Antara Aku dan Jepang

Minggu lalu saya datang ke festival Hellofest 2009 di Balai Kartini – Jakarta. Salah satu acara yang menarik dari festival ini adalah peragaan cosplay. Cosplay merupakan peragaan pakaian beserta aksesoris dan rias wajah yang menyerupai tokoh-tokoh anime, manga, dongeng, pemain, penyanyi, musisi idola dan sebagainya.

Para cosplayer (sebutan untuk pemakai cosplay) ini menggunakan bermacam-macam kostum yang menarik, unik dan beragam. Ada yang berdandan ala Kotaro Minami – Ksatria Baja Hitam sampai ada juga yang menggunakan kostum Gatotkaca. Memang, cosplay di Hellofest ini masih didominasi oleh tokoh-tokoh manga, anime dan superhero asal Jepang.

Namun, ada juga peserta cosplay yang meniru gaya penyanyi group asal Taiwan, F4. Ada juga yang menggunakan kostum tokoh-tokoh Star Wars. Pokoknya unik semua. Ada juga yang biasa, dan malah terkesan tidak jelas. Meskipun begitu, pengaruh Jepang masih tetap mendominasi.

Maklum, cosplay sendiri memang banyak dipengaruhi oleh budaya Jepang. Kosupure (bahasa Jepangnya cosplay) di Jepang, akan banyak ditemui di acara-acara konser group musik bergenre visual kei.

Nah… ini adalah kesekian kalinya, saya mulai bersinggungan dengan budaya Jepang. Saya selalu tertarik dengan seni dan kehidupan orang-orang Jepang. Saya kemudian mengingat-ingat lagi, bukan kali ini saja saya bersinggungan dengan hal-hal yang berbau jepang-jepangan.

Saya akan menceritakan sedikit tentang singgungan saya dengan Jepang.

“Mbaknya yang jadi cosplayer seksi banget”, pikirku. Dan dia ga mau diajak ngomong bahasa Indonesia… aaarggghh.. benar-benar menghayati karakter

Pertama…

Di kelas 3 SD, saya memiliki sahabat baru dari Jepang. Dia masuk ke sekolah saya, di SD Marsudirini – Solo. Hanya 1 tahun berada di Indonesia. Waktu itu, ayahnya sedang ada proyek bendungan Bengawan Solo, dan dia bersama keluarga diboyong ke Indonesia.

Saya masih ingat betul namanya, Hiroya Tsuchida. Saya kini tak tau keberadaannya. Entah dia masih hidup atau tidak. Benar-benar tak tau keberadaannya sekarang. Saya mencarinya di Facebook, tetapi tidak menemukan Hiroya yang saya cari. Mungkin orang Jepang tak begitu suka dengan Facebook. (menurut data Alexa.com – 22 Desember: Facebook berada di urutan ke 40, situs yang sering dikunjungi di Jepang. di Indonesia, Facebook di urutan nomor 1, mengalahkan google.co.id dan Yahoo! )

Tetapi, saya masih ingat betul. Dia mengajari saya membuat senjata pistol (alias: tembak-tembakan) dari kertas kado. Kalau dia yang bikin, sangat bagus dan kreatif. Giliran saya yang buat,… ya ampun… si pistol ini letoy… Ga bisa dipakai.. Ck..ck..ck.. Dasar, orang Jepang satu ini memang kreatif dan unik. Itulah kenanganku bersama Hiroya.

Bahasa Indonesianya agak kacau, tapi ya sudahlah.. yang penting saya tetap bisa berkomunikasi dengannya. Malah, dia sering mengajari saya kosakata Jepang yang sederhana. Sepertinya, dia Jadi kamus Jepang – Indonesia berjalan… hehehe…

Hm… Saya berpisah dari Hiroya.. dan dia mungkin sudah tak bisa mengenali saya lagi kalaupun suatu saat bertemu. Saya ingin bertemu dengannya lagi. Memastikan, sekarang dia jadi apa ya? Hm…

Para banci ala Jepang.. endiiaanggg bboooowww…..

Kedua…Saya bersinggungan dengan orang Jepang lagi…

Kali ini, dia benar-benar jadi sahabat saya, namanya Satoshi Kasai. Saya bertemu dengannya 2 tahun lalu ketika di Manila. Orangnya lucu mampus… Menertawakan ‘bahan tertawaan’ yang sama. Sama-sama suka menertawakan hal yang berbau seks dan porno. Hahaha… Contoh kecil… waktu itu, kita ngintip cewek dari bis yang retsleting celana si cewek itu terbuka lebar *dan si cewek cantik asli Filipina itu tidak sadar… Wah, ternyata nafsunya gedhe juga si Satoshi… hakakakak… Masih banyak kelucuan yang kami buat.

Saya menyukai cara dia berkomunikasi. Ceplas-ceplos dan tidak malu. Mungkin pengaruh budayanya yang seperti itu. Dan satu lagi, orangnya cukup pintar dan bisa mengatasi situasi. Hm… Pengaruh budaya bisa jadi, atau pengaruh personal bisa juga..

Sahabat saya ini cukup baik. Di akhir pertemuan kita, dia dengan keikhlasannya, memberikan Jinbei (baju musim panas untuk lelaki di Jepang) kepada saya. Padahal, harganya cukup mahal. Hm… sekitar 300 ribu rupiah kalau di kurs-kan. Dia bilang: “Tak apa… kamu kan sudah memberikan sandalmu yang bagus ini untukku..”

Betul sekali. Saya memberikan sandal padanya. Sandal anyaman bambu yang harganya hanya 15 ribu. Saya beli di Mirota Batik. Rugi di elo, untung di gue deh… hahaha.. Begitulah pikirku.

Setelah itu, kami memang berpisah. Kemudian aku berpikir lagi, “Kapan aku bisa menemuinya lagi ya???” – Foto sebelah kanan, saya dengan Satoshi Kasai

Singgungan ke tiga adalah pertemuan dalam waktu singkat.. hanya 2 jam saja, di dalam pesawat.

Saya duduk di sebelah Profesor asal Jepang, ketika balik dari Singapura ke Jakarta. Profesor ini ternyata punya istri orang Indonesia, tapi semua keluarganya ada di Jepang.

Bahasa Indonesianya lancar, tapi agak lucu. Bahan disertasinya juga tentang Indonesia. Hm… Dia benar-benar tertarik dengan Indonesia. Saya berdiskusi ngalor ngidul dengan dia. Padahal, saya belum mandi. Sikat gigi aja belum waktu itu. Maklum.. dari Singapura terlalu pagi… Jadi ga sempet mandi, langsung menuju Bandara. hahaha… *entah bau apa yang tercium dari si Profesor itu… hihihi… maaf ya prof.

Tapi pada intinya, dia baik dengan saya. Bahkan menawarkan untuk main ke rumahnya kapan-kapan. Entah dia basa-basi atau tidak. Tapi setelah dari pesawatpun, dia benar-benar menunggu saya untuk mendapatkan tas saya dari bagasi. Berharap bisa keluar bandara bersama-sama. Hm… Baik ya..

Dalam obrolan kami, saya jadi ingat Satoshi Kasai. Nah, kebetulan, saya ketemu profesor Jepang yang lagi singgah di Indonesia ini. Nantinya, dia akan balik ke Jepang lagi. Kalau begitu, saya akan titip sesuatu untuk Satoshi Kasai di Jepang melalui dia.

Benar saja, ketika si Profesor ini memberikan ceramah dan diskusi di UGM, saya menemuinya dan mengantar hadiah saya untuk Satoshi Kasai. Saya titipkan hadiah itu padanya. Semoga saja, hadiah itu sampai di tangan Satoshi. Hm…

Dua bulan setelahnya, Satoshi Menelfon saya dan berkata: “Anwar.. aku mendapatkan hadiah darimu.. Thank you soooooo much…” Saya bayangin dia ngomong gitu sambil mencucu bibirnya.. Hahaha… Dasar Jepang.

Baik kan si Profesor itu???

Entah kenapa, Japanesse yang saya temui ini baik semua. Apakah kebetulan mereka ini orang baik? Atau memang orang Jepang itu adalah orang yang bersahabat? Saya jadi memikirkan film-film porno seks di jepang, yang (kebanyakan) bersifat hardcore… Hm.. Apakah benar demikian kalau urusan ranjang? Saya tak tau?

Lalu apa yang bisa saya simpulkan tentang Jepang?

Saya pernah membaca tentang Jepang Jempol (meski hanya separo), sebuah buku yang mengupas tentang keberhasilan masyarakat Jepang dalam semua hal, termasuk bisnis dan industri. Buku ini saya colong dari gudang ruang tidur Pendamping Asrama saya jaman SMA dulu. Karena tergeletak tidak dipakai, ya sudah.. saya ambil saja.

Buku itu memang menceritakan sejarah Jepang hingga mencapai keberhasilannya sekarang ini. Perjalanan yang amat sangat perih, apalagi saat pemboman Hiroshima dan Nagasaki di perang dunia kedua. Tapi setelah itu, Jepang bangkit.

Yang bisa saya petik dari membaca buku dan bersinggungan dengan akivitas para Japanesse ini adalah pembentukan karakter dan sikap yang harus dibangun sejak dini. Sikap ramah, santun, lucu, baik dan bisa mencairkan suasana harus dibangun untuk menjalin relasi dan usaha character building. Inilah poin penting dalam menciptakan keberhasilan hidup dari orang Jepang.

Tidak lupa pula, semangat, kerja keras dan kreatifitas juga menjadi poin yang penting

Selamat mencoba.

Ternyata hanya saya yang mandi sebelum sarapan… si Jepang tak pernah mandi pagi… *jorok ni ye…

Foto: @ifajarwidi *wartawan detik inet dan koleksi saya sendiri

*) Penulis adalah Angkatan Doraemon asal Jepang


Iklan

3 thoughts on “Antara Aku dan Jepang

  1. Menurut cerita ma dosenku yang ngurusin Kerjasama Jogja-Kyoto
    orang Jepang itu menyukai dan percaya hubungan yang personal,
    jadi misalnya kamu udah berteman baik ma Japanese, mereka akan percaya banged ma kamu. Kerjasama sistercity Jogja-Kyoto pun berawal dari hub personal lo. So tentang tawaran Prof Jepang itu, kamu pasti akan dijamu war,kalo beneran ke Jepang. Believe me… tapi ada sisi lainnya si, orang Jepang tu kiblatnya ke Barat so lebih mandang menghargai mereka-mereka yang dari Barat. itu dulu si ga tau deh kalo skrang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s