Aceh, Jubing dan Kenangan Desember

Sebuah tawaran menarik datang dari sahabat saya waktu kuliah. Saya diajak untuk menemaninya menonton perform dari Balawan & Batuan Ethnic Fusion di World Music Festival IVGKJ (Gedung Kesenian Jakarta), hari Jumat. Hm… Ya langsung saya iyakan. Mumpung hari Jumat malam, bisa keluar dan sambil refreshing di akhir pekan (11/12/09) sambil denger musik tradisional kontemporer…

Acaranya memang di tempat yang agak formal. Untungnya, saya tak salah kostum dengan menggunakan batik (Hari Jumat kan memang hari batik bagi saya…). Meluncurlah saya dari kantor langsung ke GKJ. Untung ada tumpangan temen sampai ke Monas. Jadi, lebih deket. *disambung dengan naik trans Jakarta tentunya. Yap… Pukul 20.20 saya sampai…

Sampai di sana, saya sangat menikmati perform dari Balawan yang membawakan beberapa lagu dengan petikan gitar hebatnya. Dan satu aransemen yang sangat saya sukai adalah The Dance of Janger (yang… sepertinya dibawakan secara mendadak oleh Balawan dkk)… Sebulan sebelum pertunjukan ini, saya mendownload aransemen The Dance of Janger karya Balawan & Batuan Ethnic Fusion .. Sangat Indonesia… dengan bunyi tabuhan saron Bali yang khas…

Balawan & Jubing Kristianto; foto: Leonardus Surya

Ketika mendengarkannya, saya benar-benar ingin menari Bali dan meloncat-loncat bak Leak kesurupan. Tapi tak mungkin dong saya melakukannya saat itu.

Dan…

Beberapa bintang tamu dihadirkan saat perform Balawan dan kawan-kawan. Salah satu bintang tamu yang menarik bagi saya, saat konser itu adalah Mas Jubing Kristianto…salah satu gitaris fingerstyle Indonesia. Petikan gitarannya… MUANTEP bener deh… Hmmm… Mengharu sendu…

Inilah momen yang menarik bagi saya. Mas Jubing membawakan dua buah aransemen gitar akustik, yaitu: Ayam den Lapeh dan Bungong Jeumpa.

Lagu daerah asal Sumatera Barat, ‘Ayam den Lapeh‘ disuguhkan dengan tetap tidak meninggalkan unsur melayunya. Bagus, mengalun dan mendayu… Diam-diam saya ikut menyanyi. Membayangkan saya menyanyi di depan, diiringi oleh Mas Jubing.

….

Sikua capang sikua capeh

Saikua tabang saikua lapeh

Lapehlah juo nan ka rimbo

Oi lah malam juo….

….

Tak kalah menarik.. Lagu yang kedua yang disajikan Mas Jubing adalah Bungong Jeumpa

Lagu ini kemudian menggugah perasaan saya. Bungong Jeumpa adalah lagu tradisional Aceh yang menceritakan mengenai Bunga Jeumpa (jenis tanaman berbunga dari suku Magnoliaceae). Bunga ini termasuk tanaman yang tumbuh di daerah tropis dan subtropis di Asia Selatan dan Asia Tenggara serta Tiongkok selatan. Berbentuk seperti Cempaka berwarna kuning. Manis, wangi dan berkarakter.

Mendengar iringan lagu Bungong Jeumpa dari Mas Jubing, saya juga teringat akan momen perpisahan saat SMA dulu. Ketika perpisahan SMA, Paduan Suara angkatan menyanyikan lagu ini, diiringi piano dari teman saya. Cukup mengharukan jika mendengarkannya kembali. Sepertinya, tak mau meninggalkan teman-teman SMA. Untuk kali ini, Bungong Jeumpa menjadi sebuah lagu perpisahan bagi saya.

Mendengar iringan lagu Bungong Jeumpa dari Aceh, (dan dipetik melalui gitar yang amat manis dari Mas Jubing), saya kemudian mengingat dengan miris, sebuah peristiwa duka yang terjadi pada bumi Nanggroe Aceh Darusalam tahun 2004 silam. Di Bulan Desember, tepatnya tanggal 26, adalah peristiwa yang memilukan di serambi Mekkah itu. Bencana Gempa dan Tsunami yang menyapu habis negeri tanah rencong.

Jubing Kristiantofoto: Leonardus Surya

Keindahan Bunga Jeumpa seakan luntur bahkan sirna, hilang ditelan ombak. Peristiwa yang amat tragis. Duka itu masih membekas. Terbersit pemikiran-pemikiran yang tak jelas mewarnai otakku mendengar lagu Bungong Jeumpa. Saya bukan orang Aceh, tapi keindahan lagu tersebut bukan sekedar ada di liriknya, tetapi Mas Jubing sudah membuatnya menjadi sebuah warisan musik budaya luar biasa bernilai melalui petikan gitarnya yang amat sangat keren.

Semua penonton bertepuk tangan riuh.

Dan ternyata, baru kali ini Mas Jubing Kristianto dan Balawan berada dalam 1 panggung untuk menunjukkan keahlian mereka dalam bermain gitar. Hm… Saya amat sangat beruntung melihat jari-jari tangan mereka berdua menari-nari di antara senar-senar gitar akustik yang sangat indah…

Malam itu, adalah hiburan musik tradisional kontemporer yang akhirnya bisa saya dengarkan lagi…(di Gedung Kesenian Jakarta lagi…) Huah… senangnya bisa refreshing di antara penatnya Jakarta… Musik akan membantu Anda semua…

Thanx Balawan.. Thanx Mas Jubing.. dan Thanx Leonardus Surya atas ajakan Anda…

*) Saya dapet info tentang Bungong Jeumpa disini.

Iklan

6 thoughts on “Aceh, Jubing dan Kenangan Desember

  1. aku Jubing lover!!
    aku punya CD albumnya, Becak Fantasy, Delman Fantasy dan Hujan Fantasy….kabeh uapik…..nunggu album berikutnya nih, pasti kubeli!
    Jubing memang gitaris handal, maen solo ok, maen bareng juga OK…
    Ngiri karo kowe, kalo aku di jakarta pasti aku nonton acara itu juga deh…

  2. @Mas Purwo..
    Hahaha… Salam kenal juga Om Purwo.. Bukannya kita sudah kenal lama ya? hahaha.. Kalau di blog, kayaknya jadi malah formalitas… Selamat datang di Blog. Saya akan jadi pengunjung setia blog Om Purwo… hihihi…

  3. @Mbak Na…: Ha? really??? wah.. Saya ternyata sudah menemukan Jubing Lover’s nih… Sudah gabung jadi penggemar Mas Jubing di Fesbuk? Kalau belum… monggo bergabung lho.. *kok malah saya yg jadi promosi… hehehe… Wah… coba kalau Mbak Na ke Jakarta.. pasti jingkrak-jingkrak nonton Jubing Konser.. hihihi… *lebay deh… Nanti Mas Jubing kusuruh dateng ke Sulawesi Selatan deh… biar bisa menghibur mbak Na yang kesepian di sana… hahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s