Saat Ajal Hampir Menjemputku (Part I)

(Bayangan Kematian – Part 1)

Lama sekali tidak menulis, karena tertumpuk oleh segala pekerjaan yang amat melelahkan. Bagiku, menulis bukan sesuatu yang tak ada gunanya, tapi mengapa aku merasa tak ada waktu untuk meluangkannya. Dan berikut adalah tulisanku mengenai ‘Kematian’. Jangan berpikir menyeramkan, karena aku tidak akan membicarakan proses kematian.

Aku sempat menghadapi ajal saat SD Kelas 4.

Ceritanya begini..

Suatu malam, badanku menggigil, panas dingin dan aku setengah sadar di tempat tidur. Ibuku panik karena di rumah memang hanya kami berdua. Ayahku sedang tidak ada di situ karena dia hanya ada di rumah saat weekend (sabtu-minggu), karena konsekuensi pekerjaannya sebagai anggota TNI, yang ditempatkan di luar kota. Kepanikan ibuku menjadi-jadi, dia menutupi badanku dengan 4 selimut. Tapi tetap saja aku kedinginan. Ibuku membuat kompres. Tapi juga tak banyak membantu. Tuhan.. Betapa paniknya Ibuku saat itu.

Tiba-tiba aku sudah tertidur lagi. Badanku terguncang… Aku terbangun setengah sadar.. dan aku merasa ada yang menggendongku. Sepertinya aku kenal, dan ternyata saudaraku, adik Ibuku yang bekerja di rumah sakit. Masih setengah sadar. Aku mencium bau rumah sakit. Bau khas obat-obatan dan tetek bengek farmasi di dalamnya. Aku sempat sadar, di rumah sakit mana aku berada. Semua dominasi warna hijau… Itu ciri khas rumah Sakit Brayat Minulyo Solo. Rumah sakit milik suster OSF, tempatku lahir tgl 17 Juli 1986 silam. Rumah sakit itu adalah rumah masa kecil Ibuku.

Aku sempat sadar, kemudian tidur lagi…

Aku tidak tahu, mengapa aku bisa di rumah sakit. Naik apa, dengan siapa, dan apa yang terjadi.. semuanya hanya sekilas. Dan semuanya berubah menjadi gelap tak ada gambar. Aku tertidur dan memasuki alam mimpiku di sebuah bed kamar rumah sakit, ruang anak sebelah pojok. (hingga saat ini, kamar itu masih ada).

Aku terbangun dari tempat tidur. Kulihat Ibuku tidur di sebelahku, dengan rosario di genggaman. Sepertinya dia menangis. Aku tak tahu kenapa dia menangis. Mungkin dia berdoa sambil menangis. Aku tak mau mengganggunya, maka kutinggalkan dia sendiri. Kali ini aku berani pergi sendiri, tanpa bantuan ibuku.

Aku menaiki tangga, tangga itu menjulang tinggi, tidak ada apapun di samping-sampingnya. Menuju pada satu titik. bersih… tidak ada apapun. Hanya cahaya mentari yang amat kuat kulihat di titik itu.. Awan-awan yang berwarna putih menghiasi sebelah tangga. Indah dan menarik. Entah kenapa ada niat besar yang mendorongku untuk berjalan di atas tangga itu. Dan aku perlahan menaiki tangga itu… Kutinggalkan ibuku sendiri yang sedang tertidur di samping sambil menggenggam rosario…

Aku terus naik tangga…  meskipun capek. Dalam hati kuberpikir.. Kenapa ga sampai-sampai?

Terus berjalan ke atas. Karena hanya itu satu-satunya jalan. Tak ada jalan lain. Kalau aku menyamping, pasti aku akan jatuh di awan-awan putih itu. Aku berhati-hati dan selalu melihat ke depan.

Jauh aku berjalan, tiba-tiba… aku melihat seorang laki-laki, memakai jubah coklat panjang. Aku tidak tahu siapa dia. Tapi yang kurasakan dia hangat seperti ayahku. Badannya tinggi dan senyumannya manis. Tidak ada wajah galak ataupun seram. Aku suka perawakannya. Aku dituntunnya, tangan kananku dipegang.

anak tangga

Tapi…

Kenapa dia menuntunku untuk turun tangga lagi? Berbalik ke arah perjalanan panjangku tadi. Sudah capek aku berjalan ke atas, dan sekarang harus kembali turun? Aku tidak mau. Tapi dia memaksaku dengan menarik dan menggenggam tanganku untuk menuruni tangga.

Tak ada pembicaraan apapun dengannya. Tak sepatah katapun keluar dari mulutku dan dari dia. Hanya bahasa tubuhnya yang mengisyaratkan bahwa “Di sini bukan tempatku”. Dan aku dipaksa untuk tidak berada di areanya. Dia asing bagiku, dan aku tidak mengenal dia. Aku teringat kata ibuku: “jangan pernah bicara dengan orang yang tidak kau kenal” dan saat itu, aku memang berharap bertemu dengan Ibuku kembali sesegera mungkin. Sebagai anak kelas 4 SD, akupun cuma bisa menurut, berjalan bersamanya.

Dia tidak menuntunku sampai akhir perjalanan. Yang jelas, dia ingin agar aku segera kembali ke tempat tidurku. Mungkin dia tahu, bahwa ayah dan ibuku cemas mencari anaknya yang menghilang ntah kemana. Dia cuma menganggukkan kepala. Dan akupun tertidur lagi.

***

“Buuu, selimut bu.. Budi butuh selimut…” Tiba-tiba aku berteriak di malam hari. mengagetkan ibuku yg duduk di samping bed kamar rumah sakit. Aku baru saja sadar aku memanggil nama sahabatku di sekolah, bernama Budi. Seorang teman yang secara ekonomi tidak mampu, tapi pandai dan jago main bulutangkis. Di saat itulah aku sadar. Aku kembali ke duniaku. Bertemu dengan ibu dan saudara-saudaraku, tetanggapun juga ada di situ. (Kejadian itu berlangsung pada jam besuk sore hari). Ramai sekali.

Itulah saat aku terbangun…

Ternyata aku sudah tidak sadar selama 3 hari. Entah apa yg dilakukan oleh Dokter untuk mengembalikan nyawaku. Ibuku hanya berdoa dan tiap hari menangis. Dia hanya berharap, agar tidak kehilangan buah hati yang paling dicintainya untuk kedua kalinya? Ibuku bahkan bercerita, bahwa dia sudah pasrah, kalau sewaktu-waktu Tuhan memanggilku. Dalam tidur panjangku itu, aku memanggil-manggil ayahku. Aku didoakan Novena oleh kawan-kawan gereja Ibuku. Dan juga diperciki Minyak Suci, sakramen untuk pengurapan orang sakit.

Ayahkupun sudah ada di situ. Dengan membawa sebuah walkman Panasonic baru berwarna hitam, hadiah untukku, supaya aku cepat sembuh. Sewaktu dia datang, dia tak pernah tahu, kapan anaknya akan bangun dari tidur. Tapi dia sudah siap dengan membahagiakan anaknya ketika nanti bangun dengan walkman hitam barunya. Sayang sekali, walkman hitam itu diambil oleh temanku saat aku SMA.

Dokter memvonis aku terserang Liver. Entah penyakit jenis apa itu. Dan vonis itu tiba-tiba berubah, bahwa Lambungku sudah membengkak parah. Huh.. apalagi ini?

Yang jelas, lebih dari 2 minggu aku berada dalam rumah sakit dan sempat berada dalam bayang-bayang kematian. Itulah misteri kehidupan yang tak pernah bisa terjawab. Bagaimana kita mati? Dengan cara apa kita mati? Apakah kita akan masuk surga? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang tak akan bisa terjawab.

Setelah keluar dari rumah sakit. Aku masih harus rajin check-up. Selama lebih dari 1 bulan, darahku masih hitam. Benar-benar hitam. Bukan merah tua seperti biasanya. Aku tidak tahu, apa yang terjadi dalam tubuhku. Ibuku masih mencemaskanku. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan anaknya.

Semua obat-obatan kuminum, baik dari dokter maupun dari ramu-ramuan tradisional. Kadang aku harus meminum – minuman yang aneh menurutku, dipaksa oleh ibuku sambil menangis. Pare parut yang diperas menjadi minuman, temulawak yang direbus di kwali setiap malam. Dan minuman apapun yang aku tidak tahu apakah itu. Bisa dibayangkan, rasanya seperti apa. Dan itu benar-benar menyiksaku.

Huh…

Keluar dari rumah sakitpun, aku masih merasa tersiksa. Mungkin bayangan kematian itu masih ada di belakangku. Itulah kenapa Ibuku memaksaku untuk meminum semua obat-obatan yang direkomendasikan kawan-kawannya. Bahkan, harus datang ke ‘orang pintar’ di Jogja, untuk sekedar menyembuhkan penyakitku.

Semua itu kini berlalu… 13 tahun yang lalu.. Namun cerita itu terus membekas dalam perjalanan hidupku. Dan selamanya tidak akan lepas dari kehidupanku, hingga ajalku tiba.

Bayangan kematian sebenarnya tidak bisa lepas dari hidupku. Hidupmu juga. Mungkin sekarang aku sudah sembuh dari penyakitku. Tetapi aku tidak akan tahu, kapan Tuhan memanggil dan menghentikan nafasku. Bisa jadi, setelah aku menulis ini… atau besok pagi.. atau seminggu lagi.. atau sebulan lagi.. setahun lagi.. bahkan seratus tahun lagi… Itulah misteri kematian.

Heaven

Iklan

8 thoughts on “Saat Ajal Hampir Menjemputku (Part I)

  1. aku merinding baca ini…walo kamu dah pernah cerita dulu..tp tulisanmu lebih deskriptif..lebih detail…
    I should give my greatest gratitude to Lord and to your mom that you came back….and I could meet you some years later until today…

  2. wah ini ceritanya dramatis war..
    kalo lo mokat war..

    wah mungkin lain ceritanya.. kita gak pernah ketemu di van lith.. selain kisah yang mengaharu biru tentang cinta seorang Ibu pada anaknya.. aku juga tertarik dengan penyakitmu war..

    LIVER..

    lo kalo sakit,
    pasti sakitnya berat ya? jadi inget ni waktu di asrama.. tapi yang gua heran..
    masih kecil, koq lambungnya bengkak? darahnya hitam? salah makan atau apa ni war?

    bukannya -maaf bukannya nakutin- lever itu.. makannya harus dijaga ya? istirahat cukup bla bla bla…

  3. Ping-balik: Saat ajal hampir menjemputku (part ii) « Anwariksono on Wordpress

  4. aku merinding membaca tulisanmu, rasa dukaku yang dalam terhadap kematian adiku tersayang pada tgl 26 Januari 2010 masih terus mebuatku galau, sedih & tak karuan hidupku sampai saat ini, disaat sakaratul maut aku mendampinginya berharap dia dapat kembali lagi, dia dinyatakan kena tipus & liver tapi kok begitu mendadak sehari sebelumnya dia masih terlihat sehat walau sakit bisa duduk & berjalan hingga terpikir olehku mungkin hanya butuh istirahat di rumah sakit 3 hari lagi pasti sembuh & pulang, namun besoknya kulihat dia pakai oksigen tidak bisa bernapas aku merasa galau tapi dia masih bisa bicara & duduk sampai satu jam sebelum meninggal dia masih bisa berdiri ke kamar mandi, lalu beberapa menit kemudian dia sesak kakinya kupegang dingin sekali dia sudah tidak sadar tapi kulihat dia bisa tersenyum beberapa menit kemudian …..

  5. Ping-balik: Wawancara Imajiner dengan Yesus (Part I) « Anwariksono on Wordpress

  6. Ping-balik: DETIK-DETIK KECELAKAAN KERETA SENJA UTAMA « Anwariksono on Wordpress

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s