Pandawa, lima pahlawan sumber seger

Sorry, banyak yang nanya. Kok blognya jadi jarang update. Ya.. maaf… (alasan klasik), untuk buka blog aja jadi ga sempet lantaran tumpukan tugas menumpuk. Yah… gitu deh, menulis cerita inipun harus rela bangun jam 3 pagi (padahal hari Minggu lho…), mata masih belok, badan masih belum ilang dari pegel lantaran pulang maen ke Karawang, plus dengan lapar luar binasa. Banyak banget halangannya… Tapi saya tetap menulis kok. Ni cerita udah lama kejadiannya. Tapi ya sudahlah… bagi saya ga ada cerita yang basi, apapun akan selalu baru jika saya yang menulis atau bercerita. Ga terlalu lama, mungkin sekitar 5 bulan lalu. (basi aaah….)

Tahun 2010, saya jadi sering pulang ke rumah (di Solo). Tercatat (halah.. kayak utang aja…), sudah 3 kali saya pulang dalam rentang waktu yang cukup berdekatan. Bukan anak mami, pulang ke rumahpun biasanya malah jarang di rumah. Maen ke sono, maen ke sini… Maklum, sejak remaja, rumah (secara fisik) bukan tempat berteduh, tetapi rumah singgah. Hanya singgah yang sifatnya sementara. Sedangkan rumah yang sebenarnya ya.. ada di mana-mana… Tetapi, rasa kekeluargaan tetap saya dapatkan di rumah. Meski sangat jarang bisa ngobrol dengan orang-orang di rumah…

Well, ngomong-ngomong soal jarang di rumah, trus biasanya saya maen kemana? Kadang maen sama temen SMA, kadang maen sama temen SMP, kadang maen ke tempat sodara, kadang kabur kemana-mana. Muter-muter jelas gitu deh… Saya ngga mau kalau cuma muter-muter ngga jelas…

Pulang ke rumah beberapa waktu lalu, membuat saya kangen dengan situasi keramaian Solo. Keramaian yang kini ada, jauh dari situasi pasca kerusuhan tahun 1998, parah total, remuk redam tidak terurus. Bagai Nagasaki dilanda bom Agustus 1945, kacau balau. Pasca kerusuhan hingga tahun 2001, pukul 7 malam, jalanan sudah sangat sepi, dan selalu terjadi. Maklum, tak ada mall, tak ada pusat jajanan, tak ada tempat hiburan. Semua dibakar dan hancur. Belum ada yang berdiri lagi. Tahun 2001 saya meninggalkan Solo, hingga sekarang. Hm… perubahan cukup terasa.

Anyway, di Solo sekarang ada mini waterboom, PANDAWA. Meski tak sebesar Waterboom Lippo Cikarang yang super duper mahal itu. Sejak saya kuliah, PANDAWA sudah dibangun, tapi saya tak pernah ada kesempatan untuk maen ke sana. Pulang beberapa waktu lalu, bersama seorang teman, saya diajak untuk maen air.. cihuy.. Masuknya cukup murah, Rp 35.000 hari Senin (dan untuk weekday).. dan Rp 50.000 (untuk weekend & hari libur). Cukup worth it jika dibandingkan dengan fantasi-fantasi air yang disajikan… Bersama dengan sahabat lama saya… saya naek motor ke daerah Solo Baru… Bermain air..layaknya anak kecil yang tak pernah dimandikan… hahaha….

Mau ke sana? Ayooooooo ke Pandawa ….!!!!!!

Credit photo: Koleksi pribadi, Anwar Riksono

Iklan

4 thoughts on “Pandawa, lima pahlawan sumber seger

  1. hehe.. worth it lah harga segitu.. btw, Waterboom Lippo Cikarang aku pikir adalah yang termurah di area Jabodetabek.. sama kok dengan Pandawa, 35k on workdays, 50k on weekdays. Kalo yang paling mahal di Snowbay + Pantai Indah Kapuk.. Rada murah lagi, the Jungle di Bogor..
    hehe.. bukan promo lho aku, just share ajah.. kebetulan waterboom di Lippo my fav.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s