Mengobati Hati

Seorang teman memasang status di Facebooknya: “….the music in my life… will set my spirit free…”  Saya tahu, itu adalah potongan kecil dari sebuah lirik lagu. Tebakan saya benar, bahwa itu adalah lagu: “As Long As I Have Music”. Jujur, saya tak tahu, siapa yang pertama menyanyikan lagu itu, apalagi pencipta lagu tersebut. Saya tahu betul lirik lagu ini karena saya sendiri pernah menyanyikannya, ketika saya masih suka ikut paduan suara di SMA. Untuk mengingat kembali, saya pasang kembali lirik lagu tersebut:

As Long As I Have Music

When the world seems far beyond me… And I have no place to go

When my life seems cold and empty… And I feel I’m all alone

Then a song that I remember… Helps to ease my troubled mind

And I find the strength within me… To reach out just one more time

Reff:

For as long as I have music… As long as there’s a song for me to sing

I can find my way, I can see a brighter day… The music in my life will set my spirit

When the road is dark and lonely… And I feel I want to cry

When the dreams I keep inside me… Seem to fade and almost die

Then I call upon my music… And it helps to dry my tears

And I know that I can make it… I’ll go on despite my fears

Back to Reff:

Sedikit berkomentar. Lagu ini indah, liriknya bagus. Saya tak perlu menjelaskan apa isinya, tapi semua yang ada di dalam itu, serasa keluar dari hati yang paling dalam, yakni tentang musik dan penghiburan.

Bayangan tentang status Facebook teman saya menggelora, bahkan sampai di malam hari. Saya kemudian mencari video lagu ini dalam berbagai versi di YouTube. Ada yang menggunakan piano, ada yang dinyanyikan oleh paduan suara, ada yang dimainkan dengan gitar. Dan gantian saya yang memasang status di twitter:

***

3 bulan lebih saya tidak menyentuh tuts-tuts keyboard di kamar. Saya mulai membuka kain penutupnya. Saya memainkan lagu tersebut “As Long As I Have Music“. 5 kali berulang-ulang, sebisa jemari saya memainkannya. Tangan saya memulai menekan tuts keyboard, mulut saya mencoba menyanyikan lagu ‘As Long As I have Music

Rupanya saya tahu, apa yang sedang ada dalam diri saya kala itu. Saya butuh sebuah hiburan. Hiburan yang menentramkan, yang bisa mengantarkan jiwa saya pada kedamaian yang menenangkan hati. Doa memang menjadi salah satu cara, tetapi mendengarkan musik, dan bahkan menyanyikannya, adalah kedamaian yang (bagi saya) tak kalah menenangkan dari sebuah ucapan doa.

Kemudian status twitter saya di malam harinya:

Jari-jari saya tetap memainkan lagu di atas keyboard usang saya, masih dengan cara ‘sebisa saya’. Memulainya dengan nada dasar C, dan hanya berpindah beberapa akord lain, yang sangat mudah dihapalkan. Saya terlarut dalam alunan musik ‘sebisa saya‘ sendiri. Tak terasa, sudah 5 kali ulangan lagu ‘As Long As I Have Music‘. Dan di ulangan yang ke 5, air mata saya kemudian menetes. Saya tetap menekan tuts, sampai lagu berakhir. Mungkin agak melow, bahkan saya sendiri risih merasakan tetesannya.

Ketika air mata jatuh, saya tak mengusapnya, bahkan membiarkannya sampai mengering. Biarlah yang sudah keluar, tidak perlu dihapuskan. Saya teruskan untuk menyanyi. Saya meresapi, bagaikan saya mengucapkan doa. Banyak kata yang tidak bisa terucapkan dalam untaian doa. Dan mungkin saya terlalu menghayatinya. Di putaran ke lima lagu itu, saya berhenti. Mungkin teman saya yang mendengarkan dari luar kamar juga akan bosan mendengarkan nyanyian saya yang berulang-ulang. Berpikir kembali, ini dimulai dari hal yang sepele, status Facebook teman.

***

2 bulan terakhir ini, memang saya mengalami perubahan besar dalam hidup. Ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang bertambah. Dan bagi saya sesuatu yang bertambah dalam kehidupan saya, tidak pernah bisa mengobati rasa hilang itu dan menutupi yang telah tiada. Agak abstrak. Biarlah diterka seperti apa. Hm…. saya sendiri pernah sedikit menulis sebuah tulisan tentang kehilangan, november tahun 2009 lalu. Saya perlu mengingatkan kembali, bahwa saya sama sekali tidak suka dengan rasa kehilangan. Benar-benar tidak menyenangkan.

Itu yang membuat saya agak sendu dengan hati akhir-akhir ini. Dan saya hanya ingin menyampaikan bahwa ternyata musik itu membuat saya bisa meluapkan apa yang saya rasakan. Dia bisa menemani saya dalam setiap penghiburan atas tangisan. Musik benar-benar menyembuhkan. Bahkan, setiap hari, saya berusaha untuk mendengarkan musik yang saya sukai, baik di pagi hari, maupun sepanjang hari ketika saya bekerja. Semata-mata, agar semangat saya setiap hari bisa muncul dalam tiap pekerjaan.

Ya… dengan mendengarkan musik, saya bisa meresapi apa yang sedang terjadi dalam diri saya. Dengarkanlah muskc, ketika sedang dalam kesepian.. percayalah, bahwa itu akan membantu sebagai teman yang paling setia.

Terima kasih, khusus untuk teman saya, yang telah mengingatkan kembali lagu “As Long As I have Music…” yang mengingatkan saya betapa pentingnya nada-nada yang indah untuk mengungkapkan perasaan.

Iklan

7 thoughts on “Mengobati Hati

  1. bener banget war, music will help a lot. buat aku mendengarkan musik dan menyanyikannya adalah salah satu ungkapan pencarian kedamaian yg terbaik kedua setelah doa. satu pesan simple, saat mellow jangan pernah dengerin lagu cengeng. it would make u feel worse then ever. kcuali klo emang kmu mo menikmati ke-mellow-an itu dan memang pengen feel worse then ever. hahaha.. great writing war! keep up the gud work!

  2. Wuih… bener banget, Mil… Saat kita sedang merasa sedih, justru lagunya yang harus membuat semangat. Tapi kadang terjebak untuk menikmati ketenangan, jadi milih lagunya yang menenangkan. Hehehe… akan dicoba, nanti aku bikin list untuk lagu-lagu sedih vs membahagiakan. Terima kasih dukungannya….

  3. sesuatu yg brtambah dLm khidupan tdk pernah menutupi yg tLah tiada.. Dadi eLing pas ng muntiLan ato jogja.. oyo jare ana Lagu apik khi war Letto-memiLiki kehiLangan

  4. Woi.. Mas rombeng aryo seno… Itu lagu lamanya si Letto… Lagunya agak menyedihkan… Tidak akan kumasukkan dalam List LIKE THIS…. hahaha… Cari lagu yang semangat saja. Untuk memperbaiki yang telah hilang….

  5. .Hehehe14.
    Lagu As Long As I Have Music jd soundtrack nya psm ugm skrg..
    Simpel lagunya,, tp dalem maknanya.. Musik memang hangat..Seneng bs bersahabat dg musik dah pokoknya…
    Rasanya bisa menumpahkan semua jenis emosi di sini…kok tiba2 saia jd ketularan melankolis yo? (kumat mode on)

    Dan inilah orangnya.. hehehe….

  6. inilah lagu yang disukai betty, dan tentu saja, dialah yang membagi2 partitur lagu ini ke orang2 yang betty anggap pasti menyukainya, termasuk saya

    tadinya saya kurang suka lagu ini war.. gak ada kress atau mol nya… nyaris nadanya mayor semua.. temponya andante-moderato;; kayak gak semangat gitu; bikin lemes; main pianonya juga gak bertenaga…

    bertahun2 setelah itu, saya mendengar lagu itu kembali… tentu saja alam bawah sadarku langsung mengingat kenangan akan lagu itu.. tapi dengan ekspresi yang berbeda…

    lagu As Long As I Have Music itu akan sangat indah bila dinamika nya tepat ya, dan kata2 tepat diucapkan.. jadi pesannya sampai… tapi yang paling penting, tentu saja temponya.. ternyata lagu ini temponya moderato… klimaknya juga terjadi pas 3 birama terkahir… yang ada legatonya…

    kayaknya harus bener dihayati nih lagu,, baru nyampe ke pendengar..

    Aku tunggu di Jerman ya Don… hehehe… Mari kita main musik bersama…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s