The Last Pope: Konspirasi Pembunuhan Paus Yohanes Paulus I

Sidang Kepausan

Dulu jaman SMA, saya belajar soal pemilihan Paus yang disebut Konklaf, mulai dari syarat menjadi Paus, hingga tata cara Konklaf yang diikuti oleh petinggi-petinggi gereja Katholik di seluruh dunia (para kardinal) untuk memilih pemimpin umat Katholik di dunia. Dan dari pelajaran itu pula, saya tahu, bahwa Paus Yohanes Paulus I, adalah salah satu Paus yang memegang jabatan singkat, kemudian beliau meninggal karena sakit jantung. (begitulah kira-kira cerita formalnya, yang dirilis oleh pihak Vatikan dan sampai ke telinga saya dari Guru Agama Katholik).

Diceritakan oleh Bu Retno, guru Agama Katholik jaman saya SMA (SMA Van Lith Muntilan), waktu itu Kardinal dari Indonesia (Kardinal Justinus Darmoyuwono) yang ikut konklaf untuk memilih Paus  sudah kembali ke Indonesia karena konklaf sudah usai, tetapi beliau terpaksa kembali lagi ke Vatikan, karena harus melakukan pemilihan Paus, lantaran Bapa Suci meninggal dunia, yang akhirnya terpilihlah Uskup Karol Wojtyla atau yang disebut sebagai Bapa Suci Yohanes Paulus II. (yang akhirnya memegang tahta Vatikan hingga 26 tahun)

Bu Retno tidak banyak menceritakan soal pemilihan Paus, karena materi yang lain juga banyak. Tapi yang paling saya ingat adalah, ketika Konklaf, cerobong asap Vatikan akan difungsikan. Pemilihan Paus disimbolkan dengan kepulan asap yang bisa dilihat dari Lapangan Basilika St. Petrus. Jika asapnya hitam, maka sidang konklaf belum sepakat mendapatkan Paus. Tetapi jika asapnya putih, maka Paus baru sudah ditemukan. Ingat, bahwa konklaf hanya boleh diikuti oleh Para Kardinal dari seluruh dunia, tidak ada alat komunikasi, tidak ada asisten, dan hanya merekalah yang bersidang.

Albino Luciani - Bapa Suci Yohanes Paulus I

Nah, bicara soal Konklaf dan kepulan asap putih atau hitam, saya banyak tahu dari buku The Last Pope, khususnya sidang konklaf pada pemilihan yang berujung pada terpilihnya Albino Luciani atau Bapa Suci Yohanes Paulus I. Ternyata, asap bisa hitam atau bisa putih, bukan karena sebuah keajaiban oleh Allah dan Roh Kudus, tapi memang diberi cairan kimia, sehingga asapnya terlihat hitam/putih. (ooo.. begitu to….)

Buku ini adalah fiksi, tetapi kadang susah untuk melepakan mana yang fiksi dan mana yang fakta. Tempat yang digambarkan & tokoh yang diceritakan betul-betul nyata dan ada. Bahkan kita tidak bisa membedakan, mana cerita yang sebenarnya, dan mana yang bukan.

The Last Pope menceritakan tentang konspirasi pembunuhan Paus Yohanes Paulus I yang waktu itu hanya menjabat 33 hari sebagai Paus. Diceritakan dalam novel, pembunuhan ini dilakukan oleh P2, sebuah kelompok yang saya sendiri tak tahu tujuannya apa (kemungkinan besar soal politik-ekonomi dunia). P2 ini beranggotakan tokoh-tokoh penting, pejabat-pejabat yang nama-namanyapun benar-benar asli. Dan di akhir kisahnya, sang penulis buku menyatakan bahwa kelompok P2 itu benar-benar ada.

Penulisnya menggunakan alur maju mundur untuk menggambarkan kisah ini. Dikisahkan jaman era kekinian, tetapi juga menceritakan kisah di tahun 1978, ketika Pemilihan Albino Luciani sebagai Paus. Jamannya dibolak-balik. Dulu-Sekarang-Dulu-Sekarang. Begitulah. Yang tidak begitu suka dengan alur maju-mundur, jangan baca deh. Nanti pusing sendiri. Ada juga kisah tentang Rahasia Ketiga Fatima, yang ditunggu-tunggu oleh umat Katholik se dunia. Yang pada akhirnya dibuka oleh Yohanes Paulus II pada tahun 2000. Apa kaitannya??? Coba saja baca buku ini… yang jelas, salah satu Rahasia Fatima menceritakan tentang pembunuhan Paus di tangan rekan-rekannya sendiri… Oya????

Klimaksnya benar-benar menegangkan. Kalau Anda pernah membaca The Da Vinci Code karya Dan Brown, kira-kira novel ini seperti itu. Kisahnya mirip-mirip juga. Hanya saja, Dan Brown dalam The Da Vinci Code tetap setia pada kode-kode yang disajikannya. Satu kisah membahas kode-kode penuh arti. Kalau The Last Pope, menurut saya, kode untuk mengungkap anggota P2 hanyalah tambahan. Sebuah gambaran kecil saja. Memecahkan kode bukanlah inti cerita, tapi inti ceritanya adalah siapa yang membunuh Paus Yohanes Paulus I atau Albino Luciani.

Di akhir ceritanya… saya sih agak sedikit kecewa ya. Ternyata kisahnya: “yaaaah… cuma begitu doang?”. Nah, semoga Anda yang ingin membaca, jangan sampai kecewa seperti saya ya. Kalau saya kecewa, karena saya memang tidak suka cerita akhirnya yang terkesan: “so what? Trus ngapain? Kok begini doang? Kelompok P2-nya diapakan?”

Nah, kadang-kadang begitulah kalau cerita konspirasi itu dimunculkan. Konspirasi seringkali tak membentuk ujung yang bagus, atau malah, kadang tak berujung. Konspirasi itu selalu curiga dan bertanya. Jangan-jangan, sayapun juga terjebak dalam konspirasi, sehingga di kepala saya banyak pertanyaan yang tidak terselesaikan dalam buku ini.

Ingin baca dan masuk dalam konspirasi Vatikan? Coba saja…

Note: Jumlah halamannya 350, tulisannya kecil-kecil, kurang lebih 3 minggu bacanya. Mungkin kalau Anda baca, 1 minggu kelar, dengan catatan: Anda bukan karyawan swasta. Hihihi… 

Foto: e-reading.org.ua, teachnet.ie, wikipedia

8 thoughts on “The Last Pope: Konspirasi Pembunuhan Paus Yohanes Paulus I

  1. Aku udah baca buku ini juga. Keren, plot bagus. Menurutku tujuan penulisnya bukan mereka apa yg akan terjadi dengan kelompok P2. Penulis seperti ingin menegaskan dugaan selama ini, bahwa kelompok P2 yabg bertanggung jawab terhadap kematian Albino Luciani. P2 ternyata juga mempunyai peran yang besar terhadap peristiwa – peristiwa politik di dunia. Singkatnya, mereka seperti menggerakkan dunia. Cuma ada satu pertanyaan menggelitik. Setelah Albino Luciani wafat, kepemimpinan vatikan berganti sampao sekarang di tangan Paus Benediktus. Lalu kenapa judulnta The Last Pope ?

  2. Mungkin saya sedikit tertinggal untuk membaca buku ini. Saya baru saja membelinya di bazaar buku di Bapindo Plaza. Judulnya cukup menggerakkan rasa penasaran saya untuk membacanya. Tanpa pikir panjang saya langsung membelinya. Terima kasih atas reviewnya .
    P.S: Mudah-mudahan selesai membaca dalam 3 minggu *maklum karyawan swasta*

  3. bagus juga review nya.. justru liat review ini stlh baca novelnya dan lg searching artikel mengenai paus yohanes paulus 1. saya juga jadi tertarik searching ttg riwayat paus yang menjadi tokoh utama di buku the last pope ini. jadi agak bingung juga bedain yg fiksi dan yg fakta nya.
    saya bacanya 3 hari, saking niat, sampai begadang bgt si bacanya. *berhubung saya bukan karyawan swasta*

  4. vanlith ya mas?angkatan berapa?
    btw, makasi review bukunya,,sebenernya agak2 menghindari buku2 macam ini,,hehe,,but mungkin akan nyoba buat baca kali ya,,tertarik gara2 mundurnya paus benediktus baru2 ini,,jadi agak2 notice masalah per Pausan,,thanks,,

  5. Halo… Saya VL angkatan 11. Terima kasih juga sudah menyambangi blog saya. Ini salah satu buku yang tulisannya kecil-kecil dan saya agak lama membacanya. Hehehe… Silakan saja kalau mau baca. Bagus kok. Menambah pengetahuan tentang konklaf. Hehehe…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s