Kehilangan, Tak pernah menyenangkan

Bagi sebagian besar orang, kegiatan ‘menunggu’ adalah aktivitas yang paling menyebalkan. Tapi, kalau saya, kegiatan ‘menunggu’ adalah aktivitas yang biasa saja. Menunggu kedatangan seseorang, atau menunggu datangnya hari ulang tahun, atau apapun itu… yang pasti, menunggu bukanlah hal yang saya benci. Dan juga bukan aktivitas yang saya sukai. Ya.. biasa saja…

Alasannya singkat: ya.. karena saya selalu punya aktivitas dalam menunggu. Sebisa mungkin melakukan sesuatu dalam rangka penyelesaian aktivitas menunggu. Apapun itu.

Lantas, apa yang tidak saya sukai? Hm… Ada satu hal yang paling saya benci dan tidak saya sukai. Hal itu adalah ‘Kehilangan’. Beberapa orang sudah tau sifat saya ini. Sifat tidak suka akan ‘kehilangan’.

Beberapa waktu lalu, saya (kembali) kehilangan Handphone. Hal itu amat sangat mengecewakan bagi saya. Meski demikian, saya tidak sampai menangis dan termehek-mehek karena kehilangan itu.

Tak perlu diceritakan bagaimana kehilangannya, tapi barang itu adalah Handphone yang saya beli dengan duit saya sendiri, K750i yang saya beli bulan Juni 2007. Artinya, sudah 2 tahun lebih si HP ini tinggal bersama saya.

Nah, ‘kehilangan’ yang saya maksud bisa bermacam-macam. Bisa berupa barang bergerak dan barang tidak bergerak (wah.. semacam ingin menggadaikan barang di Pegadaian saja – Kalau barangnya bergerak, bisa saja kita sebut sebagai ‘perpisahan’ ). Dan semua bentuk kehilangan (atau: perpisahan) itu membuat saya sakit hati. (baca: berduka).

Mengapa saya tidak suka kehilangan (dan perpisahan)?

Ya.. karena sifat dasar saya yang suka menyimpan dan memelihara (meskipun tidak tlaten). Saya suka menyimpan barang-barang milik saya sampai setua umurnya. Bahkan, kadang sudah tidak dipakai lagi, tetep saya simpan. Saya tak pernah mau membuangnya, karena itu selalu membuat kenangan untuk saya.

Satu contoh barang adalah sepatu putih model sneakers saya yang dibeli tahun 2007. Sepatu ini sudah robek-robek di kanan dan kiri. Parahnya, tetep saya pakai tuh.. meski saya sudah punya 4 sepatu baru. Sepatu ini mengingatkan saya, ketika saya membeli bersama sahabat saya si Pupung Arifin.

Begitu juga dengan baju Dagadu dengan judul ‘Matamu‘ di belakangnya. Baju ini sudah robek-robek. Warna putihnya sudah pudar dan banyak terkena bercak-bercak amat banyak. Lengannya sudah saya gunting karena robek yang amat parah. Dan saya jahit sendiri dengan rapi sehingga terlihat seperti model baju tanpa lengan. Maklum, baju ini sudah ada sejak SMP. Dan sampai sekarang, sudah bekerjapun, masih tetap saya pakai si ‘Matamu’ ini…

Ntah berapa belas baju SMP & SMA saya yang masih saya pakai sampai sekarang. Baju-baju seragam SD sampai SMA, masih utuh dan lengkap. Tak satupun yang hilang.

Meski sudah berganti dompet kulit yang beli di Inacraft (Pameran Kerajinan Indonesia di JCC-Senayan) 4 bulan yang lalu, saya tetap menyimpan dompet pemberian cewek saya yang sudah amburadul, bau dan sobek-sobek. Saya ingat dompet itu diberikan pada saya di ulang tahun ke 19.

Bahkan, dompet yang sebelumnya saya beli sendiri ketika SMA-pun masih ada. Tersimpan dengan baik di sebuah kardus. Ini cuma menandakan, betapa sayangnya saya pada barang-barang yang memang jadi milik saya. Saya tak mau kehilangan mereka ini (baca: barang-barang saya)

Tapi, saya jabarkan, berikut adalah beberapa daftar benda tidak bergerak (kalau tidak digerakkan oleh manusia) yang pernah saya alami (cuma beberapa, yang lain sih banyak…):

1. Sepeda, pernah kehilangan sepeda saat jaman kuliah. Padahal, idealisme saat kuliah ingin naik sepeda. Saya hanya 1 tahun naik sepeda, dan akhirnya hilanglah sepeda itu.

2. Handphone. Dua kali saya kehilangan HP. Jaman kuliah semester 2 dan baru saja, saat bekerja ini.

3. Kamera digital. Hm.. Kalau yang ini ceritanya bikin emosi. Ya.. begitulah pokoknya

4. Dompet. Kehilangan bersama Kamera digital. Tapi akhirnya dompet ini balik. Meskipun isinya sudah tak ada. Tapi syukur, suratnya komplit.

5. Sepatu. Hadiah kekasih pada ulang tahun ke 20. Dan hilang setahun sesudahnya. (lebih tepatnya dicuri orang)

6. Ribuan File Foto SMA dan Kuliah. Ini gara-gara virus. Harddisk saya benar-benar rusak dan tak bisa diperbaiki. Hilanglah kenangan saya semua. Kameranya ilang, fotonyapun turut ilang. Tapi, harddisk yang rusak itu, sampai sekarang masih saya simpan.

Nah, selain kehilangan benda-benda tidak bergerak. Sayapun pernah merasa kehilangan orang-orang yang pernah berkenal, bertemu, dan hidup dengan saya. Saya tidak bicara tentang kematian lho, saya cuma bilang ‘kehilangan’ yang lumrah… Kehilangan itu antara lain:

1. Kehilangan cewek. Oktober 2007, saya berpisah dengan pacar saya waktu itu. Yah.. kehilangan orang… bukan karena kematian, lho.. tapi memang kami memutuskan berpisah saat itu. Ini amat menyakitkan, apalagi, setelah itu mendengar bahwa mantan saya saat itu, ‘jalan’ lagi dengan orang lain… Duh.. semakin sakit hati ini.

2. Perpisahan saat SMA. Huh.. Ini tampak menyedihkan. Hidup 3 tahun di asrama SMA PL van Lith. Tiba-tiba harus berpisah dan tidak tahu kapan akan bertemu lagi. E… ternyata, setelah lulus pun, masih sering bertemu sampai sekarang, sedikit terobati.

3. Sahabat saya di negara-negara tetangga. Saya sih cuma mikir.. kapan ya, bisa jalan-jalan bareng dengan mereka lagi. Meski berkenalan sebentar, tetapi itu membuat saya merasa kehilangan (baca: perpisahan) yang dalam.

Duuuhhh.. Memang tak nyaman yang namanya kehilangan. Apapun, siapapun yang ada di tangan saya, dan di dekat saya sepertinya harus saya rawat baik-baik.

Nah, inilah kelemahan saya (dan sudah diiyakan oleh orangtua dan keluarga saya, khususnya kakak saya) bahwa saya memang tidak tlaten merawat barang, meski suka menyimpan barang, ternyata saya tidak pandai merawatnya. Ya.. itulah saya…

Tapi saya tetap berharap, saya tak kehilangan lagi.. Semoga tidak terjadi..

Kehilangan memang tak pernah menyenangkan

Iklan

6 thoughts on “Kehilangan, Tak pernah menyenangkan

  1. Dan….rasanya aku tau siapa oknum yang kaumaksud di tulisan ini hehe…

    Bener…kehilangan itu tak mengenakkan, orang Jawa bilang ra lilo, nggak rela…apalagi barang kesayangan…terlebih, orang tercinta..
    Semakin tua umur kita, semakin banyak pula pengalaman kehilangan dalam hidup kita…

    Wah, kalau masalah open, (suka ngopeni) aku juga gitu dulu, tapi setelah pengalaman pindah-pindah, sekarang harus lebih selektif menyimpan barang, jangan sampai barang itu tersimpan,= tapi sebenarnya udah nggak ada gunanya lagi, malah bikin repot saat pindahan…

  2. Hehehe… Menyambangi blog saya juga to, mbak na. Hm.. yang dimaksud oknum adalah siapa nih? Oknum pencuri-nya, atau oknum yang pernah menghilang itu? Kata ‘oknum’ kok dalam dunia perpolitikan Indonesia itu punya makna yang negatif ya… Mbak Na, malah menakut-nakuti: “Semakin tua umur kita, semakin banyak pula pengalaman kehilangan dalam hidup kita…”.. wah.. berarti perjalanan hidupku belum banyak kehilangan ya? wah..wah..wah.. Berarti aku harus waspada dan ati-ati. Terima kasih atas sarannya…

  3. membiarkan sesuatu berjalan apa adanya lebih menyakitkan, karena tidak memiliki perasaan apapun ketika sesuatu pergi dan menghilang. hal yang paling saya sukai adalah masa kecil, namun saat semua saya biarkan hilang dan ketika sadar saya sudah sedewasa ini sangat menyiksa. bersyukur saja atas segala yang kita dapatkan. jika seseorang datang dan kemudian pergi, yakinlah kalau Dia punya rencana lain yang lebih indah buat kita.

  4. Ping-balik: Kenalkan, Inilah pendamping hidup saya yang baru « Anwariksono on Wordpress

  5. Ping-balik: Mengobati Hati « Anwariksono on Wordpress

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s