Dilema Keikhlasan

Apa yang mempengaruhi orang untuk mau memberikan uang kepada peminta-minta?

Barangkali karena yang minta-minta ini adalah nenek atau kakek tua yang wajahnya melas. Atau mungkin ibu-ibu meskipun gembrot, tetapi menggendong anaknya yang kurus kering. Rasa iba dan nelangsa itu muncul ketika melihat sosok orang-orang yang memang perawakannya dan mimiknya melas. Kita tak tahu, apakah mereka memang benar-benar se-melas itu. Yang jelas, kalau mereka tidak miskin, mereka juga tak mungkin nongkrong di perempatan jalan-jalan ibukota atau masuk ke kampung-kampung untuk minta duit.

Orang yang meminta-minta ini kadang punya sebuah ‘alibi’. Niat baik kita memberi sedekah dan uang kepada para peminta ini dihancurkan oleh mereka sendiri. Saya punya cerita, ketika saya masih kuliah di Jogja.

Saya sering melewati bawah jembatan layang Janti untuk berbelok ke rumah saya yang ada di daerah Janti Jogja. Dan di depan gang, tepat di pinggir jalan raya, suatu ketika saya diberhentikan oleh seorang ibu tua. Tampangnya juga melas (menurut saya). Si ibu lalu berkata.

“Dik, kalau mau ke Terminal Giwangan naik apa ya?” tanya ibu itu

“Ibu jalan aja ke depan pertigaan itu, lalu naik bis besar. Semua bis besar yang lewat sini, pasti turun di Giwangan,” jawab saya.  Sontak langsung pengen nge-gas motor untuk melanjutkan perjalanan pulang. Tapi, si ibu tadi keburu mengatakan sesuatu.

“Dik, saya ini baru kehilangan barang dan uang. Kecopetan waktu jalan dari Purwokerto tadi. Anak saya ada di Giwangan. Saya bisa minta duit buat naek bis ke Giwangan?” Tanya dia

Waduh… bukannya saya tidak mau memberi. Tapi memang apes saya yang tidak membawa uang barang sepeserpun. Sama sekali tidak ada. Dompet saya juga ketinggalan di rumah dan saya tidak ada uang di kantong baju atau celana.

“Wah, maaf bu… Saya bener-bener ngga punya duit,” jawab saya

“Atau ibu mau saya antar ke Giwangan?” (batinku… ga bisa ngasih duit, tapi bisa nganter kan berpahala juga…)

Si ibu menjawab, “Owh, ga usah, dik.. Ga apa-apa.”

Ya sudah. Saya langsung tinggal pergi.

Keesokan harinya. Saya bertemu si ibu itu lagi. Dan ternyata… (dia lupa saya)… Dia melakukan hal yang sama lagi. Langsung dalam hati saya. “Ya Ampun bu.. ternyata kamu pembohong ya.. Tampang melasmu benar-benar membuatku iba.” Ternyata memang si Ibu adalah pembohong. Peminta-minta dengan kedok mau kehilangan barang. Teman saya yang lewat situ, keburu memberikan 10 ribu.

Yah… namanya juga usaha. Lebih parahnya lagi, kadang meminta duit juga dengan kekerasan atau pemaksaan. Hal-hal seperti inilah yang menjadikan saya untuk mengurungkan niat memberi. Kalaupun memberi, karena saya dipaksa untuk memberi.

Sama halnya dengan pengamen. Saya menemukan banyak sekali pengamen yang tidak ramah. Meminta dengan memaksa, kadang kalau tidak dikasih, sukanya mengancam orang lain. Saya jadi merasakan, bahwa situasi jalanan di kota-kota besar menjadi semakin panas dengan kehadiran mereka-mereka ini.

Tidak hanya secara kuantitas yang banyak (apalagi yang di Jakarta) tetapi juga dalam cara meminta yang sangat tidak ramah.

Saya menjadi dilema dalam memberikan uang/sedekah. Dikasih atau tidak ya? Kalau pengamen, selama saya masih punya recehan yang bisa saya beri, ya saya berikan. Apalagi kalau memang pengamennya yang benar-benar niat. Niat menyanyi, niat menghibur, niat membawa alat music dan niat memberikan yang terbaik dari suara yang dia punyai. Uang 10 ribupun menjadi hal yang lumrah untuk diberikan jika situasinya demikian. Tapi jika kita memberikan dalam suasana tidak aman, tidak nyaman dan penuh keterpaksaan, barangkali uang 500 rupiahpun serasa berat untuk diberikan. Lantas, itu dihitung ikhlas atau tidak?

sumber foto: anudanu.wordpress.com

Iklan

6 thoughts on “Dilema Keikhlasan

  1. kita harus memberi semua ayng kita beri kepada pengemis ataupun peminta-minta lain dengan ikhlas. Karena, walau-pun mereka berbohong dengan cara yang sangat licik-pun.. itu mereka lakukan untuk bertahan di Negeri yang Maha tidak Adil ini. Untuk makan mereka sehari-hari, untuk biaya sekolah anak/cucu mereka, ataupun untuk biaya berobat mereka.

    Jadi, bersyukurlah kita yang masih mampu utk mengupdate blog setiap hari dengan biaya internet yang sangat mahal (menurut para pengemis) setiap harinya dengan cara memberi mereka sedekah dengan Ikhlas 🙂

  2. iya kasian ya.
    aku juga gampang tersentuh.

    dua tahun di sini, mengamat2i kaum terpinggir di Taipei gitu,
    jelas banget bedanya dengan di Indonesia.
    di sini mereka menjual sesuatu, mulai dari tisu sampai bunga,
    tapi tetap berusaha.

    juarang banget yang cuma duduk dan meminta.
    udah gitu mereka sopan2 dan ga maksa, ramah nawarin dagangan, njelasin ini itu.
    salut deh.
    bikin kita juga seneng beli barang mereka.

  3. Itulah beda negara yang ingin maju dengan negara yang maju mundur, cit. Di Taiwan mungkin orang sudah sadar akan pentingya berusaha. Orang merasa malu jika hanya minta-minta.. Di Indonesia, sepertinya semua orang sudah kehabisan rasa malu, saking tak tau lagi apa yang bisa dilakukan. Beruntunglah untuk sementara hidup dan tinggal di sana…Paling tidak, kamu belajar di tempat yang pas untuk belajar. Bukan belajar di tempat yang amat ribet dan riweh seperti jakarta ini. Hehehe…. semoga cepet lulus… Amin…

  4. keberadaan pengamen dan pengemis bisa jadi salah satu pemicu makin banyaknya sepeda motor merajalela di jalanan di Indonesia, masyarakat lebih memilih motor yang sekarang denan uang 150 ribu sudah bisa membawa pulang 1 unit speda motor gress (ngga tau nanti bisa bayar angsuran apa ngga yang penting punya motor baru) ,karena keamanan dan kenyamanan di angkutan umum sangatlah kurang.

    pengamen dan pengemis sudah terbiasa menjadikan angkutan umum sebagai mata pencaharian utama, klo pengamennya bersuara merdu sih kita ngga akan protes, mungkin malah memberikan uang lebih untuk mereka. lha ini pengamennya cuma bersuara aaa.uuu..aaa…. dan ngga ada semenit langsung mintain uang… belum lagi pengemis yang dengan baik hatinya ngasih pidato sebelum meminta uang dengan isi pidato yang isinya menjelaskan bahwa dia baru seminggu keluar dari penjara, sehingga daripada dia berbuat jahat lagi, mending dia minta2 aja… jiahh…

    saya lebih memilih memberikan uang kepada masyarakat miskin yang masih mempunyai semangat bekerja dan usaha, sebagai contoh kecil ketika saya masih kuliah di jogjakarta saya melihat seorang ibu2 paruh baya yang masih semangat menjual koran di sebuah perempatan dengan panas terik matahari yang menyengat (didramatisir biar tambah seru…) kemudian saya membeli 1 koran berharga 2500, dan saya memberi dengan selembar 5000 sembari berkata kepada ibu tersebut “bu, kembaliannya disimpan saja…”

    saya lebih menghormati orang-orang seperti ibu2 tersebut daripada seorang yang hanya meminta-minta..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s