Pahamilah siapa yang Anda ajak bicara

Malam hari, saya mencoba ngobrol dengan teman lama via YM Chat. Maklum, di malam hari kegiatan ngobrol-chating adalah ajang curhat dan mempererat pertemanan, bagi saya.

Suatu ketika, saya ngobrol dengan teman saya yang sudah lama sekali tidak bertemu. Mungkin 1 tahun saya tidak bertemu dengannya. Teman SMA dulu.

Saya menyapanya terlebih dahulu. Karena saya mendengar dari teman yang lain bahwa dia sakit. Kebetulan, saya ini dipercaya untuk menjadi Koordinator Angkatan untuk teman alumni se- angkatan SMA yang berjumlah 145 orang. (SMA Pangudi Luhur van Lith Muntilan – Angkatan 11)

Saya ceritakan dulu, agak melenceng juga dari cerita saya… tapi gapapa, saya ceritakan… Sebagai KotAng (singkatan dari Koordinator Angkatan), punya kewajiban moral untuk mengetahui bagaimana kondisi teman-temannya. Ini penting untuk data angkatan dan juga menjaga tali silaturahmi dengan teman-teman. Bagaimanapun juga, dulu ketika SMA di asrama, kehidupan saya dan teman-teman begitu dekat. Nah, inilah yang ingin saya jaga di antara teman-teman.

Dengan demikian, tugas informal yang berada di pundak saya ini, mengharuskan saya untuk mengenal semua karakter dan sifat teman-teman saya ini. Nah, dari 145 teman, saya hampir semua tau karakternya, tau banyak apa yang terjadi dengan teman saya, dan tahu mereka bekerja dan sekolah dimana. Meski sedikit-sedikit, tetapi cukuplah untuk memberitahukan ke teman lain kalau-kalau ada yang nanya: “War, si itu sekarang dimana ya?“.. “War, katanya dia mau merit ya?“.. “War, dia sekarang pacaran sama siapa?“… Berita itu sih cukup…

Kembali ke cerita tentang salah satu teman saya tadi… Saya memulai chating dengannya. Dan saya harus tau, siapa yang saya ajak bicara dan kira-kira jawaban apa yang akan saya dapatkan. Beginilah transkrip chating saya dengan teman ini tadi.

saya: anwar_riksono

teman saya: bintang *bukan nama sebenarnya

————————————————————–

anwar_riksono: tang.. katanya kamu sakit?

anwar_riksono: beneran? sakit apa?

bintang: siapa yang bilang?

bintang: bilang dimana?

anwar_riksono: lupa.. siapa yang bilang… 2 minggu lalu ada yg bilang

anwar_riksono: pas ada kumpul2 vanlith 9 dan 11

bintang: bilangnya lewat apa?

anwar_riksono: ya.. bilang langsung..tapi aku lupa

bintang: paling si oneng

bintang: ya to?

anwar_riksono: lupa.. aku..

anwar_riksono: emang beneran sakit?

bintang: waktu itu iya

bintang: sekarang udah ga

anwar_riksono: lho.. udah sembuh to?

anwar_riksono: aku juga lupa sakit apa …

anwar_riksono: katanya stroke ya? atau apa gitu..

bintang: tuh kan, kalo orang ngasih info kayak gitu tu, suka ngawur….

bintang: makanya aku pernah pesen sama yang tau, ga usah disebar2in

anwar_riksono: lha emang sakit apa?

bintang: bells palsy dextra

anwar_riksono: owh.. pake fisioterapi aja… udah?

bintang: ya sama obat minum ama suntik juga.

anwar_riksono: bukannya bells palsy itu ada jenjangnya ya… kayak stadium gitu… lha.. kamu masih ringan atau udah parah, tang?

bintang: ga ada jenjangnya….

bintang: orang penyebabnya aja ga bisa dipastikan kok..

anwar_riksono: kalau parah kan bisa sampe stroke gitu…

bintang: jangan ngawur kamu….ga ada hubungannya sama stroke….dokter sendiri yang bilang gitu….emang kalo masyarakat awam suka pada ngawur..

anwar_riksono: owh.. gitu.. ya maaf.. kan aku juga masyarakat awam..

bintang: iya, tapi kalo asal ngomong, trus orang awam yang lain denger, bisa ancur namaku….makanya aku pesen ga perlu bilang2…

anwar_riksono: lah.. tadi kan gw juga cuma nanya, pak… lagian juga saya ga bilang ke siapa2..

bintang: baguslah..

anwar_riksono: jadi… bells palsy-nya gimana? udah bener2 sembuh?

bintang: kayaknya

bintang: ga tau juga

bintang: mo check ke jakarta, males

anwar_riksono: yo wis.. cepet sembuh ya…

——————————————————————————

Chating yang singkat itu, bisa memiliki banyak makna. Mungkin teman SMA saya ini tidak suka disebut bahwa dia sakit stroke, karena dia memang tidak sakit stroke. Mengapa saya bisa menyimpulkan demikian? Kalimatnya memang menunjukkan itu (yang tercetak tebal), apalagi dibumbui dengan ketakutan akan kehancuran nama yang mungkin sudah dibangunnya.

Nah, lagi-lagi, sebagai KotAng, saat-saat seperti ini harus dihadapi. Mungkin maksud kita baik, untuk menyapa orang dan memberikan perhatian. Tapi mungkin baginya, itu sebuah ketidaksukaan.

Sebenarnya sih saya agak jengkel. Maksud saya adalah menanyakan kabar dan keadaan dia ketika sakit. Tetapi saya melihat dari teks tersebut, saya merasa disemprot (baca: dimarahi) dengan kata-katanya.

Maklum, setiap saya chating dengan kawan / orang lain, saya selalu membayangkan bagaimana si lawan bicara ini berkata sesuai teks yang dia ketikkan di keyboard. Sayapun seringkali membayangkan teks itu dikatakan langsung oleh teman saya itu dengan raut muka, intonasi/nada bicara, dan ekspresi seperti dulu ketika saya mengenal dia.

Saya kemudian menjadi ….”ya sudahlah… mungkin memang dia sedang tidak nyaman ditanyai… atau… memang karakternya demikian…” Keputusan untuk mengatakan ‘ya sudahlah‘ ini, mungkin karena background saya di bidang komunikasi.

Saya sendiri lebih suka memetakan persoalan karakter orang dengan cara berpikir dalam menyampaikan pesannya kepada saya daripada saya harus berkonfrontasi dengan orang yang saya agak bicara. Esensi lebih penting daripada ekspresi.

Kalau saya sedikit jahat dan kejam… Sayapun bisa menambahkan kata-kata: “Mati aja lo.. Hahahaha… ” atau dengan perkataan “Lho.. kenapa ga stroke sekalian…??? Kan asyik tuh…” (dengan gaya becanda…) Tapi tidak mungkin, karena si teman ini sepertinya tidak menerima candaan demikian.

Ya.. lagi-lagi, bahwa kepandaian seseorang dalam berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain, bisa membawanya pada arah komunikasi yang menentukan sampai atau tidaknya pesan yang ingin disampaikan. Etos..Patos.. Logos.. Mau tak mau (karena saya melihat dia tidak pandai berkomunikasi dengan gaya yang saya miliki).. maka sayapun yang harus memahami siapa yang saya ajak bicara… Itulah komunikasi…

Yang saya tekankan dalam tulisan saya ini adalah: Pahamilah siapa yang Anda ajak bicara … atau bisa jadi… “Tak perlu memberikan perhatian pada orang lain…” (kalau yang ini saya kurang setuju…hehehe…)

Jangan-jangan.. si teman saya ini termasuk dalam kategori: 9 sifat orang rese’ yang mengganggu hidupku. ???????

Iklan

6 thoughts on “Pahamilah siapa yang Anda ajak bicara

  1. sip gan atas info komunikasinya hehehe…

    tapi aneh tuh orang… masak gara2 sakit aja bisa hancur namanya… yah kita sebagai orang awam emang gak begitu mengerti tentang masalah itu, tapi kagak perlu sampe segitunya kalee.. kita juga ngga bermaksud “mengece” atau mengasihani kok.. kita cuma ingin menunjukkan klo kita peduli.. betul ngga gan…

    sukses selalu war…

  2. We..e..e.. Om Kimung to.. hahaha.. Iya tuh. Jangan kamu ikut-ikut sebel seperti saya. Ga bagus kalau kita membenci orang. Saya sih cukup bisa memahami seseorang meskipun agak susah. Mungkin malah dirinya yang tidak mau diperhatikan. Makanya, kalau ingin memperhatikan orang, tanyakan dulu, apakah ingin diperhatikan atau ga… Hahaha… Maka, pelajaran penting buat saya, jangan memberikan perhatian yang kelewat batas (padahal chating saya juga ga kelewat batas tuh.. hihihi…).. Yo ben lah.. mungkin waktu chatingnya lagi ga tepat… Dia lagi sensi… (senayan sity bo’…. hahaha…)

  3. Don..Don.. Sok tau banget… Hahaha.. Selamanya tidak akan kubocorkan siapa itu. Nanti dikira aku yang menyebar-nyebarkan… Yang tau.. ya. cuma mereka yang jadi aktor-aktor itu.. Hihihi…

  4. kayaknyaaa aku orang nyaa….thu ajjah aku jugha dapet info dari seseorang yang gag jelas jugha sech….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s