logika berpisah di pikiranku

Aku teringat, ada sebuah ungkapan yang mengatakan, “Ada Pertemuan, pasti ada Perpisahan”. Logika bertemu dan berpisah, nampaknya sudah bisa terpastikan dengan jelas. Bahwa ada hubungan sebab akibat yang nampaknya hampir 99,99% dipastikan terjadi, meskipun pertemuan dan perpisahan adalah hal yang sebenarnya abstrak dan lebih bermakna sosial dibandingkan hitungan eksakta. Benar kan? Artinya, bahwa setiap orang yang melakukan pertemuan, pasti nantinya berpisah. Entah disebabkan karena apapun. Pastinya akan berpisah. Lagi-lagi harus saya tanyakan, benar kan???

gatra

Pertemuan dan perpisahan, adalah 2 hal yang kumaknai minggu-minggu ini. Aku menginjakkan kaki di Jakarta, 1 September 2008. Dan saat itulah, aku bertemu dengan Jakarta. Bertemu dengan orang-orang muda yang banyak berkarya dan bekerja, tapi kebanyakan hidup hanya untuk mencari uang. Aku tidak mau membandingkan dengan kota-kota sebelumnya, tempat tinggalku. Jika aku melakukannya, pasti ada yang bilang: “Dasar otak kampung!” Tapi demikianlah Jakarta. Aku adalah bagian kecil dari sekumpulan orang yang ribut untuk berjalan ke sana- ke sini, serasa dikejar oleh waktu. Padahal, apalah waktu? Dan bertemu dengan Jakarta, berarti nantinya, aku akan berpisah dengan Jakarta.

3 September 2008. Adalah waktu pertama, untuk menginjakkan kaki di sebuah kantor media massa, sebuah majalah beken di Jakarta, majalah GATRA. Aku bertemu dengan GATRA. Dan akupun bertemu dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Ingat lagi, aku bertemu dengan GATRA, maka nantinya, aku akan berpisah dengan GATRA. Kalau aku bertemu dengan orang-orangnya, maka nantinya, aku akan berpisah dengan mereka. Entah kapan, dan entah karena apa. Yang jelas, logika (baca: Teori) Bertemu dan berpisah, akan selalu mengerudungi kehidupanku dan Anda tentunya.

Dan sekarang, di bulan Januari 2009, aku memutuskan untuk berpisah dengan GATRA. Akhirnya, teori itu berhasil lagi “Ada pertemuan dan pasti ada perpisahan”. GATRA, sebuah majalah politik-ekonomi nasional, memberikan pengetahuan luar biasa mengenai jurnalistik. Dan dirikupun banyak bertemu dengan orang-orang hebat yang ada di sini maupun orang yang aku wawancarai. Semua karena GATRA.

GATRA itu indah. Seindah aku bertemu dengan rekan-rekan dan sahabat-sahabat terhebatku di sini. Mereka adalah pilihan. Dari berbagai latar belakang tentunya. Kami indah tapi lucu, karena kami bersama memiliki mimpi yang amat berbeda. Bercerita, dan berkisah mengenai hidup, impian ke depan, sekolah lagi, atau sekedar menggosipkan orang-orang yang ada di kantor, selalu jadi bagian yang tak kan pernah hilang. Enaknya lagi, di kantor inilah, aku bisa bangun siang, merasakan nikmatnya matahari ketika sudah ada di atas. Indahnya hidup ini…

Sekali lagi, aku harus berpisah, dari mereka, orang-orang terdekat dan terindah yang ada di sisiku selama di GATRA: Sukmono Fajar Turido, Putri Mira Gayatri, Ahmad Alfajri, Cavin R. Manuputy, Ermalindo Sonbay. dan dua fotografer yang selalu aku kagumi: Tresna Nurani dan Agung Rajasa. Mereka ini orang hebat. Mereka ini layak GATRA angkatan 2008. Juga, si koresponden Jogja yang aku kenal, ndeso tapi pinter cari narasumber, Arief Koes Hernawan. Mereka ini adalah reporter dan fotografer yang selama ini turut bergosip dan bercerita tentang kehidupan. Dan akhirnya, aku harus berpisah dengan mereka, karena aku telah bertemu dengan mereka. Juga, para senior yang sama sekali tidak pernah memarahiku. Tak taulah mengapa, mungkin aku memang bukan pembangkang dan bandel. Para pendahulu ini juga tak boleh diremehkan. Mereka membantuku untuk memahami kehidupan, khususnya dalam pekerjaan.

Kadang orang menyesal bertemu dengan seseorang. Tetapi, bagiku, bertemu dengan orang adalah kebahagiaan. Dan perpisahan, bagi kebanyakan artis, justru yang menjadi sumber kebahagiaan. Untuk para artis, ya kan? Tetapi bagiku, berpisah dengan GATRA dan mereka yang telah ada dalam kehidupanku selama kurang lebih 5 bulan, adalah beban yang berat. Berarti kata ‘berpisah’ lebih baik memang dijauhkan dalam kamus hidupku. Karena akan menambah beban kesedihan, ketidaksemangatan. Ini pula seperti yang aku rasakan ketika aku berpisah dengan rekan-rekanku di Filipina. Pertanyaannya, kapan lagi aku akan bertemu dengan mereka?

Baca juga kisah-kisah saya dengan mereka:

Kisahku dengan si Putri…

Kisahku dengan si Fajar…

Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Selamat berjumpa lagi, kawan. Semoga kita mendapatkan jalan kehidupan yang sesuai. Keberuntungan ada di tangan kita. Tetapi usaha dan doa adalah hal yang tak boleh dilupakan. Aku, Anwar Riksono, akan selalu mengingat, kebaikan kalian semua. Amin…

Iklan

One thought on “logika berpisah di pikiranku

  1. selamat berpisah Anwar. semoga langkah yang kamu ambil ini terbaik untukmu dan semoga sukses dengan langkah selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s