Saat ajal hampir menjemputku (part ii)

Bayangan kematian masih ada dalam diriku. Kali ini, Tuhan memang masih mencintaiku. Dia masih memberikan kesempatan untuk hidup yang kesekian kalinya. Kadang kita tidak menyadari itu. Tapi aku sadar, bahwa Tuhan itu amat mencintaiku.

Ini adalah sebuah peristiwa yang selalu kuingat, dan akan aku bawa sampai ajal menjemputku nanti. Sebuah peristiwa menyeramkan, dan aku tidak berharap akan mengulanginya lagi. sebuah kecelakaan, yang hampir saja merenggut nyawa kami bersama. Kami? Ya… Aku, Ibuku dan ayahku. Sebuah kecelakaan naas yang pernah menimpa kami.

Suatu ketika, kami bertiga jalan-jalan (dengan sepeda motor) di Nglipar – Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami memang punya rumah di sana, rumah nenek di sebuah bukit. Ekstrim kan? Betul kok… di atas bukit itu memang cuma ada rumah nenekku. Dan aku sering main ke rumah ini.

Waktu itu, aku kelas 5 SD, setahun setelah peristiwa ‘ajal yang hampir menjemputku’ itu. Setelah beberapa jam kami di rumah nenek, aku merengek untuk maen ke Jogja. Aku meminta dan memohon-mohon pada ayahku untuk mengantar ke Malioboro Jogja. Aku ingin sekali ke sana.

Aku masih ingat sekali, saat itu ayahku hanya bilang, “Nglipar ke Jogja itu sama dengan Nglipar ke Solo. Kalau kita ke Jogja, itu sama halnya dengan dua kali bolak-balik Nglipar-Solo. Jauh banget,” kata ayahku dengan bahasa Jawa. Tetapi Ibu melunakkan, “ya sudah, pak.. Ke jogja dulu juga ga apa-apa. Sekalian maen-maen.” Peran Ibu memang selalu melunakkan suasana.

Mungkin ayahku sudah punya firasat tidak baik. Karena awalnya dia menolak untuk memboncengkan kami. Ditambah lagi, nenek yang menangis karena ga mau ditinggal oleh anak dan cucunya untuk pulang. Hm… Tapi aku suka memaksa. Ga mau tau kondisi dan harus dilakukan. Keras kepala untuk melakukan sesuatu. Susah untuk diberitahu. Itulah pembawaanku dari dulu.

Tapi akhirnya kami berangkat ke Jogja… Berpamitan dengan nenek yang menangis.

Jalan antara Nglipar – Wonosari – Jogja sangatlah mengerikan. Kalau sekarang, jalan ini sudah agak lebar dan halus. Pada tahun 1996-an, jalan ini belum mulus, masih banyak lubang dan masih sempit. Padahal, ini adalah jalan utama dan satu-satunya yang menghubungkan antara Jogja dan Wonosari Kota (Ibukota kecamatan di Kabupaten Gunungkidul). Namun, satu hal yang tidak berubah sampai sekarang, jalan ini tetaplah berliku dan menakutkan pada setiap tikungannya.

Salah satu tikungannya dinamakan “Irung Petruk”, dalam bahasa Indonesia berarti Hidung Petruk. Mengapa dinamakan demikian? karena bentuk tikungan ini sangat tajam dan menikung seperti hidung Petruk, tokoh boneka pewayangan Jawa, yang termasuk dalam komposisi Punakawan. Di lokasi ini, satu sisinya terdapat bukit yang menjulang tinggi dan sisi lainnya adalah jurang yang amat mengerikan.

Perjalanan dari Nglipar dimulai…

Aku tertidur di tengah, ayahku yang mengendarai motor dan ibuku yang berada di belakang. Kantukku sudah menyerang dan sama sekali tidak tahu apa yang ada sepanjang perjalanan.

Tiba-tiba aku terbangun kaget, karena teriakan Ibuku: “Awassssss……..” brrrukkk… dueeeerrrrrrrr….

Aku terjatuh, di sisi jurang. Dan kemudian gelap. Pingsan mungkin… Aku mencium batu-batu di sebelah jurang itu. Kemudian dengan cepat aku tersadar. Aku melihat Ibuku dan Ayahku juga terjatuh. Kami bertiga terlempar dari sepeda motor Honda 1994 kami.

Aku masih bertanya-tanya ada apa ini? Aku tidak kuat berdiri. Semua berlangsung begitu cepat dan akupun tidak mungkin berjalan. Akhirnya aku digendong ke sebuah rumah di pojokan si Hidung Petruk itu.

Ternyata telah terjadi sebuah kecelakaan dan kami menjadi salah satu korbannya. Kecelakaan karambol, yang melibatkan 1 truk, 1 bis, 2 mobil dan 2 sepeda motor. 4 Orang meninggal dunia (yang menjadi penumpang di bis, karena menabrak bukit). Dan Truk hancur berantakan. Tapi si sopir truk selamat.

Aku tak tahu bagaimana terjadinya, secara pasti. Tapi dari cerita, kecelakaan itu adalah kesalahan si sopir truk yang hendak membalap kami dan mobil di sebelah kami. Dan ketika akan membalap, ternyata di arah berlawanan ada bus yang juga melaju kencang dan ada mobil di belakangnya. Tabrakan antara bis dan truk-pun tidak dapat dihindari. Truk berusaha menghindar tapi terlambat, dan bus yang hilang kendali akhirnya menabrak sebuah bukit. Terjadilah kecelakaan tersebut. Sedangkan posisi kami berada dalam kondisi terjepit di pinggir jurang, karena truk yang secara tiba-tiba banting stir. Untunglah, ada pembatas jurang. Jika tidak, entah jadi apa nasib kami kalau sampai masuk ke jurang tersebut.

Kami masih hidup dan diberi kesempatan hidup.

Cucuran darah di kaki ayahku tak menyurutkan niatnya untuk menghajar habis-habisan si sopir truk. Si sopir truk jadi bulan-bulanan. Polisi dan ambulans cepat datang, semua diselesaikan secara cepat.

Kami dijamu oleh si pemilik rumah pojokan di Hidung Petruk itu, untuk menenangkan hati dari kecelakaan naas itu. (sampai sekarang, rumah itu masih ada, tapi selalu tertutup kalau saya melewatinya, mungkin rumah itu sudah tak dipakai lagi).

Kami tetap melanjutkan perjalanan ke Jogja dengan hati tak tenang dan perasaan yang sama sekali tidak nyaman. Bayangan kematian masih berada di pikiran kami.

***

Kita tidak tau, kapan akan dipanggil oleh Nya. Kita tidak akan tahu, kapan Tuhan akan mengakhiri semuanya. Itu adalah rahasia Illahi yang tidak bisa kita jawab. Namun, aku tetap bersyukur, bahwa semuanya masih bisa kulihat dengan indah. Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk hidup dan kesempatan untuk menikmatinya.

*Sampai sekarang, setiap aku melewati hidung petruk, aku selalu berjalan perlahan. Selalu kuingat peristiwa itu. Mengerikan dan sangat menakutkan. Banyak yang bilang, “Hati-hati dengan Irung petruk, banyak kecelakaan terjadi,”. Entah berapa orang yang sudah terenggut nyawanya di situ.

Credit gambar: wikipedia

Iklan

8 thoughts on “Saat ajal hampir menjemputku (part ii)

  1. wah, di mana-mana, yang namanya “irung petruk” memang berbahaya…semua pengendara harus hati-hati kalau nggak ingin celaka atau mencelakakan yang lain..
    Syukur ya War…Tuhan masih melindungi kalian…

  2. wah, begitu mbaca critamu itu, aku lgsg tny sm mbah uti..
    eh, beliau mlh curhat dr awal sampe akhir crta itu.. wadoh
    mbah kkung nggali yo?hehe

  3. @Landak… Beruntungnya dirimu.. hahaahah..
    @Mbak na… dimana saja, mbak??? di kotamu – sulawesi selatan banyak ya???
    @Nduk ian… Hahaha… Mbah uti curhat apa nih???

  4. Mas, ngliparnya mana, thun 90 sd 94, sya msih sering bolak balik main dri nglipar ke jogja.Asal qta hati2 dan tahu jalur, sya kira tdak ad yg perlu dtakutkan.

  5. Ping-balik: DETIK-DETIK KECELAKAAN KERETA SENJA UTAMA « Anwariksono on Wordpress

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s