan yang ada dalam pikiran orang-orang dekat saya: ‘Kamu mau jadi apa?’ Dan saya memang belum menjadi siapa-siapa. Tapi saya senang menjadi saya yang bukan siapa-siapa. Saya yang bisa bergembira dan menerima diri saya apa adanya. Menjalankan apa yang ada di depan saya sekarang.

Saya tidak membenci siapapun atau keadaan apapun. Saya hanya berusaha untuk menjadi yang terbaik dan terus mengembangkan bakat yang saya miliki. Memang, agak susah ketika banyak pekerjaan dan kemudian harus membagi waktu dengan banyak hal pengembangan diri. Terkadang kita sudah capek dengan segala tantangan yang kita terima.

Betapa Pentingnya Kenyamanan

Untunglah, beberapa teman dekat di Jakarta selalu mendukung dan membantu. Saya sadar, di Jakarta, saya sendirian. Tidak ada keluarga dekat yang ada di sekitar saya. Saya harus berjuang sendiri dan hidup mandiri. Saya harus banyak menjalin pertemanan dan bahkan persaudaraan. Saya harus bisa berpikir, jika saya tiba-tiba sakit, saya harus lari ke siapa. Saya harus memikirkan juga, ketika saya tiba-tiba kecelakaan, jatuh dan harus dirawat, siapa orang terdekat pertama kali yang harus saya hubungi.

Masih diberi keuntungan juga, bahwa banyak sahabat jaman SMA Van Lith yang tinggal di Jakarta. Mereka seperti saudara-saudara saya sendiri. Keluarga mereka juga baik semua. Namun, bukan berarti saya berharap penuh pada mereka. Tapi saya hanya memperlihatkan, betapa menjalin kekeluargaan dan persaudaraan baik dengan banyak orang inilah, kunci keberhasilan hidup saya di Jakarta ini.

Kembali ke soal bekerja, Pak Jakob Oetama menulis, bahwa bekerja itu adalah saling memberi dan saling menerima. Mungkin perlu ditambahkan, keadaan saling memberi dan saling menerima itu harus dibentuk dalam konsep keramahan dan ketulusan. Jujur saja, kalau kita bekerja, maka penghasilan adalah faktor utama. Tapi ada nilai lain yang perlu juga diperjuangkan dalam bekerja, yakni nilai kenyamanan dalam bekerja. Itu harus berjalan seiring. Apalah artinya penghasilan besar tetapi kita tidak berada dalam situasi memberi-menerima dengan ramah dan tulus? Inilah faktor kenyamanan dalam bekerja. Membangun suasana kerja nyaman di unit yang kita tempati juga merupakan tugas kita.

Banyak yang mengatakan, bahwa saya orang yang suka bercanda, humoris dan tukang melawak. Saya memang bukan orang yang bisa terus menerus serius dalam melakoni profesi saya. Bercanda, riang dan senyuman adalah bagian hidup saya yang tak bisa saya lepaskan. Dan inilah cara saya membawa diri dalam kenyamanan bekerja dan cara unik saya dalam membahagiakan diri saya sendiri.

Nah, banyak sekali faktor bagaimana kita bisa konsentrasi dan nyaman dalam bekerja. Terlepas dari itu semua, apapun, pekerjaan yang kita lakukan semuanya adalah ibadah. “Bekerja memiliki dimensi & makna yang religius” begitulah tulisan Pak Jakob. Jika kita sudah menemukan makna terdalam dari pekerjaan yang kita lakukan, maka sebenarnya kita sudah melakukan refleksi iman atas pekerjaan kita. Selamat bekerja, Selamat beribadah dan mempersiapkan resolusi untuk pekerjaan kita tahun depan.

Foto: Koleksi Pribadi (EOS 500D)

Iklan

3 thoughts on “Bekerja itu Ibadah

  1. tulisan ini mengingatkanku pada masa 2,5th di toko buku.. dan aku baru saja memperingati 3th perjalananku di Jakarta.. aku pun mengalami masa sepertimu, 2th sebagai karyawan kontrak.. hehe, bersabar saja War, sebentar lagi juga menjadi ‘biru’..

    namun menjadi ‘biru’ tak lalu membuatku menjadi senang.. itu hanya simbol, bukan kemenangan buatku.. akan kusebut kemenangan jika kuraih dalam 1th, selebihnya kusebut ‘tersaring’..

    bekerja itu ibadah, dan harus seimbang dalam karya.. I agree.. yup, 2,5th itu membuatku nyaman dalam sistem, hingga aku harus belajar banyak dalam sistem baru di tempat baru..

    kalau boleh aku menambahkan,
    dalam bekerja, kita hidup dalam sistem.. kenyamanan di dalamnya akan bergantung dari bagaimana setiap pekerja mampu beradaptasi dalam sebuah sistem yang ada.. 🙂

    mari, kita semangat bekerja demi hidup yang lebih baik..

    Tidak perlu disesali, semua yang telah terjadi… Cieee.. kayak lagu aja. Yang penting adalah bagaimana kita melakukan sesuatu agar tetap semangat dalam bekerja. Jika menjadi biru bukan impian. Sekaranglah saatnya mencari impian yang lain donk, mas. Untunglah, mimpimu sudah dapat tercapai. bersabar itu harus, tapi berusaha itu juga menjadi hal yang harus terus dilakukan…

    Dalam bekerja, aku setuju jika dikatakan kita masuk dalam sebuah sistem. Yang akhirnya, kita harus mengikuti sistem yang ada. Semangat diri dan bantuan doa menjadi poin penting dalam menjalani setiap beban pekerjaan kita. Tapi memang lebih baik bukan dikatakan beban tetapi tanggungjawab. Semoga kita bisa meraih mimpi-mimpi kita di masa depan….

  2. war, tulisan mu mengalami evolusi war,,

    biasanya memakai kata ganti orang pertama “aku” tapi sekarang berbeda.. memakai kata ganti “saya”

    tentang menjadi “biru”.. ya, sabar lah war.. tapi PNS pada buka tuh kalau berminat..

    oh ya salam buat mbak Iroh, Erick, mas Yudi, mas Budi, dan mas yang dari RCTI itu.. siapa namanya..

    ahh saya lupa..
    tahun ini juga kamu putus dari Lani ya, war.. hehe.. itu evaluasi juga tuh..

    sebenarnya saya sering mengingatkan tentang pekerjaan menjadi wartawan..
    mungkin tidak sedramatis waktu diterima di GRamedia.. apalagi bagian riset…

    tapi di situlah jiwa mu..

    tapi terserah sih, seorang sahabat hanya bisa mengatakan apa yang biasa ia lihat dan rasakan,
    tanpa pernah memaksakan kehendak..

    SELAMAT NATAL 2010

    salam untuk Bapak Ibu, dan Mbak Anik, Mas Warsono sekeluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s