Lebih asoy kalau basah-basahan ya?

Sekedar berbagi pengalaman ketika aku berbelanja di Superindo-Meruya. Tanggal 2 Agustus 2009 lalu, aku dan sahabatku berbelanja kebutuhan barang sehari-hari di SuperIndo Meruya. Sebenarnya saat itu, aku tidak berniat berbelanja kebutuhan. Aku cukup membeli makanan ringan sebagai teman perjalananku nanti (karena malam harinya, aku harus berangkat dinas ke Jogja). Sahabatku itu yang berbelanja.

Baru pertama kali ini aku masuk dan membeli barang di supermarket ini. Seperti layaknya supermarket dan hipermarket lainnya, bahwa segala barang bawaan dan jaket, harus dititipkan kepada petugas. Itu sudah harus menjadi kewajiban, salah satu alasannya demi menjaga keamanan dan bahaya pencurian barang di supermarket tersebut.
Tetapi siang itu, ada kejadian yang menurutku tidak biasa sekaligus memiliki nilai moral yang seharusnya bisa aku ambil.
Ada seorang perempuan, mungkin usianya sekitar 20 tahun. Terlihat dari wajahnya yang masih muda. Di foto terlihat, dia berjongkok memakai baju biru dan celana pensil warna hitam, dan menggunakan sandal jepit.
Perempuan ini, ternyata diintip oleh seorang satpam berbadan kekar. Diintip dalam artian, sedang dimata-matai.
Aku mendengar percakapan satpam dan seorang SPG di Superindo itu. “Tolong diliatin, kayaknya dia ngambil barang,”
Pikiranku langsung menuju dugaan, bahwa si perempuan berbaju biru itu sedang diamat-amati oleh Satpam, lantaran si satpam curiga bahwa si perempuan itu mengambil barang dari supermarket tersebut.
Akupun juga kemudian, ikut mengamati gerak-gerik si perempuan tadi. Aku tidak mau menuduh. Tetapi yang kulihat adalah: dia membawa tas yang ia slempangkan di bahu kanannya. tangan kanannya memegang Segelas Fruit tea dan sepertinya sebuah sabun mandi. Tetapi tangan kirinya, ia masukkan terus di dalam tasnya. Tidak dikeluarkan sama sekali. Hatiku semakin panas mengatakan: “Wah, seru banget kalau si mbak ini ketangkap basah mencuri barang.” Aku tidak sabar menunggu ending dari drama intip mengintip ini.
Si perempuan ini hanya bolak-balik di tempat ia berdiri. Dia tidak berpindah-pindah ke lajur tempat belanja lain, layaknya orang berbelanja barang yang sering bolak-balik. dia hanya stay di tempat ia berdiri, dan sesekali melihat kiri dan kanan. Lagi-lagi, peristiwa ini, semakin menguatkan hatiku bahwa: “Dia mencuri,”. Ingin berteriak bahwa dia pencuri. Tapi kan aku tidak punya bukti dia mencuri. Dan sepertinya, pak satpam juga hendak ingin mengetahui ending drama intip-intipan ini. Dia ingin bukti. Makanya, dia menunggu bukti itu dimasukkan dalam tasnya.
aku tidak ingin ikut campur. segera kutinggalkan mereka dalam suasana masih intip-mengintip.
Aku kemudian pergi…
Huh… andai saja, aku masih di situ. Aku ingin sekali melihat akhir dari babak ini. Sudahlah… aku hanya bisa menerka-nerka, apakah si perempuan tadi benar-benar mencuri atau tidak.
Tapi menurutku, ada hal moral yang bisa dipelajari di sini.
Kalau si satpam sudah curiga akan gerak-gerik si perempuan tadi, mengapa dia hanya mengintip? mengapa dia hanya melihat dari kejauhan? Apakah teguran dari awal tidak bisa disampaikan?
memang…bisa jadi ketika si satpam menegur, si perempuan tadi akan merasa dituduh. Tapi yang penting adalah cara komunikasinya dan bahasa yang digunakan. Menurutku, dengan cara intip mengintip, kemudian ketika sudah akan keluar baru dicek, adalah peristiwa yang tidak tepat. Si perempuan akan malu bukan main, kalau ternyata dia mencuri dan mengambil barang. Si Satpam akan bangga dan tersenyum lebar, bagaikan Densus 88 yang sudah bisa menangkap pelaku teror bom.
seringkali, manusia ingin agar sesamanya ini bersalah, sesalah-salahnya, dan dialah yang dianggap pahlawan. Padahal, manusia bisa saling bertegur sapa, saling memperhatikan, agar tidak saling merugikan. Kalau si satpam menegur dari awal, kemungkinan untuk melakukan tindakan pencurian juga akan hilang. si satpam ini justru ingin menangkap sebasah-basahnya orang lain.
Lebih basah lebih baik. Lebih basah lebih dramatis. Lebih basah lebih jadi superhero. aku cuma merasa kasian dengan perempuan itu. Kalau dia mencuri betulan, betapa akan malunya si perempuan tadi. Mudah-mudahan, endingnya tidak demikian. Dan mudah-mudahan, manusia di dunia ini bertegur sapa, supaya bisa saling menghargai orang lain dan tidak merugikan pihak manapun.
Sekedar berbagi pengalaman ketika aku berbelanja di Superindo-Meruya. Tanggal 2 Agustus 2009 lalu, aku dan sahabatku berbelanja kebutuhan barang sehari-hari di SuperIndo Meruya. Sebenarnya saat itu, aku tidak berniat berbelanja kebutuhan. Aku cukup membeli makanan ringan sebagai teman perjalananku nanti (karena malam harinya, aku harus berangkat dinas ke Jogja). Sahabatku itu yang berbelanja.
Baru pertama kali ini aku masuk dan membeli barang di supermarket ini. Seperti layaknya supermarket dan hipermarket lainnya, bahwa segala barang bawaan dan jaket, harus dititipkan kepada petugas. Itu sudah harus menjadi kewajiban, salah satu alasannya demi menjaga keamanan dan bahaya pencurian barang di supermarket tersebut.
Tetapi siang itu, ada kejadian yang menurutku tidak biasa sekaligus memiliki nilai moral yang seharusnya bisa aku ambil.
Ada seorang perempuan, mungkin usianya sekitar 20 tahun. Terlihat dari wajahnya yang masih muda. Di foto terlihat, dia berjongkok memakai baju biru dan celana pensil warna hitam, dan menggunakan sandal jepit.
Perempuan ini, ternyata diintip oleh seorang satpam berbadan kekar. Diintip dalam artian, sedang dimata-matai.
Aku mendengar percakapan satpam dan seorang SPG di Superindo itu. “Tolong diliatin, kayaknya dia ngambil barang,”
Pikiranku langsung menuju dugaan, bahwa si perempuan berbaju biru itu sedang diamat-amati oleh Satpam, lantaran si satpam curiga bahwa si perempuan itu mengambil barang dari supermarket tersebut.
Akupun juga kemudian, ikut mengamati gerak-gerik si perempuan tadi. Aku tidak mau menuduh. Tetapi yang kulihat adalah: dia membawa tas yang ia slempangkan di bahu kanannya. tangan kanannya memegang Segelas Fruit tea dan sepertinya sebuah sabun mandi. Tetapi tangan kirinya, ia masukkan terus di dalam tasnya. Tidak dikeluarkan sama sekali. Hatiku semakin panas mengatakan: “Wah, seru banget kalau si mbak ini ketangkap basah mencuri barang.” Aku tidak sabar menunggu ending dari drama intip mengintip ini.
Si perempuan ini hanya bolak-balik di tempat ia berdiri. Dia tidak berpindah-pindah ke lajur tempat belanja lain, layaknya orang berbelanja barang yang sering bolak-balik. dia hanya stay di tempat ia berdiri, dan sesekali melihat kiri dan kanan. Lagi-lagi, peristiwa ini, semakin menguatkan hatiku bahwa: “Dia mencuri,”. Ingin berteriak bahwa dia pencuri. Tapi kan aku tidak punya bukti dia mencuri. Dan sepertinya, pak satpam juga hendak ingin mengetahui ending drama intip-intipan ini. Dia ingin bukti. Makanya, dia menunggu bukti itu dimasukkan dalam tasnya.
aku tidak ingin ikut campur. segera kutinggalkan mereka dalam suasana masih intip-mengintip.
Aku kemudian pergi…
Huh… andai saja, aku masih di situ. Aku ingin sekali melihat akhir dari babak ini. Sudahlah… aku hanya bisa menerka-nerka, apakah si perempuan tadi benar-benar mencuri atau tidak.
Tapi menurutku, ada hal moral yang bisa dipelajari di sini.
Kalau si satpam sudah curiga akan gerak-gerik si perempuan tadi, mengapa dia hanya mengintip? mengapa dia hanya melihat dari kejauhan? Apakah teguran dari awal tidak bisa disampaikan?
memang…bisa jadi ketika si satpam menegur, si perempuan tadi akan merasa dituduh. Tapi yang penting adalah cara komunikasinya dan bahasa yang digunakan. Menurutku, dengan cara intip mengintip, kemudian ketika sudah akan keluar baru dicek, adalah peristiwa yang tidak tepat. Si perempuan akan malu bukan main, kalau ternyata dia mencuri dan mengambil barang. Si Satpam akan bangga dan tersenyum lebar, bagaikan Densus 88 yang sudah bisa menangkap pelaku teror bom.
seringkali, manusia ingin agar sesamanya ini bersalah, sesalah-salahnya, dan dialah yang dianggap pahlawan. Padahal, manusia bisa saling bertegur sapa, saling memperhatikan, agar tidak saling merugikan. Kalau si satpam menegur dari awal, kemungkinan untuk melakukan tindakan pencurian juga akan hilang. si satpam ini justru ingin menangkap sebasah-basahnya orang lain.
Lebih basah lebih baik. Lebih basah lebih dramatis. Lebih basah lebih jadi superhero. aku cuma merasa kasian dengan perempuan itu. Kalau dia mencuri betulan, betapa akan malunya si perempuan tadi. Mudah-mudahan, endingnya tidak demikian. Dan mudah-mudahan, manusia di dunia ini bertegur sapa, supaya bisa saling menghargai orang lain dan tidak merugikan pihak manapun.
mode on: curhatan bermoral..
Belanja di SuperindoSekedar berbagi pengalaman ketika aku berbelanja di Superindo-Meruya, 2 Agustus 2009 lalu. Saat itu, sebenarnya aku tak berniat berbelanja kebutuhan. Aku hanya membeli makanan ringan sebagai teman perjalananku nanti (karena malam harinya, aku harus berangkat dinas ke Jogja). Sahabatku yang berbelanja banyak.
Baru pertama kali ini, aku masuk dan membeli barang di supermarket ini. Seperti layaknya supermarket dan hipermarket lainnya, bahwa segala barang bawaan dan jaket pengunjung, harus dititipkan kepada petugas. Itu sudah harus menjadi KEWAJIBAN, salah satu alasannya (tentunya) demi menjaga keamanan dan bahaya pencurian barang di supermarket tersebut.
Tetapi siang itu, ada kejadian yang menurutku tidak biasa sekaligus memiliki nilai moral yang seharusnya bisa aku ambil.
***
Ada seorang perempuan, mungkin usianya sekitar 20 tahun. Terlihat dari wajahnya yang masih muda. Di foto terlihat, dia berjongkok memakai baju biru dan celana pensil warna hitam, (dan menggunakan sandal jepit –> kalau yang ini kayaknya tak tampak di foto)
Perempuan ini, ternyata diintip oleh seorang satpam berbadan kekar. Diintip dalam artian, sedang dimata-matai.
Aku mendengar percakapan satpam dan seorang SPG yang berdiri di sebelah satpam. “Tolong diliatin, kayaknya dia ngambil barang…”
Mengintip perempuanPikiranku langsung menuju pada dugaan bahwa si perempuan yang sedang diamat-amati oleh si Satpam itu, diduga mengambil barang.
Terbawa rasa penasaran, akupun ikut mengamati gerak-gerik si perempuan tadi. Aku tidak mau menuduh. Tetapi yang kulihat adalah: dia membawa tas yang ia slempangkan di bahu kanannya. Tangan kanannya memegang Segelas Fruit tea dan sepertinya sebuah sabun mandi. Tetapi tangan kirinya, ia masukkan terus di dalam tasnya. Tidak dikeluarkan sama sekali. Hatiku semakin panas mengatakan: “Wah, seru banget kalau si mbak ini ketangkap basah mencuri barang.” Aku tidak sabar menunggu ending dari drama intip mengintip ini.
Si perempuan ini hanya bolak-balik di tempat ia berdiri. Dia tidak berpindah-pindah ke lajur tempat belanja lain, layaknya orang berbelanja barang yang sering bolak-balik. dia hanya stay di tempat ia berdiri, dan sesekali melihat kiri dan kanan. Lagi-lagi, peristiwa ini, semakin menguatkan hatiku bahwa: “Dia mencuri”. Ingin berteriak bahwa dia pencuri. Tapi kan aku tidak punya bukti dia mencuri??? Dan sepertinya, pak satpam juga tak sabar ingin mengetahui ending drama intip-intipan ini. Dia ingin bukti. Makanya, dia menunggu bukti itu dimasukkan dalam tasnya.
Drama mengintip perempuanAku tidak ingin ikut campur. Segera kutinggalkan mereka dalam suasana masih intip-mengintip.
Aku kemudian pergi…
Huh… Andai saja, aku masih di situ. Aku ingin sekali melihat akhir dari babak ini. Sudahlah… aku hanya bisa menerka-nerka, apakah si perempuan tadi benar-benar mencuri atau tidak.
Tapi menurutku, ada hal moral yang bisa dipelajari di sini.
Kalau si satpam sudah curiga akan gerak-gerik si perempuan tadi, mengapa dia hanya mengintip? Mengapa dia hanya melihat dari kejauhan? Apakah teguran dari awal tidak bisa disampaikan?
Memang… Bisa jadi ketika si satpam menegur, si perempuan tadi akan merasa dituduh. Tapi yang penting adalah cara komunikasinya dan bahasa yang digunakan… Menurutku, dengan cara intip mengintip, kemudian ketika sudah akan keluar baru dicek, adalah peristiwa yang tidak tepat. Si perempuan akan malu bukan main, kalau ternyata dia mencuri dan mengambil barang. Si Satpam akan bangga dan tersenyum lebar, layaknya Densus 88 yang sudah bisa menangkap pelaku teror bom.
Seringkali, manusia ingin agar sesamanya bersalah, sesalah-salahnya, dan dialah yang dianggap pahlawan dan yang benar. Padahal, manusia bisa saling bertegur sapa, saling memperhatikan, agar tidak saling merugikan. Kalau si satpam menegur dari awal, kemungkinan untuk melakukan tindakan pencurian juga akan hilang. Si satpam ini justru ingin menangkap sebasah-basahnya orang lain.
Lebih basah lebih baik. Lebih basah lebih dramatis. Lebih basah lebih jadi superhero. Aku cuma merasa kasian dengan perempuan itu. Kalau dia mencuri betulan, betapa akan malunya si perempuan tadi. Mudah-mudahan, endingnya tidak demikian. Dan mudah-mudahan, manusia di dunia ini bertegur sapa, supaya bisa saling menghargai orang lain dan tidak merugikan pihak manapun.
*) Tumben, aku merasa kasihan dengan orang lain
Iklan

5 thoughts on “Lebih asoy kalau basah-basahan ya?

  1. hahaha.. mengingatkanku saat mengurusi anak-anak dan remaja pencuri toko buku.. *yang nangkap bukan aku* si anak sudah di ingatkan, tapi tetep aja maling.. di minta ngaku alamat aja susahnya bukan main.. Duh, anak-anak Jakarta sekarang..

  2. Yang namanya, maling.. tetap aja maling mas.. hehehe.. Tapi paling tidak.. Pemberitahuan awal itu, tak ada salahnya, lho.. Ketika sudah ada kecurigaan, harusnya lebih ekstra hati-hati… Biar ga kecolongan… Selamat menangkap orang lagi… Semoga kali ini, misi tangkap menangkapmu berhasil… hehehehe

  3. Setuju kalo ada kecurigaan ditegur aja, paling nggak, dia jadi sadar kalau gerak-geriknya diperhatikan.

    btw, aku pernah mergokin dua perempuan dan satu anak, berusaha ngutil deterjen S*rf di Balikpapan. sebenernya aku juga deg-degan, kalo aku negur, aku dikeroyok, pasti kalah. tapi kuliatin terus mereka…salah satunya jalannya aneh, kuduga dia ngempit deterjen di balik roknya. aku sih cuma manggut-manggut ke arah kamera pengawas (embuh, aktif atau nggak). tapi kayaknya mereka sadar aku tau perbuatan mereka, trus, pergi dari situ.

    semprulnya, gada satpam atau petugas. kalau aku yg pergi nyari satpam, mereka bisa kabur dong…tapi akhirnya, setelah adu pelototan, aku kasian juga, aku gak lapor, tapi dugaanku sih, pasti ketauan…

  4. Waduh… Ternyata mba’ na.. pengintai sejati ya??? Hahaha. sampe tau, dalem isi rok ngempit sabun SURF… Masih mending kalau yang dikempit di rok itu adalah SURF sachet-an… Coba kalau SURF 1 kilo… Aq tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi.. Mungkin si Ibu itu akan berjalan medal-medel ra cetho… hahaha….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s