Pianississimo, Multi Pianis Penuh Talenta

Gadis 11 tahun itu melirik teman lelaki di depannya yang usianya 2 tahun lebih tua. Kemudian kepalanya mengangguk kecil. Mereka berada dalam posisi yang sama. Di depan piano Steinway hitam yang tersorot lampu kuning di atas mereka dan mungkin jari mereka sudah gatal, tak sabar ingin memainkannya.

Anggukan kecil itu adalah tanda. Beberapa detik kemudian tangan-tangan mereka lincah menari-nari di atas tuts piano. Mengalunkan karya komposer dan pianis Internasional dari Indonesia, Ananda Sukarlan. Mereka adalah pianis muda, Victoria Audrey Sarasvathi dan Randy Ryan. Masing-masing berumur 11  dan 13 tahun.

Begitulah salah satu pesona yang terlihat dari konser piano Java New Year’s Concert (JNYC) 2009 bertajuk Pianississimo gelaran Ananda Sukarlan, pianis yang dijuluki ‘A Brilliant Young Indonesian Pianist’. Ananda sengaja membuat konser pembuka tahun baru ini dengan diisi oleh para pianis-pianis muda Indonesia berbakat di dua kota, 4 Januari di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki dan 1 Januari di Taman Budaya Yogyakarta.

Selain Audrey dan Randy, 4 pianis muda yang turut menyemarakkan JNYC 2009 adalah Inge Melania Burniadi (22 tahun), Sheila Victoria Pietono (15 tahun), Alfred Young Sugiri (17 tahun) dan Handy Suroyo (16 tahun). Semuanya adalah pemenang dan finalis Ananda Sukarlan Award tahun 2008. Inilah mengapa, Ananda memilih kata Pianississimo yang berarti tampil banyak pianis dengan banyak kepribadian.

Saat pra konser JNYC di Dharmawangsa Square beberapa waktu lalu, Ananda menjanjikan, “Konser nanti, akan banyak menggabungkan unsur seni, visual, tari, suara dan sastra dari saya sendiri,” ujarnya kala itu. Terbukti, konser malam itu merupakan gabungan berbagai unsur seni yang diangkatnya. Pianississimo Menyatukan lukisan, puisi dan lenggokan tarian, dalam alunan melodi tuts piano Steinway yang mampu merangkul berbagai jiwa yang berkepribadian banyak.

Konsep yang diusung JNYC 2009 jelas berbeda dengan tahun sebelumnya. Jika awal tahun 2008 lalu tema cinta bertajuk Cantata Ars Amatoria diambil Ananda, kali ini, dirinya justru sengaja tak banyak bermain di atas tuts pianonya. Pianis-pianis muda justru disodorkan dan diberikan ruang untuk tampil di depan publik. Salah satunya, Randy yang lagi-lagi tampil memukau dengan satu Sonata milik Joseph Haydn, komposer periode klasik asal Austria abad 18,  yang terkenal susah dipelajari.

ananda1

“Karya Haydn ini cukup susah. Saya kagum, anak sekecil itu memainkan karya ini,” ucap Ananda diiringi tepuk tangan meriah dari penonton, khusus untuk Randy yang pernah meraih juara 3 dalam International Piano Competition for Young Musician di Belanda. Iramanya nampak tergesa-gesa, tapi Randy tetap teratur memainkannya.

Saat opening, Ananda rupanya juga ingin mengingat Haydn sebagai salah satu komposer yang nuansa karyanya turut mengalir dalam banyak komposisi buatan Ananda. “Konser ini saya dedikasikan untuk mengenang 200 tahun meninggalnya Haydn,” ujarnya di depan penonton. Total, 13 komposisi karya Ananda Sukarlan dipersembahkan dalam konser yang digelar tepat pukul 19.30 malam itu.

Sebagai bentuknya, Ananda secara khusus menciptakan komposisi berjudul Haydn Seek yang hanya dimainkan oleh tangan kiri saja. Ananda yang malam itu menggunakan baju putih dan berslempang kain sutra, nampak luluh dalam permainannya sendiri, walau Haydn Seek hanya berdurasi sekitar 1 menit saja. Pria kelahiran Jakarta, nampaknya lebih berhati-hati memainkan komposisi ini. Karena tak banyak pianis yang lincah menggunakan tangan kiri saja selancar dirinya.

7 lagu dari kumpulan Nyanyian Malam karya Ananda turut dimainkan dalam babak pertama konser. Semua karya Ananda yang terkumpul dalam Nyanyian Malam adalah hasil ciptaan Ananda ketika malam menjelang. “Saya sering sendiri di hotel ketika berkunjung ke negara-negara. Di situlah, saat malam hari, saya membuat komposisi baru,” ujar Ananda disambut tepuk tangan meriah sekitar 900 penonton yang hadir malam itu. Nyanyian Malam juga merupakan kumpulan komposisi yang merupakan gubahan dari sastrawan terkemuka Indonesia.

Soprano Bernadeta Astari yang kini sedang kuliah di Belanda, turut mengidungkan tiga lagu dalam Nyanyian Malam, yakni: ‘Tidurlah Intan’, ‘In Solitude’ dan ‘Meninggalkan Kandang’. Komposisi Tidurlah Intan merupakan gubahan dari karya puisi WS Rendra. Sedangkan In Solitude merupakan komposisi gubahan dari puisi milik Medy Loekito tahun 1992 yang hanya berjumlah 3 baris. Tak heran, jika hanya butuh 1 menit untuk memainkannya. Namun, duet Ananda dan Deta, panggilan Bernadeta Astari, cukup menyejukkan hati ketika malam sendu. Temponya mengalun perlahan. Lembut dan berhasrat, bagai seseorang yang ingin mencumbu bulan. Begitulah isi pada kalimat pertamanya.

Sedangkan 4 komposisi dalam karya Nyanyian Malam dilantunkan oleh penyanyi suara bariton Joseph Kristanto, yakni: ‘Kasih’, gubahan dari puisi Chendra Panatan yang juga koreografer, ‘Di Depan Sebuah Lukisan’ gubahan dari puisi milik Ook Nugroho, ‘Nepi, Nyepi’ gubahan karya dari Hasan Aspahani dan ‘Nostalgia’ dari Eka Budianta. Suara Akis, begitu panggilan Joseph Kristanto agak berat tetapi tetap nyaring, bahkan ketika harus melakukan tembakan suara modulasi ketika menyanyikan ‘Kasih’.

Komposisi keempat ciptaan Ananda yang dilantunkan Akis, panggilan Joseph Kristanto, cukup menawan. Apalagi pukulan piano Ananda pada lagu’Nostalgia’. Ritmenya menyesuaikan dengan perputaran roda kereta api yang berputar. Karena liriknya memang sedang menceritakan kereta api. Dimulai dari bunyi lirih dengan tempo kereta api yang mulai berjalan. Semakin lama, semakin lincah, semakin keras. Semakin berderap langkahnya. Bunyi semakin kuat. Kuat dan kuat. Tiba-tiba berhenti. Lagu selesai. Tepuk tangan kembali memecah suasana gedung.

Di antara 7 komposisi dalam Karya Nyanyian Malam yang paling mengesan malam itu adalah persembahan komposisi ‘Meninggalkan Kandang’ yang dilantunkan Deta. Komposisi yang digubah dari puisi milik satsrawan Eka Budianta tersebut didedikasikan Ananda kepada mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1985-1993, Fuad Hasan “Berkat beliau, saya bisa mendapatkan kemudahan untuk mengasah kemampuan saya ke luar negeri,” katanya mengenang peristiwa tahun 1986.

Tempo lagunya cepat. Suasananya bahagia, riang dan senyum penuh simpul. Jika melihat liriknyapun, serasa ceria dan penuh kebebasan. Begini bunyi salah satu baitnya: ‘Namaku camar, rumahku di langit. Mengapa dikurung bersama ayam? Makanan bergizi yang teratur. Keamanan terjamin dan hari tua makmur. Bukan dunia burung camar. Yang merdeka, berbahaya, penuh tantangan’.

Kala menciptakan komposisi lagu yang gembira tersebut, Ananda membayangkan dirinya sebagai seekor burung camar yang terbang bebas tapi penuh bahaya. Begitulah kisahnya, waktu dia mendapatkan kesempatan untuk bisa terbang merasakan pendidikan musik di luar negeri yang dibantu oleh Fuad Hasan. Deta, yang pernah menjadi pemenang Prinses Christina Concours 2007 di Den Haag, Belanda, menyajikan secara apik ketika melantunkan ‘Meninggalkan Kandang’ yang diringi oleh Ananda sendiri.

ananda3

Permainan piano Ananda sangat lincah. Tangannya gemulai meloncat-loncati tuts demi tuts. Suara Detapun mengimbanginya dengn konsisten memainkan peran sebagai soprano bersuara melengking tanpa cacat dalam mengatur nafas pada titik nada-nada tertinggi sekalipun. Nampaknya, gaya ceria Deta disusahkan dengan gaun panjang warna ungu gelap hingga menutupi kakinya.

Meski jiwanya tetap ada di musik, Ananda juga mampu mendialogkannya secara politis di dalam komposisi yang dia persembahkan dalam konser JNYC 2009. Karya tersebut berjudul I Sit and Look Out. Itu adalah karya Ananda yang digubah dari puisi milik Walt Whitman (1819–1892) yang merupakan sindiran atas situasi dunia yang semakin kacau balau.

Ketika hendak menulis komposisinya, Ananda berada di sebuah hotel di Italia sambil menyaksikan televisi. Melihat terpilihnya kembali George W. Bush untuk memimpin Amerika, Ananda merasakan akan ada kekacauan dunia yang akan kembali terjadi. Ini pas dengan puisi milik Walt Whitman yang menggambarkan situasi manusia yang sengsara. Barangkali, persembahan gubahan dalam konser itu adalah hasil sindiran Ananda terhadap situasi dunia yang rusak karena peperangan yang digencarkan Amerika kepada Irak.

Duet antara Deta dan Akis menjadi penutup babak pertama konser Ananda dengan melantunkan ‘Dalam Doaku’. Ini adalah karya Ananda yang juga membuat merinding para penikmat musik piano klasik malam itu. ‘Dalam Doaku’ diambil dari Cantata ‘Ars Amatoria’ yang berisi kisah cinta Romeo dan Juliet berlirik puisi Sapardi Djoko Darmono.

Duet klasik sang penyanyi yang diringi pukulan piano Ananda Sukarlan sendiri, menciptakan suasana sendu tetapi hangat. Maklum, karena Sapardi Djoko Darmono terkenal dengan puisi romantika cinta klasik, alunan Anandapun nampak pelan, namun memberikan sentuhan cresendo dan decresendo yang kadang membuat sendu. Lagi-lagi, applause dari penonton tak terbendung meriahnya ketika mereka menutup lagu tersebut dengan akhir liriknya yang manis. ‘Aku mencintaimu! Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.’

ananda-2

Di babak kedua setelah istirahat 15 menit, duo pianis cilik, Audrey dan Randy yang membawakan The Humiliation of Drupadi tak kalah indahnya. Komposisi ini merupakan karya Ananda yang diambil dari kisah Dewi Drupadi yang menjadi taruhan judi suaminya, Yudhistira.

Bahkan, cukilan kisah Mahabarata yang diadaptasi dalam mitologis jawa ini menjadi komposisi paling bernafaskan Indonesia, malam itu. Permainan mereka sangat manis, meski kadang Audrey nampak menyibakkan rambutnya yang panjang dan Randy beberapa kali membetulkan kacamatanya yang melorot saat memainkannya. Starting point Audrey dan Randy dalam mengalunkan komposisi ini pas dan langsung menghentak dalam tempo yang cepat bagai pukulan seseg dalam gending.

Konsep koreografi ala Chendra Panatan tak kalah memukau ketika mengiringi alunan piano bernuansa gamelan ini. Lenggokan Drupadi oleh penari asal Solo, Adisna K. Arimawan, menjadi bumbu komposisi indah The Humiliation of Drupadi. Di akhir babak cerita, saat tempo piano yang semakin menggebu dan kencang, sang Drupadi berputar-putar di atas dua bongkahan dadu yang besar sebagai instrumen tarinya.

Kedua penari lelaki menarik kemben warna merah yang membalut dada sang wanita. Semakin panjang mereka menariknya. Tak pernah habis dan terus berputar, bak Drupadi ketika ditolong para Dewa saat hendak ditelanjangi. Begitulah akhir dari bagian persembahan kisah Drupadi.

Banyak karya Ananda yang terinspirasi dari para pelukis ternama. Lukisan karya Titian di abad 16 yang berjudul “Bacchus & Ariadne” misalnya, menjadi salah salah inspirasi Ananda untuk membuat komposisinya yang berjudul Rescuing Ariadne.

Dalam konser malam itu, Alfred Young Sugiri, pianis muda kelahiran Bandung 1991 dipercaya memainkannya bersama pemain flute, Elizabeth Ashford. Saat digandengkan, alunan melodi romantika cinta klasik Ariadne, Putri Asal negeri Kreta yang diasingkan dan Bacchus itu benar-benar menampar hati.

Masih dalam suasana cinta yang mengharu, pianis muda Inge Melania Buniardi yang kini bersekolah di Sweelinck Conservatory, Amsterdam memainkan karya Ananda yang berjudul “Mahasunyi yang Meniti Butir-butir Gerimis”. Bagi Ananda, karya ini sangat spesial. Lantaran, karya ini didasarkan pada puisi Sapardi Djoko Darmono yang dibuat khusus untuk Andy, panggilan Ananda, yang diberi judul ‘4 Sonet untuk Andy, Pengamen’ yang dipersembahkan tepat di hari ulang tahunnya beberapa tahun lalu.

ananda-4

Dari sejumlah komposisi yang ditampilkan dalam konser Pianississimo, Ananda turut memasukkan sebuah komposisi manis dan ringan berjudul Fantasie. Kali ini, komposisi tersebut bukan milik Ananda tetapi karya asli Andhanu Candana. Andhanu menjadi salah satu tamu kehormatan di tengah konser Ananda yang telah dipersiapkan sejak pertengahan tahun 2008 ini.

Siapakah dia? Andhanu adalah komposer muda berbakat yang usianya masih 16 tahun. Fantasie miliknya dimainkan pula oleh 2 pianis cilik, Audrey dan Randy dalam satu piano. Meski berada dalam satu piano, tapi kedua pianis cilik tersebut tetap memiliki jatah space dalam barisan oktaf tertentu. Audrey di nada tinggi dan Randy sebaliknya. Tak pernah bertabrakan jika bermain dalam satu piano sekaligus. “Karya ini saya buat tahun 2007. Dibuat dalam waktu 2 bulan,” kata lelaki kelahiran 29 Agustus 1992 ini.

Luar biasa! Andhanu yang mulai belajar piano sejak 7 tahun ini, mulai membuat komposisi sejak 13 tahun.  Karya pertamanya berjudul Rondo. “Rondo itu artinya lagu yang bentuknya memutar-mutar,” kata lelaki yang kini duduk di kelas 1 SMA ini. Untuk Fantasie Andhanu benar-benar menciptakan karyanya sendiri.

“Inilah talenta anak bangsa yang perlu kita perhatikan dan kembangkan,” ujar Ananda yang kemudian mempersilakan Andhanu Candana maju untuk menerima karangan bunga disambut tepuk tangan meriah dari penonton. Karya Andhanu ini sebelumnya juga pernah dimainkan dalam konser Jakarta Conservatory of Music beberapa waktu lalu.

Sebagai penutup dan puncak konser Pianississimo, Ananda membuat sebuah komposisi pertama di dunia, dengan 6 pemain, 12 tangan di atas 3 piano. Ini bukan karya yang main-main. Konsepnya tak lagi diragukan dalam membuat sebuah komposisi.

Benar saja, Schumann’s Psychosis karya Ananda mendapat tepuk tangan luar biasa yang menggetarkan Graha Bakti Budaya, TIM malam itu. Audrey, Randy, Sheila, Handy, Alfred dan Inge kompak memainkan karya besar Ananda ini. Padahal, saat ditanya, mereka mengaku, latihan intensif hanya berlangsung 4 kali, dan hanya sekitar 2 kali saat menjelang konser.

Schumann’s Psychosis sebenarnya juga terinspirasi dari sebuah lukisan. Lukisan berjudul Dua Jiwa milik Asep Berlian menjadi salah satu inspirasi Ananda dalam membuat komposisi ini. Chendra sebagai koreografer memberikan sentuhan gerakan unik dan lucu dari 3 penarinya yang menggambarkan 1 tubuh tapi 3 kepribadian.

Schumann’s Psychosis memiliki Joyful ryhtms, begitulah tulisan Ananda di dalam blognya. Schumann’s Psychosis  juga menggambarkan hal yang mempesona dari komposer Jerman beraliran romantik abad 19, Robert Schumann dengan multi-personalitinya. Untuk itulah, kepribadian banyak itu diwujudkan dalam 3 piano, dan dimainkan oleh 6 pribadi yang berbeda.

Sebelum memainkan Schumann’s Psychosis, anggukan kecil para pemainnya yang sudah siap di depan 3 piano Steinway menjadi tanda bahwa akan dimulai. Seakan tanda menyetujui, bahwa beberapa detik lagi tuts sudah harus ditekan. Berdebar menanti mereka memainkan karya besar Ananda ini.

Jika salah satu tuts saja terlambat ditekan, maka akan terdengar sekali kesalahan yang mereka buat. Begitu juga jika ada yang mendahului. Ting…  Akhirnya dimulailah permainan 6 pianis secara bersama dan sempurna. Ananda tetap setia menunggu mereka dan menikmati di balik tirai panggung.

Cerminan Schumann’s Psychosis adalah banyak kepribadian, maka banyak pula pianisnya. 3 piano sengaja baru ditaruh di atas panggung saat babak kedua konser ini dimulai. Intinya memang pada babak kedia. Menggabungkan keenam pianis dalam satu komposisi dan hanya menggunakan 3 piano, bukan perkara mudah.

“Bukan hanya main, tetapi bagaimana individunya bisa saling mendengarkan agar bisa padu dan tepat,” katanya ketika pra-konser di Dharmawangsa Square beberapa waktu lalu. Namun, permainan pianis-pianis muda itupun sudah tak diragukan lagi. Mereka tetap tampil prima dan memukau, meski jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 10 malam.

Lenggak-lenggok ketiga penari yang kadang terpatah-patah menggambarkan bahwa ada kepribadian yang berbeda-beda dalam satu tubuh manusia. Schumann’s Psychosis menjadi persembahan terakhir yang cukup mendebarkan. Namun, semua berakhir pada applause meriah yang menggema di seluruh ruangan gedung. Beberapa penonton memberikan penghargaan dengan bangkit dari duduknya dan sambil tetap bertepuk tangan.

Konser tersebut menggambarkan bahwa Ananda memiliki ketulusan mewujudkan mimpi pianis-pianis muda berbakat di Indonesia. Ia sadar betul bahwa dibutuhkan sebuah konser yang mampu mendorong mereka untuk lebih maju. Pianississimo sebagai salah satu ajangnya.

“Kita lihat pianis muda ini, kita sangat berbangga, dan generasi muda kita berada dalam masa depan yang cerah. Itu tugas kita membimbing mereka,” ujarnya ketika ditemui setelah konser. Untuk itulah, malam itu juga, sebagai malam ajang donasi untuk pianis muda berbakat. Uang sebesar 109 juta rupiah diberikan kepada para pianis muda yang akan melanjutkan sekolah musiknya ke luar negeri.

Iklan

One thought on “Pianississimo, Multi Pianis Penuh Talenta

  1. kritik:
    banyak paragraf2 yang dekoratif dan kesannya cuman untuk memenuhi batas panjang artikel. Misal ..

    Permainan piano Ananda sangat lincah. Tangannya gemulai meloncat-loncati tuts demi tuts. Suara Detapun mengimbanginya dengn konsisten memainkan peran sebagai soprano bersuara melengking tanpa cacat dalam mengatur nafas pada titik nada-nada tertinggi sekalipun. Nampaknya, gaya ceria Deta disusahkan dengan gaun panjang warna ungu gelap hingga menutupi kakinya.

    aku gak tau pembacanya Gatra orang2 yang seperti apa, tapi kalo untuk orang2 yang music literate, content artikelnya kurang.

    anyway, you did a lot of research to wrote that. Kudos..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s