Belajar dalam Spirit UAJY: Sebuah Pengalaman Empiris

(Tulisan ini dimuat dalam majalah komunitas UAJY, Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

 

uajy.jpgTidak terpikirkan jauh sebelumnya, mengapa saya memilih UAJY sebagai universitas yang kini menjadi ‘rumah ilmu’ bagi saya. Yang jelas, komitmen pendidikan dengan semangat kristiani menjadi pegangan saya dalam memilih tempat pendidikan yang baru. Bukan bermaksud ingin mengeksklusifkan, tetapi pengalaman historis selama saya bersekolah, saya mulai berpikir bahwa sistem pendidikan berbasis kristianilah yang membentuk karakter dan kepribadian saya hingga menjadi sekarang ini. Kenyataannya memang sejak pendidikan di Taman Kanak-kanak hingga sekarang saya bersekolah di pendidikan katholik. Tidak hanya pengembangan ilmu dan akademik yang diterapkan dalam pola belajar mengajar tetapi semangat untuk peduli dan ‘melihat’ sesama juga selalu ditanamkan.

Ketika di SMU, saya punya harapan besar untuk bisa melanjutkan studi di perguruan tinggi. Memang, ketika di SMU –waktu itu di SMU PL Van Lith- banyak sekali tawaran dan pilihan yang justru membingungkan saya dalam memilih perguruan tinggi, bahkan jurusan yang sangat variatif kajiannya. Tetapi entah kenapa pada akhirnya pilihan saya jatuh di Program Studi Ilmu Komunikasi. Alasan yang mendasar adalah, kecintaan saya terhadap ilmu-ilmu sosial. Masyarakat menjadi inti dalam kajian-kajian ilmu sosial. Bagi saya, masyarakat itu pulalah yang unik dan sangat dinamis.

Untungnya, saya punya orientasi dan pemikiran ke depan. Saya selalu berpikir, dunia sosial khususya komunikasi berkembang sangat pesat, maka dibutuhkanlah orang-orang yang punya jiwa besar dalam menghadapi tantangan dan perubahan di dunia komunikasi. Tidak ada salahnya, jika kita mencoba –saat itu memang masih merasa coba-coba- untuk bergabung dalam pendidikan komunikasi. Alasannya singkat, manusia –termasuk kita- juga ambil bagian dalam arus komunikasi tersebut. Meski pada awalnya saya merasa agak kurang pas ketika belajar di komunikasi, tetapi toh perasaan itu hanya sesaat. Dan kalau dipikirkan terus justru akan menenggelamkan saya dalam kegelisahan hidup dan mematahkan semangat untuk berusaha.

Yang menarik, ada satu alasan lain sehingga saya memilih Atma Jaya sebagai ‘rumah ilmu’ saya. Selain pendidikan yang berbasis kristiani, UAJY juga sebagai tempat pengembangan minat dan bakat bagi kaum muda yang haus untuk mengekspresikan diri. Saya adalah bagian dari kaum muda. Sayapun memiliki harapan untuk bisa mengekspresikan diri saya layaknya kaum muda yang lain. Melalui berbagai kegiatan-kegiatan, UAJY menumbuhkan semangat untuk belajar berorganisasi, belajar menjadi pemimpin, belajar untuk mengelola jaringan sosial. Terlebih ketika saya mulai mengenal UAJY di semester 3, khususnya di FISIP. Tak hanya mengekspesikan pemikiran tentang ilmu, di sini saya belajar dunia perpolitikan mahasiswa, mengembangkan seni, dan aktivitas minat bakat lainnya. Dan kenyataan inilah yang membuat saya terus aktif dalam berkegiatan. Dan sangat saya sadari, bahwa saya mendapatkan banyak hal melalui aktivitas saya di kampus setiap hari. Bahkan setiap saya mengawali langkah saya di UAJY setiap pagi.

Saya tak mengalami keterkejutan yang berarti ketika melihat dunia mahasiswa untuk pertama kali. Kata-kata seputar kedewasaan, kemandirian dan kritis dalam berpikir serta bersikap bukanlah sesuatu yang baru bagi saya. Hal tersebut sudah banyak saya dapatkan ketika hidup berasrama di SMU Van Lith yang malah dituntut solider dan care terhadap sesama. Kemudian saya berpikir, inilah saatnya saya menunjukkan kedewasaan, kemandirian dan sikap kritis itu. Tepat di saat kita menjadi seorang mahasiswa. Maka ketika awal perkuliahan, saya mulai mencoba menerapkan kedewasaan, kemandirian dan sikap kritis tersebut. Kalau di SMU saya mendapatkan, kalau di perguruan tinggi saja aplikasikan. Dan ini bukanlah suatu pekerjaan mudah. Seringkali saya dicap sebagai seorang yang terlalu kritis dan idealis. Tapi bagi saya, labeling dari siapapun tak ada artinya ketika kita bisa menunjukkannya dalam sikap dan perbuatan yang nyata dalam hidup sehari-hari. The show must go on. Di UAJY, saya kira menjadi lahan tempat untuk mengembangkan hal itu semua.

Anak-anak TuhanBagi saya pribadi, pendidikan sekarang memang cukup mahal. Ketika kita diberikan kesempatan untuk bisa merasakan pendidikan, hendaklah kita manfaatkan kesempatan itu sepenuhnya. Terlebih lagi ketika di perguruan tinggi. Itulah yang saya lakukan ketika kuliah di UAJY. Misalnya saja persoalan fasilitas dari universitas. Fasilitas yang diberikan UAJY harus digunakan secara maksimal. Begitulah cara kita untuk bisa berkembang dalam hal praktis. Selama kita diberikan fasilitas, kita bisa gunakan untuk pengembangan ilmu. Pada akhirnya bisa kita gunakan secara praktis bagi masyarakat. Pusat-pusat studi yang rencananya akan dibangun, juga akan membantu kita untuk memahami dan menyelesaikan berbagai persoalan yang menjadi kegelisahan di masyarakat.

Tidak hanya sebatas impian masa depan yang ingin saya kejar ketika kuliah di UAJY, tetapi saya mencoba memaksimalkan keseluruhan talenta yang Tuhan berikan sebelumnya. Pengembangan tersebut termasuk, bakat, minat, hobby, dan yang terpenting adalah personal achievement. Di sini pulalah saya belajar untuk menghargai orang lain, memahami sikap dan perilaku manusia, melihat realitas sosial kecil apa adanya dan memahami perbedaan yang seringkali sulit untuk diterima. Komunitas Atma Jaya membentuk diri saya menjadi orang yang mau dan tidak malu menerima tantangan dan menyelesaikan berbagai persoalan hidup dan akademik.

Sebagai sebuah bagian kecil dari komunitas UAJY tentunya saya memiliki sebuah harapan. UAJY kiranya juga perlu memberikan perhatian kepada masyarakat, sebagai implementasi dari pengabdian pada masyarakat. Kerjasama antara pendidik dan mahasiswa juga harus seiring untuk bisa melibatkan masyarakat dalam rangka pengembangan ilmu yang aplikatif bagi mereka. Harapan lain, kiranya UAJY harus terus memperlebar sayap relasi dan jaringan dengan berbagai macam komunitas maupun kelompok pengembang ilmu lainnya. Ini akan mudah untuk melakukan kerjasama di berbagai bidang. Pada akhirnya, terjadi transfer ilmu dan penemuan perspektif lain dan baru dari ilmu tersebut. Mahasiswa juga perlu dilibatkan dalam jalinan relasi tersebut. Tujuannya, memudahkan bagi calon lulusan UAJY untuk bisa diterima secara luas dan merata di masyarakat dan berbagai kalangan.

Sebagai sebuah penutup, saya ingin berbagi pengalaman. Saya sungguh tertarik dengan presentasi pembukaan dalam acara ASEACCU 15th di Manila kemarin. Dr. Victor Ordonez dari De la Salle University dengan tegas menanyakan melalui pertanyaan kritis dan mungkin retoris: “What makes a Catholic university Catholic?” Jawabannya bukan karena memilih yang miskin, bukan karena pemiliknya Katholik, bukan karena ada fakultas teologi, bukan karena komitmen kepada masyarakatnya. Tetapi adalah semangat pelayanan untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan di setiap langkah hidup. Untuk itulah, perlu dibangun semangat belajar dan bekerja bersama mengembangkan ilmu dan melihat masyarakat secara nyata serta berusaha mengembangkannya. SERVIENS IN LUMINE VERITATIS. VIVA UAJY!

Iklan

3 thoughts on “Belajar dalam Spirit UAJY: Sebuah Pengalaman Empiris

  1. berikut saya juga nyumpang tulisan untuk membenaskan orang kita agar mulai suka menulis:

    Indonesia Berpotensi Lenyap Dari Peta Kesusasteraan Dunia

    Oleh: Marjohan, M.Pd

    Guru SMA Negeri 3 Batusangkar

    Bila kita pergi ke kota-kota besar di Indonesia, Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, Makasar, dan lain-lain, dan berintegrasi dengan penduduk di sana maka akan ditemukan bahwa paling kurang ada empat etnis yang warganya hidup melalui semangat wirausaha. Mereka ikut menggerakan nadi perekonomian kota-kota tersebut. Etnis ini adalah Batak, Jawa, Minang dan Cina, etnis-etnis lain tentu juga memiliki cirri khas positif tersendiri. Tekad mula-mula berwirausaha adalah untuk menghidupi diri dan keuarga. Mereka menanamkan semangat wirausaha- suka bekerja keras, menghargai waktu, disipin, jujur dan semangat sebagai perintis/pioneer, dari generasi ke generasi agar mampu berusaha untuk memayungi diri dan keluarga untuk selamat dari terik panas kehidupan dan hujan problema. Semangat wirausaha ternyata juga berdampak dalam memajukan negara ini, membuka lapangan kerja dan mengatasi pengangguran.

    Etnis Minang sejak dahulu terkenal sebagai etnis yang suka merantau, melakukan migrasi untuk meningkatkan kualitas hidup. Dengan semangat pioneer, kerja keras dan disiplin mereka bisa tumbuh sukses melalui wirausaha- mereka menjadi pedagang, membuka perusahaan, industri, dan bisnis lain. Di mana-mana di Indonesia kita dapat menjumpai orang-orang yang mengaku berasal dari Padang (Minang atau Sumatera Barat) dan sukses di sana melalui wirausaha mereka.

    Namun tidak semua orang Minang yang berwirausaha melaui berdagang atau menjadi saudagar. Sebagian ada yang berkembang melalui potensi. Zoelverdi (1995) menulis buku yang berjudul “Siapa Mengapa Sejumlah Orang Minang”, memaparkan sejumlah orang Minang yang tumbuh dan berkembang dalam berwirausaha melaui potensi menulis. Dengan energi menulis yang besar mereka mengembangkan diri menjadi wartawan, budayawan, sutradara, pengusaha penerbitan majalah, sosiolog, psikolog dan lain-lain. Mereka adalah seperti A.A Navis, Karni Ilyas, Montinggo Boesye, Kamardi Rais, Ani Idrus, Asrul Sani, Arizal, Lukman Umar, Mochtar Naim, Zakiah Daradjat, dan tentu masih ada sejumlah tokoh-tokoh sukses lainnya.

    A.A Navis adalah penulis yang ngetop dengan novel nya yang berjudul “Robohnya Surau Kami”. Walau ia berkarya dari kota kecil di pertengahan pulau Sumatra, namun gema karyanya luas sekali melintasi nusantara. Tulisannya banyak dalam bentuk cerpen (cerita pendek), dan tema cerpennya adalah seputar celoteh atau gaya ngobrol orang-orang di lapau (warung kopi di daerah Minang). Strateginya dalam mengembangkan fiksinya adalah melalui sudut pandang “pro dan kontra” dan ditambah dengan nilai-nilai Islam. Karya tulisnya menjadi hidup, menjadi fenomena dan digemari oleh banyak orang, malah tulisannya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jepang dan Jerman.

    Saat Navis muda, karis sebagai penulis dipandang rendah- underestimate,oleh sebahagian masyarakat. Karena sejak dulu orang ada yang selalu memandang hidup ini dari jumlah uang atau matre, namun Navis selalu berbuat- menulis cerpen demi cerpen dan menulis apa saja yang terlintas dalam fikirannya. Bila selesai menulis maka dikirim ke penerbit, Koran dan majalah. Tulisan atau cerpennya juga sering ditolak namun ia tidak patah semangat dan selalu menulis. Kupasan tulisannya adalah tentang masalah kemanusiaan yaitu penderitaan, kegetiran hidup, kebahagiaan dan harapan. Ternyata tiap orang harus punya obsesi dan obsesi Navis adalah “pantang kalah” – tidak suka menyerah atas kesulitan dan penderitaan hidup.

    Karni Iyas adalah kolumnis dan wartawan yang tulisannya sangat bekualitas (dapat dibaca pada majalah Tempo). Ia sejak kecil sangat suka membaca dan berdiskusi. Waktu di Sekolah Dasar ayahnya menjadi teman berdebatnya tentang poitik. Waktu ia sekolah di SMP ia pun sangat aktif menulis, kalau selesai ia coba untuk mengirimnya ke koran-koran, “kalau terbit ya syukur dan kalau tidak ya tidak patah hati dan terus menulis”. Karni menjadikan menulis sebagai hobbi dan untuk kepuasan batin.

    Seperti orang kebanyakan, ia juga merantau ke Jakarta, malah dengan uang pas- pasan. Untuk mengatasi kesuitan hidup bukan dengan cara mengeluh dan minta belas kasihan, tetapi dengan kerja serabutan- “tidak perlu gengsi-gengsian yang penting halal”. Ia kemudian meniti karir sebagai penulis dan wartawan yang terkemuka di ibu kota.

    Montinggo Boesye adalah penulis yang sangat produktif. Karena ia bisa menyelesaikan 200 novel, 200 cerpen dan 10 drama. Namanya terpahat di taman kota Seoul, Korea Selatan, masuk di antara 1.000 penyair dunia. Ternyata masa kecil penulis tidak musti bertindak sebagai anak yang manis, Boesye malah sebagai anak laki-laki yang nakal dan agresif. Waktu kecil di zaman penjajahan Jepang, Boesye punya sepeda roda kecil. Iseng-iseng diduduki oleh serdadu Jepang dan patah, tentu saja si kecil Boesye menangis. Namun diganti dengan sebuah mesin tik. Boesye sangat senang dan di situlah tumbuh minant awalnya untuk menulis. Sunguh sangat hebat pada masa itu ada anak kecil yang belajar menulis memakai mesin ketik.

    Ide-ide yang ia tulis terbentuk akibat kebiasaan nya yang suka melahap buku (membaca banyak buku). Bakat mengarangnya terbentuk/termotivasi setelah membaca buku cerita pertualangan, “Ah kalau menulis kayak begini aku juga bisa”. Di akhir masa anak-anaknya Boesye menjadi yatim piatu (ayah dan ibu nya berpulang ke Rahmatullah) namun ia masih beruntung karena di pelihara dan dibesarkan oleh pamannya yang penyayang. Pengalaman bertualang tinggal bersama paman sempat berkembang karena pamannya punya mobil jeep dan ia sering dibawa pergi. Mobil Jeep pada waktu itu dipandang sangat lux dan pengalamannya yang lain, untuk menumbuhkan jiwa wirausaha, adalah membantu paman dalam berdagang koran.

    Kamardi Rais, potensinya sebagai penulis mengantarkannya sebagai wartawan. Waktu kecil ia suka membaca kisah fiksi- kisah pertualangan. Kemudian ia termotivasi dan meniru- niru menulis kisah petualangan. Bakat menulisnya berkembang secara otodidak. Ketika duduk di bangku SMA ia menulis pengalaman pribadi dan juga menulis tentang problem tetangga yang sering bertengkar.

    Ternyata ayah Kamardi juga suka membaca dan mengkoleksi majalah Islam, Pedoman Masyarakat. Di sana ia mengenal nama-nama dan tulisan tokoh-tokoh besar seperti HAMKA, Adi Negoro, Natsir, Yunan Nasution. Seorang calon penulis juga perlu punya figure untuk menumbuh-kembangkan potensi menulisnya.

    Ani Idrus adalah perempuan yang berkarir sebagai wartawan. Ayahnya Cuma seorang pegawai kecil. Orangtuanya tidak membatasi pergaulannya waktu kecil, temannya banyak pria dan juga wanita. Ia termasuk anak yang lasak- ingin tahu banyak dan serba suka melihat dan memegang hal-hal yang dianggap baru. Jadinya ia punya banyak pengalaman.

    Ia beruntung tingga di daerah yang berkualitas, di kota Medan, dan ia juga bersekolah di tempat yang berkualitas. Di sana ia memperoleh banyak budaya positif- berani, disiplin, ingin tahu, bekerja keras, belajar keras dan gemar membaca. Ia pun diizinkan mengikuti kursus Bahasa Asing, kursus menjahit. Saat sekloah di MULO (semacam SMA sekarang) ia juga aktif berorganisasi dan mengikuti kegiatan pramuka. Ia mengembangkan hobi menulis dan mengirimnya ke koran-koran, ia juga menyempatkan waktu untuk mengunjungi tokoh-tokoh terkemuka saat itu. Pengalaman berorganisasi dan menulis membuat ia terdorong untuk menerbitkan Koran “Waspada” di Medan.

    Asrul Sani beruntung memiliki dua kemampuan yang bagus, sebagai penulis dan good speaker. Bakat sastranya (menulis) berkembang lewat otodidak yaitu membaca buku-buku abangnya. Ia mulai mengenal puisi dan sastra Eropa. Ia belajar Bahasa Jerman juga secara otodidak dan menterjemahkan sastra Eropa. Setelah dewasa ia berada di Jakarta dan mencari teman untuk mempertajam pola berfikir, ia berjumpa dengan Usmar Ismail dan mendirikan Akademi Teater. Ia kemudian dikenal sebagai penulis skenario film dan itu semua diawali oleh kegemaran membaca dan menulis.

    Arizal, di usia anak-anak sudah mahir memainkan alat musik. Tentu saja karena orang tuanya memberi nya perhatian dan fasilitas alat musik. Pernah pada masa itu ia tampil di pasar malam memainkan harmonika dan memukau penonton. Tentu saja ia memperoleh applause, sebuah penghargaan yang akan mengangkat potensi dan harga dirinya berkembang.

    Pada masa remaja ia punya bakat yang lain- pintar main sulap, musik, dan melukis. Ia bergabung dengan band sekolah dan band di masyarakat. Tiap akhir pekan, malam minggu, ia jadi musisi hiburan untuk pesta perkawinan. Karena pintar melukis ia juga menulis komik dan juga menulis cerpen. Ia sering mengirim komik dan cerpen ke majalah. Kemampuan menulis dan melukis mengantarkan karirnya ke dunia film. Filmnya dipengaruhi oleh komik yaitu tentang hal- hal yang lucu, karena itu ia mampu melahirkan film lucu pula seperi film yang dibintangi oeh Warkop DKI- Warung Kopi Dono, Kasino dan Indro. Suksesnya sebagai sutradara film karena ia memiliki kepintaran berganda dan ditambah dengan penglamannya belajar di Holywood Amerika dan pernah bermain fim sebagai figuran pembantu di sana.

    Lukman Umar, ayahnya hanyalah petani kecil dan hidup serba kekurangan oleh karena itu ia terlibat membantu orang tua bekerja di sawah dan landang. Secara tidak langsung pengalaman ini memberi nya life skil atau kecakapan hidup. Hidup serba kekurangan bukanlah menjadi alasan untuk tidak bersekolah. Lukman juga punya prinsip hidup yaitu “pantang menyerah dan tidak gengsi-gensian bekerja” asal itu halal. Maka sambil kuliah di IAIN Jogjakarta ia juga jualan Koran. Ia juga aktif di koperasi mahasiswa di kampus. Kemudian ia merantau lagi ke Jakarata. Merantau ke Jogja untuk cari ilmu dan pengalaman dan merantau ke Jakarta untuk cari hidup. Di sini ini tertarik dengan dunia penerbitan. Ia berjuang hidup dan kemudian menjadi redaktur majalah Varia. Ia terjun langsung mengantarkan majalah kea agen-agen. Kemudian ia menerbitkan sejumlah majalah seperti majalah Kartini, Putri Indonesia, Sarinah, Hasta Karya, Asri, Amanah, Panasea, dan Forum Keadilan.

    Mochtar Naim, sebagai sosiolog, ia juga seorang penulis. Orang tuanya adalah pedagang harian dan ia didik taat beragama. Waktu kecil ia gemar membaca, ia punya tokoh-tokoh idola seperti Hatta, Soekarno dan Assa’at. Waktu kecil juga ibunya meninggal dan ayahnya berjalan, maka pendidikannya dibantu secara bergotong royong (kolaborasi) oleh paman-pamannya. Ternyata mahasiswa yang bakalan sukses, sebagaimana halnya Mochtar ketika kuliah di Jogja, harus aktif berorganisasi. Dan ia mendirikan Islam Study Club dan mengundang tokoh-tokoh terkenal untuk bertukar fikiran. Inilah yang membuatnya menjadi lebih intelektual dengan pendidikan dan pengalaman kerja di Amerika dan Singapura membuatnya sebagai tokoh Sosiolog.

    Zakiah daraDjat, adalah anak sulung dari sepuluh bersaudara dan ia sebagai tempat curhat (curah perhatian atau sharing ideas) bagi adik-adiknya. Kelas empat SD ia terlatih berbicara di muka umum- sebagai tugas yang diberikan oleh guru. Ia juga sering mengkuti kegiatan muhadharah, berpidato/ceramah, di mesjid. Ia rajin bekerja dan belajar. Pemerintah memberinya beasiswa ke Mesir dan ia langsung mengambil program Doktoral di sana seteah delapan tahun belajar ia pulang ke Indonesia. Ia aktif member ceramah dan konsultasi. Tentu saja ia memerlukan mengembangkan kemampuan menulis.

    Uraian-uraian tentang figure di atas memperlihatkan bahwa mereka juga orang-orang biasa namun memiliki karakter dan budaya yang ekstra atau berebih dari orang-orang kebanyakan. Ada yang memiliki latar belakang orangtua terdidik atau biasa-biasa saja. Namun mereka berasal dari keluarga besar sehingga memperoleh bagian kerja- untuk melatih tanggung jawab. Orang tua zaman sekarang juga perlu memberi anak tanggung jawab- kerja anak tidak hanya belajar dan belajar. Mereka harus bisa memasak, cuci piring, mengasuh adik/ keponakan, kalau boeh juga bisa mencangkul, gembala hewan- bagi yang tingga di daerah pedesaan.

    Melahirkan generasi yang jago menulis, mereka harus terbiasa gemar membaca sejak kecil, kemudian berdiskusi, menulis cerpen dan atau prosa lain. Mereka perlu punya pengalaman hidup dan perlu punya tokoh idola dalam mencari jati diri. Untuk menjadi orang berkuaitas, faktor tempat tinggal/ rumah, sekolah dan lingkungan yang berkualitas sangat menentukan. Lingkungan berkualitas akan membuat mereka memiliki pribadi yang positif- berani, disiplin, ingin tahu, bekerja keras, belajar keras dan gemar membaca.

    Namun zaman bergulir dan perobahan selalu terjadi. Dahulu banyak orang terbiasa saling berkiriman surat satu sama lain. Bagi pelajar secara tidak langsung kebiasaan berkirim surat atau korespondensi bias menyuburkan bakat sastranya, menulis puisi dan prosa. Kini zaman berobah, orang amat jarang berkirim surat teknologi seluler membuat orang senang menulis SMS, pesan singkat dan kosakata serta tatasan diketik amburadul. Walau ada internet pengganti sarana berkirim surat elektronik atau e-mai, namun pelajar lebih suka melakukan chatting, bertukar gambar lewat friendster, mendownoad lagu, main game, baca komik, nonton pada tube (perlu diingatkan agar tidak salah tonton- say no to porn situs).

    Andai bakat dan potensi menulis pelajar tidak digubris dalam zaman yang budaya menulis yang sudah kering ini maka dapat dipastikan Indonesia akan lenyap dari peta sastra dunia. Tentu orang tidak mengenal penulis dan pendidikan di negara ini. Sebelum hal ini terlanjur terjadi maka tugas kita para pendidik, guru dan orang tua, dan terutama para pelajar itu sendiri untuk kembali mengaktifkan diri dalam mengembangkan minat menulis mereka (generasi muda). Diharapkan mereka bias memiiki kemampuan menulis yang hebat, dan ini kelak akan mampu membuat mereka menjadi orang yang sukses, suka berwirausaha dan mengembangkan diri untuk maju.

    (Catatan, Zoeverdi, Ed.(1995). Siapa Mengapa Sejumlah Orang Minang. Jakarta: BK3AM DKI)

  2. Halo mas anwar, aku dessy calon mahasiswa di manajemen uajy ’15 hehe. Bagus tulisannya mas, jadi semakin mantap buat masuk uajy hehe. Salam kenal, Gbu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s