TRANSEXUAL ON TELEVISION

MENANGKAP PERAN & POSISI WARIA DALAM INDUSTRI PERTELEVISIAN DI INDONESIA, ANTARA REALITAS NYATA DAN REALITAS SEMU

PENDAHULUAN

Representasi seks selama ini memang selalu menjadi pembahasan dalam Kajian Budaya (cultural studies). Kaitannya dengan media, representasi seks dalam media menjadi kajian-kajian menarik yang ingin berusaha menelanjangi tabir media sebagai alat konstruksi seksualitas. Seringkali juga, kajian budaya memerlukan teori-teori lintas disipliner sebagai alat untuk memahami representasi seksualitas dalam media.
Salah satu hal yang menjadi urusan seksualitas dalam pertelevisian menurut Morley (1995;198) merupakan tipe program dan penunjukan atas apa yang ada dalam contentnya. Maka, tidak salah jika apa yang dikatakannya merujuk pada salah satu bagian dari kajian budaya yang sifatnya kritis, yakni representasi. Bahkan Bakker menunjukkan permasalahan representasi sebagai sebuah bias gender dalam media. Permasalahan Gender biasanya memang berusaha membedakan antara laki-laki dan perempuan. Gender dipahami sebagai karakteristik yang melekat pada laki-laki dan perempuan, dibuat, disosialisasikan, dan dikonstruksikan oleh masyarakat secara sosial melalui pendidikan, agama, keluarga dan sebagainya (Heroepoetri dan Arimbi;2004). Gender sendiri merujuk pada definisi sosial-kultural dari perempuan dan laki-laki.
Terlepas dari metodologis kajian budaya, content dari representasi seksualitas selalu dikaitkan dengan gender, ketimpangan sosial dan kekuasaan. Lama-lama kajian budaya yang digunakan untuk melihat representasi media memiliki unsur politis praktis sebagai sebuah analisa. Dan pengerucutan atas seksualitas selalu dibagi menjadi dua berdasarkan biologis, perempuan dan laki-laki. Sayangnya, fenomen representasi seksualitas di media tidak hanya disandarkan pada asumsi dasar seperti itu. Masih ada kelompok lain yang kiranya belum menjadi sorotan tajam kajian budaya kaitannya dengan representasi seksualitas, yakni kelompok transeksual. Dalam bahasa lokal, kita mengenal sebagai waria (banci, bencong, wandu dsb)
Kehidupan waria sendiri sudah menjadi realitas sosial di negara kita. Kehidupan para transeksual ini ditunjukkan melalui keorganisasian dan kelompok-kelompok waria di seluruh tanah air. Namun, kehidupan waria masih dipandang rendah bagi masyarakat Timur, termasuk negara kita. Tak heran jika referensi yang kita temukan tentang representasi waria di mediapun rasanya cukup sulit untuk ditemukan. Buku-buku tentang waria lebih menunjukkan jati diri seorang waria di tengah masyarakat. Tujuannya, tak lebih ingin mendapatkan pengakuan di tengah-tengah masyarakat. Tulisan ini kiranya ingin sedikit membeberkan bagaimana media televisi mengkonstruksi peran-peran kaum waria. Tulisan ini memang lebih pada gambaran umum kehidupan waria di televisi dan pembandingan dengan realitanya, meskipun tidak secara spesifik menjelaskan program acara tertentu.
Dalam berbagai kepustakaan, representasi seks dalam media memang tak ubahnya membedakan peran laki-laki dan perempuan di media. Ketika kajian budaya tidak lagi melihat fenomena nyata keberadaan transeksual, maka konstruksi dalam kajian budaya berarti turut menyingkirkan kelompok ini. Sedikit buku yang secara tuntas membahas tentang representasi kaum waria dalam media. Munculnya buku-buku tersebut juga tak lepas dari realita yang terjadi seiring dengan perkembangan kaum waria. Sebut saja buku karya Jane Arthurs dengan Television and Sexuality: Regulation and the Politics of Taste. Melalui alasan inilah tulisan ini ingin sedikit membeberkan persoalan representasi waria dalam dunia pertelevisian di Indonesia. Ditambah lagi, fenomena banci di semakin marak di layar kaca.
Jika setiap hari Sabtu dan Senin pukul 19.00 kita menonton Trans TV maka kita akan menemukan salah satu acara komedi Extravaganza. Ada hal yang selalu membuat saya tertarik untuk melihatnya, yakni peran Aming yang identik dengan dandan gaya ala perempuan yang ‘ekspresif’. Apapun peran perempuan yang diperankan Aming selalu menjadi bahan gelak tawa luar biasa. Aktingnya memang sungguh heboh jika dirinya menjadi seorang perempuan. Sama halnya dengan Tessy. Jika kita melihatnya di berbagai acara humor, salah satunya Santai Bareng Yuk! di ANTV, Tessy selalu mengundang tawa penonton lantaran bajunya yang selalu terlihat ekstrem. Perilakunyapun tak kalah lucu dan menggemaskan. Perbedaan antara Tessy dan Aming mungkin pada usia dan segmentasi acara.
Agak berbeda jika kita menonton acara-acara sinetron belakangan ini. Si Yoyo yang diputar di SCTV juga turut meyuguhkan peran banci di dalam ceritanya. Mungkin si banci bukan menjadi tokoh utama, tapi coba lihat di beberapa kali sinetron bertajuk religi mengenai banci. Banci menjadi tokoh utama ketika judulnya adalah Banci Tobat. Jika Tessy dan Aming selalu berperan lucu, maka di sinetron ini tokohnya tidak menampilkan menampilkan banci sebagai seorang yang lucu tetapi lebih dianggap aneh dan abnormal.
Peran para banci (baca: transeksual) berbeda-beda di setiap jenis acara. Namun, ada kesamaan antara para banci di Extravaganza dan banci di Banci Tobat. Semuanya adalah hasil dari konstruksi media. Media mampu menampilkan diri mereka sebagai sosok transeksual yang unik dan mempunyai karakter sendiri di televisi. Dari sini realitas mulai terbentuk. Masyarakat tidak sadar bahwa yang disuguhkan adalah kerangka seksualitas yang tidak sesuai dengan realitas riil.

PEMBAHASAN

Jika kita melihat Dorce Show di Trans TV setiap hari pukul 09.30-10.30, maka kita akan menemukan seorang sosok Transexual (baca:waria) yang selama ini turut memeriahkan panggung hiburan di Indonesia, Hj. Dorce Halimatussadiyah Gamalama atau sering dipangil Bunda Dorce. Ini adalah salah satu contoh gambaran bagaimana seorang waria bisa masuk ke dunia pertelevisian. Masalahnya bukan pada bagaimana langkah seorang waria bisa menjadi artis melainkan bagaimana televisi mengkonstruksi peran-peran mereka. Waria sendiri, tidak berbeda dengan manusia lain, perempuan dan laki-laki. Namun asumsinya, televisi bisa merubah peran mereka di masyarakat dengan realitas di televisi.
Di akhir tahun 80-an, ada sebuah film yang juga menampilkan kaum transexual (baca:banci), yakni Catatan Si Boy. Keadaanya memang tak jauh berbeda dengan peran waria yang telah dibahas di awal tadi. Waria di film tersebut menjadi seorang pelengkap dan menjadi hiburan, bahan lawakan dan tertawaan. Peran Si Emon –yang diperankan oleh Didi Petet– justru ingin menunjukkan kegagahan peran si Boy dalam film tersebut. Peran banci menjadi hal yang selalu menjadi pelengkap sebuah cerita. Yang dimaksud pelengkap adalah, memberikan suasana lucu, terkesan tidak serius dan untuk mengundang tawa penonton.
Di pertengahan tahun 90-an, sinetron-sinetron juga mulai memunculkan peran-peran banci. Tak berbeda pula, di sinetron, peran waria masih saja menjadi orang yang dianggap lucu. Mulai dari cara bicara, cara berpakaian, cara berjalan dan sikapnya di sinetron harus bisa membuat orang tersenyum. Sebut saja misalnya sinetron Si Manis Jembatan Ancol dengan banci yang diperankan oleh Ozzy Saputra dan Juwita. Di acara drama serial bisa disebutkan yakni: Lenong Rumpi, yang diperankan oleh Juwita. Jika di sinetron, waria selalu menjadi bahan tertawaan, di drama serial Lenong Rumpi bahan tertawaan ini semakin menjadi-jadi. Sikap Juwita yang memang banci selalu menjadi olokan rekan-rekannya.
Di acara variety show yang bertajuk humor dan lawakan ala ‘srimulat’, peran tokoh transeksual (baca: banci, bencong) juga selalu dimunculkan. Beberapa contoh acara yang menunjukkan peran transeksual misalnya: komedi Extravaganza, Ketawa Spesial, Srimulat, Santai Bareng Yuk, ExtravaganzABG, NgeLenong Nyok!. Dalam konteks humor Indonesia, isi lawakan selalu bernuansa ejekan, celaan, hinaan atas sikap, perilaku, gaya pakaian dan embel-embel diri seseorang. Peran banci di acara-acara inipun selalu mengikuti arus lawakan Indonesia yang penuh dengan celaan dan hinaan. Lihat saja peran Tessy dalam Santai Bareng Yuk! di ANTV, bersama dengan rekan-rekannya, Tessy selalu berlagak menjadi perempuan yang agak ‘ekstrim’ melalui gaya pakaian dan sikapnya yang sungguh kemayu. Atau peran Aming sebagai seorang perempuan dengan gaya dan nada bahasa yang selalu mengundang tawa, bahkan make up yang dipoleskan selalu terlihat paling menor.
Fenomena waria tak lain adalah masalah sosial yang berangkat dari pembawaan. Kemunculan yang seakan-akan datang sebagai seorang waria merupakan kesalahan televisi dalam mengkonstruksi waria. Dalam sinetron-sinetron, waria ditunjukkan sebagai figuran. Artinya, waria tidak pernah menjadi yang penting dalam masyarakat. Fungsinya sebagai penghibur, pelawak, dan menjadi ajang hinaan. Waria di televisi punya tuntutan untuk memberikan sebuah ‘surpirse’ bagi penonton. Melalui sikap yang selalu kemayu dan manja, dengan pakaian perempuan yang ‘eksotik’ agak berlebihan jika sebagai seorang wanita dan menggunakan bahasa gaul atau bahasa binan.
Wacana waria di televisi rupanya sudah menjadi hal lumrah di publik. Bergesernya peran waria di televisi mampu justru memberikan stereotipe yang negatif terhadap kaum transeksual. Dede Oetomo (2001;151) menyebutkan salah satu hal yang menjadikan representasi media dalam sinetron salah adalah waria yang disebutkan sebagai manusia yang aseksual. Waria ditunjukkan sebagai manusia yang tidak memiliki orientasi seksual secara khusus. Hanya saja, waria ditunjukkan sebagai seorang pekerja seks yang selalu juga dianggap menyimpang. Misalnya saja film bernuansa pertobatan banci dalam di RCTI yang diperankan oleh Tessy. Apa yang melekat dari diri waria bukan permasalahan seksual tetapi lebih pada permasalahan sosial. Dede membuktikan lewat hasil observasinya, Waria dalam realitasnya justru lebih banyak melakukan hubungan seksual dibandingkan dengan laki-laki dan perempuan. Lanjutnya, waria dapat saja menjadi penetrator (anal) dan bukan melulu pentratee.
Waria selalu diperankan dalam status sosial yang rendah. Seakan-akan, ini memperlihatkan bahwa fenomena waria merupakan kasus desakan ekonomi keluarga. Karena keluarga miskin, maka bekerja sebagai waria. Ditambah lagi adegan-adegan yang selalu mengarah pada pekerjaan waria sebagai pekerja seks komersial. Nampaknya, waria diposisikan sebagai orang yang selalu sial dalam hidup. Sudah miskin ditambah lagi tidak ada pekerjaan bagus yang diperolehnya. Para waria tidak ditunjukkan sebagai orang yang sukses dengan kehidupan glamor. Waria diperlihatkan dengan kehidupan malam yang kampungan.
Meminjam pendapat dari Gayle Rubin (Alimi;2004) yang berbicara masalah seksualitas, bahwa kaum transeksual selalu menjadi bagian dari . Asumsi dasarnya adalah, seksualitas merupakan suatu representasi konstruksi dari masyarakat itu sendiri. Artinya, anggapan masyarakat terhadap transeksual (laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya) merupakan suatu budaya yang ‘menyimpang’.

seksualitas yang dianggap ‘baik’, ‘normal’, dan ‘natural’ secara ideal adalah yang heteroseksual, marital, monogami, reproduktif dan non-komersial. Ditambah lagi, ia juga harus berpasangan, relasional, dari satu generasi yang sama dan terjadi dalam rumah…. Seks yang buruk meliputi homoseksual, diluar perkawinan, tidak prokreatif, atau komersial.” (Alimi;2004)

Melalui arus pengertian ini, kelompok-kelompok transeksual menjadi bagian dari ketidaknormalan masyarakat. Dengan anggapan ketidaknormalan ini, masyarakat kemudian menyingkirkan dan melakukan bentuk diskriminasi, pembedaan berdasarkan normal dan tidak normal.
Masalah lain muncul, ketika televisi juga mengangkat peran-peran waria. Bagi Rubin, Foucoult dan Butler (Alimi;2004) seksualitas adalah bentukan dan sebuah konstruksi. Televisi nyatanya juga mampu memberikan konstruksi akan peran waria. Konstruksi yang dilakukan oleh televisi ternyata juga memberikan gambaran realitas pengasingan, diskriminasi tanpa melihat situasi dan realitas yang sebenarnya. Konstruksi hanya dipandang dari sisi masyarakat, tidak dipandang dari identitas diri sebagai waria. Misalnya saja: film Banci Tobat adalah sebuah realitas televisi yang bisa dikatakan kerilu. Konstruksi yang dibuat menggunakan frame agama (karena bagian dari sinetron religi), maka peran waria ditunjukkan sebagai orang yang salah, tidak tahu adat, dan yang jelas pelanggaran berat terhadap suatu agama. Ini memperlihatkan, bahwa masih ada anggapan normal-abnormal, baik-tidak baik, dan natural – jadi-jadian.
Waria menjadi produk hiburan. Meskipun dianggap sebagai sesuatu yang abnormal di masyarakat, Televisi rupanya mampu menyulap peran-peran waria menjadi objek yang lucu. Kebiasaan yang salah bisa jadi suatu kebiasaan yang lumrah. Dengan nada bicara yang kemayu dan dengan bahasa gaul para waria ditambah lagi dengan cara berdandan yang unik plus polesan di wajah, rupanya waria menjadi komoditas tawaan. Hal ini rupanya jauh berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Di saat masyarakat masih menerapkan frame normal-abnormal dalam pandangan-pandangan tertentu televisi justru merubah peran-peran waria yang sebenarnya. Pandangan masyarakat akhirnya bergeser terhadap realitas semu televisi, yang juga menjadikan waria bahan tertawaan yang justru tetap melanggengkan diskriminasi sosial.
Permasalahan lain adalah permasalahan indentifikasi kaum transeksualis. Ketika seorang waria masuk dalam suatu komunitas, maka indentifikasi dirinyalah yang menguatkan hidupnya sebagai seorang waria. Dede Oetomo pernah menganalisa, bahwa kenyataannya, banyak masyarakat Indonesia yang selalu menutup mata akan keberadaan kaum waria. Padahal, kehidupan waria selalu berada di mana-mana, dari kota-kota besar, bahkan di desa-desa. Fenomena kehidupan waria selalu berada dalam nuansa berkelompok. Terdapat group-gorup atau komunitas-komunitas kecil untuk meidentifikasikan diri para transeksualis, tepatnya untuk mendorong diri menghadapi kenyataan hidup. Siapa lagi yang mau menerima mereka?
Bandingkan dengan kemunculannya di dunia pertelevisian. Kaum waria justru dilihat sebagai orang yang selalu hidup sendiri, mandiri, tanpa ada identitas diri yang jelas. Dalam sebuah acara bertajuk feature – Human interest, Kejamnya Dunia di Trans TV, berjudul kenyataanya sungguh berbeda. Waria dinilai tidak berada dalam nuansa group di mana mereka bisa mengidentifikasikan diri. Maka, kesengsaraan pribadi dan sulitnya mencari tempat naungan menjadi hal yang sangat lumrah dipahami melalui televisi. Parahnya, masyarakat memahami itu sebagai kenyataan yang biasa saja. Realitas yang demikian ini, justru menyudutkan kaum waria sebagai anggota group.
Dunia kapitalisme seperti yang dikatakan Bakker (2005;396) telah menguasai media. Persoalan kapitalisme akhirnya bisa menentukan dunia yang nyata dan ideal sesuai dengan kepentingannya. Persoalan banci sebenarnya tidak hanya masalah sikap, gaya, dan cara berpakaian yang lucu, tetapi merupakan permasalahan sosial yang lebih dari itu. Stereotipe di masyarakat tentang waria sebagai penghibur menjadi sesuatu yang tak masalah, karena televisi atas kepentingan kapitalisme telah membentuknya seperti demikian. Tak hanya kekuatan kapitalisme, kedatangan televisi mampu mengangkat realitas seksualitas tanpa bentuk menjadi dunia imajinasi yang ‘nyata’ yang juga menjadi sumber reproduksi bagi media.
Peran Aming sebagai banci di Extravaganza bukan ingin mempertunjukkan banci itu sendiri sebagai sebuah realitas nyata tetapi lebih pada kepentingan ekonomi media. Ketika media tunduk pada kepentingan ekonomi maka semua terbentuklah sebuah komodifikasi. Apapun bisa menjadi bahan komoditas, dijual kepada pemilik uang. Dalam dunia pertelevisian program yang dianggap menarik tentunya akan layak jual kepada para pengiklan. Konsep banci yang diperankan Aming merupakan sebuah representasi atas kepentingan ekonomi politik dari dunia televisi.
Pertunjukan realitas waria di pertelevisian Indonesia sangat beragam. Telah disebutkan di awal, bahwa fenomena transeksual sudah masuk ke acara program-program hiburan seperti: sinetron, film, musik (video klip), variety show (dagelan dan lawakan), berita, talkshow, feature dokumener (seperti: Fenomena, Bunglon, Hitam Putih), bahkan iklan. Acara-acara televisi tersebut bisa saja memang menggunakan aktor yang benar-benar transeksual maupun aktor banci jadi-jadian (hanya tuntutan peran). Banyak sekali program acara yang membuat banci menjadi sendiri semakin diterima sebagai realitas yang ‘nyata’ dari televisi. Hanya saja di setiap peran waria selalu digambarkan relatif sama sebagai pemeran yang tidak penting dan sebagai pemberi suasana hiburan bagi aktor lain. Jika ada banci atau waria, maka suasan akan semakin lucu dan atraktif.
Para ‘banci’ yang ditampilkanpun televisi akhirnya menjadi sebuah realitas semu di masyarakat. Selama ini, masyarakat Indonesia memang memandang ‘banci’ melalui sebelah mata. Tentu saja, masih dengan menggunakan kacamata yang selalu berbeda setiap individu. Ada yang menggunakan frame agama, ada yang memandang dari sudut sosial dan budaya, ada yang melihat dari kacamata biologis. Kenyataannya, dengan budaya televisi yang demikian ini, para waria di Indonesia harus menanggung malu sebagai bahan celaan dan tertawaan masyarakat juga. Pemikiran-pemikiran ini dibentuk juga melalui televisi.
Kenyataan di televisi selalu menjadi kenyataan semu dalam menggambarkan realitas banci. Pada akhirnya tidak ada pembedaan antara realitas nyata dan realitas semu. Semuanya menjadi terbalik. Apa yang ditampilkan di televisi dipahami sebagai apa yang sebenarnya terjadi. Banci-banci yang ditampilkan dalam acara-acara lawakan menjadi pemahaman masyarakat akan keberadaan banci yang sebenarnya. Banci akan selalu dianggap menjadi penggembira, selalu ‘menyenangkan’ dan ‘tidak masalah’ jika dicemooh dan diolok-olok. Kenyataannya, banci tak selamanya mengalami perilaku yang menyenangkan. Kehadirannya sebagai penggembira seolah-olah mudah untuk dicela bahkan disingkirkan. Banci selalu menjadi orang yang terbelakang.
Dalam pembentukan realitas virtual, peran teknologi komunikasi menjadi kunci. Televisi menjadi salah satu media komunikasi modern yang mampu menciptakan dunia imajinasi atas gambaran yang ditampilkan (Sianipar;2005). Gambaran yang diberikan oleh televisi pada akhirnya mau tidak mau menjadi bagian dari kebutuhan hidup yang harus diterima dan dihidupi oleh masyarakat. Maka tak heran, jika peran-peran waria yang berada di televisi sebagai ajang hiburan, kenyataan riil mengatakan bahwa masyarakat juga akan memberikan penilaian kepada para banci ini sebagai ajang hiburan. Pencitraan televisi akhirnya mempengaruhi pemikiran-pemikiran riil masyarakat.
Meski demikian, apa yang ditawarkan media dan yang mendapatkan sambutan dari masyarakat adalah apa yang menjadi kebutuhan besar (Sianipar;2005). Fenomena munculnya waria dalam pertelevisian Indonesia seringkali juga dimaknai berbeda sesuai dengan pandangan kelompok masyarakat. Misalnya saja, kelompok agama tertentu memandang bahwa serial-serial waria dan homoseksualitas di televisi (sinetron, film ,dsb) merupakan suatu bentuk kampanye anti kemapanan dan perbuatan yang anti agama. Kasus Buah Bibir dan Potret pada tahun 1997 yang akhirnya diprotes oleh pemerintah menunjukkan ketertundukaan kekuasaan pemerintah tentang seksualitas di media, karena yang ditunjukkan adalah tentang homoseks, kebebasan seks dan kegiatan-kegiatan seksual lainnya.

PENUTUP

Seksualitas melalui Kajian Budaya nampaknya menjadi hal yang selalu menarik untuk dikaji. Tidak hanya persoalan tubuh dan identitas diri, tapi juga pemaknaan atas representasi yang muncul di media komunikasi. Televisi menjadi salah satu media yang mampu menunjukkan nilai-nilai seksualitas, tanpa meninggalkan nuansa seks itu sendiri. Namun, kehadirannyapun juga mampu menyingkirkan kelas-kelas tertentu, meninggalkan keberagaman yang nyata, dan melupakan keunikan dari masyarakat. Apa yang ditampilkan oleh televisi bukan apa yang seharusnya dipahami sebagai realitas riil. Dualisme realitas antara televisi dan kenyataan menjadi tak bisa dipisahkan.
Televisi harusnya berfungsi sebagai komunikasi, informasi, dan dengan sendirinya pendidikan. Tapi saat ini Televisi agak mengabaikan paran stategisnya dalam membimbing dan memimpin berkembangnya kualitas sumber daya manusia, dan memberdayakan masyarakatnya. Televisi nampaknya tidak mempunyai daya untuk membangun masyarakat yang berkedaban. Bahkan citra yang lebih menonjol pada pertelevisian kita adalah pengeksploitasian, dan bukannya pengeksplorasian (Wirodono;2005). Buktinya dalam beberapa tayangan televisi kita saat ini penuh dengan fatamorgana serta penayangan realitas semu. Telah kita buktikkan, salah satu di dalamnya citra para banci yang ditunjukkan melalui sinetron, film, variety show dan acara-acara sejenisnya, yang tak lebih dari sekedar hiburan dan bahan tertawaan yang tidak jelas.
Media, khususnya televisi mampu menunjukkan representasi seksual melalui tayangan-tayangan disuguhkan. Kemampuan ini, menunjukkan kekuasaan televisi untuk menyeleksi dan menonjolkan unsur seksualitas yang dianggap menarik. Bisa jadi ini merupakan tarik ulur kepentingan bisnis. Pemaknaan tayangan seksualitas bukan berarti sebagai tayangan yang melulu berbau seks dan pornografi. Waria dalam televisi merupakan bentuk penayangan seksualitas yang dianggap tak wajar (abnormal) di masyarakat. Apapun bentuk programnya, televisi bisa menampilkan mereka dalam keadaan yang berbeda di masyarakat. Tayangan program dengan mengandalkan seperti ini menurut McQuail (1992;259) sebagiai sebuah program yang lepas dari ketidakmapanan publik dengan mengambil peran-peran yang dianggap lain dari biasanya.
Seksualitas banci, bencong dan sebutan lain juga terekam dalam potret pertelevisian Indonesia. Nilai-nilai dalam masyarakat terreduksi ketika identitasnya masuk ke panggung hiburan. Waria tak lagi menjadi dilihat sebagai kenyataan pahit dari realitas sosial tetapi telah menjadi bahan tertawaan yang menjual. Ketika kekuasaan dan modal sudah berbicara, maka yang terjadi adalah kehalalan untuk menjual realitas yang belum tentu benar.

DAFTAR PUSTAKA

Alimi, Moh Yasir. 2005. Seks Juga Bentukan Sosial: Rethinking Gender dan Seksualitas Menurut Teori Queer. Jurnal Online. http://www.rahima.or.id/Makalah/Seks%20Juga% 20Bentukan%20Sosial.doc. (diakses tanggal 10 Desember 2006).
Barker, Chris. 2005. Cultural Studies: Teori dan Praktek. Cet. II. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Hadi, Astar. 2005. Matinya Dunia Cyberspace. Yogyakarta: LKiS.
Heroepoetri, Arimbi dan Valentina. 2004. Percakapan Tentang Feminisme vs Liberalisme. Jakarta: DebtWatch.
Lauer, Robert H. dan Jeanette Lauer. 2000. Marriage and Family: The Quest For Intimacy. Eds. 4. United States: McGraw-Hill.
May, Adeline. 2005. “Kebudayaan (para) Konsumen”. dalam Teori-teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
McQuail, Denis. 1992. Media Performance: Mass Communication and The Public Interest. London: Sage Publications.
Morley, David. 1995. “Television and Gender”. dalam Approaches to Media: A Reader. London: Arnold.
Nugroho, Garin dan Yasraf Amir Pilang. 2003. Televisi dan Hiperpolitik. dalam Kompas Cyber Media. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0308/17/seni/495655.htm. (diakses tanggal 10 Desember 2006)
Oetomo, Dede. 2001. “Perang Tanding Realitas: Konstruksi Sosial dalam Media Televisi”. dalam Memberi Suara pada yang Bisu. Yogyakarta: Galang Press.
Panuju, Radi. 2002. Perang Melawan Televisi, Mungkinkah?. dalam Almira Online. http://almira-online.port5.com/artikel/artikel_p7.htm. (diakses tanggal 10 Desember 2006).
Prabasmoro, Aquarini Priyatna. 2003. Becoming White: Representasi Ras, Kelas, Feminitas dan Globalitas dalam Iklan Sabun. Yogyakarta: Jalasutra.
Putranto, Hendar. 2005. “Analisis Budaya dari Pascamodernisme dan Pascamodernitas”. dalam Teori-teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
Sastra, Lia de. 2005. Bahasa dan Gender Dalam Media: Bias Gender dan Produksi Televisi. Fredhoo Online. http://fredhoo.com/artikel.php?subaction=showfull&id= 1121325881&archive=&start_from=&ucat=3&. (diakses tanggal 10 Desember 2006).
Sianipar, Gading. 2005. “Tubuh dan Kesadaran dalam Budaya Imajinasi: Penafsiran atas Budaya Masyarakat yang diserbu oleh Teknologi dan Media Komunikasi”. dalam Teori-teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
Wirodono, Sunardian. 2005. Matikan TV-Mu! (Teror Media Televisi di Indonesia). Yogyakarta: Resist Book.

Iklan

10 thoughts on “TRANSEXUAL ON TELEVISION

  1. Kalau bisa kajian budaya dimaksudkan ke dalam budaya yang sangat mendasar dari Indonesia yakni tradisional untuk meningkatkan pengetahuan dan agar budaya tradisional Indonesia tidak luput oleh kemodernisasian. Ok’ hehe…

  2. hm…skripsiku juga tentang waria…atma juga yasir alimi juga sumbernya..tapi sayang aku keburu2 bikinnya di kejar dateline ortu…tapi hampir mirip tulisannmu aku menyoroti tentang film realita cinta dan rock and roll sukses ya buat kamu

  3. Well…Kita bisa bertukar pikiran sepertinya…Kebetulan skripsiku juga ambil tema waria. Yang pernah aku baca di bukunya Hesty (Lupa lengkapnya..Itupun kalau ga salah sebut), Waria itu beda ma kaum transeksual. Kalau transeks itu mengubah bentuk kelamin, dsb untuk dapat menyerupai bentuk dari jenis kelamin yang dia inginkan. Sedangkan waria itu sama sekali tidak mengubah bentuk apapun dalam dirinya. Mami Vin, aktivis waria di Jogja juga pernah mengatakan hal yang serupa. Konsep semacam ini juga belom aku pahami secara mendalam dan masih butuh banyak refrensi lagi. BTW, kalo transex n waria beda, bhs inggrisnya waria jadinya apa dong???He8…….Kapan2, bisa dong pinjem refrensi2nya…He5… Sukses yah..Ditunggu posting artikel menarik berikutnya.

  4. kebeulan tugas akhirku juga tentang waria…
    dari banyak literatur yang aku baca, waria memang berbeda dengan transeksual, persis seperti yang dibilang tina 🙂
    dalam istilah asing (semoga saja benar) saya memahami waria sebagai bagian dari transgender…
    karena dalam konsep transgender sendiri terdiri dari banyak sekali konsep2 yang lain dan salah satunya adalah transeksual dan waria itu sendiri. dari sebuah tulisan yang pernah aku baca, waria hampir memiliki persamaan definisi dengan MTF (Male To Female) Transgender. yaitu seorang laki2 yang merasa terperangkap dalam tubuh yang salah, karena dia lebih merasa dirinya sebagai wanita,dan mereka tidak melakukan operasi seperti yang dilakukan kaum transeksual…
    gt, semoga bisa saling berbagi…

    D:)

  5. saya mahasiswi yang sedang menyusun skripsi mengenai waria..kalau boleh mohon bantuannya, kalau ada yang mengetahui info2 atau referensi mengenai waria boleh tolong kirimkan ke email saya…mohon bantuannya untuk bertukar pikiran,, dan kalau ada yang mempunyai link dengan waria, saya mohon bantuannya..saya sedang mencari alamat dan no.telepon merlyn spojan..kalau ada yang mengetahui tolong hubungi saya..terimakasih banyak

  6. mmm..gak sengaja buka inidari google,trusaku dapet cuplikan yang dari Gayle Rubin (Alimi,2004),aku ambilsatu paragraf itu ya..buat tgs MK Gender and Seks di Iklan..thx b4.

  7. wahh .. KEREN… mas Anwar neh bener2 bantuin banget buat skripsiku,, nambah ilmu ttg transeksual,,
    aku mau dunk dikirimin ke emailku ttg artikel2 transeksual yg lainnya,, kalo mas anwar mau ndak jadi informanku buat depth interview,, nanti pertanyaannya lwat email.. tuh ada yg komen Arvi, bole tau emailnya juga??? cozz aq juga ambil skripsi ttg realita cinta n rock n roll

    thnkzzz lot

  8. he…..maaf si… tapi kepaksa forward ini buat tugas ujian…. udah mepet kurang sejam lagi…. makaci dah banyak bantuin….

  9. mas anwar,sy siswi sma klas 3 d jakarta yg sedang menyusun karya tulis(sejenis skripsi) ttg transexual.Blog dan wawancara dgn waria yg mas anwar bt memang membantu sy, namun bth informasi/artikel2 yg lbh mendalam ttg transexual.Blh ga mas anwar kirimin artikel2 tsb dan sy wawancarain?punya ym atau msn?bs add sy, ym nya seperti email sy.reply as soon.thx alot b4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s