Dan akupun tidak pernah bebas

Dan akupun tidak pernah bebas
Blog itu sebuah kebebasan untuk bertutur melalui video, gambar dan tulisan. Tapi aku sendiri merasa tidak bebas, lho… Selalu saja ada yang kusembunyikan dari setiap ungkapan kata-kataku (di balik setiap hal yang kuposting di blog). Entah untuk membuat netralisir tulisan, atau memang merahasiakan sesuatu yang orang lain tak perlu. Artinya, kebebasan yang aku ciptakan adalah kebebasan yang terbatas.
Memaknai sebuah keterbatasan akan kebebasan, selalu berujung pada ketidakpuasan untuk mengungkapkan. Ya kan? Kalau aku sudah mengungkapkan di blog seharusnya aku mengalami kelegaan dalam mengungkapkan ide. Semua pemikiranku harusnya bisa tertuang dalam blog. Tapi nyatanya, selalu saja ada rahasia-rahasia pemikiranku, perasaanku yang tak pernah dan bisa terungkapkan ketika menulis. Kalau ini, aku tahu kenapa. Aku masih mempunyai perasaan dengan orang-orang yang nanti membacanya.
Setiap kesempatan bertemu dengan kawan, aku selalu mengutarakan arti pentingnya blog dalam kehidupan cyber dan realitas kehidupan. Akupun selalu mendengungkan kata-kata kemerdekaan dan kebebasan berekspresi melalui media ini. Tapi aku tetap merasakan ada yang tidak merdeka dalam hidupku. Memang sulit untuk menerima keterbatasan.
Ini adalah media untuk bertutur sehingga orang yang membacanya bisa mengenal kita lebih jauh. Aku pernah belajar sedikit tentang teori komunikasi. Salah satu bagian dari teori komunikasi interpersonal adalah Teori Penetrasi Sosial. Salah satu term yang termuat dalam teori tersebut adalah Self Disclosure atau dalam bahasa Indonesia Keterbukaan Diri.
Kita bisa menilai diri kita melalui sejauh mana kita akan membuka informasi kepada orang lain. Lapisan keterbukaan tersebut digambarkan bagai lapisan-lapisan bawang (onion metaphor). Jika orang lain tau banyak tentang diri kita, maka bisa jadi orang tersebut sudah jauh mengenal kita hingga ke lapisan bawang paling dalam.
Di dalam Teori tersebut juga dikatakan ada 4 kamar yang bisa dikategorikan:
1. Open Pane: Kita tahu, orang lain tahu
2. Blind Pane: Kita tidak tahu, tapi orang lain tahu
3. Hidden Pane: Kita tahu, tapi orang lain tidak tahu
4. Unknown Pane: Kita tidak tahu, orang lainpun juga tidak tahu
Beginilah kalau aku persenkan menurut keterbukaan diriku di blog:
Open Pane: 20%
Blind Pane: 30%
Hidden Pane: 35%
Unknown Pane: 15%
Open pane sudah seringkali didengungkan. “Jangan menilai sebuah buku dari covernya”. Bisa disimpulkan, bahwa apa yang terbaca dalam blog ini, adalah bukan aku. Tetapi “Aku” yang banyak tertutupi oleh “bukan aku”. Media ini mengcreate aku yang bukan 100% aku, karena bukan keterbukaan yang utuh yang kusampaikan. Apa yang orang lain ketahui tidak semuanya milikku dan bukan itulah aku. Ingin tahu tentangku? Lebih baik tak perlu mengetahui siapa aku.
Blog itu sebuah kebebasan untuk bertutur melalui video, gambar dan tulisan. Tapi aku sendiri merasa tidak bebas, lho… Selalu saja ada yang kusembunyikan dari setiap ungkapan kata-kataku (di balik setiap hal yang kuposting di blog). Entah untuk membuat netralisir tulisan, atau memang merahasiakan sesuatu yang orang lain tak perlu. Artinya, kebebasan yang aku ciptakan adalah kebebasan yang terbatas.
Memaknai sebuah keterbatasan akan kebebasan, selalu berujung pada ketidakpuasan untuk mengungkapkan. Ya kan? Kalau aku sudah mengungkapkan di blog seharusnya aku mengalami kelegaan dalam mengungkapkan ide. Semua pemikiranku harusnya bisa tertuang dalam blog. Tapi nyatanya, selalu saja ada rahasia-rahasia pemikiranku, perasaanku yang tak pernah dan bisa terungkapkan ketika menulis. Kalau ini, aku tahu kenapa. Aku masih mempunyai perasaan dengan orang-orang yang nanti membacanya.
Lapisan bawangSetiap kesempatan bertemu dengan kawan, aku selalu mengutarakan arti pentingnya blog dalam kehidupan cyber dan realitas kehidupan. Akupun selalu mendengungkan kata-kata kemerdekaan dan kebebasan berekspresi melalui media ini. Tapi aku tetap merasakan ada yang tidak merdeka dalam hidupku. Memang sulit untuk menerima keterbatasan.
Ini adalah media untuk bertutur sehingga orang yang membacanya bisa mengenal kita lebih jauh. Aku pernah belajar sedikit tentang teori komunikasi. Salah satu bagian dari teori komunikasi interpersonal adalah Teori Penetrasi Sosial. Salah satu term yang termuat dalam teori tersebut adalah Self Disclosure atau dalam bahasa Indonesia Keterbukaan Diri.
Kita bisa menilai diri kita melalui sejauh mana kita akan membuka informasi kepada orang lain. Lapisan keterbukaan tersebut digambarkan bagai lapisan-lapisan bawang (onion metaphor). Jika orang lain tau banyak tentang diri kita, maka bisa jadi orang tersebut sudah jauh mengenal kita hingga ke lapisan bawang paling dalam.
Di dalam Teori tersebut juga dikatakan ada 4 kamar yang bisa dikategorikan:
1. Open Pane: Kita tahu, orang lain tahu
2. Blind Pane: Kita tidak tahu, tapi orang lain tahu
3. Hidden Pane: Kita tahu, tapi orang lain tidak tahu
4. Unknown Pane: Kita tidak tahu, orang lainpun juga tidak tahu
Beginilah kalau aku persenkan menurut keterbukaan diriku di blog:
Open Pane: 20%
Blind Pane: 30%
Hidden Pane: 35%
Unknown Pane: 15%
Open pane sudah seringkali didengungkan. “Jangan menilai sebuah buku dari covernya”. Bisa disimpulkan, bahwa apa yang terbaca dalam blog ini, adalah bukan aku. Tetapi “Aku” yang banyak tertutupi oleh “bukan aku”. Media ini mengcreate aku yang bukan 100% aku, karena bukan keterbukaan yang utuh yang kusampaikan. Apa yang orang lain ketahui tidak semuanya milikku dan bukan itulah aku. Ingin tahu tentangku? Lebih baik tak perlu mengetahui siapa aku.
(gambar diambil dari: qitori.files.wordpress.com)
Iklan

3 thoughts on “Dan akupun tidak pernah bebas

  1. hmmmmm……..tulisan yang menarik ki…
    aku nggak pernah menggambarkan aku seperti apa dalam “kamar-kamar” itu..simple-nya, aku menulis dengan hati. yang perlu dirahasiakan, akan tetap kurahasiakan. yang perlu diperhalus dan dipermak agar nyaman dibaca, akan kubuat sedemikian rupa tanpa mengurangi maksud kalimat-kalimatku.
    untungnya seni nge-blog, kita bisa edit dan nambahin lagi…

    keep blogging yaaa…

  2. Sekali-kali, kita perlu memetakan diri kita seperti apa, lho mbak na… Supaya kita tau, apa yang terjadi dengan diri kita sendiri. Ini penting sebagai upaya kita, untuk berbenah diri dan menentukan pilihan-pilihan hidup kita.

    Tulisan di blog memang sengaja dipermak. Hal ini untuk mengatasi orang-orang dekat yang jauh lebih mengetahui diri kita.. Hehehe… Seringkali, orang mengenalku bukan karena diriku dan tubuhku yang berada di dekatnya, tetapi karena memang tulisanku yang kadang sok-sokan… hahaha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s