FALSAFAH HIDUP JAWA dalam PANCASILA

Apabila kita berbicara mengenai falsafah hidup orang Jawa, maka kita tidak akan melepaskan pembicaraan mengenai mistik kejawen. Ini karena mistik kejawen tidak lain juga merupakan representasi upaya berpikir filosofi manusia Jawa. Karena itu, melalui mistik kejawen dapat diketahui bagaimana manusia Jawa berpikir tentang hidup, manusia, dunia dan Tuhan. Sejenak kita akan membahas mengenai beberapa falsafah hidup orang Jawa. Kita juga akan mengetahui bahwa nilai-nilai dan falsafah hidup manusia Jawa akhirnya direduksi menjadi falsafah Pancasila. Pancasila tidak hanya dihayati sebagai sebuah lima sila secara teoritis tetapi lebih pada makna yang terkandung didalamnya dan bagaimana sikap serta perilaku yang seharusnya dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia.
Zoetmulder dalam buku Mistik Kejawen karangan Suwardi Endraswara (2003l;33), disebutkan bahwa pola pikir manusia Jawa (masyarakat budaya timur) sangat berbeda dengan pola pikir masyarakat barat. Jika di barat, berfilsafat berarti dikaitkan dengan mempelajari ilmu itu sendiri tetapi di Jawa (masyarakat budaya timur) berfilsafat berarti mencari kesempurnaan hidup. Filsafat jawa ditekankan pada laku untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini berarti menjelaskan bahwa filsafat Jawa tidak mudah untuk dipahami. Karena dalam penganalisisannya diperlukan suatu pola pikir kebatinan yang benar-benar kuat. Namun -yang dituliskan dalam buku Mistik Kejawen- cara berpikir filosofi manusia Jawa belum dihimpun menjadi suatu sistem oleh para filsuf. Rentangan pola pikir masyarakat Jawa masih sangat luas karena masih dituliskan dan digambarkan dalam berbagai karya sastra dan budaya Jawa, bahkan termasuk ritual mistik kejawen.
Suwardi Endraswara menuliskan ada tiga hal falsafah hidup Jawa, ketiga hal tersebut, yakni: Sangkan Paraning Dumadi, Manunggaling Kawula-Gusti, Memayu hayuning bawana . Kita akan menjabarkannya satu persatu:
1. Sangkan Paraning Dumadi
Falsafah ini berarti bahwa suatu sikap hidup yang bertujuan untuk mencari suatu kesempurnaan hidup melalui pangawikan (ngelmu) sangkan paraning dumadi dan manunggaling Kawula-Gusti. Falsafah ini mengandung artian juga bahwa manusia Jawa harus berhati-hati dalam menjalani hakekat hidup. Manusia Jawa diharapkan mengetahui betul dari dan akan kemana hidup kita nantinya.
Sunan Kalijaga pernah memberikan pesan secara tersirat dalam sebuah tembang Dhandanggula, yakni:
urip iku neng donya tan lami,
upamane jebeng menyang pasar,
tan langgeng neng pasar bae,
tan wurung nuli mantuk,
mri wismane sangkane nguni,
ing mengko aja samar, sangkan paranipun,
ing mengko padha weruha,
yen asale sangkan paran duk ing nguni,
aja nganti kesasar.
Dalam sebait tembang Dhandanggula tersebut, ada suatu pesan mistik yang terkandung. Pesan tersebut menghendaki bahwa hidup di dunia ini tidak akan lama, ibarat manusia pergi ke pasar, akan segera kembali ke rumah asalnya tadi, karena itu jangan sampai ragu-ragu tehadap asal-usulnya, agar jangan sampai salah jalan. Secara singkat, pesan ini mau menunjukkan bahwa di dunia ini hanya sekedar mampir ngombe (singgah untuk minum), karena suatu saat akan kembali kepada Tuhan.
Dalam Pancasila sekarang ini, nilai untuk kesempurnaan hidup tidak mengandung artian bahwa itu dicapai melalui ritual mistik. Kesempurnaan hidup mengandung tujuan tertentu yang tidak terlepas dari kesempurnaan. Begitu juga dengan Pancasila, nilai-nilai Pancasila juga mengandung unsur pencapaian kesempurnaan hidup, namun bukan hanya kesempurnaan hidup secara pribadi saja namun juga kesempurnaan hidup bersama (kolektif) dan kesempurnaan hidup bangsa. Perlu diingat, bahwa kesempurnaan tetap berada dalam Tuhan, manusia hanya berusaha untuk mencapai hal itu karena manusia bukan sesuatu yang sempurna.
Pancasila berintikan untuk mencapai kesempurnaan hidup juga. Namun dalam mencapai kesempurnaan hidup bersama tersebut, Pancasila lebih banyak menekankan pada sikap dan perbuatan yang menghubungkan dirinya dengan sesama dan Tuhannya. Kesempurnaan hidup tersebut bisa berisikan: kesopanan, kebaikan (ramah tamah, saling membantu/gotong royong, musyawarah, jujur, dsb), ketaqwaan. Sehingga apabila dibandingkan dengan falsafah Jawa tentu agak sedikit berbeda.
“Falsafah Jawa menekankan adanya kesempurnaan hidup, begitu juga dengan Pancasila. Namun, untuk mencapai kesempurnaan hidup dalam falsafah Jawa lebih menekankan kesempurnaan individu dan banyak dilakukan dengan ritual mistik kejawen. Kesempurnaan hidup dalam Pancasila ditujukan untuk kolektif dan dilakukan melalui sikap dan perilaku (yang baik) yang dilakukan manusia Indonesia dengan sesama dan Tuhannya”
2. Manunggaling Kawula-Gusti
Falsafah ini termasuk falsafah kunci dalam kehidupan manusia Jawa. Manusia harus mendekatkan dirinya kepada Tuhan, manusia dan Tuhan haruslah jumbuh. Manunggaling kawula Gusti akan menciptakan ketenangan batin dan lewat inilah akhirnya ditemukan sebuah keharmonisan antara manusia dengan Tuhan.
Tujuan hidup manusia adalah bersatu dengan Tuhan. Persatuan yang dianggap lebih sempurna di dalam hidup manusia adalah ketika manusia menghadapi ajalnya. Jika manusia manunggal dengan Tuhan, maka ia akan ‘sakti’. Maksudnya, apa yang dikehendaki dan dikatakan akan terjadi seketika. Namun, yang perlu diingat bahwa Tuhan tetap theis bukan kosong atau awang-awang manusia sendiri. Tuhan tetap Tuhan begitu pula manusia.
Manunggaling Kawula Gusti merupakan suatu perwujudan sikap manembah. Manembah adalah menghubungkan diri secara sadar, mendekat, menyatu dan manunggal dengan Tuhan. Konsep ini berarti bahwa Tuhan bersemayam (immanent) dalam diri manusia. Menurut pandangan kejawen, pada hakekatnya, manusia sangat dekat dengan Tuhan. Hanya karena ulah dan tindakan manusia itu sendiri, suatu ketika, jarak antara Tuhan dan manusia menjadi sangat jauh atau ada batasnya. Ini menjadi tugas manusia untuk senantiasa mendekat dan atau menyatu dengan Tuhan agar mendapat anugerahNya. Manunggaling kawula Gusti merupakan suatu pengalaman dan bukan suatu ajaran. Pengalaman ini bisa terjadi secara subjektif atau dalam bentuk kolektif. Hal ini dapat diperoleh melalui jalan laku konsentrasi, pengendalian diri, pemudharan (kebebasan batin dari dunia inderawi), menguasai ngelmu sejati dan tahu hakikat hidup.
Melalui Pancasila, sebenarnya falsafah ini tidak berbeda jauh. Khususnya dalam lima sila itu kita melihat di sila pertama (Ketuhanan yang Maha Esa) artinya bahwa setiap warga negara Indonesia wajib untuk beribadah sesuai dengan agama yang dipeluknya. Melalui ibadah tersebut, setiap individu diharapkan memiliki sikap imani yang teguh dan kuat, sehingga dalam berperilaku juga benar-benar mencerminkan pribadi yang baik. Ketuhanan yang Maha Esa sebenarnya mempengaruhi sila yang lain juga, sehingga perilaku yang mencerminkan sila yang lain seperti kemanusiaan, persatuan, gotong royong, dan keadilan diharapkan sesuai juga dengan pancaran keimanan individu tersebut.
Ketuhanan yang Maha Esa berusaha menciptakan kedekatan antara manusia denga TuhanNya sehingga diharapkan sikap dan perilakunya juga merupakan hasil pencerminan dari ketaqwaannya.
Manunggaling kawula-Gusti juga merupakan konsep mendekatkan diri dengan Tuhan agar setiap manusia memiliki keharmonisan hidup.
Oleh karena itu, falsafah Jawa Manunggaling Kawula Gusti juga termasuk dalam nilai-nilai falsafah dalam Pancasila
3. Memayu hayuning bawana
Memayu hayuning bawana berarti watak dan perbuatan yang senantiasa mewujudkan dunia selamat, sejahtera dan bahagia. Seharusnya manusia berbuat untuk kepentingan sesamanya dan orang banyak bukan didorong oleh keinginan individual. Oleh karena itu, hendaknya manusia berperilaku ke arah ketenteraman hidup dan bukan konflik terus menerus. Sikap dan perilaku manusia Jawapun perlu dilandasi kehendak untuk menghiasi dunia dan bukan merusak tatanan dunia. Ini artinya memayu hayuning bawana berarti juga bagaimana manusia menjaga perdamaian dunia.
Walaupun demikian, pengertian memayu hayuning bawana bukan berarti tidak hanya tidak perang saja, atau kalau sekarang tidak hanya sekedar doktrin politik luar negeri bebas aktif untuk menjaga perdamaian dan ketertiban dunia. memayu hayuning bawana berarti lebih dari itu. Ini karena, memayu hayuning bawana tidak lepas dari aspek kewajiban luhur dan sikap hidup manusia Jawa. Hakekat hidup tidak akan lepas dari upaya berbuat baik terhadap sesama. Sikap semacam ini, tergolong perilaku yang terpuji karena mampu menghiasi dan memperindah dunia. Ketenteraman dan kedamaian adalah dasar kemuliaan hidup masyarakat Jawa. Dunia sekitar manusia adalah ciptaan Tuhan yang patut dihiasi dengan perbuatan baik.
Memayu hayuning bawana berarti upaya menjaga, mengusahakan dan menciptakan kesejahteraan, keselamatan dunia. Usaha ini dilandasi dengan semangat memberantas angkara murka serta melebur atau menghapus nafsu-nafsu rendah manusia. Selain itu diperlukan juga usaha menolong sesama tanpa pamrih. Selain itu, sikap memayu hayuning bawana mencerminkan kepekaan manusia Jawa dalam menghadapi lingkungan hidupnya. Kepekaan hati yang bersih ini akan menjadi modal penyeimbang batin. Jika memayu hayuning bawana sudah menjadi pedoman hidup, maka sikap drengki, srei, jail dan methakil akan hilang dengan sendirinya. Seluruh makhluk adalah suatu komponen hidup yang harus dijaga dan diselamatkan agar tercipta hidup harmoni.
Nilai-nilai dalam falsafah memayu hayuning bawana jelas sekali mencerminkan nilai-nilai Pancasila sekarang ini. Pancasila juga mengandung kebaikan dan merupakan suatu tatanan nilai yang berusaha untuk membangun tatanan bangsa Indonesia yang hidup dalam kedamaian, ketentraman dan keadilan berdasarkan sifat individu di dalamnya yang diharapkan semuanya mampu menciptakan hal tersebut. Sikap-sikap individu tersebut, antara lain: rela berkorban demi orang lain tanpa pamrih, membangun persatuan dan kesatuan antara anggota masyarakat, menciptakan perdamaian dengan suku atau ras lain, tidak melakukan penghinaan terhadap sesama atau kelompok lain, menghargai perbedaan, musyawarah untuk mufakat, dsb. Apabila sikap tersebut dapat diciptakan di dalam kehidupan pribadi dan diterapkan di lingkungannya maka bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara yang besar dan mempunyai masyarakat yang bermental kuat dan tahan banting dalam menghadapi cobaan bersama.
***

Apabila kita berbicara mengenai falsafah hidup orang Jawa, maka kita tidak akan melepaskan pembicaraan mengenai mistik kejawen. Ini karena mistik kejawen tidak lain juga merupakan representasi upaya berpikir filosofi manusia Jawa. Karena itu, melalui mistik kejawen dapat diketahui bagaimana manusia Jawa berpikir tentang hidup, manusia, dunia dan Tuhan. Sejenak kita akan membahas mengenai beberapa falsafah hidup orang Jawa. Kita juga akan mengetahui bahwa nilai-nilai dan falsafah hidup manusia Jawa akhirnya direduksi menjadi falsafah Pancasila. Pancasila tidak hanya dihayati sebagai sebuah lima sila secara teoritis tetapi lebih pada makna yang terkandung didalamnya dan bagaimana sikap serta perilaku yang seharusnya dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia.

Zoetmulder dalam buku Mistik Kejawen karangan Suwardi Endraswara (2003l;33), disebutkan bahwa pola pikir manusia Jawa (masyarakat budaya timur) sangat berbeda dengan pola pikir masyarakat barat. Jika di barat, berfilsafat berarti dikaitkan dengan mempelajari ilmu itu sendiri tetapi di Jawa (masyarakat budaya timur) berfilsafat berarti mencari kesempurnaan hidup. Filsafat jawa ditekankan pada laku untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini berarti menjelaskan bahwa filsafat Jawa tidak mudah untuk dipahami. Karena dalam penganalisisannya diperlukan suatu pola pikir kebatinan yang benar-benar kuat. Namun -yang dituliskan dalam buku Mistik Kejawen- cara berpikir filosofi manusia Jawa belum dihimpun menjadi suatu sistem oleh para filsuf. Rentangan pola pikir masyarakat Jawa masih sangat luas karena masih dituliskan dan digambarkan dalam berbagai karya sastra dan budaya Jawa, bahkan termasuk ritual mistik kejawen.

Suwardi Endraswara menuliskan ada tiga hal falsafah hidup Jawa, ketiga hal tersebut, yakni: Sangkan Paraning Dumadi, Manunggaling Kawula-Gusti, Memayu hayuning bawana . Kita akan menjabarkannya satu persatu:

1. Sangkan Paraning Dumadi

Falsafah ini berarti bahwa suatu sikap hidup yang bertujuan untuk mencari suatu kesempurnaan hidup melalui pangawikan (ngelmu) sangkan paraning dumadi dan manunggaling Kawula-Gusti. Falsafah ini mengandung artian juga bahwa manusia Jawa harus berhati-hati dalam menjalani hakekat hidup. Manusia Jawa diharapkan mengetahui betul dari dan akan kemana hidup kita nantinya.

Sunan Kalijaga pernah memberikan pesan secara tersirat dalam sebuah tembang Dhandanggula, yakni:

urip iku neng donya tan lami,

upamane jebeng menyang pasar,

tan langgeng neng pasar bae,

tan wurung nuli mantuk,

mri wismane sangkane nguni,

ing mengko aja samar, sangkan paranipun,

ing mengko padha weruha,

yen asale sangkan paran duk ing nguni,

aja nganti kesasar.

Dalam sebait tembang Dhandanggula tersebut, ada suatu pesan mistik yang terkandung. Pesan tersebut menghendaki bahwa hidup di dunia ini tidak akan lama, ibarat manusia pergi ke pasar, akan segera kembali ke rumah asalnya tadi, karena itu jangan sampai ragu-ragu tehadap asal-usulnya, agar jangan sampai salah jalan. Secara singkat, pesan ini mau menunjukkan bahwa di dunia ini hanya sekedar mampir ngombe (singgah untuk minum), karena suatu saat akan kembali kepada Tuhan.

Dalam Pancasila sekarang ini, nilai untuk kesempurnaan hidup tidak mengandung artian bahwa itu dicapai melalui ritual mistik. Kesempurnaan hidup mengandung tujuan tertentu yang tidak terlepas dari kesempurnaan. Begitu juga dengan Pancasila, nilai-nilai Pancasila juga mengandung unsur pencapaian kesempurnaan hidup, namun bukan hanya kesempurnaan hidup secara pribadi saja namun juga kesempurnaan hidup bersama (kolektif) dan kesempurnaan hidup bangsa. Perlu diingat, bahwa kesempurnaan tetap berada dalam Tuhan, manusia hanya berusaha untuk mencapai hal itu karena manusia bukan sesuatu yang sempurna.

Pancasila berintikan untuk mencapai kesempurnaan hidup juga. Namun dalam mencapai kesempurnaan hidup bersama tersebut, Pancasila lebih banyak menekankan pada sikap dan perbuatan yang menghubungkan dirinya dengan sesama dan Tuhannya. Kesempurnaan hidup tersebut bisa berisikan: kesopanan, kebaikan (ramah tamah, saling membantu/gotong royong, musyawarah, jujur, dsb), ketaqwaan. Sehingga apabila dibandingkan dengan falsafah Jawa tentu agak sedikit berbeda.

“Falsafah Jawa menekankan adanya kesempurnaan hidup, begitu juga dengan Pancasila. Namun, untuk mencapai kesempurnaan hidup dalam falsafah Jawa lebih menekankan kesempurnaan individu dan banyak dilakukan dengan ritual mistik kejawen. Kesempurnaan hidup dalam Pancasila ditujukan untuk kolektif dan dilakukan melalui sikap dan perilaku (yang baik) yang dilakukan manusia Indonesia dengan sesama dan Tuhannya”

2. Manunggaling Kawula-Gusti

Falsafah ini termasuk falsafah kunci dalam kehidupan manusia Jawa. Manusia harus mendekatkan dirinya kepada Tuhan, manusia dan Tuhan haruslah jumbuh. Manunggaling kawula Gusti akan menciptakan ketenangan batin dan lewat inilah akhirnya ditemukan sebuah keharmonisan antara manusia dengan Tuhan.

Tujuan hidup manusia adalah bersatu dengan Tuhan. Persatuan yang dianggap lebih sempurna di dalam hidup manusia adalah ketika manusia menghadapi ajalnya. Jika manusia manunggal dengan Tuhan, maka ia akan ‘sakti’. Maksudnya, apa yang dikehendaki dan dikatakan akan terjadi seketika. Namun, yang perlu diingat bahwa Tuhan tetap theis bukan kosong atau awang-awang manusia sendiri. Tuhan tetap Tuhan begitu pula manusia.

Manunggaling Kawula Gusti merupakan suatu perwujudan sikap manembah. Manembah adalah menghubungkan diri secara sadar, mendekat, menyatu dan manunggal dengan Tuhan. Konsep ini berarti bahwa Tuhan bersemayam (immanent) dalam diri manusia. Menurut pandangan kejawen, pada hakekatnya, manusia sangat dekat dengan Tuhan. Hanya karena ulah dan tindakan manusia itu sendiri, suatu ketika, jarak antara Tuhan dan manusia menjadi sangat jauh atau ada batasnya. Ini menjadi tugas manusia untuk senantiasa mendekat dan atau menyatu dengan Tuhan agar mendapat anugerahNya. Manunggaling kawula Gusti merupakan suatu pengalaman dan bukan suatu ajaran. Pengalaman ini bisa terjadi secara subjektif atau dalam bentuk kolektif. Hal ini dapat diperoleh melalui jalan laku konsentrasi, pengendalian diri, pemudharan (kebebasan batin dari dunia inderawi), menguasai ngelmu sejati dan tahu hakikat hidup.

Melalui Pancasila, sebenarnya falsafah ini tidak berbeda jauh. Khususnya dalam lima sila itu kita melihat di sila pertama (Ketuhanan yang Maha Esa) artinya bahwa setiap warga negara Indonesia wajib untuk beribadah sesuai dengan agama yang dipeluknya. Melalui ibadah tersebut, setiap individu diharapkan memiliki sikap imani yang teguh dan kuat, sehingga dalam berperilaku juga benar-benar mencerminkan pribadi yang baik. Ketuhanan yang Maha Esa sebenarnya mempengaruhi sila yang lain juga, sehingga perilaku yang mencerminkan sila yang lain seperti kemanusiaan, persatuan, gotong royong, dan keadilan diharapkan sesuai juga dengan pancaran keimanan individu tersebut.

Ketuhanan yang Maha Esa berusaha menciptakan kedekatan antara manusia denga TuhanNya sehingga diharapkan sikap dan perilakunya juga merupakan hasil pencerminan dari ketaqwaannya.

Manunggaling kawula-Gusti juga merupakan konsep mendekatkan diri dengan Tuhan agar setiap manusia memiliki keharmonisan hidup.

Oleh karena itu, falsafah Jawa Manunggaling Kawula Gusti juga termasuk dalam nilai-nilai falsafah dalam Pancasila

3. Memayu hayuning bawana

Memayu hayuning bawana berarti watak dan perbuatan yang senantiasa mewujudkan dunia selamat, sejahtera dan bahagia. Seharusnya manusia berbuat untuk kepentingan sesamanya dan orang banyak bukan didorong oleh keinginan individual. Oleh karena itu, hendaknya manusia berperilaku ke arah ketenteraman hidup dan bukan konflik terus menerus. Sikap dan perilaku manusia Jawapun perlu dilandasi kehendak untuk menghiasi dunia dan bukan merusak tatanan dunia. Ini artinya memayu hayuning bawana berarti juga bagaimana manusia menjaga perdamaian dunia.

Walaupun demikian, pengertian memayu hayuning bawana bukan berarti tidak hanya tidak perang saja, atau kalau sekarang tidak hanya sekedar doktrin politik luar negeri bebas aktif untuk menjaga perdamaian dan ketertiban dunia. memayu hayuning bawana berarti lebih dari itu. Ini karena, memayu hayuning bawana tidak lepas dari aspek kewajiban luhur dan sikap hidup manusia Jawa. Hakekat hidup tidak akan lepas dari upaya berbuat baik terhadap sesama. Sikap semacam ini, tergolong perilaku yang terpuji karena mampu menghiasi dan memperindah dunia. Ketenteraman dan kedamaian adalah dasar kemuliaan hidup masyarakat Jawa. Dunia sekitar manusia adalah ciptaan Tuhan yang patut dihiasi dengan perbuatan baik.

Memayu hayuning bawana berarti upaya menjaga, mengusahakan dan menciptakan kesejahteraan, keselamatan dunia. Usaha ini dilandasi dengan semangat memberantas angkara murka serta melebur atau menghapus nafsu-nafsu rendah manusia. Selain itu diperlukan juga usaha menolong sesama tanpa pamrih. Selain itu, sikap memayu hayuning bawana mencerminkan kepekaan manusia Jawa dalam menghadapi lingkungan hidupnya. Kepekaan hati yang bersih ini akan menjadi modal penyeimbang batin. Jika memayu hayuning bawana sudah menjadi pedoman hidup, maka sikap drengki, srei, jail dan methakil akan hilang dengan sendirinya. Seluruh makhluk adalah suatu komponen hidup yang harus dijaga dan diselamatkan agar tercipta hidup harmoni.

Nilai-nilai dalam falsafah memayu hayuning bawana jelas sekali mencerminkan nilai-nilai Pancasila sekarang ini. Pancasila juga mengandung kebaikan dan merupakan suatu tatanan nilai yang berusaha untuk membangun tatanan bangsa Indonesia yang hidup dalam kedamaian, ketentraman dan keadilan berdasarkan sifat individu di dalamnya yang diharapkan semuanya mampu menciptakan hal tersebut. Sikap-sikap individu tersebut, antara lain: rela berkorban demi orang lain tanpa pamrih, membangun persatuan dan kesatuan antara anggota masyarakat, menciptakan perdamaian dengan suku atau ras lain, tidak melakukan penghinaan terhadap sesama atau kelompok lain, menghargai perbedaan, musyawarah untuk mufakat, dsb. Apabila sikap tersebut dapat diciptakan di dalam kehidupan pribadi dan diterapkan di lingkungannya maka bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara yang besar dan mempunyai masyarakat yang bermental kuat dan tahan banting dalam menghadapi cobaan bersama.

***

Iklan

12 thoughts on “FALSAFAH HIDUP JAWA dalam PANCASILA

  1. bos, tulisannya bagus.
    bisa mnt tolong ga ni?
    sumber tulisanmu itu dr mana?
    dr buku or sumber laen?
    kalo dr buku judulnya apa? pengarangnya sapa?
    kebetulan lg nyari bahan filosofi jawa utk skripsi.
    aku mahasiswa arsitektur yg lg nyari konsep bangunan dgn filosofi jawa.
    bls ya. ke emailku aja.
    bayu_wibisono10@yahoo.com
    sebelumnya terimakasih bgt.

  2. Pemamaparannya bagus, mudah-mudahan ada lanjutan tulisan yang lainnya, karena kalao dioncek-i tentang ajaran hidup orang jawa masih banyak sekali dan masih banyak tulisannya pakai bahasa krama inggil karya orang dulu yang sekarang anak muda orang jawa sudah banyak yang tidak mengerti.

  3. Saya sebagai orang jawa sangat tertarik dengan falsafah jawa, namun mungkin susah untuk mempelajarinya dengan lebih dalam!

  4. bos nuggie bagus juga kalo bikin artikel..selamat sob..

    Terima kasih… selamat membaca dan berkunjung di blog saya… Salam dari blogger yang selalu menulis…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s