Wawancara Imajiner dengan Yesus (Part I)

Kutuliskan dalam lembaran, ketika aku mengalami kekosongan hidup

Malam itu, setelah pulang dari kantor, aku berjanji akan menemui  Yesus. Aku memang sedang mencariNya. Ada persoalan hidup yang tak bisa kuselesaikan. “Semoga semua selesai malan ini,” pikirku. Aku menyambar tas ranselku. Menghidupkan motor dan berangkat ke Kemang, Yesus sudah menunggu di sana. Sudah kusiapkan bingkisan kecil untuknya. Semoga Dia menyukainya.

Aku senang Yesus mengunjungi Jakarta. Aku bahkan belum pernah melihatnya di sini. Padahal, Dia selalu berkunjung tiap hari. Hm… Mungkin aku yang terlalu sibuk untuk menemuinya.

Opps… Itu dia Yesus… Dia sudah menungguku di sebuah cafe di Kemang. Duh, agak ramai… Tak apalah… Peduli apa mereka dengan pertemuanku di situ.

Ups sorry, pa.. Aku terlambat. Pekerjaan membuatku semakin sibuk. Jam segini, biasanya aku masih di depan komputer kantor

Ah, kau ini, nak. Selalu saja. Dari dulu kau seperti itu.

Hehehe… Tuh kan, Bapa juga tau aku seperti ini

Masih ingat dengan sakitmu saat kau sekolah itu? Ibumu menangis tiap hari. Menangisi perutmu yang tak kunjung sembuh itu. 2 Minggu, nak.. kau ada di rumah sakit. Kau tak sadar. Ibumu tiap hari di sebelahmu. Hanya Rosario yang ada di tangannya. Kau hampir menemui ajalmu. Masih ingatkah?

Ya..ya..ya… Sudahlah, Bapa… itu masa lalu. Aku masih hidup sampai sekarang, kan? Ya Untungnya…

Hm. Kau kadang tak pernah mensyukuri berkah dalam hidupmu, nak. Jagalah tubuhmu itu. Jangan sampai kau capek. Aku memberikan tubuhmu yang hebat itu bukan untuk kau sia-siakan. Engkau boleh menikmati pekerjaanmu, tetapi jangan menyia-nyiakan tubuhmu. Kau ini lemah.

Okelah, Bapa. Aku cuma ingin pekerjaanku cepat selesai. Aku tak mau menumpuk dan terlanjur banyak. Oya, ini ada hadiah dariku.

Apa ini?

Rosario dari Nusa Tenggara. Dibuat dari kayu cendana. Ini dari Omku yang tinggal di sana. Baunya wangi. Semoga kau suka

Thanks. Tapi bukannya kamu tidak punya rosario? Ini buat kau saja. Simpanlah. Berdoalah dengan rosario ini melalui perantaraan Ibu Maria. Aku mencatat, kau terakhir rosario saat kau kuliah. Sejak kau bekerja, kau tak pernah menyentuh doa ini. Padahal devosi ini sangat indah. Kau sudah lupa? Bukannya dulu yang sering mengajak doa malam, doa novena, doa rosario kala di asrama adalah seorang Anwar? Bukannya dulu kamu Seksi Liturgi Asrama?

Maaf. Aku lupa.

Hm… Manusia memang sering lupa. Barangkali kau tidak lupa. Tapi melupakan semua.

Jadi kau tidak mau menerima rosario wangi itu, pa?

Anakku yang manis, Aku dengan senang hati menerimanya. Dan Aku memberikannya kembali padamu. Supaya kau tidak lupa. Supaya kau selalu tentram dan tenang. Berdoalah. Ibu Maria menunggu doa-doamu. Oya, dia titip salam untukmu. Dia kangen dengan completarium yang sering kau nyanyikan. Kau juga tak pernah menyentuh completarium lagi kan? Padahal suaramu indah. Aku selalu mendengarnya ketika kau mulai menyanyikannya.

Satu lagi, Taize. Aku selalu ingat ketika kau mulai menyanyikan lagu: “Ubi Caritas Et Amos…” Itu lagu yang indah. Hm.. Jangan-jangan kau sudah lupa: apa itu Taize? Aku tidak berharap demikian. Tetapi aku…

Itu kan dulu, pa. Sekarang aku tak punya teman lagi untuk diajak completarium?

Kau selalu melawan.

Aku tidak bermaksud melawan

Baiklah. Aku menunggu doa-doamu. Aku tak memaksamu. Tapi aku akan selalu di dekatmu. Menghangatkan hatimu. Supaya kau selalu tenang.

Ngomong-omong, Ini bingkisan apa lagi, nak?

Itu kripik tempe dan roti kecik. Dari ibuku. Terimalah, dan jangan memintaku untuk memakannya, seperti rosario yang kau kembalikan itu padaku.

Hahaha… Ibumu selalu tau apa yang Kusuka. Ibumu memang hebat. Dia wanita yang kuat. Keluargamu itu sangat menarik. Aku suka sekali. Ibumu rajin ke gereja tiap minggu. Dia juga banyak ikut kegiatan sosial.

Dia kan sudah tua. Jadi ya memang begitu seharusnya.

Mungkin bukan masalah tua atau muda. By the way, bukannya dulu kamu juga aktif di gereja? Dulu kan kamu seringkali ikut paduan suara. Menyemarakkan tiap pesta perjamuanKu tiap hari minggu. Jaman SMP, kau juga rajin sekali mempersiapkan perjamuanKu. Menjadi misdinar, bahkan sampai menginap di gereja ketika Paskah dan Natal. Masih ingat? Sekarang kamu ikut kegiatan apa di gereja?

Tak ada. Aku males. Ga ada temen. Lagian juga jarang ke gereja.

Ada apa denganmu, nak? Sepertinya hidup spiritualmu sedang terganggu.

Sangat. Sangat terganggu

Bicaralah padaku.

Bukannya Bapa pasti sudah tau apa yang terjadi padaku. Kau kan Tuhan?

Kau perlu mengungkapkannya lewat doa-doamu. Sedangkan aku tak pernah mendengarkan lewat suara indahmu itu. Bagaimana aku bisa mengerti apa yang kauinginkan? Kau tidak rindu padaKu?

Rindu sekali

Nah, kenapa kau tak pernah menyapaKu lewat suara indah doamu itu? Kau sudah melupakanKu? Jangan-jangan Kau punya sesuatu yang baru? Yang membuatmu terlena? Apakah pekerjaan membuatmu seperti ini?

Bukan. Aku cuma males. Bisa ganti topik? Di sini aku cuma pengen cerita. Kau malah memaksa-maksa aku.

Baiklah. Aku tak memaksamu. Kau ingin cerita apa?

Ah, sudah ga enak buat cerita. Kau membuatku jadi males.

Sepertinya kau bermasalah dengan dirimu sendiri. SaranKu, cobalah untuk jujur dengan dirimu sendiri. Kau mungkin perlu banyak istirahat, banyak refleksi atas apa yang sudah kau lakukan. Kau memerlukan energi untuk berpikir. Tapi kau terlalu memaksakan dirimu.

Ya..ya..ya… Aku sudah tau.

Kau jadi cerita? Atau kau sudah terlanjur malas berbicara denganKu?

Tadi kenapa kau hanya memuji Ibuku? Lalu bagaimana dengan Ayahku?

Aku bilang keluargamu. Keluargamu ya termasuk ayahmu. Dia juga hebat. Seorang Ayah yang cinta pada keluarga dan lingkungannya. Aku tahu, selama ini, kau menganggap bermasalah dengannya. Tetapi ayahmu jelas bukan orang yang membenci anaknya. Dia sayang denganmu. Mungkin kau tidak banyak tinggal lama bersama ayahmu. Tapi diapun juga selalu memikirkanmu. Dia sekarang agak kurus. Mungkin karena sudah berumur. Kamu harus selalu memperhatikannya.

Kapan terakhir kau berkomunikasi dengannya?

Beberapa waktu lalu. Dia menelfonku ketika aku di rumah sakit

Kau tau? Betapa khawatirnya orangtuamu ketika kau masuk rumah sakit itu. Mereka sontak ingin datang ke Jakarta, menemuimu. Ayahmu juga panik. Kau saja yang tak mengerti.

Aku tau, kau juga jarang menyapa orangtuamu di rumah. Ada apa kau sekarang ini?

Budaya di keluargaku memang seperti itu. Kalau tidak ada kabar. Itu artinya baik-baik saja. Kalau ada telfon, barulah pasti ada apa-apa.

Kau tak ingin kan, tiba-tiba ditelfon dan mendengar kabar tentang kematian?

Kok jadi kematian?

Aku hanya ingin menegaskan. Jalinlah komunikasi yang baik dengan orangtuamu. Mereka ini sudah memasuki usia senja. Mereka butuh hiburan. Dan kamulah hiburannya. Anak dan cucu adalah hiburan orangtua di kala mereka tua. Sedangkan kau, jarang memberikan kabar pada mereka. Padahal mereka butuh hiburan yang menggembirakan.

Mereka rindu, nak. Mereka mengharapkanmu. Apa susahnya sih, menelfon dan mengucapkan selamat malam kepada ayah dan ibumu. Kakak dan adikmu juga. Sekarang sudah bukan jaman wesel dan telegram. Kau sudah bisa berkomunikasi tiap hari. Cobalah untuk membuka hatimu, nak.

Itu resolusiku tahun ini. Aku sedang mencobanya.

Bagus kalau kau sadar dengan hal itu.

Kau mau mengorek apa lagi tentang kelemahanku?

Kapan kau menerima sakramen tobat?

Aku lupa. 2 tahun yang lalu mungkin. Sudahlah jangan dibahas. Ini bingkisan ibuku. Oya. Jangan lupa temani aku saat aku tidur. Aku Cuma butuh teman

Nak, aku selalu menemanimu. Bukan saja saat kamu tidur. Saat kamu kerja, saat kamu merasakan kesepian, saat kamu merasa senang. Aku selalu disampingmu. Tenanglah, kau tidak akan sendirian.

Pa, maaf. Aku harus bertemu dengan temanku di Sarinah, sekarang. Aku tidak punya banyak waktu dengan Bapa. Nanti kita lanjutkan lagi ya. Nanti malam aku telfon deh.

Oya, kemaren aku sudah nge-add Bapa di Facebook. Gila ya… Temannya jutaan orang. Followers Bapa di twitter banyak juga. Aku jadi orang kesekian juta. Semoga kau tak melupakanku.

Sampai kapanpun aku tak melupakanmu, nak.

Oke.. Daaaa.. Aku pergi dulu ya

Hati-hati dan berdoalah. Aku merindukan suara indahmu, nak.

Jakarta, 12 Juli 2010

Aku Rindu PadaMu

Credit photo: oabchurch.com, baptismandchristeninggifts.com

Iklan

26 thoughts on “Wawancara Imajiner dengan Yesus (Part I)

  1. saya yakin, akan banyak yg terinspirasi dengan tulisan anda..:)
    saya pribadi mungkin akan mengungkapkan secara berbeda apabila saya mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan Yesus..namun tidak bisa dipungkiri bahwa seringkali kitalah yg tidak memanfaatkan kesempatan itu..
    yg pasti..
    tetaplah berharap dan percaya..
    tetaplah menunggu jawaban atas doa..
    sebab Dia Maha tepat waktu..
    jangan pernah putus asa >:D<

  2. Terima kasih, Mbak Olin. seperti kata-katamu, kita harus saling menginspirasi. Aku rindu dekat denganNya. Mungkin ini terjadi ketika aku terjatuh dan lemah. Ntah apa yang bisa dilakukan sebagai manusia, selain memasrahkan diri padaNya dan percaya akan keajaiban yang akan terjadi nanti… Yang paling penting adalah tetap menikmati dan semangat menjalani kehidupan… Tuhan memberkati…

  3. Senang rasanya bisa ngobrol asik dengan Tuhan tentang segala hal, termasuk pergumulan hidup kita. Mungkin Dia tahu segalanya tentang hidup kita. Dia begitu rindu untuk mendengarkan segala keluh kesah kita. hmmmmmm….bagaimana dengan kita, seharusnya??

    Mas Anwar. tulisannya sangat menginspirasi…kebetulan Aku merasakan “Rindu” yang sama baik dengan Tuhan atau keluarga. Ketika kita merasa bahwa “mereka” (Tuhan, Keluarga) berada di dekat kita. mungkin kita kita kurang peduli dengan keberadaan mereka. Tetapi suatu ketika kita sendiri, tanpa kita sadar bahwa mereka lah yang benar-benar kita rindukan…

    hmmmmmmmmm……..

  4. Khusus untuk Mbak Anataria Dewi… Terima kasih komennya… Tuhan memang selalu di dekat kita, tapi kadang kita tak mengerti bahwa Ia selalu ada. Menginspirasi ya? Semoga bisa menambah semangat dalam hidup kita bersama. Aku cukup senang bisa bertemu dengan Tuhanku selama kurang lebih 15 menit. Banyak rekamanku dengannya yang belum tertuangkan di sini. Mungkin suatu saat, aku akan menuliskannya semua. Salam sukses dan Berkah Dalem…

  5. Halo Mbak Ver… Lama tak bertemu denganmu… Lama sekali… aku membaca majalah Nirmala… Dan bangganya aku, bisa melihat Mbak Vero mendapatkan beasiswa S2. Hehehe… Selamat ya… Tuhan benar-benar baik. Dia tau yang dibutuhkan. Semoga lancar studinya. Pengen Completarium dan Taize? Hehehe.. Yuks Mari kita berdoa bersama…. Kapan kita Kopdar lagi?

  6. canggih dan sangat menginspirasi…,
    n ilustrasi gambar yang pertama, tu orang pas banget.. tampangnya mirip ama kau War….

  7. Halo, dim.. Terima kasih sudah mau berkunjung… Kamu sampai merenung di pojokan kantor? Bukannya dudukmu emang udah di pojok ya? hehehe… Semoga kau juga tak menyia-nyiakan masa mudamu. Gunakan masa muda dengan penuh kegembiraan dan semangat… Termasuk semangat melayani dan semangat berkorban.. *halah.. hehehe… Sedang memunggu Part II? Sebentar ya… Tunggu waktunya… Pasti akan aku posting lagi…

  8. Wow.thx.
    tulisan ini membuatku berefleksi lagi ttg kehidupan SMA kita.
    Bner war. tiap ada ujian pasti kmu yg ngajak i anak2 ngumpul jam 9 malam di kapel u/ novena bareng2 selama 9 hari.
    I still remember that day.

    Thx. Now I make appointment to talk with HIM.
    Skalian ijin buat repost artikel nya. There’s someone must be reminded with this.

    God Bless

  9. Hehehe… Akhirnya kau mengunjungi blog-ku, bung Hand Gun… Terima kasih ya… Mana blogmu? Kok aku tidak melihatnya. Masih ingat jaman SMA ya? hehehe… Ternyata dulu aku serajin itu ya? (mulai narsisnya). Tapi itu sudah dulu. Justru sekarang ini yang menjadi tantangan… Masihkah kita dekat dengannya???

    Untuk repost, dengan senang hati…silakan diambil.. *dikasih sumbernya ya? Mau di repost dimana?

  10. Cmn aku share d wall ku.aahahaha. tnang ja, direct link ke blog in koq.
    btw cpt bgt balasnya.ahahha

  11. Ok deh… Thanx ya… Selamat membaca-baca post berikutnya… Balesnya cepet, soalnya pas lagi online. Jadi bisa langsung bales… God Bless You… semoga sukses di luar sana…

  12. wah mantap war…
    sungguh
    menarik…
    kapan2 aku gelem dijak ketemuan…
    emang koe saiki kaya sik mbok critake pa war?

  13. well, very nice..
    good job.. i like it.. 🙂

    semua yang baca juga akan ingat, bahwa mungkin dirinya juga jarang berdoa, esp for young..

  14. Halo, Stepanus… *ngaku aja kalo namanya Budi.. hehehe.. Pie, Brother Budi? Bagaimana kabarmu di sono? baik-baik sajakah? Kamu mau ketemu sama Gusti… Tenanglah, kamu ga perlu aku. Kamu cuma butuh memejamkan mata, menenangkan hati… berdiam diri dan mengucap syukur atas apa yang sudah kamu rasakan… Insya Allah… kamu akan bertemu Sang Hyang Widhi… Hehehe…

  15. Buat Mas Yus… Terima kasih atas kunjungan dari kakak kelasku… Bagaimana kabarmu? aku juga membaca blog-mu, dan membaca kisah mengharukan yang kau tulis. Hebatnya, ada sosok wanita yang terus mendukungmu. Btw, Meh nikah kapan? Semoga cepat mendapatkan restu semuanya ya… Dan jangan lupa tetep sembahyang, biar tetap diberikan kelancaran dalam mencari pekerjaan baru.. Salam Sukses untuk Anda… !!! (by Mario Teguh…hehehehe)

  16. Anwar.. aku tak sengaja melihat link ini di yahooku yang kebetulan terkonek denganmu, trus link itu kubuka, dan kubaca. Inspiring story.. Kamu tau, ketika kamu menulis itu ada 2 roh yang sedang bekerja padamu yaitu roh jahat dan roh baik. Tapi aku gak tau sampai saat ini kamu memilih roh yang mana. Karena semua memang tergantung padamu.
    Klo kamu mau, ikutlah kegiatan magis, di jakarta ada, dikelola oleh frater-frater Jesuit. Kayaknya wita (adikku) ikutan. Kegiatan itu mengajarkanmu untuk selalu doa hening setiap hari, seperti meditasi, examen, dan menulis jurnal. Selain itu ada topik yang dibahas tiap bulannya, dari menggali sejarah hidupmu, menentukan asas dan dasar hidupmu, cara membedakan roh jahat dan roh baik, menemukan trik 2 panji yaitu panji lucifer dan panji Kristus, dan paparan mengenai 3 golongan orang di dunia. Sangat dalam pembahasannya..
    Aku sekarang sedang ikut yang di jogja, sudah jalan 6 bulan. Dan membuatku semakin dekat dengan Jesus, dan semakin tahu kehendakNya.. dengan cara mengobrol, seperti tulisanmu di atas. Bahkan bisa lebih dekat.
    Kamu tertarik? kamu bisa hubungi wita, atau kamu add FB Magis Indonesia. Terima kasih. JBU.

  17. Terima kasih Lisa atas kunjungannya… Wah, berarti sekarang hidup spiritualmu benar-benar terkelola dengan baik. Selamat!!! Semoga selalu menjadi yang terbaik. Thanx buat infonya. Suatu saat nanti akan aku coba. Aku juga sedang mencari tempat yang tepat untuk bisa aktif dalam kegiatan rohani. Semoga aku cepat menemukannya. Mungkin cara pertama yang terbaik adalah coba untuk rutin berdoa sederhana dulu. Kalau dulu sering ikut doa malam, maka sekarang dicoba untuk mendekatkan diri dalam doa…
    Menginspirasi ya? sudah banyak yang mengatakan demikian. hehehe… Semoga terus menginspirasi dalam kehidupanmu. Itu mungkin lebih tepat jika dikatakan diskusi antara aku dan diriku, yang baik dan yang jahat. Yang jahat itulah yang harus diberangus. Yang baik harus dipupuk terus, supaya tetap berkembang hingga sekarang… GBU!!!!

  18. Baguuusss…
    Sampe bingung mau mulai dari mana. Sudut tulisan yang unik!
    Dan… refleksi yang dalam. Aku jadi maluuu… plus sedih… merasa nggak seakrab itu dengan Mas Kris yang ganteng.
    Thanks for sharing… 🙂

  19. Hehehe.. Makasih mbak sisca…Kamu ga punya blog to???? Walah… harusnya kan wartawan punya blog…. Kok jadi malu sih? Mbak sisca pake baju kan? Ngapain malu???? Aku justru tidak akrab dengan Mas Kris… tapi dia yang berusaha terus mendekatiku….

  20. mas…. aku baca tulisanmu ini jam 3 pagi… rasanya jadi campur aduk… ga tau deh mau ngomong apa… ada rasa tertampar….haru…sedih…kangen…takut…dan Malu…sampe susah ditulis mas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s