Product Availability & Switching Product

Pemasaran dan display suatu produk dalam alur kegiatan jual produk bagi perusahaan, adalah komponen bisnis yang penting. Kalau sudah diproduksi dengan baik, sebuah barang hendaknya bisa dipasarkan dengan sesuai target dan segmen yang hendak disasar dari produk itu sendiri. Ini adalah awal dan ujung sebuah proses bisnis. Keberpindahtanganan suatu produk dari produsen hingga ke tangan konsumen adalah hal utama yang tetap harus dijaga prosesnya.

Bayangkan, jika produk itu sudah diproduksi secara cermat, bagus, dikemas dengan menarik, bahkan dihasilkan dari sebuah riset penelitian ilmiah luar negeri, tetapi barangnya susah sekali didapatkan oleh calon pembeli. Oleh karenanya, usaha produsen memasarkan, juga harus tetap menjaga secara cermat, apakah produknya tersebut memang benar-benar sampai di masyarakat yang disasarnya. Dan benar-benar berada di tangan konsumen.

Saya punya cerita yang menarik, (sebenarnya biasa… tapi mungkin ini adalah permainan bisnis perusahaan dan seringkali dialami oleh banyak orang), mengenai availability product dan kemungkinan untuk switching product.

Jaman sekarang ini, pastilah banyak orang yang menggunakan produk-produk personal care. Ya sebut saja: sabun mandi, pasta gigi, shampo, sabun muka, sikat gigi, dan sebagainya. Produk-produk tersebut sudah banyak sekali digunakan. Bisa kita katakan, hanya orang yang tinggal di daerah terpencil yang jarang menggunakannya. Maklum, produk-produk personal care adalah produk modernisasi yang membuat orang lebih tampil bersih dan menunjukkan identitas perawatan diri. Sekarang, jarang ditemui orang-orang menggunakan batu-bata untuk sikat gigi. Ya kan?

Nah, untuk masalah produk personal care, saya termasuk orang yang tidak mau switching alias berganti-ganti produk. Saya termasuk orang yang setia menggunakan produk personal care. Salah satu produk setia yang saya gunakan adalah shampo. (mungkin tulisan ini akan saya balut dengan menyebutkan merk-merk saja)

Dari sejak SMA, saya menggunakan Pantene. Sempat ganti Lifebuoy shampoo karena hanya ingin mencoba yang baru, sempat juga menggunakan Rejoice yang katanya bisa meluruskan rambut, sempat menggunakan Dove karena katanya bisa sangat lembut. Tapi, itu hanya saya gunakan 1x saja, setelah itu, saya gunakan Pantene lagi.

Dan… setelah bertahun-tahun menggunakan Pantene (yang berwarna biru – Anti Dandruff), saya akhirnya beralih ke Clear. Satu alasan mengapa saya tidak menggunakan Pantene lagi. Alasan sepele yang seharusnya perusahaan perlu tahu. Saya tidak menemukan Pantene di sebuah pusat perbelanjaan keluarga (baca: ritel) yang sangat terkenal itu di Permata Hijau (tempat saya biasa bebelanja).

Produknya tiba-tiba menghilang. Kalaupun habis, harusnya ritel sudah menyediakan stok agar barang tersebut tidak ada. Dengar-dengar, memang ritel bisa menuruti keinginan si produsen untuk menghilangkan produk pesaingnya. Ya.. saya tak tau, apakah produk Pantene dihadang dan kemudian di stop tidak dipajang di ritel tersebut. Saya tak jelas apa alasannya.

Tiba-tiba, mata saya sudah melirik Clear Men. Tepat di sebelah rak yang biasanya dipajang oleh Pantene. Ya.. akhirnya saya memilih shampo itu. Kali ini, saya akan pilih Clear Men untuk rambut saya. Apalagi, ditambah iklan yang dibombardir di banyak media. Bahkan media-media besarpun dipasangi iklan ambasnya si Clear Men itu, siapa lagi kalau bukan Christiano Ronaldo. Iklan-iklan itu nampaknya menyihir saya sebagai seorang laki-laki untuk menggunakan shampo laki-laki juga. (lihat gambar si CR di cover-cover majalah terkenal – di waktu yang bersamaan. Bahkan ada iklan creative di halaman depan kompas, di Hai juga ada).

Nah, liat kan? switching product atau berpindah produk yang lain adalah kemungkinan yang sangat besar bagi konsumen. Apalagi, bombardir iklan yang memang gencar. Dan parahnya, switching product ini terjadi karena availability product nol besar. Barangnya susah didapat. Bisa jadi, harganya sama, kualitasnya sama, wanginya sama, fungsinya sama, tetapi berbeda ketersediaan. Apalagi, untuk produk-produk yang berada dalam kategori barang yang ‘Berkemungkinan pindahnya tinggi’. Personal care adalah barang-barang dengan kemungkinan pindahnya tinggi. Makanya, perusahaan harus sadar betul hal itu.

Saya tidak akan membongkar bagaimana peritel memasang dan mendisplay produknya. Kejahat-kejahatan pasar ritel dan kejamnya bisnis ritel tak mampu saya ceritakan, data kurang akurat. Bisa-bisa, saya dipenjarakan karena pencemaran nama baik. Yah, intinya, peritel bisa memajang produk mana yang membayar lebih gedhe pada mereka. Ritel-ritel besar bisa men-stop produk yang diinginkan oleh produsen-produsen tertentu.

Iklan

2 thoughts on “Product Availability & Switching Product

  1. setuju ih.
    berusaha konsisten pada satu merk personal care, tapi kenyataannya availability memang menentukan.
    apalagi kalo sudah di luar begini.
    untung masi ada si Clean and Clear, urusan muka rada ribet dikit kalo gonta ganti.

  2. hahaha.. sebagai karyawan ritel, saya tergelitik membacanya.. ya begitulah.. aku juga ga mau comment banyak2.. Apalagi saya tau dan responsible sama proses alur finance nya.. Xixixi..
    well, tapi aku setuju deh.. susah banget sekarang cari peritel yang menyediakan Selsun Yellow..
    prinsip utama dalam retail, siapa yang kuat modal atau promosi, dia yang menang.. tentang bagaimana proses promosi di dalamnya, biarlah menajdi rahasia peritel..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s